
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Sejarah dan Asal Usul Kabupaten Sidoarjo
Sejarah Sidoarjo mencakup periode kerajaan kuno hingga masa kolonial Belanda dan kemerdekaan.
1. Zaman Kerajaan Kuno (Pusat Kerajaan Janggala)
- Awal Mula: Wilayah Sidoarjo diperkirakan pernah menjadi pusat dari Kerajaan Janggala (atau Jenggala) setelah Raja Airlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua (Janggala dan Kediri/Daha) pada tahun 1042 M.
- Lokasi: Ibu kota Kerajaan Janggala diperkirakan berada di sekitar wilayah Delta Brantas, khususnya di seputar Kecamatan Gedangan saat ini.
2. Masa Kolonial Belanda (Kabupaten Sidokare)
- Bagian dari Surabaya: Pada masa awal kolonialisme Hindia Belanda, sekitar tahun 1851, Sidoarjo masih dikenal dengan nama Sidokarie (atau Sidokare) dan merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya.
- Pembagian Wilayah: Berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 (Staatsblad No. 6), daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua, yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare.
- Bupati Pertama: Sidokare dipimpin oleh R. Notopuro yang kemudian bergelar R.T.P. Tjokronegoro I sebagai bupati pertama.
3. Pergantian Nama Menjadi Sidoarjo
- Hari Jadi: Pada tanggal 28 Mei 1859, atas permintaan R.T.P. Tjokronegoro, nama Kabupaten Sidokare diubah menjadi Kabupaten Sidho-Ardjo yang kemudian disederhanakan menjadi Sidoarjo.
- Alasan Perubahan: Pergantian nama ini dilakukan karena nama Sidokare dianggap memiliki konotasi yang kurang baik.
- Penetapan Hari Jadi: Meskipun pergantian nama terjadi pada 28 Mei 1859, tanggal 31 Januari 1859 (tanggal pemisahan wilayah dari Kabupaten Surabaya) secara resmi ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo.
4. Asal Usul dan Arti Nama "Sidoarjo"
Nama Sidoarjo berasal dari bahasa Jawa, yang terdiri dari dua kata:
- Sidho (atau Sido): Berarti "jadi" atau "mata air/sumber air".
- Arjo (atau Ardjo): Merupakan varian ungkapan dari "arep jumeno" yang berarti "berkumpul" atau bisa juga diartikan "ramai/makmur/sejahtera".
Oleh karena itu, Sidoarjo sering diartikan sebagai "tempat berhimpunnya mata air" (mengingat lokasinya di delta Sungai Brantas) atau secara filosofis diartikan sebagai harapan agar daerah tersebut "menjadi makmur/sejahtera".
Berikut adalah detail mengenai Kerajaan Janggala (atau sering juga disebut Jenggala), yang merupakan pendahulu historis dari wilayah Sidoarjo saat ini.
Masa Kerajaan Janggala
Kerajaan Janggala adalah salah satu kerajaan Hindu-Buddha yang memiliki peran penting dalam sejarah Jawa Timur, khususnya di wilayah Delta Brantas.
1. Asal Usul dan Pendirian
- Pembagian Kerajaan Kahuripan: Kerajaan Janggala didirikan pada tahun 1042 Masehi sebagai hasil pembagian wilayah Kerajaan Kahuripan oleh raja besar Airlangga (dari Wangsa Isyana). Pembagian ini dilakukan untuk menghindari perang saudara antara kedua putranya.
- Dua Kerajaan:
- Wilayah Barat: Diberikan kepada Sri Samarawijaya, menjadi Kerajaan Kadiri (atau Panjalu) yang berpusat di Daha.
- Wilayah Timur: Diberikan kepada Mapanji Garasakan, menjadi Kerajaan Janggala yang berpusat di Kahuripan.
- Lokasi Ibu Kota: Ibu kota Janggala, yaitu Kahuripan, diperkirakan terletak di kawasan Delta Brantas, yang sekarang mencakup sebagian wilayah Kabupaten Sidoarjo (terutama di sekitar Porong atau Gedangan).
2. Perekonomian dan Nama
- Bandar Perdagangan: Janggala dikenal sebagai kerajaan yang menguasai sektor perdagangan maritim karena wilayahnya berada di muara Sungai Brantas. Nama Janggala sendiri diperkirakan berasal dari kata "Hujung Galuh" (atau Jung-ya-lu dalam catatan Tiongkok), yang merupakan pelabuhan dagang yang sangat ramai.
- Wilayah Kekuasaan: Wilayah Janggala meliputi pesisir utara dan delta sungai Brantas, menjadikannya strategis dalam mengendalikan jalur perdagangan.
3. Masa Pemerintahan dan Raja-Raja
Kerajaan Janggala berdiri relatif singkat, sekitar 90 tahun (1042 M – 1135 M), dan hanya beberapa raja yang diketahui memerintah, di antaranya:
- Mapanji Garasakan (Raja pertama, sejak 1042 M).
- Alanjung Ahyes (sekitar 1052 M).
- Samarotsaha (sekitar 1059 M).
Masa kejayaan awal Janggala terjadi di bawah pemerintahan Mapanji Garasakan, yang dibuktikan dengan penemuan prasasti-prasasti seperti Prasasti Turun Hyang II (1044 M).
4. Keruntuhan
- Perang Saudara: Meskipun telah dibagi, konflik antara Janggala dan Kadiri tidak pernah berakhir dan terus berlanjut menjadi perang saudara selama bertahun-tahun.
- Penaklukan oleh Kediri: Pada tahun 1135 Masehi, Kerajaan Janggala akhirnya ditaklukkan oleh musuh bebuyutannya, Kerajaan Kadiri, yang saat itu diperintah oleh Raja Jayabhaya.
- Prasasti Ngantang: Kemenangan Kediri atas Janggala diabadikan dalam Prasasti Ngantang, dengan semboyan terkenal "Panjalu Jayati" (Kadiri Menang). Sejak saat itu, wilayah Janggala bersatu di bawah kekuasaan Kerajaan Kadiri.
Untuk mendapatkan konteks visual dan audio mengenai kerajaan ini, Anda bisa menyimak Sejarah Masa Kejayaan Kerajaan Jenggala, yang membahas kerajaan pecahan dari Kahuripan.
Perkembangan Kabupaten Sidoarjo di masa kemerdekaan, terutama periode 1945 hingga 1950 (masa Revolusi Fisik), ditandai dengan perjuangan sengit mempertahankan kedaulatan, pergantian pusat pemerintahan, dan penyesuaian politik pasca-Konferensi Meja Bundar (KMB).
Masa Revolusi Fisik (1945–1949)
Sidoarjo, sebagai daerah penyangga dan pintu gerbang menuju Surabaya, menjadi lokasi strategis dan penting dalam konflik antara Republik Indonesia dengan tentara Sekutu (NICA/Belanda).
1. Pertempuran dan Perebutan Wilayah
- Peran di Perang Surabaya: Sidoarjo berperan penting sebagai salah satu basis dukungan logistik dan pasukan dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
- Jatuhnya Kota Sidoarjo: Setelah pecahnya Pertempuran Surabaya, Belanda terus menekan. Pada 24 Desember 1946, Belanda melancarkan serangan dari arah Tulangan, dan Kota Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda.
- Perpindahan Pusat Pemerintahan: Karena situasi yang genting, pusat pemerintahan (Ibu Kota Kabupaten) Sidoarjo sempat dipindahkan beberapa kali:
- Awalnya dari Sidoarjo ke Porong.
- Setelah Belanda menduduki Gedangan, pusat pemerintahan dipindahkan lebih jauh ke Jombang.
- Daerah Rebutan: Wilayah seperti Dungus (Kecamatan Sukodono) dan Jembatan Sepanjang (perbatasan Surabaya-Sidoarjo) menjadi lokasi pertempuran dan perebutan yang sangat sengit.
2. Pemerintahan dan Politik
- Pemerintahan Recomba: Selama masa pendudukan kembali Belanda, Sidoarjo berada di bawah kendali pemerintahan kolonial yang disebut Recomba (Regerings Commissaris Bestuurs-Aangelegenheden).
- Negara Jawa Timur (RIS): Sidoarjo termasuk dalam wilayah Negara Jawa Timur (NJT), salah satu negara bagian yang dibentuk oleh Belanda di bawah naungan Republik Indonesia Serikat (RIS) pada November 1948.
- Pengangkatan Bupati: Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Bupati Sidoarjo pada masa itu adalah R.A.A. Soejadi (sejak masa Jepang), kemudian digantikan oleh H. Achmad Ali (1945–1950).
Perkembangan Pasca-Kedaulatan (Setelah 1949)
Masa ini adalah masa konsolidasi administrasi dan awal mula pembangunan di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
1. Pengembalian Kedaulatan
- Hasil KMB: Berdasarkan kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada Desember 1949, Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Wilayah Negara Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, secara de facto dan de jure kembali menjadi bagian dari Republik Indonesia.
- Bupati Pasca-KMB: Setelah penyerahan kedaulatan, R. Soeriadi Kertosoeprojo diangkat menjadi Bupati Sidoarjo (1949–1958), menandai dimulainya era pemerintahan sipil yang stabil pasca-revolusi.
2. Pembangunan Ekonomi dan Infrastruktur
- Sentra Industri: Setelah revolusi, Sidoarjo mulai mengukuhkan dirinya sebagai penyangga ekonomi Surabaya. Berbagai pabrik dan industri, terutama industri pengolahan (seperti pengolahan ikan, udang, dan makanan), mulai tumbuh pesat, memanfaatkan lokasi yang strategis di Delta Brantas.
- Infrastruktur: Sidoarjo menjadi jalur vital penghubung antara Jawa Timur bagian tengah (Malang, Jombang) dan ibu kota provinsi (Surabaya), sehingga pembangunan infrastruktur transportasi (rel kereta api, jalan raya) semakin dikembangkan.
- Administrasi: Secara administrasi, Sidoarjo dikonsolidasikan menjadi kabupaten yang terdiri dari 18 kecamatan, yang terus dipertahankan hingga saat ini.
Perkembangan Sidoarjo selanjutnya di era Orde Baru dan Reformasi adalah perubahan dari daerah pertanian menjadi kota satelit industri yang padat penduduk.
Sidoarjo mengalami transformasi besar dari wilayah agraris menjadi pusat industri dan perdagangan yang sangat strategis setelah masa kemerdekaan.
Berikut adalah perkembangan ekonomi dan industri Sidoarjo setelah tahun 1950-an:
Transformasi Menjadi Kota Industri (1970-an - Sekarang)
Sejak era Orde Baru (sekitar tahun 1970-an), Sidoarjo mulai berubah pesat dari daerah pertanian dan tambak menjadi salah satu kabupaten industri terbesar di Jawa Timur.
1. Struktur Ekonomi Bergeser (Sektor Sekunder Dominan)
- Pergeseran Fokus: Jika dahulu mata pencaharian utama adalah pertanian (tebu, padi) dan perikanan tambak (bandeng, udang), kini struktur PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kabupaten Sidoarjo didominasi oleh Sektor Industri Pengolahan (Sektor Sekunder).
- Kontribusi Utama: Kontribusi sektor Industri Pengolahan terhadap PDRB Sidoarjo mencapai hampir 50%, menjadikannya jantung ekonomi kabupaten. Sidoarjo bahkan sempat menempati urutan kedua di bawah Surabaya sebagai daerah konsentrasi proyek Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Jawa Timur antara tahun 1969 hingga 1994.
2. Lokasi Strategis dan Infrastruktur
Perkembangan industri dipicu oleh lokasi Sidoarjo yang sangat strategis:
- Penyangga Surabaya: Sebagai kota satelit, Sidoarjo memiliki akses langsung ke Surabaya (pusat bisnis Jawa Timur).
- Akses Transportasi: Sidoarjo menaungi Bandar Udara Internasional Juanda dan dekat dengan Pelabuhan Tanjung Perak, serta dilalui oleh jaringan jalan tol utama (Tol Trans Jawa), yang mempermudah mobilisasi barang dan jasa.
3. Sektor Industri Unggulan
Sidoarjo dikenal memiliki industri besar, sedang, dan sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang kuat:
| Sektor | Sentra/Produk Unggulan | Lokasi Khas |
| Industri Makanan & Minuman | Pengolahan Udang & Bandeng, Petis, Kerupuk Udang | Pesisir Timur, Kota Sidoarjo |
| Industri Alas Kaki | Sepatu dan Sandal | Wedoro (Kecamatan Waru), Tebel (Kecamatan Gedangan) |
| Industri Kerajinan | Tas, Koper, dan Kulit | Tanggulangin (Sentra IKM) |
| Industri Petrokimia | Berbagai produk kimia dan gas | Porong, Tanggulangin (terkait potensi Migas) |
| Industri Besar | Pabrik-pabrik manufaktur, seperti produk konsumen dan baja (banyak berlokasi di Waru dan Gedangan) |
4. Tantangan Utama (Lumpur Lapindo)
Perkembangan ekonomi Sidoarjo juga pernah diguncang oleh peristiwa besar yang memiliki dampak sosial dan ekonomi signifikan:
- Semburan Lumpur Panas: Pada 29 Mei 2006, terjadi semburan lumpur panas di Kecamatan Porong.
- Dampak: Bencana ini merendam puluhan desa, fasilitas umum, dan kawasan industri di tiga kecamatan (Porong, Tanggulangin, Jabon), menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar, hilangnya lahan pertanian/industri, dan perubahan demografi.
- Pasca-Bencana: Meskipun terjadi bencana, sektor sekunder (industri pengolahan) dan tersier (perdagangan dan jasa) terbukti lebih resilien dan tetap menjadi tulang punggung perekonomian Sidoarjo.
Dengan statusnya sebagai kota industri yang dinamis, Sidoarjo terus menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Jawa Timur.
Mari kita bahas lebih dalam mengenai dua identitas khas Sidoarjo: Sentra IKM Tanggulangin (Kulit) dan Kota Udang/Bandeng (Perikanan).
IKM Kulit Tanggulangin (Kecamatan Tanggulangin)
Tanggulangin adalah kecamatan di Sidoarjo yang menjadi sentra kerajinan kulit yang sangat terkenal, bahkan secara nasional dan internasional.
1. Sejarah dan Spesialisasi
- Awal Mula: Kerajinan kulit di Tanggulangin sudah ada sejak tahun 1930-an, dimulai sebagai industri rumahan yang memproduksi sepatu dan sandal.
- Masa Kejayaan: Industri ini mencapai puncaknya pada tahun 1980-an dan 1990-an. Produknya tidak hanya sepatu, tetapi juga merambah ke tas, koper, dompet, dan jaket kulit dengan kualitas ekspor.
- Model Bisnis: Sentra ini beroperasi dengan sistem klaster IKM. Banyak toko yang berdiri di sepanjang jalan utama Tanggulangin menjual produk langsung dari pabrik atau workshop di belakangnya.
- Tantangan: Sentra ini sempat terdampak parah oleh lumpur Lapindo karena lokasinya yang berdekatan. Meskipun demikian, semangat wirausaha masyarakat Tanggulangin membuat industri ini tetap bertahan dan melakukan relokasi ke area yang aman.
2. Branding
Tanggulangin sering dijuluki sebagai "Sentra Kerajinan Kulit Sidoarjo" dan merupakan tujuan utama wisatawan yang ingin mencari produk kulit berkualitas dengan harga yang relatif terjangkau.
Kota Udang dan Bandeng (Perikanan dan Pengolahan)
Identitas Sidoarjo sebagai kota perikanan berasal dari kondisi geografisnya yang merupakan bagian dari delta Sungai Brantas, dengan banyak tambak dan pesisir.
1. Budidaya Tambak
- Komoditas Utama: Sidoarjo adalah salah satu produsen ikan bandeng dan udang (terutama udang windu dan vaname) terbesar di Jawa Timur. Lahan tambak tersebar luas di wilayah pesisir timur, seperti Kecamatan Buduran, Sedati, dan Candi.
- Signifikansi: Bandeng dan udang bukan hanya untuk konsumsi lokal, tetapi juga merupakan bahan baku utama bagi industri pengolahan.
2. Industri Pengolahan
- Sektor Makanan: Sektor ini merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas Sidoarjo dan menyumbang besar bagi ekonomi daerah:
- Udang: Diolah menjadi berbagai produk ekspor, seperti frozen shrimp (udang beku), kerupuk udang, dan petis udang.
- Bandeng: Diolah menjadi produk olahan khas, seperti Bandeng Presto (bandeng duri lunak) dan Bandeng Asap.
3. Ikon dan Oleh-Oleh Khas
- Petis: Sidoarjo dikenal dengan Petis Udang yang kualitasnya dianggap lebih unggul dibandingkan petis dari daerah lain. Petis ini digunakan sebagai bumbu utama rujak, tahu petis, atau sebagai cocolan.
- Maskot: Lambang Kabupaten Sidoarjo secara resmi memuat gambar Udang dan Bandeng sebagai representasi kekayaan sumber daya alam dan identitas ekonominya. Inilah asal mula julukan "Kota Udang" dan "Kota Bandeng".
di luar sektor industri dan kerajinan, perkembangan Sidoarjo juga sangat terlihat di bidang perkotaan, infrastruktur, dan tata ruang, seiring perannya sebagai kota satelit yang berkembang pesat.
Berikut adalah informasi tambahan mengenai perkembangan Sidoarjo:
Perkembangan Tata Ruang dan Perkotaan (Era Modern)
Sidoarjo bertransisi dari kabupaten pedesaan menjadi kawasan urban (perkotaan) yang padat.
1. Kota Satelit dan Hunian
- Zona Penyangga: Sidoarjo menjadi zona hunian utama bagi pekerja dan masyarakat yang beraktivitas di Surabaya. Hal ini memicu pertumbuhan pesat real estate, perumahan, dan apartemen, terutama di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Surabaya (Waru, Gedangan, Taman).
- Perumahan Massal: Mulai dari perumahan kelas menengah hingga mewah, Sidoarjo kini dikenal sebagai 'Kota Seribu Perumahan' yang menawarkan opsi hunian dengan harga relatif lebih terjangkau dibandingkan di inti Kota Surabaya.
2. Pembangunan Infrastruktur Transportasi
- Toll Road Hub: Sidoarjo menjadi simpul penting bagi jaringan jalan tol di Jawa Timur, menghubungkan:
- Surabaya-Sidoarjo-Gempol (menuju Malang/Pasuruan).
- Jabon (perbatasan Sidoarjo) dengan Tol Pasuruan-Probolinggo.
- Angkutan Massal: Sejak tahun 2010-an, fokus juga diberikan pada pengembangan angkutan massal untuk mengurangi kemacetan antara Sidoarjo dan Surabaya, termasuk layanan Bus Trans Jatim dan rencana pengembangan kereta komuter.
- Bandara Juanda: Meskipun secara administrasi terletak di Kabupaten Sidoarjo (Kecamatan Sedati), Bandara Internasional Juanda berfungsi sebagai pintu gerbang utama Jawa Timur dan menjadi katalisator pertumbuhan sektor jasa dan perdagangan di Sidoarjo.
3. Fasilitas Publik dan Pendidikan
- Pusat Perbelanjaan: Jumlah pusat perbelanjaan modern (mal, hypermarket) dan fasilitas hiburan di Sidoarjo meningkat drastis, mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat urban.
- Pendidikan Tinggi: Keberadaan kampus-kampus atau cabang universitas di Sidoarjo (misalnya, di daerah Waru atau Buduran) juga menjadi indikator perkembangan sosial dan peningkatan kualitas SDM.
Tantangan Lingkungan dan Sosial
Perkembangan yang sangat cepat ini juga memunculkan tantangan baru:
- Kemacetan: Tingginya volume kendaraan komuter dari dan ke Surabaya menyebabkan kemacetan parah di jam sibuk, terutama di Bundaran Waru dan jalan arteri utama.
- Drainase dan Banjir: Pembangunan perumahan dan industri yang cepat sering kali mengubah tata air dan drainase alamiah, menyebabkan beberapa wilayah Sidoarjo rentan terhadap banjir tahunan saat musim hujan.
- Pengelolaan Sampah: Peningkatan populasi urban menuntut pengelolaan sampah dan lingkungan yang lebih efisien dan modern.
Secara ringkas, Sidoarjo saat ini adalah wilayah yang sangat kompleks: sebuah persimpangan antara pusat industri yang padat, sentra hunian, dan pusat transportasi yang vital bagi perekonomian Jawa Timur.