
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
esa Sumbergondo di Kota Batu memiliki potensi besar untuk berkembang dalam perspektif Desa Wisata Indonesia Emas (yang umumnya merujuk pada visi pembangunan berkelanjutan dan unggul hingga tahun 2045).
Potensi Desa Sumbergondo
Desa Sumbergondo, yang terletak di lereng Gunung Arjuno, memiliki daya tarik utama yang selaras dengan tren pariwisata berkelanjutan dan edukasi:
- Wisata Agro dan Alam:
- Sebagai salah satu desa penghasil apel terbesar kedua di Kota Batu, ia memiliki potensi besar untuk wisata petik apel (agro-edukasi).
- Terdapat area seperti Sawah Genting, sebuah panggung alam dengan latar belakang Gunung Arjuno, yang cocok untuk event dan menikmati pemandangan alam.
- Potensi kebun hortensia, area camping, dan jalur fun offroad melengkapi wisata berbasis alam.
- Wisata Edukasi Lingkungan (Inovasi Sosial):
- Sumbergondo unggul dalam Wisata Edukasi Sampah. Sejak 2019, desa ini telah berhasil mengelola sampahnya secara mandiri di TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, Recycle) dan bahkan memanfaatkan sisa pembakaran menjadi pupuk. Ini adalah model pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan memiliki nilai edukasi tinggi bagi pengunjung, sekolah, maupun kelompok studi.
- Kekayaan Lokal dan Ekonomi Kreatif:
- Memiliki hasil alam beragam selain apel, seperti kopi (wisata kopi sabin).
- Terdapat usaha desa berupa kafe yang menjual olahan produk lokal, termasuk olahan apel, serta kios suvenir UMKM.
- Pengembangan destination branding desa menggunakan maskot bernama Mahija (anak bumi) yang terinspirasi dari jamur, menunjukkan upaya kreatif dalam membangun citra.
Proyeksi dalam Perspektif Desa Wisata Indonesia Emas
Konsep Indonesia Emas 2045 untuk sektor pariwisata menekankan pada aspek: Keberlanjutan (Sustainability), Ekonomi Kreatif, Digitalisasi, Kualitas SDM, dan Pengelolaan yang Inklusif.
Desa Sumbergondo dapat diproyeksikan sebagai model Desa Wisata Indonesia Emas karena:
1. Keberlanjutan Lingkungan dan Inklusivitas (Pilar Utama)
- Aplikasi Prinsip Berkelanjutan: Wisata Edukasi Sampah adalah contoh nyata dari pariwisata yang memberikan nilai tambah dalam upaya konservasi alam dan pengelolaan lingkungan, yang merupakan salah satu tantangan pariwisata menuju 2045.
- *Ekonomi Hijau (Green Economy): Pengelolaan sampah yang menghasilkan pupuk dan peningkatan ekonomi masyarakat melalui 3R selaras dengan konsep green economy berbasis masyarakat lokal.
2. Penguatan Ekonomi Kreatif
- Produk Lokal dan Diversifikasi: Pengembangan olahan apel, kopi sabin, serta merchandise (kaos, topi) menunjukkan adanya upaya untuk menumbuhkan ekonomi kreatif di tingkat desa, yang menjadi pondasi penting dalam mewujudkan Generasi Emas 2045.
- Pemberdayaan Masyarakat: Peningkatan kapabilitas dan inovasi bisnis desa wisata menunjukkan partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan desa wisata.
3. Pengembangan Atraksi Inovatif
- Wisata Edu-Agro: Menggabungkan wisata alam (Sawah Genting, kebun apel) dengan edukasi (pengelolaan sampah) menciptakan pengalaman unik, aman, dan berkesan yang dicari oleh wisatawan masa depan (edutourism).
4. Daya Saing dan Rekognisi
- Desa ini telah berhasil menembus nominasi di ajang bergengsi seperti Wonderful Indonesia Awards (WIA), menunjukkan bahwa Sumbergondo memiliki daya saing di tingkat nasional dan potensi untuk menjadi destinasi referensi wisata agro-edukasi.
Kesimpulan
Desa Sumbergondo, Kota Batu, berada pada jalur yang tepat menuju visi Desa Wisata Indonesia Emas. Desa ini tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga memadukan unsur Inovasi Sosial (Edukasi Sampah) dan Ekonomi Kreatif berbasis komunitas. Ini menjadikannya model yang ideal untuk pariwisata berkelanjutan yang berfokus pada kelestarian lingkungan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan penyediaan pengalaman wisata yang bermakna dan edukatif.
Wisata edukasi sampah ini adalah daya tarik unggulan Desa Sumbergondo karena mereka berhasil mengelola sampah secara mandiri sejak tahun 2019 dan menjadikannya sebuah model berkelanjutan.
Inti Paket Wisata Edukasi Sampah
Paket wisata ini dirancang khusus untuk memberikan pengetahuan praktis dan inspirasi tentang bagaimana sebuah desa dapat menjadi mandiri dalam pengelolaan sampahnya. Paket ini sangat populer di kalangan rombongan sekolah, kelompok studi, dan instansi pemerintahan/desa lain.
1. Materi Edukasi (Di Balai Desa)
- Penyampaian Materi: Peserta akan mendapatkan presentasi dan materi mengenai sejarah dan filosofi pengelolaan sampah di Desa Sumbergondo.
- Filosofi Mandiri: Dijelaskan bagaimana desa tersebut memutuskan untuk tidak lagi mengirim sampah ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Tlekung sejak 2019.
- Sosialisasi dan Kekompakan: Materi mencakup bagaimana masyarakat desa dikompakkan dan dididik untuk memilah sampah dari sumbernya (rumah tangga).
2. Kunjungan Lapangan (TPS3R dan Fasilitas Pengelolaan)
Peserta akan diajak langsung mengunjungi fasilitas pengelolaan sampah yang dimiliki desa, antara lain:
- TPS3R (Reuse, Reduce, Recycle): Melihat proses pemilahan sampah anorganik.
- Mesin Insenerator: Melihat teknologi yang digunakan untuk menghancurkan residu sampah yang tidak bisa didaur ulang (seperti popok bayi).
- Komposter Anaerob Raksasa: Melihat bagaimana sampah organik (terutama sisa sayur afkir dari pertanian) diolah tanpa menimbulkan bau busuk.
- Hasil Olahan: Peserta akan ditunjukkan bahwa dari proses ini dihasilkan pupuk kompos dan pupuk cair yang berkualitas untuk pertanian.
- Bank Sampah: Melihat mekanisme operasional bank sampah desa.
3. Kunjungan Edukasi Terkait (Aplikasi Hasil Olahan)
Wisatawan akan diajak melihat aplikasi dari hasil pengolahan sampah, yaitu:
- Kawasa Rumah Pangan Lestari (KRPL) Putra Mertani: Di lokasi ini, wisatawan dapat melihat bagaimana warga menggunakan pekarangan rumah untuk menanam tanaman pangan dan memupuknya menggunakan pupuk organik hasil pengolahan sampah.
- Kunjungan ke Kafe Desa (D'Goendoe): Kafe ini didirikan dan sebagian dikelola menggunakan hasil pendapatan dari BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) yang juga menaungi pengelolaan sampah. Kafe ini menjual produk olahan lokal seperti olahan apel.
Keunikan dan Nilai Edukasi
- Penerapan Green Economy: Peserta dapat melihat secara langsung bagaimana sampah diubah dari masalah menjadi sumber daya yang menghasilkan pupuk dan mendukung keberlanjutan ekonomi desa.
- Model Komunitas: Wisata ini memberikan inspirasi bahwa pengelolaan sampah yang sukses sangat bergantung pada kekompakan dan partisipasi aktif masyarakat desa.
- Destinasi Studi Banding: Desa Sumbergondo sering menerima kunjungan studi banding dari desa dan instansi lain dari berbagai daerah di Indonesia yang ingin meniru model pengelolaan sampahnya yang mandiri dan berkelanjutan.
Berikut adalah objek wisata lain yang terintegrasi dan menjadi daya tarik utama Desa Sumbergondo :
Wisata Agro (Petik Apel)
Desa Sumbergondo dikenal sebagai salah satu sentra produksi Apel di Kota Batu.
- Pengalaman: Pengunjung dapat merasakan langsung pengalaman memetik apel dari pohon di kebun-kebun milik warga.
- Edukasi Pertanian: Selain memetik, biasanya petani akan memberikan edukasi singkat mengenai jenis-jenis apel, cara menanam, dan perawatan pohon apel.
- Varietas: Apel yang paling umum dibudidayakan di daerah ini adalah apel manalagi dan apel rome beauty.
- Musiman: Pengalaman petik apel bergantung pada musim panen, namun pengelola desa wisata biasanya menyediakan alternatif agro-wisata lainnya jika apel sedang tidak berbuah penuh.
Sawah Genting (Panggung Alam)
Sawah Genting adalah salah satu ikon visual terbaru Desa Sumbergondo yang menawarkan panorama alam yang menawan.
- Konsep: Tempat ini adalah area persawahan yang disulap menjadi tempat pertemuan, camping ground, dan lokasi untuk menikmati pemandangan alam secara terbuka.
- Daya Tarik: Pemandangan langsung ke arah Gunung Arjuno, seringkali diselimuti kabut tipis di pagi hari, menciptakan latar belakang yang sangat dramatis dan indah.
- Aktivitas: Cocok untuk lokasi pre-wedding, event outdoor, atau sekadar menikmati kopi di tengah sawah.
- Wisata Kopi Sabin: Area di sekitar Sawah Genting juga dikenal dengan Wisata Kopi Sabin, di mana pengunjung dapat menikmati kopi lokal sambil duduk santai di pinggir sawah (sabin).
Area Camping dan Fun Offroad
Untuk wisatawan yang mencari petualangan dan pengalaman bermalam di alam:
- Area Camping: Desa ini memiliki beberapa lokasi yang nyaman untuk mendirikan tenda, terutama yang terintegrasi dengan area Sawah Genting atau kawasan yang lebih tinggi di lereng gunung.
- Fun Offroad: Terdapat jalur-jalur yang memungkinkan wisatawan mencoba pengalaman offroad yang santai namun menantang, melewati kebun dan jalan tanah di lereng Gunung Arjuno.
- Trekking dan Hiking: Posisinya di lereng gunung juga membuatnya menjadi titik awal yang baik untuk aktivitas trekking ringan atau hiking.
Fasilitas Pendukung
- Homestay: Desa Sumbergondo telah mengembangkan homestay yang dikelola oleh warga lokal. Ini memungkinkan wisatawan untuk merasakan pengalaman menginap dan berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat desa.
- D’Goendoe Cafe: Kafe milik BUMDes yang menjual olahan makanan dan minuman lokal, termasuk produk turunan apel, berfungsi sebagai pusat informasi dan tempat berkumpul.
- UMKM dan Suvenir: Tersedia kios yang menjual suvenir dan produk UMKM hasil kerajinan tangan warga, termasuk produk yang memiliki branding Mahija (maskot jamur desa).
Dengan integrasi antara edukasi (pengelolaan sampah), agro (apel), dan alam (Sawah Genting dan camping), Desa Sumbergondo menawarkan pengalaman wisata yang holistik dan sesuai dengan prinsip pariwisata berkelanjutan.
Desa Sumbergondo membangun bisnis pariwisatanya dengan menjadikan hasil pertanian dan inovasi pengelolaan limbah sebagai pondasi utama, yang dijalankan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes Rejeki Barokah).
Berikut adalah gambaran menyeluruh mengenai sektor pertanian dan bisnis di Desa Sumbergondo:
1. Sektor Pertanian: Sumber Daya dan Diversifikasi
Desa Sumbergondo terletak di dataran tinggi lereng Gunung Arjuno, menjadikannya wilayah yang subur dan sejuk—kondisi ideal untuk pertanian.
| Hasil Pertanian Utama | Potensi dan Pengembangan |
| Apel | Produsen apel terbesar kedua di Kota Batu. Basis utama untuk wisata petik apel (agro-edukasi) dan bahan baku untuk produk olahan desa. |
| Kopi | Mengembangkan Wisata Kopi Sabin (kopi sawah) yang menggabungkan pengalaman menikmati kopi dengan panorama alam persawahan. |
| Hortikultura | Pengembangan Kebun Hortensia sebagai daya tarik visual (spot foto) dan rencana pembangunan Kampung Wortel dan Kampung Marigold untuk diversifikasi agrowisata. |
| Sayuran Organik | Terdapat pengembangan Kampung Tematik dan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), di mana masyarakat menanam sayuran organik. |
Intinya: Pertanian tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga menjual pengalaman (petik apel, minum kopi di sawah) dan pemandangan (hortensia, Sawah Genting).
2. Model Bisnis Agro-Edukasi BUMDes
Bisnis di Sumbergondo berpusat pada integrasi tiga pilar utama: Alam, Edukasi, dan Produk Lokal, yang dikelola secara profesional oleh BUMDes Rejeki Barokah:
A. Bisnis Pariwisata (Penjualan Jasa)
- Paket Wisata Edukasi Sampah: Menjual paket studi banding atau kunjungan edukasi ke TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, Recycle), komposter anaerob raksasa, dan bank sampah. Target pasar: instansi, sekolah, dan rombongan desa/komunitas lain.
- Agro-Edukasi dan Petualangan: Menjual tiket masuk/paket kunjungan untuk:
- Wisata Petik Apel.
- Area camping dan event di Sawah Genting.
- Paket Fun Offroad Jeep Pusung Lading.
- Kuliner dan Hospitality: Menyediakan layanan makanan/minuman dan penginapan.
B. Bisnis Produk Olahan dan UMKM
- Produk Olahan Apel: Apel yang dipanen diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah (misalnya, keripik apel, dodol, atau minuman), yang dijual di kafe dan kios suvenir.
- Produk Kopi: Hasil panen kopi desa diolah dan dijual, baik sebagai kopi siap seduh maupun biji/bubuk kemasan.
- Suvenir dan Merchandise: Penjualan produk UMKM lokal, termasuk kaus dan topi dengan branding Desa Sumbergondo (seperti maskot Mahija).
C. Bisnis Limbah/Inovasi Lingkungan
Ini adalah keunikan bisnis Desa Sumbergondo yang paling menonjol:
- Produksi Pupuk Organik: Limbah organik (terutama sisa pertanian dan sampah rumah tangga) diolah menjadi pupuk kompos dan pupuk cair. Pupuk ini tidak hanya digunakan sendiri oleh petani desa, tetapi juga dijual sebagai produk komersial.
- Pengelolaan Sampah Mandiri: Layanan pengelolaan sampah mandiri ini memutus biaya pengiriman sampah ke TPA, yang dananya kemudian dapat dialihkan untuk operasional BUMDes dan pengembangan fasilitas lain (seperti kafe D'Goendoe).
Relevansi dengan Desa Wisata Indonesia Emas
Model bisnis Desa Sumbergondo sangat selaras dengan visi Indonesia Emas 2045 karena:
- Sirkular Ekonomi: Desa ini mempraktikkan ekonomi sirkular (lingkar) di mana limbah pertanian dan rumah tangga diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat (pupuk), bukan hanya dibuang.
- Inklusif dan Berkelanjutan: Keberhasilan bisnis ini didorong oleh partisipasi masyarakat lokal (melalui BUMDes dan bank sampah) dan secara langsung meningkatkan perekonomian warga desa, sambil memastikan kelestarian lingkungan.
- Inovasi Produk: Desa ini tidak menjual Apel mentah saja, tetapi menjual paket edukasi, pengalaman, dan produk olahan. Ini adalah ciri khas ekonomi kreatif.
Dengan demikian, Desa Sumbergondo telah berhasil mentransformasi potensi agraris dan tantangan lingkungan menjadi model bisnis desa wisata yang inovatif dan berkelanjutan.