
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Kisah masuk Islamnya Ath-Thufail bin 'Amr Ad-Dausi merupakan salah satu peristiwa penting dalam Sirah Nabawiyah yang memperlihatkan keagungan mukjizat Al-Qur'an, keteguhan hati seorang dai, serta metode dakwah bertahap (at-tadrij) yang sangat efektif.
Kedatangan ke Mekkah & Propaganda Quraisy
Fase Dakwah Jahriyah Mekkah
Ath-Thufail bin 'Amr Ad-Dausi adalah seorang pemimpin, penyair ulung, dan bangsawan terpandang dari suku Daus di wilayah Yaman/Hijaz selatan. Saat ia berkunjung ke Mekkah untuk beribadah dan berdagang, para pembesar Quraisy langsung mencegatnya.
Khawatir Ath-Thufail terpengaruh oleh dakwah Rasulullah saw., Quraisy melancarkan propaganda negatif:
"Wahai Thufail, engkau datang ke negeri kami. Orang ini (Muhammad) telah memecah belah kaum kami. Katanya bagaikan sihir yang memisahkan anak dari ayahnya, saudara dari saudaranya, dan suami dari istrinya. Kami khawatir hal ini menimpamu dan kaummu. Janganlah bicara padanya dan jangan dengarkan ucapan darinya!"
Karena ketakutan dan termakan provokasi, Ath-Thufail menyumbat kedua telinganya dengan kapas (al-kursuf) saat hendak bertawaf di Masjidil Haram agar tidak mendengar suara Nabi saw.
Perjumpaan di Masjidil Haram & Islamnya Ath-Thufail
Fase Mekkah
Suatu pagi, Ath-Thufail pergi ke Masjidil Haram dan melihat Rasulullah saw. sedang shalat di dekat Ka'bah. Meskipun telinganya tersumbat, Allah membukakan pendengarannya untuk menangkap keindahan bait Al-Qur'an yang dibaca Nabi saw.
Sebagai seorang penyair, Ath-Thufail tersentak dan berpikir dalam hatinya:
"Demi Allah, aku adalah seorang penyair yang cerdas. Aku bisa membedakan mana perkataan yang baik dan mana yang buruk. Apa salahnya jika aku mendengarkan apa yang diucapkannya? Jika baik aku terima, jika buruk aku tinggalkan."
Ia menunggu hingga Nabi saw. selesai shalat dan mengikutinya sampai ke rumah. Di sana, Ath-Thufail menceritakan ketakutannya akibat hasutan Quraisy dan meminta Nabi menjelaskan tentang Islam. Rasulullah saw. membacakan Al-Qur'an (di antaranya surah Al-Ikhlas dan Al-Mu'awwidzatain). Cahaya kebenaran menyentuh hatinya saat itu juga, dan ia langsung bersaksi masuk Islam.
Permohonan Tanda/Mukjizat & Dakwah Keluarga
Awal Kepulangan ke Suku Daus
Sebelum pulang ke kaumnya, Ath-Thufail memohon kepada Nabi saw.: "Wahai Rasulullah, berikanlah aku suatu tanda (mukjizat) yang dapat membantuku dalam berdakwah kepada kaumku." Nabi saw. berdoa: "Ya Allah, buatkanlah untuknya suatu tanda."
Saat mendekati pemukiman suku Daus di kegelapan malam, muncul cahaya terang di antara kedua matanya. Ath-Thufail berdoa agar cahaya itu dipindahkan ke tempat lain agar tidak disangka sebagai siksaan/penyakit, lalu cahaya tersebut berpindah ke ujung cambuknya hingga memancar terang bak pelita. Sebab itu, ia dijuluki An-Nuur (Pemilik Cahaya).
Setibanya di rumah, ia langsung mendakwahi keluarganya secara arif:
- Ayahnya: Saat mendekatinya, Ath-Thufail berkata lembut bahwa agama mereka kini berbeda. Sang ayah bersikap terbuka dan bersedia masuk Islam.
- Istrinya: Ath-Thufail meminta istrinya bersuci dan meninggalkan sembahan berhala, lalu mengajarinya Islam. Istrinya pun langsung memeluk Islam.
Ujian Dakwah Suku Daus & Doa Kebaikan Nabi
Fase Dakwah di Suku Daus
Ketika mendakwahi masyarakat Suku Daus secara luas, Ath-Thufail menghadapi penolakan keras. Kaumnya masih terikat kuat dengan tradisi nenek moyang dan enggan meninggalkan berhala.
Merasa putus asa dan emosional, Ath-Thufail kembali ke Mekkah dan memohon kepada Nabi saw.: "Wahai Rasulullah, suku Daus telah durhaka dan menolak Islam. Doakanlah kebinasaan atas mereka!"
Namun, Rasulullah saw. menunjukkan keluhuran akhlak dakwahnya. Beliau mengangkat tangan dan berdoa:
"Ya Allah, berilah petunjuk kepada Suku Daus dan bawalah mereka (kepada Islam)."
Nabi saw. kemudian berpesan kepada Ath-Thufail: "Kembalilah kepada kaummu, ajaklah mereka dengan lemah lembut dan bersikap baiklah kepada mereka."
Masuk Islamnya Suku Daus & Bergabung di Khaibar
7 Hijriah (Pasca-Perang Khaibar)
Ath-Thufail kembali ke kaumnya dengan strategi dakwah baru yang menekankan kelembutan, keteladanan, dan kesabaran. Hasilnya sangat luar biasa. Cahaya Islam meresap ke hati suku Daus secara massal.
Pada tahun 7 Hijriah, Ath-Thufail memimpin rombongan besar sebanyak 70 hingga 80 keluarga suku Daus menuju Madinah untuk berhijrah dan menyatakan keislaman di hadapan Nabi saw. (yang saat itu baru kembali dari Perang Khaibar). Salah satu tokoh suku Daus yang masuk Islam lewat perantara dakwah Ath-Thufail adalah Abu Hurairah r.a., periwayat hadis terbanyak dalam sejarah Islam.
Analisis & Perspektif Dakwah Sirah Nabawiyah
Peristiwa masuk Islamnya Ath-Thufail hingga keberhasilan dakwahnya menyimpan beberapa pelajaran strategis dalam metodologi dakwah (fiqhud da'wah):
- Keagungan Al-Qur'an sebagai Media Dakwah Utama: Al-Qur'an memiliki daya sentuh fitrah yang luar biasa. Barikade propaganda dan prasangka buruk yang dibangun Quraisy runtuh seketika saat Ath-Thufail bersedia mendengarkan bacaan Al-Qur'an secara langsung tanpa perantara.
- Penggunaan Rasionalitas & Ketajaman Berpikir: Ath-Thufail menunjukkan sikap kritis dan tidak taklid buta (blind follower). Ia menyadarkan dirinya sendiri bahwa seorang yang berakal mestinya menilai suatu gagasan berdasarkan substansinya, bukan dari rumor negatif musuh.
- Prioritas Dakwah Berbasis Skala Prioritas (Fiqh Al-Aulawiyyat): Ath-Thufail memulai dakwah dari lingkaran terdekatnya (ayah dan istri) sebelum melangkah ke masyarakat luas. Ini menegaskan pentingnya membina ketahanan spiritual keluarga terlebih dahulu.
- Prinsip Kasih Sayang (Ar-Rahmah) vs Keinginan Membinasakan: Sifat emosional Ath-Thufail yang sempat meminta agar kaumnya didoakan hancur diluruskan oleh Rasulullah saw. Doa kebaikan Nabi saw. membuktikan bahwa dakwah berorientasi pada menyelamatkan manusia, bukan menghukum atau menghakimi mereka.
- Dampak Jangka Panjang (Multilplier Effect) Seorang Dai: Keislaman satu orang berdedikasi seperti Ath-Thufail tidak hanya menyelamatkan satu suku (Daus), tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Abu Hurairah r.a., yang menjadi pilar penjagaan ribuan hadis Nabi saw. hingga hari ini.
Setelah memeluk Islam di tanah kelahirannya melalui perantara Ath-Thufail bin 'Amr Ad-Dausi, Abu Hurairah r.a. (yang saat itu bernama 'Abd Syams, lalu diubah oleh Nabi saw. menjadi 'Abdurrahman) mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia tidak hanya memilih menjadi seorang Muslim, tetapi juga mewakafkan seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mendampingi Rasulullah saw. secara penuh.
Berikut adalah proses pendidikan, pembentukan karakter, dan kontribusi dakwah Abu Hurairah r.a. secara rinci dalam Sirah Nabawiyah:
1. Fase Orientasi: Menjadi Anggota Utama Ahlus Suffah
Pada tahun 7 Hijriah, Abu Hurairah r.a. berhijrah ke Madinah bersama rombongan suku Daus dan tiba bertepatan dengan selesainya Perang Khaibar.
- Pilihan Hidup Sederhana: Berbeda dengan kaum Muhajirin yang sibuk dengan perniagaan di pasar atau kaum Anshar yang mengolah ladang pertanian, Abu Hurairah r.a. memilih tinggal di Suffah—sebuah teras atau selasar di bagian belakang Masjid Nabawi.
- Fokus Total pada Ilmu: Sebagai bagian dari Ahlus Suffah (penuntut ilmu yang tinggal di masjid), ia hidup dalam keadaan sangat fakir dan sering menahan lapar. Namun, kondisi ini memberinya keunggulan yang tidak dimiliki sahabat lain: waktu luang penuh (mulazamah) untuk selalu berada di dekat Nabi saw. kapan pun dan di mana pun beliau berada.
2. Metodologi Pendidikan Langsung dari Rasulullah saw.
Proses pendidikan (tarbiyah) Abu Hurairah r.a. berlangsung sangat intensif selama kurang lebih 4 tahun (7 H hingga wafatnya Nabi saw. pada 11 H). Ada beberapa faktor kunci dalam metode belajarnya:
| Aspek Pendidikan | Penjelasan & Fenomena Sirah |
| Pencatatan & Ingatan Visual | Abu Hurairah r.a. mengamati langsung setiap tindakan, perkataan, ketetapan, bahkan gerak-gerik ibadah dan akhlak harian Rasulullah saw. |
| Sifat Proaktif Bertanya | Ia tidak ragu mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam. Suatu kali ia bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia mendapatkan syafaatmu kelak?" Nabi saw. menjawab bahwa beliau sudah menduga Abu Hurairah r.a.-lah yang pertama menanyakan hal itu karena semangatnya yang luar biasa terhadap ilmu. |
| Mukjizat Kuatnya Hafalan | Abu Hurairah r.a. pernah mengadukan kelemahannya yang sering lupa kepada Nabi saw. Rasulullah saw. kemudian menyuruhnya membentangkan selendangnya, berdoa dan melakukan gerakan spiritual, lalu menyuruhnya memeluk selendang tersebut ke dadanya. Sejak saat itu, Abu Hurairah r.a. tidak pernah melupakan satu pun hadis yang didengarnya. |
3. Menghadapi Syubhat & Menjelaskan Keunggulannya dalam Perawi Hadis
Banyak orang pada zaman sahabat maupun generasi setelahnya merasa heran bagaimana seorang yang baru masuk Islam pada tahun 7 H bisa meriwayatkan begitu banyak hadis (dicatat mencapai 5.374 hadis).
Abu Hurairah r.a. secara terbuka menjelaskan rahasianya:
"Kalian berkata bahwa Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah. Saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin disibukkan oleh transaksi perniagaan di pasar, dan saudara-saudaraku dari kaum Anshar disibukkan oleh urusan harta dan ladang mereka. Sedangkan aku adalah seorang pria miskin yang senantiasa menyertai Rasulullah saw. dengan sekadar pengisi perutku. Aku hadir ketika mereka tidak hadir, dan aku menghafal ketika mereka lupa."
4. Peran Dakwah dan Legacy Pascawafat Rasulullah saw.
Setelah Rasulullah saw. wafat, Abu Hurairah r.a. bertransformasi dari seorang murid (muta'allim) menjadi rujukan utama (mufti dan guru besar) bagi umat Islam:
- Pusat Mercusuar Ilmu di Masjid Nabawi: Ia membuka halaqah ilmu di Masjid Nabawi. Diriwayatkan lebih dari 800 orang ulama dari kalangan Sahabat dan Tabi'in (seperti Said bin al-Musayyib, Hasan al-Basri, dan Ikrimah) belajar dan meriwayatkan hadis darinya.
- Penjaga Kemurnian Sunnah: Pada masa Khulafaur Rasyidin hingga era Muawiyah, Abu Hurairah r.a. menjadi benteng pertahanan ajaran Islam dari pemalsuan hadis. Ia menyampaikan hukum-hukum fikih, muamalah, dan akhlak sebagaimana yang ditalaqqi (diterima) langsung dari Nabi saw.
- Pengabdian Masyarakat & Keteladanan Akhlak: Meskipun pernah diangkat menjadi gubernur Madinah di kemudian hari, ia tetap mempertahankan sifat tawadu, menyayangi anak-anak, menggendong kayu bakar sendiri ke pasar, serta konsisten menghidupkan malam dengan ibadah (qiyamul lail) bergantian bersama istri dan anaknya.
Kesimpulan Perspektif Dakwah
Jalur dakwah yang dilalui Abu Hurairah r.a. menunjukkan bagaimana integrasi antara pengorbanan materi, kesungguhan (himmah) belajar, dan binaan langsung Sang Murabbi (Nabi saw.) mampu mengubah seorang pemuda suku asing dari pedalaman Yaman menjadi penjaga khazanah intelektual dan hukum Islam terbesar dalam sejarah.
Kisah pengujian hafalan Abu Hurairah r.a. oleh Marwan bin al-Hakam merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Peristiwa ini menjadi bukti historis yang sangat kuat mengenai ketelitian, keakuratan, dan kekuatan ingatan Abu Hurairah r.a. yang luar biasa dalam menjaga ribuan hadis Nabi saw.
Latar Belakang Pengujian
Pada masa pemerintahan Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Marwan bin al-Hakam menjabat sebagai Gubernur Madinah. Marwan menyadari betapa banyaknya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Dibandingkan sahabat-sahabat senior lainnya yang masuk Islam lebih awal, jumlah riwayat Abu Hurairah r.a. jauh lebih banyak.
Meskipun Marwan menghormati Abu Hurairah r.a., sebagai seorang penguasa dan juru catat administrasi, ia ingin memverifikasi secara langsung (uji petik) apakah hafalan tersebut benar-benar murni atau ada potensi lupa dan tertukar.
Guna membuktikannya tanpa menyinggung perasaan Abu Hurairah r.a., Marwan merancang sebuah skenario pengujian tersembunyi.
Kronologi Jalannya Pengujian
Kisah ini diriwayatkan oleh murid Abu Hurairah r.a., yaitu Nafi' maula Ibn Umar atau dalam riwayat lain melalui sekretaris Marwan sendiri, Abu az-Zinad / Abu Za'za'ah:
1. Skenario Pertama: Pendiktean Hadis Tersembunyi
Marwan mengundang Abu Hurairah r.a. untuk datang ke kediamannya. Di dalam ruangan tempat mereka duduk, Marwan memasang sebuah tirai penutup (hijaab).
Di balik tirai tersebut, Marwan telah menempatkan sekretaris pribadinya, Abu Za'za'ah, lengkap dengan pena dan lembaran kertas. Marwan memerintahkan sekretarisnya:
"Duduklah engkau di balik tirai ini. Ketika aku bertanya kepada Abu Hurairah tentang hadis-hadis Rasulullah saw., tulislah setiap kata yang diucapkannya tanpa terlewat satu huruf pun!"
Abu Hurairah r.a. tidak menyadari keberadaan sekretaris di balik tirai tersebut. Marwan kemudian mulai mengajukan pertanyaan dan meminta Abu Hurairah r.a. menyampaikan hadis-hadis Nabi saw. Hari itu, Abu Hurairah r.a. mendiktekan ratusan hadis hingga sekretaris Marwan selesai mencatat semuanya dalam lembaran-lembaran dokumen resmi.
2. Skenario Kedua: Pengujian Ulang (Satu Tahun Kemudian)
Marwan menyimpan rapat-rapat naskah catatan tersebut selama satu tahun penuh.
Setelah genap satu tahun, Marwan kembali mengundang Abu Hurairah r.a. ke rumahnya. Kali ini, Marwan berpura-pura lupa dan mengatakan bahwa naskah catatan hadis yang dahulu ditulis telah hilang atau rusak. Marwan berkata:
"Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya catatan hadis yang pernah engkau sampaikan kepadaku dahulu telah hilang. Maukah engkau membacakannya kembali kepadaku agar aku dapat mengingatnya?"
Sementara itu, Marwan meminta sekretarisnya duduk kembali di balik tirai sambil memegang dokumen asli catatan hadis yang dibuat satu tahun lalu untuk mencocokkan setiap kata.
3. Hasil yang Mengagumkan
Abu Hurairah r.a. mulai mendiktekan kembali hadis-hadis tersebut satu per satu dari memorinya, persis sesuai urutan pertanyaan satu tahun lalu.
Sekretaris Marwan (Abu Za'za'ah) membandingkan setiap kata yang diucapkan Abu Hurairah r.a. saat itu dengan naskah yang ditulisnya setahun silam. Hasilnya sungguh menakjubkan:
- Tidak ada satu hadis pun yang terlewat atau tertukar urutannya.
- Tidak ada satu kata pun yang bertambah atau berkurang.
- Tidak ada sinonim yang diganti; semua lafaz diucapkan persis sama persis.
Melihat ketepatan hafalan yang sempurna tersebut, Marwan bin al-Hakam dibuat terkagum-kagum dan tidak ragu lagi. Ia mengagungkan Allah dan mengakui keabsahan hafalan Abu Hurairah r.a. sebagai salah satu mukjizat doa Rasulullah saw.
Relevansi & Makna Sejarah
- Bukti Terkabulnya Doa Nabi saw.: Peristiwa ini mengonfirmasi mukjizat saat Nabi saw. mendoakan Abu Hurairah r.a. agar tidak pernah melupakan apa pun yang beliau dengar setelah membentangkan selendangnya.
- Standardisasi Ilmiah Penjagaan Hadis: Pengujian oleh Marwan menjadi preseden awal metode dhabth (keakuratan hafalan) dalam ilmu Mustalahah al-Hadith. Hafalan seorang perawi tidak hanya dinilai dari kuantitas, tetapi dari konsistensinya saat diuji ulang di waktu yang berbeda.
- Membantah Tuduhan Pemalsuan Hadis: Pengujian objektif ini menjadi bantahan ilmiah paling otentik terhadap klaim atau tuduhan kelompok orientalit/inkar sunnah yang mencoba meragukan keandalan Abu Hurairah r.a. dalam meriwayatkan ajaran Islam.