
Penulis : Dr. KH. Achmad Muhammad,. MA
Tentu, saya akan menjelaskan Hari Keuangan Nasional/Hari ORI (Oeang Republik Indonesia) dalam perspektif perekonomian dunia.
Hari Keuangan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 30 Oktober, merujuk pada tanggal berlakunya Oeang Republik Indonesia (ORI) secara sah pada 30 Oktober 1946.
Perspektif Perekonomian Dunia
Dalam perspektif perekonomian dunia, penerbitan ORI dan peringatan Hari Keuangan Nasional memiliki makna yang mendalam, terutama terkait kedaulatan moneter dan identitas ekonomi nasional Indonesia di mata internasional.
1. Simbol Kedaulatan Moneter
- Pembeda Utama: Mata uang nasional (ORI, dan kemudian Rupiah) adalah simbol fundamental kedaulatan sebuah negara merdeka. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil pasca-kemerdekaan dan beredarnya berbagai mata uang asing (Jepang, De Javasche Bank, NICA Gulden), penerbitan ORI menandakan bahwa Indonesia memiliki kontrol penuh atas kebijakan moneternya.
- Pengakuan Internasional: Dalam sistem ekonomi global, memiliki mata uang sendiri adalah prasyarat untuk berpartisipasi penuh dalam perdagangan dan hubungan keuangan internasional sebagai subjek yang setara. ORI menjadi penanda bagi dunia bahwa Indonesia adalah negara berdaulat yang mandiri secara ekonomi.
2. Pilar Stabilitas Ekonomi Nasional
- Pengendalian Inflasi dan Transaksi: Meskipun pada awalnya ORI berjuang menghadapi inflasi dan persaingan mata uang asing, upaya untuk menstabilkan dan menggunakan mata uang nasional adalah langkah krusial. Dalam konteks global, sebuah negara harus mampu mengelola nilai tukar dan kebijakan fiskal/moneter domestiknya untuk menjaga kepercayaan investor dan mitra dagang internasional.
- Kepercayaan dan Identitas: Hari Keuangan Nasional mengingatkan pada perjuangan panjang dalam membangun sistem keuangan yang stabil dan kredibel. Kepercayaan terhadap mata uang domestik (Rupiah) sangat penting untuk transaksi internasional dan menarik investasi asing langsung (FDI), yang semuanya merupakan elemen penting dalam perekonomian global.
3. Cerminan Perjuangan Bangsa-Bangsa Berkembang
- Kemandirian Ekonomi: Sejarah ORI mencerminkan kisah banyak negara pasca-kolonial yang berjuang untuk mencapai kemandirian ekonomi penuh. Di era globalisasi, narasi ini menyoroti pentingnya ketahanan ekonomi sebuah bangsa di hadapan kekuatan ekonomi global, menunjukkan bahwa kedaulatan politik harus diikuti dengan kedaulatan ekonomi.
- Peran Kementerian Keuangan dan Bank Sentral: Peringatan ini juga menegaskan peran institusi keuangan (Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia) sebagai penjaga stabilitas dan arsitek kebijakan fiskal/moneter, yang kinerjanya senantiasa menjadi sorotan lembaga keuangan dunia seperti IMF dan Bank Dunia.
Secara keseluruhan, Hari Keuangan Nasional/Hari ORI dalam perspektif dunia adalah peringatan atas pengukuhan kedaulatan Indonesia melalui mata uangnya, langkah fundamental yang memungkinkan negara ini bertransformasi dari entitas yang baru merdeka menjadi pemain yang berpartisipasi dalam dinamika dan tantangan perekonomian global saat ini.
Apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi dunia saat ini?
Ya
Tentu. Dalam konteks perekonomian dunia, nilai tukar Rupiah (IDR) saat ini dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor-faktor domestik dan, yang lebih penting, dinamika global.
Berikut adalah faktor-faktor utama di tingkat global yang memengaruhi nilai tukar Rupiah:
Faktor Global Utama yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah
1. Kebijakan Moneter Bank Sentral Utama (Terutama The Fed AS)
Ini adalah faktor tunggal paling dominan.
- Suku Bunga AS (The Fed Rate): Ketika Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya (seperti yang sering dilakukan untuk meredam inflasi di AS), imbal hasil (yield) aset-aset berdenominasi Dolar AS (seperti US Treasury) menjadi lebih menarik.
- Dampaknya ke Rupiah: Investor global (terutama di pasar obligasi dan saham) cenderung menarik modal mereka dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk ditempatkan di aset AS yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil lebih tinggi (fenomena capital outflow). Penarikan dana ini meningkatkan permintaan terhadap Dolar AS dan menekan (melemahkan) nilai Rupiah.
2. Harga Komoditas Global
Indonesia adalah pengekspor komoditas utama (seperti batu bara, nikel, minyak kelapa sawit/CPO).
- Kenaikan Harga Komoditas: Ketika harga komoditas global, terutama energi dan mineral, naik, ini sangat menguntungkan Indonesia.
- Dampaknya ke Rupiah: Peningkatan ekspor menghasilkan devisa (Dolar AS) yang lebih besar masuk ke kas negara. Peningkatan pasokan Dolar di pasar domestik cenderung memperkuat nilai tukar Rupiah.
- Penurunan Harga Komoditas: Sebaliknya, jika harga komoditas anjlok, devisa ekspor berkurang, yang dapat melemahkan Rupiah.
3. Sentimen Risiko dan Gejolak Geopolitik
Pasar global didorong oleh sentimen risiko (risk on/risk off).
- Sentimen Risk-Off: Ketika terjadi ketidakpastian global yang tinggi (misalnya: perang, pandemi, krisis perbankan, sengketa perdagangan besar), investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke aset "safe haven" seperti Dolar AS, Yen Jepang, atau Emas.
- Dampaknya ke Rupiah: Rupiah, sebagai mata uang negara berkembang, dianggap sebagai aset berisiko. Dalam kondisi risk-off, terjadi capital outflow besar-besaran, yang menyebabkan Rupiah tertekan.
4. Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok
Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Indonesia.
- Pertumbuhan Tiongkok Melambat: Perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok mengurangi permintaan mereka terhadap komoditas dan barang ekspor Indonesia.
- Dampaknya ke Rupiah: Penurunan ekspor ke Tiongkok mengurangi aliran Dolar AS ke Indonesia dan dapat memberikan tekanan pelemahan pada Rupiah.
5. Likuiditas Dolar AS Global
Ketersediaan Dolar AS di sistem keuangan internasional.
- Pengetatan Likuiditas: Jika Bank Sentral Global (terutama The Fed) melakukan pengetatan moneter, jumlah Dolar yang beredar di dunia berkurang.
- Dampaknya ke Rupiah: Akses ke Dolar menjadi lebih mahal dan langka, yang meningkatkan biaya pinjaman, menekan pasar keuangan domestik, dan melemahkan Rupiah.
Singkatnya, Rupiah sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga AS dan perubahan sentimen risiko global. Kenaikan suku bunga The Fed dan peningkatan ketidakpastian global hampir selalu memicu penarikan modal yang secara langsung melemahkan Rupiah.
Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia (BI) berperan penting dalam melakukan intervensi (misalnya menjual cadangan Dolar untuk membeli Rupiah) untuk meredam volatilitas nilai tukar yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal ini.