
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar As-Siddiq RA dari Quba hingga tiba di Yathrib (Madinah) merupakan salah satu puncaknya sirah nabawiyah. Peristiwa ini sarat akan strategi, diplomasi, serta pertolongan Allah SWT.
1. Siasat Abu Bakar As-Siddiq RA Sepanjang Perjalanan Hijrah
Sepanjang perjalanan menembus gurun sahara dari Makkah ke Madinah, Abu Bakar menunjukkan kecerdikan dan kewaspadaan yang luar biasa:
- Taktik Berjalan di Depan dan di Belakang: Dalam perjalanan, Abu Bakar sering berganti posisi—kadang berjalan di depan Nabi, kadang di belakang. Ketika Nabi bertanya alasannya, Abu Bakar menjawab: "Wahai Rasulullah, jika ingat adanya pengejaran/ancaman dari belakang, aku berjalan di belakangmu. Jika ingat kemungkinan penghadangan dari depan, aku berjalan di depanmu."
- Siasat Menjaga Identitas: Abu Bakar adalah seorang pedagang yang sudah dikenal banyak orang di jazirah Arab, sementara Nabi SAW kurang dikenali oleh orang luar. Ketika ada musafir yang bertanya siapakah orang di depannya, Abu Bakar menjawab dengan kalimat mutasyabihat (bermakna ganda): "Dia adalah penunjuk jalanku." Penanya mengira penujuk jalan jalur gurun, padahal yang dimaksud Abu Bakar adalah penunjuk jalan menuju kebenaran dan surga.
2. Pertemuan dengan Buraidah Al-Aslami RA
Ketika rombongan Nabi melintasi wilayah suku Aslam, mereka dihadang oleh Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslami beserta sekitar 80 orang pengikutnya. Kaum Quraisy saat itu menjanjikan imbalan 100 ekor unta bagi siapa saja yang dapat menangkap Nabi hidup atau mati.
- Pencegatan oleh Buraidah
Perjalanan Hijrah
Buraidah dan kelompoknya menghadang rombongan Rasulullah SAW dengan maksud menangkap Nabi demi hadiah 100 ekor unta dari Quraisy.
- Dialog dan Diplomasi Nabawi
Di Lokasi Pertemuan
Rasulullah SAW menyapa Buraidah dengan lembut dan bertanya tentang namanya serta sukunya. Saat Buraidah menyebutkan nama dan sukunya (Aslam dari Bani Sahm), Nabi mentafsirkan nama-nama tersebut sebagai pertanda baik (Tafa'ul): Aslam (keamanan/kedamaian) dan Sahm (keberuntungan/anak panah yang tepat sasaran).
- Masuk Islam & Pembentangan Serban
Akhir Pertemuan
Kewibawaan, keluhuran akhlak, dan ucapan Nabi meluluhkan hati Buraidah. Buraidah beserta seluruh pengikutnya langsung masuk Islam di tempat. Buraidah kemudian melepas serbannya, mengikatkannya pada tombak, dan menjadikannya sebagai bendera kemenangan untuk mengawal masuknya Rasulullah ke Madinah.
3. Perjalanan dari Quba' menuju Madinah & Shalat Jum'at Pertama
Setelah tinggal selama beberapa hari di Quba (dan membangun Masjid Quba), Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Madinah pada hari Jumat.
- Shalat Jum'at Pertama dalam Islam: Ketika rombongan sampai di lembah Ranuna (wilayah Bani Salim bin 'Auf), waktu shalat Jum'at tiba. Di sinilah Rasulullah SAW menyelenggarakan shalat Jum'at pertama dalam sejarah Islam beserta khutbah pertamanya di hadapan sekitar 100 orang kaum Muslimin.
- Membangun Masjid Nabawi: Setelah shalat, Nabi melanjutkan perjalanan hingga tiba di jantung kota Madinah, tempat di mana unta beliau (Al-Qaswa') akhirnya berlutut di tanah milik dua anak yatim (Sahl dan Suhail) dari Bani Najjar. Di tanah itulah kemudian dibangun Masjid Nabawi.
4. Penyambutan Agung oleh Penduduk Madinah
Kedatangan Rasulullah SAW disambut dengan puncaknya kegembiraan oleh suku Aus, Khazraj, dan kaum Anshar di Madinah:
- Suasana Pesta dan Kegembiraan: Masyarakat Madinah—pria, wanita, anak-anak, hingga para hamba sahaya—keluar ke jalan-jalan dan berdiri di atas atap rumah. Mereka menggemakan takbir dan membawakan nasyid penyambutan yang sangat fenomenal:
"Thala'al badru 'alaina... min tsaniyyatil wada'..."
(Telah terbit bulan purnama atas kami, dari bukit Tsaniyatil Wada...)
- Berebut Menjadi Tuan Rumah: Setiap pimpinan kabilah yang dilalui Nabi memegang tali kelangkang unta beliau (Al-Qaswa'), memohon agar Nabi berkenan singgah dan tinggal di rumah mereka. Nabi SAW menyikapinya dengan bijak dan lembut dengan bersabda:"Biarkanlah unta ini berjalan, karena ia telah diperintah (oleh Allah)."
- Singgah di Rumah Abu Ayyub Al-Anshari: Unta beliau akhirnya berhenti dan berlutut di dekat tempat yang kelak menjadi Masjid Nabawi, tepat di depan rumah Abu Ayyub Al-Anshari RA. Nabi pun tinggal di rumah Abu Ayyub sementara waktu hingga pembangunan Masjid Nabawi dan kediaman beliau selesai.
Hikmah Sirah
Peristiwa perjalanan ini mengajarkan keseimbangan antara siasat manusiawi (ikhtiar) seperti yang ditunjukkan Abu Bakar, dan pertolongan ilahi (tawakal) melalui kelembutan akhlak Nabi yang mampu mengubah musuh (Buraidah) menjadi pelindung.
Khutbah shalat Jum'at pertama yang disampaikan Rasulullah SAW di Lembah Ranuna (Banil Harith bin al-Khazraj) mengandung fondasi spiritual dan sosial bagi masyarakat Muslim yang baru terbentuk di Madinah. Khutbah ini menjadi peletak dasar tauhid, persaudaraan, dan tanggung jawab moral individu di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW menyampaikan khutbah dalam dua bagian:
1. Khutbah Pertama: Peringatan Kematian & Penghambaan Diri
Khutbah bagian pertama diawali dengan puji-pujian kepada Allah SWT (Tahmid dan Tasbih), kemudian dilanjutkan dengan nasihat-nasihat mendalam:
- Perintah Bertakwa: Nabi SAW menegaskan bahwa bekal terbaik bagi seorang Muslim dalam menghadapi kehidupan akhirat adalah takwa kepada Allah SWT.
- Mengingat Hari Kiamat dan Akuntabilitas Diri: Nabi mengingatkan bahwa setiap manusia akan mati dan dimintai pertanggungjawaban atas setiap amal perbuatannya di hadapan Allah tanpa perantara.
- Menjalin Hubungan Sang Pencipta dan Makhluk: Rasulullah menekankan pentingnya memperbaiki hubungan batin (sirr) dengan Allah SWT, karena hal itu secara otomatis akan memancarkan kebaikan pada amalan lahiriah ('alaniyah).
Petikan Pesan Khutbah:
"Wahai manusia! Bertakwalah kamu kepada Allah. Ketahuilah bahwa kalian akan mati, lalu kalian akan meninggalkan gembalaan kalian. Kemudian Rabb kalian akan bersabda kepadanya—tanpa juru bicara dan tanpa penghalang—'Bukankah telah datang kepadamu Rasul-Ku yang menyampaikan pesan, dan Aku telah memberimu harta serta melimpahkan karunia kepadamu? Maka apakah yang telah engkau persiapkan untuk dirimu?'..."
2. Khutbah Kedua: Cinta Kasih, Persaudaraan, dan Penegakan Kebajikan
Pada bagian kedua khutbah, Rasulullah SAW memberikan penekanan pada dimensi sosial dan hubungan sesama manusia:
- Saling Mencintai Karena Allah: Nabi memerintahkan kaum Muslimin (Muhajirin dan Anshar) untuk saling mencintai dan menyebarkan kasih sayang demi memperkuat ikatan persaudaraan Islam.
- Memenuhi Janji dan Kebenaran Ucap: Nabi menekankan pentingnya kejujuran dan integritas dalam setiap perkataan serta perbuatan.
- Perbanyak Sedekah meski Sedikit: Rasulullah menganjurkan untuk senantiasa bersedekah sebagai pelindung dari api neraka, meskipun hanya dengan sebutir kurma atau tutur kata yang baik.
Petikan Pesan Khutbah:
"Saling cintailah kamu sekalian dengan ruh dari Allah di antara kalian. Sesungguhnya Allah murka jika janji-Nya diingkari. Was-salamu 'alaikum warahmatullah..."
Makna Strategis Khutbah Ranuna
Khutbah pertama ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual ibadah, tetapi juga menjadi deklarasi prinsip dasar peradaban Islam di Madinah: menyatukan tauhid murni (hablum minallah) dengan etika sosial dan persaudaraan (hablum minannas).
Pertemuan antara Rasulullah SAW dan Abdullah bin Salam RA (seorang ulama besar Yahudi dari Bani Qainuqa' di Madinah yang bernama asli Al-Husain bin Salam) merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah sesaat setelah Nabi tiba di Madinah.
Kedatangan Nabi SAW membuat masyarakat Madinah berbondong-bondong menyambut beliau, termasuk Abdullah bin Salam yang datang karena penasaran untuk membuktikan kenabian Muhammad SAW.
1. Momen Pertemuan & Kesaksian Pertama
Ketika Abdullah bin Salam menatap wajah Rasulullah SAW untuk pertama kalinya, ia langsung menyadari kebenaran risalah beliau sebelum Nabi sempat mengucapkan sepatah kata pun.
Abdullah bin Salam kelak menceritakan momen tersebut:
"Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, orang-orang berkerumun mendatangi beliau... Maka aku pun ikut berdesakan di tengah manusia untuk melihat beliau. Ketika aku mengamati dan memandangi wajah Rasulullah SAW dengan cermat, aku tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pembohong."
Wajah beliau memancarkan kejujuran dan kewibawaan yang sesuai dengan ciri-ciri nabi akhir zaman yang tercantum dalam Kitab Taurat.
2. Sabda Nabi SAW yang Pertama Dengar: Afsyus-Salam...
Di hadapan kerumunan masyarakat Madinah saat itu, kalimat pertama yang didengar oleh Abdullah bin Salam dari lisan Rasulullah SAW adalah sebuah hadits yang sangat monumental:
«أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ»
| Kalimat Sabda Nabi | Makna & Dimensi Ajaran |
| أَفْشُوا السَّلاَمَ (Afsyus-salam) | Sebarkanlah salam/kedamaian. Menganjurkan untuk menebarkan rasa aman, persaudaraan, dan menyapa sesama manusia tanpa membeda-bedakan. |
| وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ (Wa at'imut-tha'am) | Berikanlah makanan. Membangun kepedulian sosial, kesetiakawanan, dan mengentaskan kemiskinan/kelaparan di masyarakat. |
| وَصِلُوا الأَرْحَامَ (Wa shilul-arham) | Sambunglah tali silaturahmi. Mempererat hubungan kekeluargaan, kerabat, dan persaudaraan antarsesama. |
| وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ (Wa shallu bil-laili wan-nasu niyam) | Shalatlah di malam hari saat manusia tidur. Menjaga kedekatan spiritual (khalwat) dan keikhlasan hubungan hamba dengan Allah SWT (qiyamul lail). |
| تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ (Tadkhulul-jannata bisalam) | Niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. Balasan utama bagi orang yang memadukan kebaikan sosial dan ibadah ritual. |
3. Proses Masuk Islam & Ujian Tiga Pertanyaan
Setelah mendengar sabda tersebut, Abdullah bin Salam menemui Nabi secara pribadi dan mengajukan tiga pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh seorang Nabi:
- Apakah tanda-tanda pertama Kiamat?
- Apakah makanan pertama yang dimakan penghuni surga?
- Mengapa seorang anak bisa menyerupai ayahnya atau ibunya?
Rasulullah SAW menjawab bahwa Malaikat Jibril baru saja memberitahukan jawabannya:
- Tanda pertama Kiamat adalah api yang mengumpulkan manusia dari timur ke barat.
- Makanan pertama penghuni surga adalah hati ikan paus (ziyadatu kabidil-hut).
- Kemiripan anak ditentukan oleh mani mana yang lebih dulu keluar/mendominasi saat pembuahan.
Mendengar jawaban yang tepat tersebut, Abdullah bin Salam langsung mengucapkan dua kalimat syahadat di tempat.
4. Siasat Pengakuan dari Kaum Yahudi
Sadar akan watak kaumnya, Abdullah bin Salam meminta Rasulullah SAW untuk menyembunyikannya terlebih dahulu dan menanyakan kepribadiannya kepada tokoh-tokoh Yahudi Madinah.
- Nabi SAW bertanya kepada tokoh Yahudi: "Bagaimanakah kedudukan Al-Husain bin Salam di antara kalian?"
- Mereka menjawab: "Dia adalah orang terbaik di antara kami, putra dari orang terbaik kami, ulama kami, dan pemimpin kami!"
- Nabi kemudian bertanya: "Bagaimana jika dia telah masuk Islam?"
- Mereka menjawab: "Semoga Allah melindunginya dari hal itu!"
Saat itulah Abdullah bin Salam keluar dari balik tirai dan bersaksi: "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!" Seketika itu juga tokoh-tokoh Yahudi balik mencaci-maki Abdullah bin Salam dan menyebutnya sebagai orang terburuk di antara mereka.
Hikmah & Makna Fondasi Madinah
Prinsip "Afsyus-Salam" yang ditangkap oleh Abdullah bin Salam menjadi pilar utama pembentukan masyarakat Madinah. Rasulullah SAW tidak mengawali dakwahnya di Madinah dengan seruan perang atau doktrin yang kaku, melainkan dengan 4 pilar peradaban: kedamaian, kepedulian sosial, keharmonisan keluarga, dan kedalaman spiritual.