info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Peristiwa Goa Tsur dalam Sirah
Peristiwa Goa Tsur dalam Sirah
Peristiwa Goa Tsur dalam Sirah

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Peristiwa di Goa Tsur merupakan salah satu babak paling krusial dalam peristiwa Hijrah Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar ash-Shiddiq dari Mekkah ke Madinah. Dalam perspektif Sirah Nabawiyah, momen ini memperlihatkan perpaduan antara perencanaan manusia yang matang (ikhtiar) dan keyakinan penuh pada perlindungan Allah (tawakal).

Berikut adalah gambaran perjalanan, peristiwa di dalam goa, hingga momen keluar dari Goa Tsur berdasarkan riwayat-riwayat terkait.

1. Menuju Goa Tsur

Setelah lolos dari pengepungan pemuda-pemuda Quraisy di kediamannya, Nabi Muhammad saw. menemui Abu Bakar ash-Shiddiq. Untuk mengecoh kejaran kaum kafir Quraisy yang menduga beliau akan langsung mengarah ke utara (Madinah), Nabi saw. justru mengambil rute ke arah selatan menuju bukit Tsur.

Perjalanan menaiki Gunung/Bukit Tsur sangat berat. Medan yang terjal dan berbatu membuat kaki Nabi saw. terluka. Abu Bakar ash-Shiddiq kerap memapah dan kadang menggendong beliau untuk memastikan keselamatan Rasulullah saw. hingga akhirnya mereka tiba di mulut Goa Tsur.

2. Memasuki Goa Tsur dan Peristiwa di Dalamnya

Persiapan Abu Bakar dan Riwayat Lubang Ular (Penjagaan Sahabat)

Sebelum Rasulullah saw. masuk, Abu Bakar meminta Nabi saw. untuk menunggu di luar:

"Demi Allah, janganlah engkau masuk sebelum aku masuk terlebih dahulu. Jika ada sesuatu (yang berbahaya) di dalamnya, akulah yang terkena lebih dulu sebelum engkau."

Abu Bakar masuk dan membersihkan goa. Ia menemukan banyak lubang di dalam goa yang berpotensi menjadi sarang binatang berbisa. Abu Bakar merobek pakaiannya untuk menyumbat lubang-lubang tersebut satu per satu.

Dalam riwayat yang disampaikan oleh Abu Nu'aim (dalam Dala'il an-Nubuwwah) serta beberapa riwayat sirah lainnya, masih tersisa satu lubang yang belum tersumbat karena ia kehabisan kain. Abu Bakar kemudian menutupi lubang tersebut menggunakan tumit kakinya. Nabi saw. kemudian masuk dan tertidur beristirahat di pangkuan Abu Bakar. Tak lama kemudian, kaki Abu Bakar disengat/digigit oleh penghuni lubang tersebut (ular/kalajengking). Karena menahan rasa sakit yang amat sangat tanpa ingin membangunkan Rasulullah, air mata Abu Bakar menetes dan jatuh ke pipi Nabi saw.

Nabi saw. terbangun dan bertanya, "Ada apa wahai Abu Bakar?" Abu Bakar menjawab, "Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah, aku telah disengat." Rasulullah saw. kemudian meludahi bekas gigitan tersebut dengan doa, dan seketika rasa sakit serta racunnya hilang atas izin Allah.

Dialog Paling Bersejarah (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kejaran kaum Quraisy akhirnya sampai di mulut Goa Tsur. Mereka membawa jejak hingga ke puncak gunung. Jarak antara para pengejar dan Nabi saw. hanya dipisahkan oleh mulut goa.

Dalam Shahih Bukhari (No. 3653) dan Shahih Muslim (No. 2381), diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. berkata:

"Aku berkata kepada Nabi saw. saat kami berada di dalam goa: 'Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka pasti akan melihat kita.'"

Nabi saw. menenangkan: "Wahai Abu Bakar, apa dugaanmu terhadap dua orang manusia, sementara Allah adalah yang ketiganya?"

Peristiwa ini diabadikan langsung dalam Al-Qur'an (QS. At-Taubah: 40):

$$\text{إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا}$$

"...sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.'"

Allah membutakan penglihatan kaum Quraisy sehingga mereka berbalik arah dan menyimpulkan bahwa tidak ada orang di dalam goa tersebut.

3. Perspektif Umar bin Khattab tentang Peristiwa Goa Tsur

Ketaatan, keberanian, dan pengorbanan Abu Bakar selama di Goa Tsur menjadi keutamaan (fadhilah) terbesar yang diakui oleh para sahabat, terutama Umar bin Khattab r.a.

Dalam riwayat sirah (di antaranya diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dan Al-Hakim), ketika Umar bin Khattab menjadi Khalifah, ada sebagian orang yang membanding-bandingkan keutamaan Umar dan Abu Bakar. Umar r.a. menangis dan berkata:

"Demi Allah, satu malam dari malam-malam Abu Bakar dan satu hari dari hari-harinya jauh lebih baik daripada seluruh amalan Umar dan keluarga Umar. Maukah kalian aku ceritakan tentang malam dan harinya?"

Umar kemudian menceritakan malam ketika Abu Bakar berjalan bersama Rasulullah menuju Goa Tsur—terkadang berjalan di depan, di belakang, di kanan, dan di kiri demi melindungi Nabi saw.—serta keberaniannya memasuki goa terlebih dahulu dan digigit binatang berbisa demi menjaga Rasulullah saw. Bagi Umar bin Khattab, peran Abu Bakar di Goa Tsur adalah puncak ketakwaan dan pengabdian seorang sahabat.

4. Keluar dari Goa Tsur

Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar bersembunyi di dalam Goa Tsur selama tiga malam. Selama periode ini, skenario jaringan pendukung yang dirancang bekerja sangat rapi:

  1. Abdullah bin Abu Bakar bertugas mencari informasi di Mekkah pada siang hari dan menyampaikannya ke goa pada malam hari.
  2. Asma' binti Abu Bakar bertugas menyiapkan dan membawa bekal makanan ke goa (momen yang membuatnya dijuluki Dzat an-Nithaqain atau "Pemilik Dua Sabuk").
  3. Amir bin Fuhairah (bekas budak Abu Bakar) menggembalakan kambing di sekitar goa untuk memberi persediaan susu segar sekaligus menghapus jejak kaki Abdullah dan Asma'.

Pada hari ketiga, setelah situasi di Mekkah mulai mereda dan pencarian beralih ke wilayah lain, petunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith (seorang musyrik yang dapat dipercaya) tiba di Goa Tsur membawa dua ekor unta yang telah disiapkan sebelumnya.

Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar keluar dari Goa Tsur dengan selamat, lalu memulai perjalanan panjang menelusuri pesisir pantai barat Jazirah Arab menuju Madinah Al-Munawwarah.

Perjalanan Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dari Goa Tsur hingga tiba di Quba merupakan titik balik paling penting dalam sejarah Islam (Hijrah). Perjalanan sepanjang kurang lebih 400 kilometer ini tidak hanya mengandalkan mukjizat, tetapi juga strategi taktis yang amat matang.

Berikut narasi perjalanan bersejarah tersebut dalam perspektif Sirah Nabawiyah:

1. Keberangkatan dan Strategi Pengalihan Rute

Pada malam ke-4 persembunyiannya di Goa Tsur, situasi di Mekkah mulai mereda. Abdullah bin Uraiqith (seorang petunjuk jalan non-Muslim yang tepercaya) tiba membawa dua ekor unta yang telah disiapkan sebelumnya. Amir bin Fuhairah (bekas budak Abu Bakar) juga ikut serta untuk membantu merawat unta dan membantu keperluan perjalanan.

Untuk menghindari patroli pemuda Quraisy yang menyisir rute umum (rute perdagangan utara menuju Syam), Abdullah bin Uraiqith mengambil rute tidak biasa:

  • Mereka berbelok ke arah selatan terlebih dahulu, lalu mengarah ke barat menuju garis pantai Laut Merah.
  • Dari sana, mereka menyusuri daerah pesisir pantai sebelum berbelok kembali ke arah utara menuju Madinah.

2. Momen-Momen Penting di Sepanjang Perjalanan

a. Pertemuan dengan Suraqah bin Malik

Kafir Quraisy telah mengumumkan sayembara berhadiah 100 ekor unta bagi siapa saja yang dapat menangkap Nabi saw. dan Abu Bakar hidup atau mati.

Seorang penunggang kuda ulung bernama Suraqah bin Malik berhasil melacak keberadaan mereka. Saat Suraqah memacu kudanya mendekat, Abu Bakar merasa cemas, namun Rasulullah saw. dengan tenang berdoa. Seketika, kaki-kaki kuda Suraqah terperosok dalam ke dalam tanah padang pasir yang keras dan tubuhnya terlempar.

Setelah mencoba berkali-kali dan selalu gagal, Suraqah menyadari bahwa Nabi saw. berada dalam perlindungan ilahi. Ia memohon ampun dan meminta surat jaminan keamanan dari Nabi saw. Rasulullah saw. memberikan jaminan tersebut dan mendoakan Suraqah, seraya menjanjikan bahwa kelak Suraqah akan memakai gelang kebesaran Raja Persia (Raja Kisra)—yang terbukti pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Suraqah pun kembali dan menyesatkan pencari lain yang mencoba melewati rute tersebut.

b. Persinggahan di Tenda Umm Ma'bad

Di kawasan Qudayd, rombongan singgah di tenda seorang wanita beduin bernama Umm Ma'bad (Atikah binti Khalid) untuk membeli makanan atau susu. Namun, Umm Ma'bad tidak memiliki persediaan apa pun karena kemarau panjang. Di dekat tendanya, hanya ada seekor kambing betina yang sangat kurus dan tidak bisa mengeluarkan susu.

Rasulullah saw. meminta izin untuk memerah kambing tersebut. Beliau mengusap kantong susu kambing itu seraya membaca basmalah dan berdoa. Atas izin Allah, wadah milk milik Umm Ma'bad terisi penuh dengan susu yang melimpah. Seluruh rombongan dan Umm Ma'bad minum hingga kenyang, dan Nabi saw. meninggalkan satu wadah penuh susu untuk keluarga Umm Ma'bad. Kejadian ini membuat Umm Ma'bad dan suaminya kemudian masuk Islam.

c. Pertemuan dengan Buraidah bin al-Husaib al-Aslami

Di daerah Amaj, rombongan bertemu dengan Buraidah beserta sekitar 80 orang pengikutnya dari Bani Aslam yang berniat menangkap Nabi demi sayembara Quraisy. Namun, setelah mendengar ucapan dan dakwah Rasulullah saw., Allah melunakkan hati Buraidah. Beliau dan seluruh pengikutnya seketika memeluk Islam. Buraidah bahkan mengikat sorbannya di ujung tombak sebagai panji keselamatan untuk mengawal perjalanan Rasulullah saw.

3. Tiba di Quba (Pintu Gerbang Madinah)

Perjalanan terik di padang pasir yang memakan waktu sekitar 8 hari tersebut akhirnya mendekati titik akhir. Pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awwal (tahun ke-1 Hijriyah / 622 Masihi), rombongan tiba di Quba, sebuah desa pinggiran di selatan Madinah.

Penyambutan Hangat Kaum Ansar

Penduduk Madinah (kaum Ansar) telah mendengar kabar keberangkatan Nabi saw. dari Mekkah. Setiap pagi setelah shalat Subuh, mereka keluar menuju pinggiran kota untuk menantikan kedatangan Rasulullah saw., dan baru kembali ke rumah ketika terik matahari menyengat.

Pada hari kedatangan Nabi saw., seorang Yahudi yang berada di atas bentengnya melihat bayangan rombongan yang mengenakan pakaian putih dari kejauhan. Ia berteriak memanggil warga Madinah:

"Wahai Bani Qailah (kaum Ansar)! Ini dia keberuntungan dan pemimpin yang kalian tunggu-tunggu telah tiba!"

Mendengar seruan tersebut, kaum Ansar berbondong-bondong menyambut kedatangan Rasulullah saw. dan Abu Bakar dengan penuh sukacita, mengagungkan takbir dan memuji Allah.

Singgah di Rumah Kultsum bin Hidm dan Pembangunan Masjid Quba

Di Quba, Rasulullah saw. tinggal selama beberapa hari (riwayat menyebutkan antara 4 hingga 14 hari) dan menginap di rumah seorang tokoh Ansar bernama Kultsum bin Hidm.

Selama bermukim di Quba, Rasulullah saw. melakukan tindakan monumental:

  • Beliau meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Quba—masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam berdasarkan landasan ketakwaan (Ussisa 'alat-taqwa).
  • Rasulullah saw. dan Abu Bakar juga menantikan kedatangan Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyusul berjalan kaki dari Mekkah setelah menunaikan amanah mengembalikan barang-barang titipan warga Mekkah yang berada di tangan Nabi saw.

Setelah Ali r.a. bergabung dan pembangunan awal Masjid Quba selesai, Rasulullah saw. melanjutkan perjalanan singkat masuk ke pusat kota Madinah (Yatsrib), yang menandai dimulainya era baru dalam peradaban Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *