
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam perspektif Sirah Nabawiyah, peristiwa terbongkarnya kesepakatan antara Nabi Muhammad ﷺ dan kaum Anshar—yang terjadi pada Bai'at 'Aqabah II (tahun 622 M)—merupakan titik balik kritikal yang memicu eskalasi konflik antara petinggi Quraisy dan umat Islam.
Konteks Terbongkarnya Kerahasiaan
Bai'at 'Aqabah II berlangsung secara sangat rahasia pada tengah malam di Mina. Namun, menjelang akhir pembaiatan, iblis (dalam riwayat dinamakan Azab Al-'Aqabah) berteriak keras memperingatkan pembesar Quraisy. Meskipun perwakilan Anshar telah kembali ke perkemahan mereka, kabar bahwa penduduk Yatsrib (Madinah) telah bersumpah setia untuk melindungi dan membela Rasulullah ﷺ dengan senjata akhirnya sampai ke telinga para pemimpin Makkah.
Situasi dan Kondisi (Sikon) Menurut Sirah Nabawiyah
- Intimidasi dan Interogasi MendadakKeesokan harinya, pemuka Quraisy mendatangi perkemahan jamaah haji Yatsrib untuk menuntut penjelasan. Orang-orang musyrik Yatsrib (yang belum masuk Islam dan tidak tahu-menahu tentang perjanjian rahasia tersebut) bersumpah bahwa tidak ada hal semacam itu. Hal ini sempat membuat Quraisy ragu. Namun, setelah jamaah haji Yatsrib bertolak pulang, Quraisy melakukan penyelidikan intensif dan menemukan bukti kuat bahwa bai'at benar-benar terjadi.
- Pengejaran dan Penyiksaan Terhadap Perwakilan AnsharQuraisy segera mengirim pasukan berkuda untuk mengejar rombongan Anshar. Mereka berhasil menangkap Sa'ad bin 'Ubadah r.a. (salah satu pimpinan Anshar) dan menyeretnya kembali ke Makkah sambil menyiksa dan menarik rambutnya, sebelum akhirnya ia diselamatkan oleh Jubair bin Mut'im dan Al-Harits bin Harb karena hubungan perlindungan niaga.
- Kepanikan Geopolitik dan Ekonomi QuraisyDalam pandangan pemuka Quraisy, aliansi ini bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan ancaman eksistensial:
- Jalur Perdagangan Terancam: Yatsrib terletak tepat di jalur utara (jalur dagang utama Quraisy menuju Syam). Jika Madinah dikuasai oleh pengikut Nabi, perekonomian Makkah bisa lumpuh total.
- Basis Militer Baru: Penduduk Aus dan Khazraj (Anshar) dikenal sebagai pemberani dan ahli perang. Aliansi Islam dengan mereka berarti kekuatan muslim akan memiliki basis militer sendiri.
- Penyiksaan Masif dan Gelombang Hijrah PertamaMengetahui rencana perpindahan tersebut, Quraisy memperketat penjagaan di Makkah. Mereka mengintimidasi, merampas harta, dan menahan siapapun yang mencoba keluar. Hal ini justru mendorong Rasulullah ﷺ mempercepat perintah hijrah secara sembunyi-sembunyi bagi para sahabat.
- Puncak Eskalasi: Keputusan Membunuh Rasulullah ﷺMelihat satu per satu sahabat berhasil meloloskan diri ke Madinah, pimpinan Quraisy menggelar rapat darurat di Dar an-Nadwah. Mereka menyadari jika Rasulullah ﷺ menyusul ke Madinah, posisi mereka akan sangat terdesak. Atas usulan Abu Jahal, disepakati keputusan ekstrem: mengepung rumah Nabi dan mengutus pemuda dari setiap suku untuk membunuh beliau secara bersama-sama agar penuntutan darah oleh Bani Hasyim menjadi tidak memungkinkan.
Sikon tegang pasca-terbongkarnya persekutuan dengan kaum Anshar inilah yang melatarbelakangi peristiwa pengepungan rumah Nabi, penunjukan Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan beliau di tempat tidur, serta perjalanan persembunyian Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar r.a. di Gua Tsur sebelum akhirnya tiba di Madinah.
Peristiwa lolosnya Rasulullah ﷺ dari kepungan pemuka Quraisy hingga selamat menuju Madinah merupakan salah satu momen paling dramatis dalam Sirah Nabawiyah. Peristiwa ini menggabungkan perencanaan strategi yang matang, kerahasiaan tingkat tinggi, dan pertolongan Allah (Inayah Ilahiyah).
Rapat Darurat di Dar an-Nadwah
26 Safar Tahun ke-14 Nubuwwah
Para pemimpin Quraisy berkumpul di Dar an-Nadwah setelah melihat mayoritas sahabat telah berhijrah. Abu Jahal mengusulkan agar setiap kabilah mengirimkan seorang pemuda tangguh untuk mengepung rumah Nabi dan membunuhnya secara bersamaan. Dengan cara ini, tuntutan balas dendam darah oleh Bani Hasyim tidak akan mungkin dilakukan terhadap seluruh kabilah Makkah.
Turunnya Wahyu & Strategi Pengelabuan
Malam 27 Safar
Malaikat Jibril a.s. turun menyampaikan wahyu (QS. Al-Anfal: 30) yang memberitahukan rencana jahat tersebut dan menginstruksikan Rasulullah ﷺ untuk berhijrah malam itu juga.
Rasulullah ﷺ meminta Ali bin Abi Thalib r.a. untuk tidur di tempat tidur beliau dengan memakai mantel hijau khas milik beliau (Burdah Hadhramaut). Strategi ini bertujuan mengelabui para algojo Quraisy yang mengintip lewat celah pintu agar mereka mengira Nabi masih tertidur di dalam rumah.
Menembus Kepungan Algojo Quraisy
Tengah Malam 27 Safar
Para pemuda pilihan Quraisy telah mengelilingi rumah beliau. Rasulullah ﷺ keluar dari rumah sambil menggenggam segenggam pasir dan membacakan QS. Yasin ayat 1-9.
Atas izin Allah, penglihatan para algojo tersebut dibuat buta sementara. Beliau menaburkan pasir ke arah kepala mereka satu per satu, lalu melangkah melewati barisan kepungan tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. Beliau kemudian menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. yang telah menyiapkan dua ekor unta dan perbekalan.
Mengelak ke Selatan & Bersembunyi di Gua Tsur
27 - 29 Safar (3 Hari)
Untuk mengecoh pencarian musuh yang memperkirakan beliau bergerak ke utara (arah Madinah), Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar justru bergerak ke arah selatan menuju Gua Tsur di Jabal Tsur. Beliau bersembunyi di dalam gua tersebut selama tiga hari tiga malam.
Selama persembunyian, diterapkan pembagian peran secara sistematis:
- Abdullah bin Abi Bakar: Menggali informasi di kota Makkah pada siang hari dan menyampaikannya ke gua pada malam hari.
- Amir bin Fuhairah (bekas budak Abu Bakar): Mengembalakan domba di sekitar area gua untuk menghapus jejak kaki serta menyediakan susu segar.
- Asma' binti Abu Bakar: Membawa perbekalan makanan ke gua pada malam hari (hingga ia mendapat julukan Dzat an-Nithaqain karena membelah ikat pinggangnya untuk mengikat makanan).
Kepanikan Quraisy & Mukjizat Pintu Gua
28 Safar
Quraisy menyadari telah tertipu setelah menemukan Ali r.a. di tempat tidur. Mereka menggelar sayembara besar-besaran: 100 ekor unta bagi siapa saja yang dapat menangkap Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar hidup atau mati.
Jejak kaki membawa para pencari hingga ke mulut Gua Tsur. Abu Bakar r.a. merasa sangat cemas dan berbisik, "Wahai Rasulullah, jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, pasti mereka akan melihat kita." Rasulullah ﷺ menenangkannya dengan bersabda: "Jangan engkau berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS. At-Taubah: 40). Allah menutup mata para pencari sehingga mereka balik kanan tanpa memeriksa bagian dalam gua.
Perjalanan Menyusuri Jalur Pesisir
1 Rabi'ul Awwal
Setelah situasi Makkah mereda, penunjuk jalan profesional non-muslim yang terpercaya, Abdullah bin Uraiqith, mendatangi gua membawa dua ekor unta. Mereka menempuh jalur tidak umum, yaitu menyusuri pesisir pantai barat (Laut Merah) yang sangat jarang dilalui orang.
Pengejaran Suraqah bin Malik
Selama Perjalanan Hijrah
Di tengah perjalanan, Suraqah bin Malik berhasil menemukan jejak rombongan Nabi demi mengincar hadiah 100 ekor unta. Namun, setiap kali Suraqah memacu kudanya mendekati Nabi, kaki kudanya terperosok dalam ke dalam pasir keras hingga jatuh tersungkur. Setelah tiga kali mengalami kejadian aneh ini, Suraqah menyadari bahwa Rasulullah ﷺ dilindungi oleh kekuatan Ilahi. Ia kemudian memohon ampun, meminta surat jaminan keamanan, dan berjanji akan memalingkan siapapun yang mencoba mengejar rombongan tersebut.
Tiba Selamat di Quba & Madinah
12 Rabi'ul Awwal
Rombongan Rasulullah ﷺ tiba dengan selamat di Quba (pinggiran Madinah), di mana beliau membangun masjid pertama dalam sejarah Islam (Masjid Quba) dan menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyusul dengan berjalan kaki. Tak lama kemudian, beliau memasuki kota Madinah dan disambut dengan suka cita oleh seluruh kaum Anshar dan Muhajirin.
Dalam strategi hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah, keberhasilan operasi yang sangat rahasia dan berisiko tinggi ini bertumpu pada pembagian peran yang terukur. Ali bin Abi Thalib r.a. dan Asma' binti Abu Bakar r.a. memegang peran kuncinya masing-masing—satu bertugas di "garda depan" pengelabuan di Makkah, dan yang satu lagi mengurusi "logistik serta intelijen" persembunyian di Gua Tsur.
1. Peran Ali bin Abi Thalib r.a.: Pengelabuan Taktis dan Penuntasan Amanah
Ali r.a., yang saat itu masih berusia sekitar 23 tahun, mengambil risiko tertinggi dengan menjadi sasaran langsung pedang para algojo Quraisy. Perannya mencakup dua hal utama:
- Menjadi Umpan Pengelabu di Tempat Tidur Nabi Pada malam pengepungan, pemuda-pemuda pilihan dari setiap suku Quraisy telah mengelilingi rumah Rasulullah ﷺ dengan pedang terhunus. Mengikuti perintah Nabi, Ali r.a. berbaring di tempat tidur beliau dan mengenakan mantel hijau khas milik Rasulullah ﷺ (Burdah Hadhramaut).
- Dampak Taktis: Mengelabui para pengepung yang mengintip lewat celah pintu agar meyakini bahwa Rasulullah ﷺ masih ada di dalam rumah. Hal ini memberi tenggat waktu vital bagi Nabi ﷺ untuk menembus kepungan dan keluar dari Makkah tanpa dikejar secara langsung pada malam itu.
- Ketabahan Jiwa: Ali r.a. sadar betul bahwa nyawanya menjadi taruhan jika para algojo tersebut merangsek masuk dan langsung menyabetkan pedang tanpa memeriksa wajah.
- Menyelesaikan Pelunasan Amanah Titipan Warga Makkah Meskipun kaum musyrik Quraisy memusuhi dakwah Nabi, mereka tetap mengakui kejujuran beliau (Al-Amin) dan memercayakan barang-barang berharga mereka untuk dititipkan kepada Rasulullah ﷺ.
- Sebelum berangkat, Nabi ﷺ menginstruksikan Ali r.a. untuk tinggal di Makkah selama beberapa hari guna mengembalikan seluruh barang titipan tersebut kepada pemiliknya masing-masing.
- Langkah ini menunjukkan komitmen integritas moral Islam yang mutlak, bahkan di tengah ancaman pembunuhan.
- Menyusul Berjalan Kaki ke Quba Setelah menuntaskan amanah pengembalian barang, Ali r.a. berhijrah seorang diri dengan berjalan kaki pada malam hari dan bersembunyi di siang hari menempuh jarak lebih dari 400 km menuju Madinah. Ia tiba di Quba dengan kaki yang pecah-pecah dan berdarah, lalu disambut dengan haru oleh Rasulullah ﷺ.
2. Peran Asma' binti Abu Bakar r.a.: Logistik, Intelijen, dan Ketahanan Mental
Asma' r.a., putri tertua Abu Bakar r.a. yang saat itu sedang hamil tua (mengandung Abdullah bin Az-Zubair), memegang peranan krusial dalam menyokong kebutuhan dasar dan keamanan rombongan selama masa persembunyian tiga hari di Gua Tsur.
- Suplai Logistik dan Perbekalan Makanan Setiap malam, dalam kegelapan dan medan berbatu yang terjal di Jabal Tsur, Asma' menyusup secara sembunyi-sembunyi dari kota Makkah menuju gua untuk membawa air dan pasokan makanan bagi Rasulullah ﷺ dan ayahnya.
- Gelar Dzat an-Nithaqain (Pemilik Dua Sabuk): Ketika perbekalan wadah makanan dan tempat air hendak diikatkan ke unta pada hari keberangkatan dari gua, Asma' tidak menemukan tali pengikat. Ia kemudian membelah ikat pinggang (nithaq) kainnya menjadi dua bagian—satu untuk mengikat wadah makanan dan satu lagi untuk mengikat tempat air. Rasulullah ﷺ yang melihatnya mendoakan agar Allah mengganti kedua sabuknya itu dengan dua sabuk di surga.
- Counter-Intelijen dan Penjagaan Kerahasiaan Asma' bertindak sangat hati-hati untuk tidak meninggalkan jejak. Pergerakannya dikoordinasikan dengan adiknya, Abdullah bin Abu Bakar (yang mengumpulkan informasi dari pembesar Quraisy) dan Amir bin Fuhairah (yang menggembalakan domba untuk menghapus jejak kaki Asma' dan Abdullah di pasir).
- Ketahanan Mental dan Keteguhan Menghadapi Intimidasi Pasca-terbongkarnya persembunyian Nabi dari rumahnya, para pimpinan Quraisy yang murka—dipimpin oleh Abu Jahal—mendatangi rumah Abu Bakar dan menginterogasi Asma' dengan kasar.
- Ketika Abu Jahal membentak dan menanyakan keberadaan ayahnya, Asma' menolak memberikan informasi sedikit pun.
- Abu Jahal yang emosi menampar pipi Asma' dengan keras hingga anting-antingnya terlepas. Meskipun menerima kekerasan fisik, Asma' tetap bungkam dan berhasil melindungi rahasia lokasi keberadaan Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar r.a.
Keberhasilan strategi hijrah ini menunjukkan kombinasi sempurna antara tawakal kepada pertolongan Allah dan perencanaan taktis yang matang, di mana keberanian anak muda seperti Ali r.a. serta keteguhan wanita seperti Asma' r.a. menjadi pilar penyokong keselamatan Rasulullah ﷺ.