
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Jum'atan di masjidil haram menjelang 3 atau 4 hari wukuf di Arafah, jamaahnya penuh, yang hadir terus bertambah , menunggu salat jum'ah.
Suasana menjelang puncak ibadah haji, khususnya 3 atau 4 hari sebelum wukuf di Arafah, memang luar biasa padat dan bergemuruh dengan spiritualitas. Melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram pada momentum tersebut adalah salah satu pengalaman yang sangat berkesan namun sekaligus menguji kesabaran.
Berikut gambaran situasi dan dinamika yang biasa terjadi saat menanti salat Jumat di Masjidil Haram pada waktu-waktu krusial tersebut :
Gelombang Jemaah yang Tak Putus
- Kepadatan Maksimal: Jutaan jemaah dari seluruh penjuru dunia telah berkumpul di Makkah. Masjidil Haram, baik di area mataf (tempat tawaf), lantai dalam, hingga halaman luar (sahn) dan jalan-jalan di sekitarnya, akan memutih dipenuhi lautan manusia.
- Datang Lebih Awal: Untuk mendapatkan tempat di dalam masjid, jemaah biasanya sudah mulai bergerak menuju Masjidil Haram sejak subuh atau paling lambat pukul 8–9 pagi. Jika datang mendekati waktu zuhur, area dalam dipastikan sudah ditutup oleh pihak keamanan, dan jemaah harus rela salat di pelataran luar atau jalanan di sekitar hotel yang terhubung dengan pengeras suara masjid.
Kondisi Fisik dan Mental di Dalam Masjid
- Suhu dan Cuaca: Terik matahari Makkah di bulan Zulhijah umumnya sangat menyengat. Jemaah yang berada di area terbuka atau halaman masjid harus bersiap dengan payung, semprotan air, dan sajadah yang tebal karena lantai bisa menjadi sangat panas.
- Gema Talbiyah dan Zikir: Sembari menunggu azan berkumandang, suasana di dalam masjid diwarnai dengan lantunan talbiyah (LabbaykallahummaLabbayk), tadarus Al-Qur'an, zikir, dan doa dari berbagai bahasa. Rasa lelah karena berdesakan sering kali larut dalam kekhusyukan dan rasa haru bersiap menuju Arafah.
Manajemen Saf dan Pergerakan
- Pengetatan Jalur oleh Askar: Pihak keamanan (Askar) dan petugas masjid akan bekerja ekstra keras untuk mengatur alur masuk dan keluar. Ketika sebuah sektor sudah penuh, mereka akan langsung menutup akses demi keselamatan jemaah agar tidak terjadi penumpukan yang berbahaya.
- Saling Bertoleransi: Dalam kondisi berdesakan, kekuatan fisik dan kelapangan hati sangat diuji. Jemaah dituntut untuk saling berbagi ruang saf, saling menjaga, dan menahan emosi demi menjaga kemabruran ibadah.
Catatan Penting Menjelang Puncak Haji: Momentum salat Jumat ini sering kali dianggap sebagai "gladi resik" fisik sebelum jemaah bertolak ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Energi yang terkuras saat berdesakan di Masjidil Haram menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan, hidrasi yang cukup, dan stamina untuk hari-hari besar berikutnya.
Ceritakan jum'atan pada saat bera dan kepanasan tidak pakai sajadah dan di tempat panas. Kepanasan. Jelaskan
Melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram dalam kondisi berdesakan (bera), terjebak di area terbuka yang terik, tanpa alas sajadah, adalah sebuah ujian fisik dan mental yang luar biasa. Situasi ini melempar jemaah langsung ke batas kemampuan sabar mereka.
Berikut adalah gambaran nyata bagaimana rasanya berada di situasi ekstrem tersebut:
Perjuangan Fisik di Bawah Terik Matahari
- Sengatan Lantai yang Membakar: Lantai marmer putih Masjidil Haram memang dirancang khusus untuk menyerap panas, namun jika berada di pelataran luar atau aspal jalanan sekitar masjid yang terpapar matahari langsung sejak pagi, suhunya tetap akan melonjak naik. Ketika tidak membawa sajadah, bagian tubuh yang menempel langsung ke lantai—terutama telapak kaki saat berdiri, serta dahi, hidung, telapak tangan, dan lutut saat sujud—akan merasakan panas yang menyengat, bahkan bisa melepuh jika kulit sensitif.
- Hawa Panas yang Mengepung: Suhu udara Makkah menjelang puncak haji bisa mencapai 40°C hingga 45°C, bahkan lebih. Tanpa peneduh, kepala akan terasa berat karena sengatan langsung matahari. Keringat bercucuran deras, membasahi kain ihram atau pakaian, membuat tubuh cepat mengalami dehidrasi.
Kondisi Bera (Berdesakan Lunak hingga Impitan Keras)
- Ruang Gerak yang Terkunci: Karena jemaah terus merangsek masuk, posisi berdiri menjadi sangat rapat. Bahu bertemu bahu, kaki bertemu kaki. Jangankan untuk menggelar sajadah (jika bawa pun kadang tidak ada ruang untuk membentangkannya), untuk sekadar merenggangkan tangan atau membetulkan posisi berdiri saja sangat sulit.
- Ujian Saat Sujud: Ini adalah momen paling krusial. Ketika saf terlalu padat, jemaah sering kali tidak bisa sujud dengan sempurna ke lantai. Akibatnya, banyak yang terpaksa sujud di atas punggung jemaah di depannya, atau menahan berat tubuh dengan posisi yang tidak nyaman agar dahi tetap bisa menyentuh lantai yang panas membara.
Gejolak Psikologis dan Kekuatan Hati
- Antara Amarah dan Pasrah: Secara manusiawi, rasa panas yang membakar kulit ditambah impitan dari segala arah bisa memicu kepanikan, rasa pusing, atau bahkan kejengkelan (emosi). Di sinilah ego manusia benar-benar dihancurkan. Jemaah dipaksa untuk menekan ego, berhenti mengeluh, dan belajar berdamai dengan keadaan.
- Refleksi Padang Mahsyar: Di tengah rintihan menahan panas, banyak jemaah yang menitikkan air mata karena momen ini langsung mengingatkan mereka pada gambaran Padang Mahsyar. Rasa menderita di dunia tidak ada apa-apanya dibanding hari kebangkitan nanti. Kesadaran ini yang biasanya mengubah rasa perih di kulit menjadi untaian zikir dan istigfar yang mendalam.
Hikmah di Balik Sengatan Matahari: Salat Jumat dalam kondisi paling payah dan panas ini sering kali menjadi titik balik spiritual yang paling membekas bagi seorang jemaah. Ketika semua fasilitas kenyamanan dicabut—tidak ada AC, tidak ada karpet empuk, tidak ada ruang longgar—yang tersisa hanyalah kepasrahan total antara seorang hamba yang lemah di hadapan Sang Pencipta.
Mengatur jutaan manusia dari berbagai negara, bahasa, dan budaya di satu tempat yang sama seperti Masjidil Haram—terutama dalam kondisi padat menjelang wukuf—adalah salah satu tugas manajemen massa terbesar di dunia.
Pemerintah Arab Saudi menurunkan berbagai jenis petugas ketertiban dengan seragam, warna baret, dan fungsi yang berbeda-beda. Mereka bekerja dengan pendekatan yang tegas namun tetap berusaha humanis agar jemaah paham dan patuh demi keselamatan bersama.
Berikut rincian berbagai petugas ketertiban dan cara mereka mengatur jemaah :
1. Jenis-Jenis Petugas di Lapangan
- Askar (Militer dan Kepolisian): Ini adalah petugas yang paling sering dijumpai. Mereka mengenakan seragam militer (loreng, hijau tua, atau cokelat gurun) dengan baret merah, hitam, atau hijau. Tugas utamanya adalah menjaga keamanan, menutup jalur yang sudah penuh, dan mengarahkan arus pejalan kaki.
- Petugas Kementerian Haji dan Umrah (Seragam Hijau/Khusus): Mereka fokus pada pelayanan jemaah, memberikan informasi arah, dan membantu jemaah yang tersesat atau mengalami kesulitan fisik.
- Petugas Srikandi / Askar Wanita: Khusus ditempatkan di area jemaah perempuan untuk mengatur saf, memeriksa tas di pintu masuk, dan memastikan ketertiban di dalam ruang salat khusus wanita.
- Petugas Kebersihan (Seragam Hijau/Biru): Meski tugas utamanya membersihkan masjid, mereka juga secara tidak langsung mengatur ketertiban dengan meminta jemaah bergeser saat pembersihan lantai karpet atau marmer dilakukan, terutama menjelang waktu salat.
2. Cara Petugas Mengatur dan Menertibkan Jemaah
Menghadapi kendala bahasa (language barrier), para petugas menggunakan kombinasi metode visual, lisan, dan tindakan fisik yang terukur:
* Instruksi Lisan yang Tegas dan Berulang
Petugas sering menggunakan pengeras suara genggam (megaphone) dan meneriakkan kata-kata kunci dalam berbagai bahasa yang mudah dipahami jemaah dunia, seperti:
- "Tariq, tariq!" (Jalan, jalan! — melarang jemaah berhenti atau salat di jalur lalu lintas pejalan kaki).
- "Haji, yallah, amsy..." (Haji, ayo jalan/bergerak).
- "Salli ala Nabi..." (Bersalawatlah kepada Nabi — digunakan untuk menenangkan jemaah yang mulai panik atau emosi saat berdesakan).
* Pagar Betis dan Barikade Manusia
Ketika sebuah area (seperti lantai dasar atau area mataf) sudah mencapai kapasitas maksimum, para Askar akan saling bergandengan tangan membentuk pagar betis hidup. Mereka menghadang jemaah yang baru datang dengan tegas, mengalihkan arus ke lantai atas atau ke pelataran luar demi mencegah terjadinya desak-desakan yang fatal (crowd crush).
* Bahasa Isyarat dan Petunjuk Visual
Karena suara azan atau zikir sering kali menenggelamkan suara petugas, mereka menggunakan lambaian tangan yang tegas, meniup peluit, atau menunjuk ke arah jalur alternatif. Di beberapa titik strategis, papan petunjuk digital dengan lampu hijau (berarti jalur buka) dan lampu merah (jalur tutup) juga digunakan untuk memandu jemaah.
* Tindakan Preventif Terhadap Barang Bawaan
Petugas di pintu masuk akan dengan ketat melarang jemaah membawa tas besar, koper, atau kereta bayi ke dalam area salat yang padat. Hal ini dilakukan agar ruang yang tersedia murni untuk saf salat dan tidak ada barang yang berpotensi membuat jemaah lain tersandung saat evakuasi atau pergerakan massa.
3. Pendekatan untuk Membangun Pemahaman Jemaah
Petugas ketertiban menyadari bahwa sebagian besar pelanggaran ketertiban terjadi bukan karena jemaah sengaja membangkang, melainkan karena ketidaktahuan atau rasa panik takut tertinggal kelompoknya. Oleh karena itu, petugas menerapkan pendekatan psikologis:
- Membagi Brosur dan Edukasi Digital: Melalui maktab (pondokan) dan aplikasi resmi, skema arus pergerakan jalan sudah disosialisasikan dalam berbagai bahasa (termasuk bahasa Indonesia).
- Ketegasan yang Terukur: Jika ada jemaah yang nekat menggelar sajadah di tengah jalur penyelamatan (emergency exit), petugas akan langsung melipat sajadah tersebut atau meminta jemaah berdiri dengan tegas tetapi tidak menggunakan kekerasan fisik yang mencederai.
- Sentuhan Humanis: Di tengah cuaca yang sangat panas, tidak jarang petugas justru ikut menyemprotkan air segar ke wajah jemaah, membagikan air zam-zam, atau membantu menggendong jemaah lansia yang kelelahan. Hal ini secara psikologis membuat jemaah lebih luluh, hormat, dan mau menuruti arahan petugas ketika diminta berpindah tempat.
Dedikasi dan keteguhan para petugas ketertiban (Askar dan kru pendukung) di Masjidil Haram memang menjadi salah satu kunci utama mengapa jutaan jemaah dari seluruh dunia bisa beribadah dengan aman, meskipun dalam kondisi super padat menjelang wukuf.
Bagi mereka, tugas menertibkan jemaah bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan sebuah misi pelayanan tingkat tinggi yang menuntut energi tanpa batas. Berikut adalah penjelasan mengapa dan bagaimana para petugas ini terus aktif tanpa bosan menata jemaah yang belum tertib:
1. Kesadaran Tinggi terhadap Risiko Keselamatan (Crowd Control)
Alasan utama mengapa petugas tidak pernah berhenti bergerak dan menegur adalah karena mereka memahami risiko fatal dari pembiaran.
- Mencegah Efek Domino: Jika ada satu jemaah saja yang nekat duduk atau menggelar sajadah di jalur utama pejalan kaki, hal itu akan membuat jemaah di belakangnya tersandung. Di tengah arus jutaan manusia, satu orang tersandung bisa memicu kepanikan massal dan insiden desak-desakan (crowd crush).
- Menjaga Jalur Darurat: Petugas harus memastikan jalur evakuasi dan ambulans tetap steril. Oleh karena itu, seolah "tidak punya rasa bosan", mereka akan terus menghalau jemaah yang mencoba menetap di area terlarang tersebut.
2. Strategi Berkelanjutan: Mengatasi Hambatan Bahasa dan Budaya
Petugas menghadapi tantangan psikologis yang besar: jemaah yang melanggar aturan sering kali bukan karena sengaja membangkang, melainkan karena tidak paham bahasa atau terbawa kepanikan takut terpisah dari rombongannya.
- Pengulangan Tanpa Henti: Petugas maklum bahwa instruksi yang diteriakkan menit ini mungkin tidak didengar oleh gelombang jemaah baru yang datang menit berikutnya. Oleh karena itu, teriakan "Tariq, tariq!" (Jalan!) atau "Haji, amsy!" (Haji, ayo jalan!) terus berdengung bergantian lewat pengeras suara sepanjang hari.
- Sistem Pagar Betis yang Dinamis: Ketika jemaah yang belum tertib terus merangsek, petugas tidak berdebat kata-kata. Mereka langsung membentuk barikade hidup dengan bergandengan tangan, mengarahkan arus massa secara fisik namun terukur ke jalur alternatif.
3. Sistem Rotasi Kerja yang Terjaga
Secara fisik, manusia pasti memiliki batas lelah, apalagi di bawah sengatan cuaca Makkah yang ekstrem. Rahasia mengapa mereka terlihat "tak pernah bosan dan selalu aktif" terletak pada manajemen kerja yang ketat:
- Penyegaran Pasukan (Rotasi): Pemerintah Arab Saudi menerapkan sistem sif (shift) yang disiplin. Pasukan yang bertugas di titik-titik paling krusial dan panas (seperti pelataran luar atau jalur utama pintu masuk) akan diganti secara berkala agar stamina dan fokus mereka tetap prima.
- Dukungan Logistik yang Kuat: Di pos-pos penjagaan, kebutuhan hidrasi dan nutrisi para petugas sangat diperhatikan agar mereka tidak mudah kehilangan kesabaran akibat kelelahan fisik.
4. Doktrin Sebagai "Khodimul Haramaian" (Pelayan Dua Tanah Suci)
Di luar faktor ketegasan militer, ada dorongan spiritual dan kehormatan besar yang ditanamkan dalam sanubari setiap petugas:
- Melayani Tamu Allah (Duyufurrahman): Menjaga ketertiban di Masjidil Haram dipandang sebagai bentuk ibadah tertinggi bagi mereka. Melindungi keselamatan jemaah haji dinilai sama mulianya dengan ibadah itu sendiri.
- Ketegasan yang Dibungkus Penghormatan: Meskipun mereka bertindak sangat tegas (bahkan terkadang terkesan galak bagi yang belum terbiasa), mereka tetap memanggil jemaah dengan sebutan hormat: "Ya Haji..." atau "Yallah Haji...". Ketegasan ini muncul dari rasa tanggung jawab yang besar agar seluruh jemaah bisa pulang ke tanah air dengan selamat.
Kesimpulan:
Keaktifan petugas yang seolah tanpa lelah ini adalah benteng terakhir kenyamanan di Masjidil Haram. Tanpa ketegasan dan "kebawelan" para petugas yang terus-menerus menata saf dan jalur, kemacetan total pergerakan manusia di rumah Allah ini akan sangat sulit dihindari.
Di dalam tata ruang Masjidil Haram, pergerakan jemaah yang melakukan tawaf dan sa'i dianalogikan seperti roda gigi yang berputar tanpa henti dalam sebuah sistem yang presisi. Menjelang puncak haji, jutaan manusia bergerak bersamaan dalam waktu yang sama, namun benturan massal bisa dihindari berkat pengaturan jalur (flow management) yang sangat ketat.
Berikut penjelasan mengenai dinamika pergerakan tawaf dan sa'i di jalur-jalur yang sudah ditentukan :
1. Dinamika Tawaf: Putaran Sentrifugal yang Konstan
Tawaf dilakukan dengan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali putaran, dimulai dan diakhiri di garis Hajar Aswad dengan posisi Ka'bah di sebelah kiri jemaah. Pergerakan ini mengalir berlawanan arah jarum jam.
- Sistem Jalur Berlapis (Multi-level): Menjelang wukuf, area mataf (lantai dasar terbuka) biasanya dikhususkan bagi jemaah yang mengenakan pakaian ihram (jemaah yang sedang melaksanakan umrah wajib). Bagi jemaah berpakaian biasa yang ingin melakukan tawaf sunah, petugas mengarahkan mereka ke jalur tawaf di lantai 1, lantai 2, atau lantai atap (roof).
- Kecepatan yang Berbeda: Di area lantai dasar, pergerakan jemaah sangat padat dan lambat di lingkaran dalam (dekat Ka'bah), namun bergerak lebih dinamis di lingkaran luar. Sementara di lantai atas, meski jarak putarannya jauh lebih panjang, arusnya cenderung lebih stabil dan teratur.
- Larangan Berhenti di Jalur Utama: Petugas ketertiban (Askar) ditempatkan di titik-titik krusial, terutama di garis sejajar Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim. Jemaah dilarang keras berhenti mendadak untuk mengambil foto, mematung berlama-lama untuk berdoa, atau mencoba menerobos paksa mendekati Ka'bah jika kondisi sangat padat. Pergerakan harus terus mengalir (keep moving) demi keselamatan bersama.
2. Dinamika Sa'i: Pergerakan Linier Bolak-Balik
Sa'i adalah berjalan kaki (atau berlari-lari kecil bagi laki-laki di titik tertentu) sebanyak tujuh kali perjalanan antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah.
- Pemisahan Jalur Searah: Jalur sa'i (Mas'a) telah dibagi menjadi beberapa koridor yang jalurnya dibuat searah guna mencegah jemaah bertabrakan dari arah depan:
- Koridor dari Shafa ke Marwah: Jalur khusus untuk berjalan ke satu arah.
- Koridor dari Marwah ke Shafa: Jalur khusus untuk kembali ke arah sebaliknya, dipisahkan oleh dinding pembatas atau pilar masjid.
- Jalur Khusus Kursi Roda dan Skuter: Di bagian tengah atau di lantai khusus (seperti lantai mezanin), terdapat jalur mandiri yang disterilkan untuk jemaah lansia atau sakit yang menggunakan kursi roda manual, kursi roda pendorong petugas resmi, maupun skuter listrik. Jalur ini tidak boleh dimasuki oleh jemaah yang berjalan kaki agar tidak terjadi kecelakaan.
- Zona Lampu Hijau: Di antara Shafa dan Marwah, terdapat pilar dengan pencahayaan lampu hijau. Di jalur ini, jemaah laki-laki disunahkan untuk berlari-lari kecil. Pergerakan di sini melaju lebih cepat, namun jemaah tetap dituntut menjaga ritme agar tidak menyenggol jemaah lain di sekitarnya.
3. Integrasi Jalur Keluar dan Masuk
Tantangan terbesar dalam manajemen ketertiban adalah titik transisi, yaitu ketika jemaah selesai melakukan tawaf dan ingin berpindah menuju tempat sa'i.
- Pintu Keluar Khusus (Exit Flows): Setelah menyelesaikan putaran tawaf ketujuh di dekat Hajar Aswad, jemaah tidak diizinkan berbalik arah atau memotong arus tawaf orang lain. Petugas secara aktif mengarahkan jemaah untuk langsung mengambil serong kanan, keluar dari lingkaran mataf, dan masuk ke koridor penghubung menuju Bukit Shafa untuk memulai sa'i.
- Satu Arah Setelah Sa'i: Begitu jemaah menyelesaikan putaran ketujuh sa'i di Bukit Marwah, jalur keluar langsung diarahkan ke luar bangunan masjid (menuju pelataran halaman luar arah terminal bus atau kawasan perhotelan). Hal ini memastikan bahwa jemaah yang sudah selesai ibadah langsung mengalir keluar, memberi ruang bagi jemaah baru yang terus berdatangan dari arah bukit Shafa.
Dengan disiplin mengikuti marka jalan, sekat pembatas, dan arahan petugas di setiap kelokan jalur, jutaan jemaah dapat bergerak laksana aliran air yang teratur, menjaga kekhusyukan ibadah di tengah kepadatan yang luar biasa.