
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalil yang menunjukkan bahwa makhluk memiliki Pencipta yang menciptakannya dan Pengatur yang mengatur dirinya ?
Dalil yang menunjukkan bahwa makhluk memiliki Pencipta (Al-Khaliq) yang menciptakannya dan Pengatur (Al-Mudabbir) yang mengatur dirinya, dalam terminologi akidah Islam dikenal sebagai dalil-dalil Tauhid Rububiyah.
Dalil-dalil ini banyak disebutkan dalam Al-Qur'an dan sunnah, serta dapat juga ditunjukkan melalui akal dan fitrah manusia. Berikut adalah beberapa dalil utama dari Al-Qur'an:
1. Dalil Penciptaan dan Pengaturan Alam Semesta
Ayat-ayat Al-Qur'an secara eksplisit menyebutkan bahwa Allah-lah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta.
Surah Al-A'raf Ayat 54
Ini adalah salah satu dalil paling jelas yang menggabungkan konsep penciptaan dan pengaturan:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Artinya: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah (mengatur) hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam."
Pencipta (Al-Khaliq): Bagian خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ (telah menciptakan langit dan bumi).
Pengatur (Al-Mudabbir): Bagian يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ (Dia menutupkan malam kepada siang) dan أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ (Ingatlah, menciptakan dan memerintah/mengatur hanyalah hak Allah).
2. Dalil Ketidakmampuan Makhluk Mencipta dan Memberi Rezeki
Al-Qur'an menantang manusia untuk menunjukkan adanya pencipta selain Allah yang mampu memberi rezeki, yang merupakan bagian dari pengaturan (Rububiyah).
Surah Fatir Ayat 3
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
Artinya: "Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka mengapakah kamu berpaling?"
Ayat ini menetapkan bahwa Allah adalah Pencipta (خَالِقٍ) dan satu-satunya Pemberi Rezeki (يَرْزُقُكُم), yang merupakan hak prerogatif Pengatur alam semesta.
3. Dalil Logika (Sanggahan Tercipta Tanpa Asal-Usul)
Ayat ini menggunakan logika untuk menolak kemungkinan adanya sesuatu yang tercipta dengan sendirinya tanpa Pencipta, sekaligus menegaskan bahwa Allah-lah Pencipta.
Surah At-Thur Ayat 35
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
Artinya: "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap ciptaan harus memiliki Pencipta, dan mustahil ciptaan itu menciptakan dirinya sendiri.
Kesimpulan
Semua dalil ini menegaskan konsep Tauhid Rububiyah, yaitu meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pemilik (Al-Malik), dan Pengatur (Al-Mudabbir) segala sesuatu di alam semesta. Pengakuan terhadap Rububiyah Allah ini merupakan pondasi bagi pengakuan terhadap Tauhid Uluhiyah (mengesakan Allah dalam ibadah).
Mengapa kalian meyakini Sang Maka Menjadikan tidak serupa dengan makhluk mana pun ?
Pernyataan bahwa Sang Maha Pencipta tidak serupa dengan makhluk mana pun adalah keyakinan mendasar dalam Islam, yang dikenal sebagai konsep Tauhid Asma wa Sifat (mengesakan Allah dalam nama dan sifat-sifat-Nya).
Keyakinan ini didukung oleh dalil-dalil kuat dari Al-Qur'an dan Sunnah, serta didukung oleh argumen logis (akal).
Berikut adalah alasan utama mengapa diyakini bahwa Sang Maha Pencipta (Allah SWT) tidak serupa dengan makhluk-Nya:
1. Dalil Naqli (Dari Al-Qur'an)
Dalil paling utama yang menegaskan kemahasucian Allah dari segala keserupaan dengan makhluk adalah firman-Nya sendiri:
Surah Asy-Syura Ayat 11
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Ayat ini adalah dasar utama (kaidah) dalam memahami sifat-sifat Allah. Frasa لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ secara tegas menolak segala bentuk keserupaan (tamtsil) antara Allah dengan makhluk-Nya.
Kemudian, ayat tersebut ditutup dengan penetapan sifat السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (Maha Mendengar lagi Maha Melihat), yang menunjukkan bahwa meskipun Allah memiliki sifat-sifat yang namanya juga ada pada makhluk (seperti mendengar dan melihat), hakikat sifat-Nya itu tidak sama dan tidak serupa dengan sifat makhluk.
2. Dalil 'Aqli (Logika)
Secara akal sehat dan logis, mustahil Sang Pencipta sama atau serupa dengan ciptaan-Nya. Logika ini didasarkan pada perbandingan antara sifat Pencipta (Khaliq) dan sifat Makhluk (Makhluq):
Aspek Sang Pencipta (Allah) Makhluk (Ciptaan) Konsekuensi Logis
Keberadaan Azali (tidak berawal) dan Abadi (tidak berakhir). Wajib adanya. Hadits (baru/berawal) dan akan berakhir. Mungkin adanya. Jika Pencipta serupa dengan makhluk, Dia pasti berawal, dan jika Dia berawal, Dia membutuhkan Pencipta lain, yang akan menyebabkan rantai tak terbatas (tasalsul) yang mustahil.
Sifat Sempurna, mutlak, tidak terbatas, tidak lemah. Cacat, terbatas, membutuhkan yang lain, lemah. Jika Pencipta memiliki cacat atau keterbatasan, Dia tidak akan mampu menciptakan atau mengatur alam semesta yang sempurna.
Kebutuhan Maha Kaya, tidak membutuhkan apa pun (Al-Ghani). Sangat butuh kepada yang menciptakan dan mengaturnya. Jika Pencipta membutuhkan sesuatu, termasuk membutuhkan tubuh, tempat, atau sifat makhluk, berarti Dia bukan Tuhan yang sejati, melainkan makhluk yang butuh.
Kesimpulan Logis: Jika Sang Pencipta menyerupai makhluk-Nya, maka Dia akan memiliki kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan seperti makhluk. Sesuatu yang lemah, terbatas, dan membutuhkan tidak mungkin menjadi Pencipta dari segala sesuatu yang ada. Oleh karena itu, akal wajib menetapkan bahwa Dia harus berbeda, lebih tinggi, dan Maha Sempurna dalam segala hal, sehingga tidak ada satu pun dari ciptaan-Nya yang serupa dengan-Nya.
3. Menghindari Tasybih dan Tajsim
Keyakinan ini penting untuk menghindari dua penyimpangan akidah:
Tasybih (Penyerupaan): Menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk, misalnya meyakini tangan Allah sama persis dengan tangan manusia.
Tajsim (Pembendaan/Penggambaran): Menggambarkan Allah sebagai benda, memiliki batasan ruang dan waktu, atau memiliki bentuk fisik makhluk.
Dengan meyakini لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ, umat Islam menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an (seperti tangan, wajah, bersemayam di atas 'Arsy), namun meyakini bahwa hakikat sifat-sifat tersebut sesuai dengan kemuliaan-Nya dan tidak serupa dengan apa pun yang dapat dibayangkan oleh makhluk.
Mengapa kalian menyatakan bahwa Pembuat (Pencipta/Tuhan) segala sesuatu itu hanya satu ?
Alasan utama mengapa kami menyatakan bahwa Pembuat (Pencipta/Tuhan) segala sesuatu itu hanya satu adalah karena adanya kesempurnaan dan keteraturan alam semesta, yang dalam Islam dikenal sebagai dalil-dalil Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah, didukung oleh dalil naqli (Al-Qur'an) dan dalil aqli (logika).
1. Dalil Logika (Aqli)
Secara logis, mustahil ada lebih dari satu Tuhan yang berkuasa penuh atas alam semesta. Hal ini didasarkan pada argumen Tamani' (pencegahan/pertentangan):
A. Prinsip Kesatuan Tindakan (Ittifaq)
Jika ada dua atau lebih Tuhan, ada dua kemungkinan:
Mereka selalu sepakat dalam setiap keputusan dan tindakan. Jika mereka selalu sepakat, maka ini menunjukkan adanya Tuhan yang lebih unggul atau lebih bijaksana yang ditaati oleh yang lain. Secara praktis, hanya satu kehendak yang efektif, dan yang lainnya bersifat pasif atau subordinat. Dalam hal ini, Tuhan yang berkuasa mutlak tetaplah hanya satu.
B. Prinsip Pertentangan (Ikhtilaf)
Mereka berselisih atau bertentangan dalam keputusan dan kehendak. Misalnya, Tuhan A ingin menghidupkan sesuatu, sementara Tuhan B ingin mematikannya.
Jika kehendak keduanya terlaksana: Mustahil, karena dua kehendak yang berlawanan tidak mungkin terjadi secara bersamaan pada objek yang sama.
Jika hanya kehendak salah satunya yang terlaksana: Maka Tuhan yang kehendaknya terlaksana adalah Tuhan yang sejati, dan yang kehendaknya gagal adalah makhluk yang lemah, sehingga ia tidak pantas disebut Tuhan.
Jika tidak ada kehendak yang terlaksana: Maka tidak akan ada alam semesta.
Kesimpulan Logis: Keteraturan, keharmonisan, dan eksistensi alam semesta yang teratur membuktikan bahwa hanya ada satu kehendak mutlak yang berkuasa, mengatur, dan memelihara.
2. Dalil Naqli (Al-Qur'an)
Al-Qur'an secara langsung menegaskan keesaan-Nya dan menolak adanya Tuhan lain:
A. Dalil Ketiadaan Perselisihan (Surah Al-Anbiya' Ayat 22)
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
Artinya: "Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy, dari apa yang mereka sifatkan."
Ayat ini adalah penegasan Al-Qur'an terhadap dalil logika (Tamani'). Kehancuran (kerusakan) total (لَفَسَدَتَا) akan terjadi akibat perselisihan kehendak antar-Tuhan, namun kenyataannya alam semesta tetap teratur. Hal ini membuktikan bahwa Tuhan itu hanya satu.
B. Dalil Penegasan Mutlak (Surah Al-Ikhlas Ayat 1-2)
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2)
Artinya: "Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa." (1) "Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu." (2)
أَحَدٌ (Ahad) menunjukkan keesaan Allah yang mutlak, yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak memiliki sekutu.
الصَّمَد (Ash-Shamad) menunjukkan bahwa Dia adalah tempat bergantung segala sesuatu dan Dia tidak bergantung pada siapa pun, sifat yang hanya dimiliki oleh Tuhan Yang Tunggal.
Keesaan ini, baik dalam penciptaan dan pengaturan (Rububiyah) maupun dalam hak untuk disembah (Uluhiyah), adalah inti dari ajaran Islam.
Apa dalil yang menunjukkan kemungkinan dihidupkannya makhluk kembali ?
Dalil yang menunjukkan kemungkinan dihidupkannya makhluk kembali (kebangkitan atau Al-Ba'ts) setelah mati adalah salah satu pilar utama akidah Islam. Dalil-dalil ini terbagi menjadi dua kategori utama: Dalil Naqli (Al-Qur'an) dan Dalil 'Aqli (Logika dan Perumpamaan).
1. Dalil Naqli (Al-Qur'an)
Al-Qur'an secara tegas menyatakan kepastian kebangkitan dan menantang keraguan manusia terhadap hal itu.
A. Penegasan Kekuasaan Allah (Surah Al-Hajj Ayat 7)
Ayat ini memberikan penegasan mutlak bahwa kebangkitan adalah sebuah kepastian.
وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ
Artinya: "Dan sesungguhnya hari Kiamat itu pastilah datang, tidak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur."
B. Dalil Penciptaan Awal (Surah Yasin Ayat 78-79)
Ketika orang-orang kafir meragukan kebangkitan dengan menunjukkan tulang belulang yang telah hancur, Al-Qur'an menjawabnya dengan mengingatkan tentang penciptaan awal.
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (79)
Artinya: "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah: 'Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.'"
Inti Dalil: Tuhan yang mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan (pertama kali) pasti lebih mampu untuk mengembalikannya lagi.
C. Pembuktian Kekuatan Pencipta (Surah Al-Qiyamah Ayat 3-4)
Ayat ini secara spesifik menolak anggapan mustahilnya penyusunan kembali jasad.
أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ (3) بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُ (4)
Artinya: "Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna."
2. Dalil 'Aqli dan Perumpamaan
Al-Qur'an juga menyajikan perumpamaan-perumpamaan yang dapat diterima akal untuk menunjukkan kemungkinan kebangkitan:
A. Penghidupan Bumi yang Mati
Allah menggunakan siklus alam, yaitu menghidupkan kembali bumi setelah kering dan mati, sebagai analogi bagi kebangkitan manusia.
وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (5) ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَأَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (6)
(Surah Al-Hajj Ayat 5-6) Artinya: "...dan kamu lihat bumi itu kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati, dan sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Inti Dalil: Jika Allah mampu menghidupkan kembali bumi yang kering menjadi subur dengan air hujan, maka Dia pasti mampu menghidupkan kembali tubuh manusia yang telah menjadi tanah.
B. Bukti Kebangkitan yang Pernah Terjadi di Dunia
Al-Qur'an menceritakan kisah-kisah nyata tentang orang atau kelompok yang dihidupkan kembali di dunia, sebagai bukti awal kekuasaan Allah:
Kisah Ashabul Kahfi: Dibuat tertidur selama 309 tahun kemudian dibangunkan kembali (QS. Al-Kahfi: 25).
Kisah Uzair (atau seorang nabi): Dimatikan selama 100 tahun, kemudian dihidupkan kembali (QS. Al-Baqarah: 259).
Kisah Kaum Nabi Musa: Sekelompok orang yang disambar petir hingga mati, kemudian dihidupkan kembali (QS. Al-Baqarah: 56).
Semua dalil ini berfungsi untuk meyakinkan akal dan hati bahwa kebangkitan adalah sebuah kemungkinan nyata, bahkan kepastian mutlak, berdasarkan Kemahakuasaan (Qudrah) Allah dan Hikmah-Nya untuk memberikan pembalasan yang adil.
Mengapa kalian mengingkari Allah dalam bentuk jisim ?
Kami meyakini dan menyatakan bahwa Allah (Sang Pencipta) tidak berbentuk jisim (jasmani) karena alasan yang bersifat teologis (dalil naqli) dan logis ('aqli), yang merupakan prinsip mendasar dalam Islam, dikenal sebagai Tanzih (menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk). Berikut adalah alasan-alasan utamanya:
1. Dalil Naqli (Al-Qur'an): Prinsip Dasar Tanzih
Dasar utama penolakan ini adalah ayat Al-Qur'an yang secara eksplisit meniadakan segala bentuk keserupaan antara Allah dan makhluk-Nya.
Surah Asy-Syura Ayat 11
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Implikasi: Konsep jisim (jasad, benda, atau materi) secara definisi adalah sifat yang terikat pada ciptaan (makhluk). Jika Allah berjisim, maka Dia serupa dengan makhluk-Nya, yang secara tegas ditolak oleh ayat ini.
2. Dalil Logika ('Aqli): Jisim adalah Sifat Makhluk
Secara nalar, mustahil Sang Pencipta memiliki sifat-sifat yang merupakan ciri khas ciptaan-Nya.
A. Jisim Membutuhkan Tempat dan Arah
Definisi Jisim: Jisim adalah setiap sesuatu yang menempati ruang, memiliki dimensi (panjang, lebar, kedalaman), dan dapat ditunjuk arahnya (atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang).
Konsekuensi: Jika Allah berjisim, berarti Dia membutuhkan tempat dan ruang. Padahal, tempat, ruang, dan arah adalah makhluk ciptaan-Nya. Tuhan yang membutuhkan ciptaan-Nya untuk eksis atau berada, bukanlah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya (Al-Ghaniy), melainkan makhluk yang lemah.
Akidah: Allah telah ada (Wujud) sebelum Dia menciptakan tempat, ruang, dan waktu (Azali). Keadaan Allah tidak berubah setelah Dia menciptakan alam semesta.
B. Jisim Terdiri dari Bagian-bagian (Atoms/Juz')
Sifat Jisim: Jisim dapat dibagi menjadi bagian-bagian (seperti molekul, atom, dan seterusnya). Jisim tersusun dari unsur-unsur (juz').
Konsekuensi: Sesuatu yang tersusun dari bagian-bagian adalah sesuatu yang diciptakan (hadits), bergantung pada bagian-bagian tersebut, dan dapat mengalami perpecahan atau kehancuran.
Akidah: Allah adalah Tunggal (Ahad), tidak tersusun dari bagian mana pun, dan mustahil Dia diciptakan atau dapat dihancurkan. Oleh karena itu, Allah tidak mungkin berbentuk jisim.
C. Jisim Terikat pada Perubahan (Taghayyur)
Jisim tunduk pada hukum alam dan fisika, seperti perubahan, pergerakan, dan keterbatasan.
Akidah: Allah Maha Sempurna dan Maha Kekal. Mustahil Dia terikat pada sifat-sifat kelemahan, perubahan, atau keterbatasan yang merupakan sifat alam semesta (makhluk).
Kesimpulan: Konsep Bila Kayf dan Tanzih
Akidah Islam yang murni mengajarkan untuk menetapkan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an (seperti Wajah, Tangan, atau Istawa'—bersemayam) namun secara bersamaan menolak adanya keserupaan (Tasybih) dan penggambaran bentuk fisik (Tajsim/Jisim).
Kami mengakui bahwa Allah memiliki Sifat-Sifat yang sempurna, tetapi menolak memberikan bentuk jasmani, dengan kaidah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya), dan kita menetapkan sifat-sifat-Nya Bila Kayf (tanpa bertanya bagaimana/tanpa dikhayalkan bentuknya).
Oleh karena itu, mengingkari Allah dalam bentuk jisim adalah cara untuk memelihara keyakinan akan Kemahasempurnaan Mutlak (Kesempurnaan Total) dan Keesaan Mutlak (Tauhid) Sang Pencipta.
Mengapa kalian menyatakan Allah swt itu Maha Mengetahui ?
Kami menyatakan Allah SWT itu Maha Mengetahui (Al-'Alim) karena hal tersebut merupakan sifat kesempurnaan mutlak yang wajib dimiliki oleh Tuhan, yang didasarkan pada dalil Naqli (Al-Qur'an dan Sunnah) dan 'Aqli (logika/akal sehat). Berikut adalah penjelasan mengapa keyakinan ini merupakan pilar utama dalam akidah Islam:
1. Dalil Naqli (Berdasarkan Wahyu)
Al-Qur'an secara eksplisit dan berulang kali menegaskan sifat ilmu Allah:
A. Nama dan Sifat-Nya
Allah memiliki nama-nama yang menunjukkan ilmu-Nya yang tak terbatas, seperti:
- Al-'Alim (Yang Maha Mengetahui)
- Al-Khobir (Yang Maha Mengenal/Teliti)
- 'Allamul Ghuyub (Yang Maha Mengetahui perkara gaib)
B. Ayat-Ayat Al-Qur'an
Surah Al-Mulk Ayat 14:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِير
Artinya: "Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Ayat ini secara logika menegaskan bahwa mustahil Pencipta tidak mengetahui ciptaan-Nya).
Surah Al-Hajj Ayat 70:
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Artinya: "Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu terdapat dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sungguh, yang demikian itu sangat mudah bagi Allah."
Surah Luqman Ayat 34 (tentang ilmu gaib): "...وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ" Artinya: "...Dan tidak seorang pun mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Ilmu-Nya meliputi hal terkecil (Surah Al-An'am: 59): "...وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا..." Artinya: "...Dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya..."
2. Dalil 'Aqli (Berdasarkan Logika)
Logika menetapkan bahwa sifat ilmu adalah wajib (mustahil tidak ada) bagi Tuhan Yang Maha Pencipta.
A. Bukti Penciptaan yang Sempurna
Alam semesta, dengan keteraturan dan desainnya yang luar biasa kompleks (dari galaksi hingga sel terkecil), adalah bukti nyata adanya kecerdasan dan ilmu yang tak terbatas.
Mustahil sesuatu yang sempurna, teratur, dan berfungsi dengan hukum-hukum yang tepat dapat diciptakan oleh Zat yang tidak memiliki ilmu (jahil/bodoh). Jika Allah tidak Maha Mengetahui, maka Dia tidak mungkin mampu menciptakan dan mengatur alam semesta.
B. Kemustahilan Sifat Kebodohan (Jahl)
Sifat bodoh (jahl), lupa (nisyan), atau lalai (ghaflah) adalah sifat-sifat kekurangan dan kelemahan.
Tuhan, sebagai Zat yang Maha Sempurna (Wajibul Wujud), mustahil disifati dengan segala bentuk kekurangan. Jika Dia bodoh atau lupa, maka Dia adalah makhluk yang lemah, bukan Tuhan yang layak disembah.
C. Ilmu-Nya adalah Azali (Tanpa Permulaan dan Batasan)
Pengetahuan Allah tidak diperoleh melalui proses belajar, penelitian, atau pengalaman, karena hal itu adalah cara makhluk mendapatkan ilmu.
Ilmu Allah adalah Qadim (tanpa permulaan) dan Azali; Dia mengetahui segala sesuatu—yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, yang akan terjadi, bahkan yang tidak terjadi (seandainya terjadi)—secara sempurna dan serentak, tanpa batas waktu atau ruang.
Dengan demikian, pernyataan bahwa Allah SWT itu Maha Mengetahui adalah keharusan akidah untuk mengimani kesempurnaan-Nya sebagai Pencipta dan Penguasa tunggal.
Mengapa kalian menyatakan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat ?
Kami menyatakan Allah SWT Maha Mendengar (As-Sami') dan Maha Melihat (Al-Bashir) karena sifat-sifat ini merupakan Sifat Ma'ani (sifat-sifat hakiki yang melekat pada Dzat Allah) yang wajib diimani dalam akidah Islam. Keyakinan ini ditegakkan berdasarkan dua pilar utama:
1. Dalil Naqli (Berdasarkan Wahyu dari Al-Qur'an)
Al-Qur'an adalah sumber utama yang berulang kali menegaskan kedua sifat ini, seringkali disebutkan secara bersamaan.
A. Ayat Kunci (Penolakan Penyerupaan dan Penetapan Sifat)
Ayat yang paling jelas dan mendasar dalam hal ini adalah:
{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} $$**Artinya:** "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. **Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat**." (QS. Asy-Syura: 11) Ayat ini mengandung dua prinsip akidah yang penting: 1. **Tanzih:** Menafikan segala penyerupaan Allah dengan makhluk ("Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia"). 2. **Itsbat:** Menetapkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya ("Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat"). ### B. Dalil-Dalil Lain * **Tentang Pendengaran yang Luas:** Allah berfirman ketika Nabi Musa dan Harun diutus kepada Fir'aun:
{قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ}
Artinya:** "Dia (Allah) berfirman: 'Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya **Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat**'." (QS. Thaha: 46)
Tentang Melihat Hal Tersembunyi:
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
$$$$Artinya: "Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 233)
Mendengar Doa dan Aduan:
قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
$$$$Artinya: "Sungguh, Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Mujadalah: 1) (Ayat ini menunjukkan kesempurnaan pendengaran-Nya yang meliputi suara yang lirih dan keluhan hati).
2. Dalil 'Aqli (Berdasarkan Logika)
Logika menetapkan bahwa sifat mendengar (Sama') dan melihat (Bashar) adalah sifat kesempurnaan yang wajib dimiliki oleh Dzat Tuhan.
A. Mutlaknya Kesempurnaan
Seseorang yang mendengar dan melihat jelas lebih sempurna daripada seseorang yang tuli dan buta.
Mustahil Allah, sebagai Dzat yang wajib memiliki seluruh sifat kesempurnaan (Wajibul Wujud), disifati dengan sifat-sifat kekurangan (buta/tuli).
B. Beda dengan Makhluk
Penting untuk dipahami bahwa pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan makhluk-Nya.
Allah Mendengar: Tanpa telinga, tanpa organ, tidak terbatasi oleh jarak, volume (keras atau pelan), dan dapat mendengar seluruh suara, dari seluruh makhluk, dalam waktu yang bersamaan.
Allah Melihat: Tanpa mata, tanpa cahaya, tanpa batasan jarak, dan dapat melihat segala sesuatu (baik yang terlihat maupun yang sangat tersembunyi, seperti semut hitam di atas batu hitam pada malam yang gelap gulita).
Implikasi Keimanan Terhadap Sifat Ini
Keimanan kepada sifat As-Sami' dan Al-Bashir memiliki dampak besar bagi seorang Muslim, yaitu:
Melahirkan Rasa Ihsan: Menyadari bahwa Allah selalu mendengar ucapan dan melihat perbuatan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, mendorong hamba untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhi maksiat (disebut maqam Ihsan).
Ketulusan Doa: Mengetahui Allah Maha Mendengar memberi keyakinan bahwa doa dan rintihan hamba-Nya pasti sampai dan diperhatikan oleh-Nya.
Kesadaran Akhlak: Seseorang akan menjaga lisan (perkataan) dan tindak-tanduknya karena yakin tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan-Nya.
Apakah kalian menyatakan bahwa Allah swt senantiasa bersifat Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Mendengar, lagi Maha Melihat ?
Ya, kami mutlak menyatakan bahwa Allah SWT senantiasa bersifat Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Mendengar, dan Maha Melihat. Keyakinan ini merupakan bagian fundamental dari akidah Islam dan termuat dalam Sifat Wajib Allah yang terbagi menjadi dua kelompok:
1. Sifat Ma'ani (Sifat Hakiki)
Ini adalah tujuh sifat yang berdiri pada Dzat Allah yang menunjukkan kesempurnaan-Nya:
Sifat Ma'ani Arti :
- Qudrat (قُدْرَةٌ) Mahakuasa
- Ilmu (عِلْمٌ) Maha Mengetahui
- Sama' (سَمْعٌ) Maha Mendengar
- Bashar (بَصَرٌ) Maha Melihat
- Iradat Maha Berkehendak
- Hayat Maha Hidup
- Kalam Maha Berfirman
2. Sifat Ma'nawiyah (Keadaan Dzat)
Sifat ini menjelaskan keadaan Dzat Allah yang selalu terikat dengan Sifat Ma'ani. Keempat sifat yang Anda sebutkan secara khusus diwakili oleh sifat Ma'nawiyah sebagai berikut:
Sifat Ma'ani Sifat Ma'nawiyah Arti :
- Ilmu Kaunuhu 'Aliman (عَالِمًا) Keadaan-Nya Maha Mengetahui
- Qudrat Kaunuhu Qadiran (قَادِرًا) Keadaan-Nya Mahakuasa
- Sama' Kaunuhu Sami'an (سَمِيعًا) Keadaan-Nya Maha Mendengar
- Bashar Kaunuhu Bashiran (بَصِيرًا) Keadaan-Nya Maha Melihat
Penggunaan kata "senantiasa" sangat tepat, karena sifat-sifat Allah adalah Qadim (dahulu/kekal) dan tidak terikat oleh permulaan atau akhir waktu. Allah tidak pernah tidak mengetahui, tidak berkuasa, tidak mendengar, dan tidak melihat.
Dalil Dalam Al-Qur'an
Ayat-ayat Al-Qur'an secara eksplisit dan berulang kali menegaskan keempat sifat ini, seperti:
Maha Mengetahui (Al-Aliim):
وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 29)
Mahakuasa (Al-Qadiir):
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 20)
Maha Mendengar lagi Maha Melihat (As-Sami' Al-Bashir):
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)
Mengapa kalian menyatakan bahwa Allah yang Maha Menciptakan itu merupakan Dzat Yang Maha Mengetahui sekaligus berilmu (pengetahuan) ?
Pernyataan bahwa Allah Yang Maha Menciptakan (Al-Khaliq) juga merupakan Dzat Yang Maha Mengetahui dan Berilmu (Al-'Alim) adalah sebuah keniscayaan logis (dalil akal) dan penegasan mutlak (dalil naqli) dalam akidah Islam. Berikut adalah alasan utama mengapa kedua sifat ini tidak dapat dipisahkan:
1. Dalil Logis (Akal): Kesempurnaan Penciptaan
Sebuah penciptaan yang sempurna, rumit, dan teratur, mustahil terjadi tanpa adanya Ilmu (pengetahuan) yang sempurna dari penciptanya.
Perencanaan Sempurna: Alam semesta, dari galaksi yang maha besar hingga struktur atom yang terkecil, dan dari sistem biologis makhluk hidup yang kompleks, menunjukkan adanya rancangan yang sangat detail. Hanya Dzat yang memiliki pengetahuan tak terbataslah yang mampu merencanakan setiap detail dan mekanisme yang mengatur hukum fisika, kimia, dan kehidupan.
Mengeluarkan dari Tiada: Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan (Ex Nihilo). Untuk menciptakan sesuatu yang belum pernah ada, Sang Pencipta harus telah mengetahui secara sempurna wujud, sifat, fungsi, dan takdir dari ciptaan tersebut sebelum ia diciptakan.
Penguasaan Materi: Seandainya Allah menciptakan tanpa ilmu, maka ciptaan-Nya akan kacau, tidak konsisten, dan mungkin tidak mampu bertahan. Sifat Maha Pencipta (Al-Khaliq) mensyaratkan adanya sifat Maha Mengetahui (Al-'Alim) untuk menghasilkan ketertiban kosmos (Tandzimul Kaun).
2. Dalil Naqli (Al-Qur'an): Penegasan Ilahi
Al-Qur'an secara eksplisit menghubungkan kedua sifat ini dalam banyak ayat. Salah satu yang paling tegas adalah:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Artinya:
"Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui (Al-Khabir)?"
(QS. Al-Mulk: 14)
Ayat ini adalah pertanyaan retoris yang menekankan: Bagaimana mungkin Sang Pencipta tidak mengetahui ciptaan-Nya? Keadaan Allah sebagai Al-Khaliq (Yang Menciptakan) secara otomatis menuntut Dia bersifat Al-'Alim (Yang Maha Mengetahui).
Dalil lain yang menyebutkan gabungan sifat ini adalah:
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ
Artinya:
"Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Pencipta (Al-Khallāq) lagi Maha Mengetahui (Al-'Alīm)."
(QS. Al-Hijr: 86)
Dalam Asmaul Husna, nama Al-'Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Khaliq (Yang Maha Pencipta) sama-sama merupakan nama yang wajib diimani. Keterkaitan keduanya menunjukkan bahwa ilmu Allah adalah prasyarat mutlak bagi kekuasaan-Nya dalam menciptakan. Allah mengetahui segala sesuatu: yang telah terjadi, yang sedang terjadi, yang akan terjadi, bahkan yang tidak terjadi (seandainya itu terjadi).