
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Perkembangan Arsitektur Masjid Nabawi pada masa Daulat Bani Umayyah merupakan salah satu tonggak sejarah paling krusial. Di bawah kekuasaan dinasti ini—khususnya pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (memerintah 705–715 M)—Masjid Nabawi mengalami pembongkaran total dan rekonstruksi besar-besaran yang mengubah wajahnya dari bangunan sederhana berstruktur batang kurma menjadi sebuah mahakarya arsitektur Islam yang megah.
Berikut adalah tinjauan historis mengenai pemeliharaan, perkembangan pembangunan, serta dinamika kegiatan di Masjid Nabawi selama masa Daulat Bani Umayyah.
1. Rekonstruksi Besar dan Pemeliharaan Fisik
Sebelum masa Bani Umayyah, perluasan telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Namun, proyek yang dilakukan oleh Al-Walid bin Abdul Malik pada tahun 88–91 H (707–710 M) adalah yang paling revolusioner. Khalifah menunjuk Umar bin Abdul Aziz (yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Madinah) untuk memimpin langsung proyek raksasa ini.
Perubahan Arsitektur yang Signifikan:
- Penyatuan Kamar Istri-Istri Nabi (Hujarat): Kebijakan yang paling monumental (sekaligus sempat diwarnai kesedihan oleh penduduk Madinah) adalah meruntuhkan kamar-kamar tempat tinggal istri Nabi SAW, termasuk kamar Ummul Mukminin Aisyah RA, untuk dimasukkan ke dalam area perluasan masjid. Dengan demikian, makam Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab resmi berada di dalam bangunan masjid.
- Pembangunan Menara Pertama: Bani Umayyah adalah yang pertama kali memperkenalkan menara (minaret) pada Masjid Nabawi. Umar bin Abdul Aziz membangun empat menara di setiap sudut masjid sebagai tempat mengumandangkan azan.
- Pengenalan Mihrab Berongga (Mihrab Mujawwaf): Desain mihrab yang melengkung ke dalam tembok (seperti yang kita kenal sekarang) pertama kali diaplikasikan di Masjid Nabawi pada renovasi era Umayyah ini, berfungsi sebagai penanda posisi imam.
- Material Mewah dan Estetika: Dinding masjid dibangun menggunakan batu rekaan yang diperkokoh dengan besi dan timbunan syubur (paku besi). Tiang-tiang bagian dalam dibuat dari batu yang dilapisi emas pada bagian atasnya (capital). Selain itu, Al-Walid mendatangkan pengrajin mozaik (pasha) ahli dari Bizantium (Romawi Timur) untuk menghiasi dinding masjid dengan motif tumbuhan dan geometris yang indah.
2. Aktivitas Keagamaan dan Transformasi Sosial
Masjid Nabawi pada masa Bani Umayyah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual (shalat dan iktikaf), tetapi juga berkembang menjadi pusat peradaban yang dinamis.
Pusat Transmisi Ilmu (Lahirnya Tradisi Hadis dan Fikih)
Madinah pada masa Umayyah adalah rumah bagi para sahabat Nabi yang masih hidup dan generasi Tabi'in senior. Masjid Nabawi menjadi tempat berkumpulnya halaqah-halaqah ilmu raksasa.
- Di masjid inilah figur hukum seperti Tujuh Fuqaha Madinah (Al-Fuqaha al-Sab'ah)—termasuk Said bin al-Musayyib dan Urwah bin az-Zubair—merumuskan dasar-dasar fikih Hijaz.
- Masjid ini menjadi saksi awal mula gerakan kodifikasi hadis secara resmi yang kelak diinstruksikan oleh Umar bin Abdul Aziz ketika ia naik menjadi Khalifah.
Mimbar Politik dan Pemerintahan Lokal
Karena ibu kota khilafah telah berpindah ke Damaskus (Syam), Masjid Nabawi berfungsi sebagai pusat representasi kekuasaan kekhalifahan di tanah suci.
- Khutbah dan Maklumat Politik: Gubernur Madinah yang ditunjuk oleh Damaskus akan menyampaikan kebijakan-kebijakan pusat, maklumat khalifah, serta pengangkatan pejabat dari atas mimbar Masjid Nabawi.
- Kunjungan Khalifah: Ketika khalifah-khalifah Bani Umayyah (seperti Muawiyah bin Abi Sufyan, Abdul Malik bin Marwan, atau Al-Walid) melaksanakan ibadah haji, Masjid Nabawi menjadi tempat utama mereka menerima baiat kesetiaan (re-baiat) dan mengadakan pertemuan diplomasi dengan para tokoh masyarakat Hijaz.
3. Manajemen dan Pelayanan Jemaah
Seiring meluasnya wilayah kekuasaan Islam dari Indus hingga Andalusia, jumlah jemaah haji dan umrah yang menziarahi Masjid Nabawi melonjak tajam. Bani Umayyah merespons hal ini dengan memodernisasi manajemen masjid:
- Sistem Pengajian dan Imam Resmi: Pengangkatan imam dan muazin mulai diatur secara lebih formal oleh pemerintah (gubernur), dengan pemberian insentif atau gaji yang memadai dari Baitul Mal.
- Penerangan Masjid: Pada masa ini, sistem penerangan masjid ditingkatkan secara signifikan menggunakan lampu-lampu minyak (qandil) yang digantung di antara pilar-pilar masjid untuk kenyamanan jemaah yang beribadah di malam hari.
- Penyediaan Air Bersih: Di sekitar area masjid, dibangun sarana-sarana penunjang seperti tempat wudhu dan distribusi air minum yang lebih teratur bagi para peziarah.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, perspektif sejarah menunjukkan bahwa Daulat Bani Umayyah memiliki andil yang sangat besar dalam meletakkan dasar arsitektur masjid monumental modern pada Masjid Nabawi. Meskipun proyek perluasannya sempat mengundang perdebatan emosional karena harus meruntuhkan situs asli peninggalan rumah Nabi, langkah berani Al-Walid bin Abdul Malik dan keluhuran kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz berhasil mengubah Masjid Nabawi menjadi pusat spiritual, intelektual, dan simbol kejayaan Islam yang representatif pada zamannya.
Sama halnya dengan Masjid Nabawi, Masjidil Haram di Makkah juga mengalami transformasi yang sangat signifikan di bawah pemerintahan Daulat Bani Umayyah (661–750 M). Perubahan ini dipicu oleh dua faktor utama: kebutuhan logistik untuk menampung lonjakan jemaah haji dari wilayah kekhalifahan yang kian luas, serta dinamika politik internal yang sempat membuat Ka'bah rusak akibat perang.
1. Fase Pembangunan dan Renovasi Fisik
Perkembangan arsitektur Masjidil Haram pada masa Umayyah dibagi menjadi beberapa fase penting yang melibatkan khalifah dan tokoh-tokoh utama dinasti tersebut:
A. Masa Muawiyah bin Abi Sufyan (661–680 M)
Khalifah pertama Bani Umayyah ini memulai pemeliharaan rutin dengan memberikan perhatian pada kenyamanan jemaah.
- Pembaruan Atap: Muawiyah memperbaiki atap Masjidil Haram dan memperkokoh tiang-tiangnya.
- Penyediaan Pelayan: Beliau adalah khalifah pertama yang secara resmi membeli budak-budak untuk ditugaskan khusus menjaga, membersihkan, dan melayani kebutuhan Masjidil Haram serta jemaah haji, yang digaji langsung dari Baitul Mal.
B. Intermeso Politik: Rekonstruksi Abdullah bin az-Zubair (683 M)
Meskipun Ibnu az-Zubair adalah rival politik Bani Umayyah yang mendirikan kekhalifahan tandingan di Makkah, kontribusinya terhadap Ka'bah sangat melekat dalam sejarah. Ketika Ka'bah mengalami kerusakan parah akibat pengepungan pasukan Umayyah (di bawah pimpinan Al-Hushain bin Numair), Ibnu az-Zubair membangun ulang Ka'bah berdasarkan fondasi Nabi Ibrahim (termasuk memasukkan Hijr Ismail ke dalam Ka'bah dan membuat dua pintu setinggi tanah).
Catatan Sejarah: Setelah Bani Umayyah berhasil merebut kembali Makkah melalui Jenderal Al-Hajjaj bin Yusuf al-Thaqafi pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, bentuk Ka'bah dikembalikan lagi seperti semula (seperti masa kaum Quraisy) karena khawatir masyarakat akan bingung dengan perubahan arsitektur yang terus berganti.
C. Era Al-Walid bin Abdul Malik (705–715 M)
Puncak kemegahan arsitektur Masjidil Haram di era Umayyah terjadi di bawah perintah Al-Walid, dengan Gubernur Makkah saat itu, Khalid bin Abdullah al-Qasri.
- Arsitektur Megah dan Penggunaan Marmer: Al-Walid melapis bagian atas pilar-pilar masjid dengan lempengan emas. Ia juga mendatangkan marmer putih dari Mesir dan Syam melalui jalur laut untuk melapisi lantai lantai tawaf (mataf) serta dinding masjid, sehingga kompleks luar Ka'bah tampak bersih dan mewah.
- Pembangunan Menara Pertama: Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa elemen menara mulai dirintis pada masa ini untuk mengumandangkan azan, menyatu dengan struktur perimeter luar masjid.
- Atap Berhias: Atap Masjidil Haram direnovasi menggunakan kayu jati pilihan yang dihias dengan ukiran dan tinta emas.
2. Aktivitas Keagamaan dan Intelektual
Sebagai pusat kiblat umat Islam, Masjidil Haram di masa Umayyah berfungsi sebagai episentrum spiritual sekaligus universitas terbuka bagi peradaban Islam.
Halaqah Ilmu dan Lahirnya Mazhab Makkah
Masjidil Haram menjadi tempat berkumpulnya para sahabat Nabi yang masih hidup dan tabiin besar. Di sinilah tradisi tafsir Al-Qur'an dan fikih berkembang pesat.
- Madrasah Ibnu Abbas: Sahabat Nabi, Abdullah bin Abbas RA, membuka halaqah raksasa di Masjidil Haram. Murid-muridnya seperti Atha bin Abi Rabah, Mujahid, dan Thawus menjadi ulama besar yang menjawab rujukan hukum umat Islam sedunia saat musim haji. Rasulullah pernah bersabda bahwa Atha bin Abi Rabah adalah mufti resmi Makkah pada masa itu, di mana pemerintah Umayyah bahkan membuat maklumat bahwa tidak ada yang boleh memberi fatwa di Masjidil Haram kecuali Atha.
Regulasi Khotbah dan Ibadah
Bani Umayyah mulai memperketat keteraturan ibadah. Mereka mengatur jadwal imam shalat, khatib Jumat, dan menempatkan para pemandu ibadah di sekitar Ka'bah agar ritual tawaf dan sai berjalan tertib di tengah padatnya jemaah.
3. Dinamika Sosial, Politik, dan Pelayanan Jemaah
Masjidil Haram pada masa ini tidak luput dari dinamika politik imperium, sekaligus menjadi tempat diterapkannya kebijakan kesejahteraan sosial.
- Pusat Deklarasi Politik: Setiap musim haji, para Khalifah Umayyah atau gubernur yang ditunjuk akan memanfaatkan Masjidil Haram untuk menyampaikan pidato politik, menegaskan otoritas kekhalifahan, dan meredam pergolakan politik di wilayah Hijaz.
- Sistem Penerangan Semalaman: Untuk memfasilitasi jemaah yang melakukan tawaf pada malam hari, pemerintah Umayyah memasang tiang-tiang lampu minyak di sekeliling area mataf. Penerangan ini diperbarui secara berkala agar aktivitas ibadah malam tidak terputus.
- Manajemen Air (Zamzam): Karena pasokan air bersih sangat krusial bagi jutaan jemaah, dinasti Umayyah melakukan pemeliharaan berkala terhadap sumur Zamzam, memperbaiki wadah-wadah air, dan mengatur distribusinya di sekitar area masjid agar tidak terjadi perebutan.
Kesimpulan
Dalam perspektif sejarah, masa Daulat Bani Umayyah adalah era di mana Masjidil Haram bertransmisi dari bangunan berkarakter lokal-tradisional menjadi bangunan bercorak kekaisaran (imperial architecture) yang megah.
Meskipun sempat menjadi saksi konflik politik yang hebat, kepedulian para khalifah Umayyah—khususnya Al-Walid bin Abdul Malik—dalam merenovasi fisik masjid menggunakan material mewah (marmer dan emas) serta dukungan mereka terhadap halaqah keilmuan para Tabiin, berhasil menjaga kesucian dan fungsi vital Masjidil Haram sebagai pusat peradaban Islam global.