
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Situasi, kondisi, dan suasana di Masjidil Haram menjelang dan saat pelaksanaan wukuf di Arafah (9 Zulhijah) menawarkan sebuah transformasi spiritual dan visual yang luar biasa. Perubahan dramatis terjadi dari kepadatan ekstrem menuju kelengangan yang syahdu.
Gambaran komprehensif mengenai dinamika Masjidil Haram pada fase krusial tersebut dari berbagai perspektif :
1. Perspektif Sejarah: Tradisi Yaumul Khulaif (Hari Kosong)
Secara historis, fenomena mengosongkannya Masjidil Haram oleh jemaah haji yang bergerak ke Mina dan Arafah melahirkan sebuah tradisi berabad-abad bagi penduduk lokal Makkah (kaum Makawi), khususnya kaum wanita. Tradisi ini dikenal sebagai Yaumul Khulaif (Hari Lowong/Kosong) atau Yaum al-Azaf.
- Zaman Dulu: Ketika para pria lokal pergi bertugas melayani jemaah haji (mutawefeen) atau ikut ke Arafah, para wanita, anak-anak, dan lansia berbondong-bondong menguasai Masjidil Haram untuk menjaga Ka'bah agar tidak sepi, sekaligus beribadah dengan leluasa.
- Signifikansi Sejarah: Ini adalah ruang kultural di mana Ka'bah "diserahkan" sementara kepada penduduk asli Makkah yang selama berminggu-minggu sebelumnya mengalah demi memberikan kenyamanan kepada jemaah haji reguler dunia.
2. Kondisi Menjelang Wukuf (7 - 8 Zulhijah)
- Eskalasi Kepadatan: Ini adalah puncak kepadatan tertinggi di Masjidil Haram. Jutaan jemaah dari seluruh dunia berkumpul untuk melaksanakan Tawaf Qudum atau Umrah Wajib bagi yang mengambil Haji Tamattu'.
- Atmosfer: Area mataf (tempat tawaf) sangat padat, pergerakan melambat, dan suhu emosional serta spiritual sangat tinggi. Gemuruh talbiyah, doa, dan tangisan haru menggema di setiap sudut.
- Mobilisasi: Memasuki malam 8 Zulhijah (Hari Tarwiyah) hingga pagi hari 9 Zulhijah, suasana perlahan berubah. Jemaah haji mulai diangkut secara massal menggunakan bus atau berjalan kaki menuju Mina dan Padang Arafah. Masjidil Haram mulai "bernapas" lega.
3. Kondisi Saat Wukuf Berlangsung (9 Zulhijah)
Ketika lebih dari dua juta jemaah haji berada di Padang Arafah (sekitar 21–25 km dari Masjidil Haram) untuk berdiam diri dari waktu zuhur hingga magrib, Masjidil Haram mengalami transformasi total:
A. Jemaah Umrah & Penduduk Lokal
Area yang tadinya padat merayap tiba-tiba menjadi sangat lengang. Jemaah non-haji (pemegang visa umrah yang masih berada di Makkah atau penduduk lokal) memanfaatkan momen langka ini. Mereka bisa mendekati Ka'bah tanpa berdesakan, bahkan antrean untuk mencium Hajar Aswad atau berdoa di Multazam menjadi sangat tertib dan pendek.
B. Aktivitas Tawaf & Sa'i
- Tawaf: Area mataf lantai dasar terlihat lapang. Jemaah dapat melakukan tawaf dengan ritme yang tenang, khusyuk, dan jarak yang sangat dekat dengan dinding Ka'bah. Lantunan doa tidak lagi saling bersahutan dengan keras, melainkan terdengar lebih personal dan syahdu.
- Sa'i: Jalur antara Bukit Safa dan Marwah yang biasanya menyerupai lautan manusia melonggar drastis. Berlari-lari kecil di pilar hijau dapat dilakukan tanpa khawatir menabrak jemaah lain.
C. Salat, I'tikaf, dan Zikir
- Salat Lima Waktu: Saf-saf salat yang biasanya meluber hingga ke jalan-jalan raya di luar masjid, kini terpusat di dalam bangunan utama dan sekitar Ka'bah saja.
- I'tikaf: Suasana masjid menjadi sangat kondusif untuk i'tikaf. Keheningan yang tercipta memberikan ruang kontemplasi yang dalam. Banyak umat Muslim lokal yang sengaja datang membawa perbekalan untuk iktikaf seharian penuh.
- Zikir & Baca Qur'an: Di bawah teduhnya tiang-tiang masjid atau langsung menghadap Ka'bah, jemaah yang tinggal menghabiskan waktu dengan melantunkan ayat suci Al-Qur'an dan berzikir, menyatukan frekuensi spiritual mereka dengan jemaah yang sedang berwukuf di Arafah.
4. Kegiatan Khusus Terkait Ka'bah pada 9 Zulhijah
Selain aktivitas ibadah jemaah, 9 Zulhijah adalah hari di mana Ka'bah mendapatkan perlakuan paling istimewa dalam setahun:
- Penggantian Kiswah (Kain Penutup Ka'bah): Berdasarkan tradisi (meski dalam beberapa tahun terakhir adakalanya digeser ke 1 Muharram), momen saat Masjidil Haram sepi ini secara historis digunakan oleh otoritas Dua Masjid Suci untuk mengganti kain Kiswah Ka'bah yang lama dengan yang baru. Prosesi ini melibatkan puluhan petugas terampil dan tangga hidrolik khusus di tengah sunyinya area mataf.
- Pembersihan Skala Besar: Memanfaatkan lengangnya area, petugas kebersihan melakukan sterilisasi, pencucian, dan pemberian wewangian (oud dan mawar) secara menyeluruh pada lantai marmer mataf serta dinding Ka'bah agar siap menyambut kembalinya jemaah haji.
Kesimpulan: Ketenangan Sebelum "Badai" Spiritual
Suasana Masjidil Haram saat wukuf adalah salah satu momen paling kontras di bumi. Tempat yang menjadi pusat pusaran manusia paling padat sedunia, berubah menjadi oasis ketenangan yang sunyi dan agung selama beberapa jam. Namun, ketenangan ini hanyalah jeda singkat. Begitu matahari terbenam di Arafah, jemaah bergerak ke Muzdalifah, lalu Mina, dan segera kembali membanjiri Masjidil Haram untuk Tawaf Ifadah, mengubah kembali kesunyian tersebut menjadi gemuruh persaudaraan Islam global yang masif.
Jika Masjidil Haram di Makkah mengalami kekosongan yang drastis saat hari wukuf di Arafah, dinamika yang terjadi di Masjid Nabawi, Madinah memiliki karakteristik yang berbeda namun tidak kalah menyentuh hati.
Madinah, yang berjarak sekitar 450 km dari Makkah, bertindak sebagai "stasiun penyaring" utama bagi jemaah haji dunia sebelum dan sesudah puncak haji. Berikut adalah gambaran situasi, kondisi, dan suasana kegiatan peribadatan di Masjid Nabawi menjelang dan saat wukuf di Arafah :
1. Kondisi Menjelang Wukuf (Fase Pengosongan Kota Madinah)
Menjelang 9 Zulhijah (khususnya sejak akhir Zulkaidah hingga 5–7 Zulhijah), Masjid Nabawi perlahan-lahan ditinggalkan oleh jemaah haji reguler dunia.
- Pemberangkatan Massal: Jemaah haji Gelombang I (yang tiba di Madinah terlebih dahulu) telah diberangkatkan seluruhnya menuju Makkah melalui mengambil miqat di Dzulhulaifah (Bir Ali).
- Perubahan Suasana: Lorong-lorong hotel di sekitar Markaziyah (ring satu Madinah) yang tadinya sangat bising dan padat mulai sepi. Suasana pelataran Masjid Nabawi yang biasanya penuh sesak oleh jutaan pasang sandal kini melonggar signifikan. Keamanan dan ritme pelayanan di masjid mulai melandai.
2. Situasi Saat Wukuf Berlangsung (9 Zulhijah)
Pada hari Arafah, suasana di dalam dan di sekitar Masjid Nabawi diselimuti oleh keheningan yang sangat khusyuk, damai, dan penuh haru. Kota Madinah seolah kembali menjadi kota yang tenang, mirip dengan atmosfer harian penduduk lokal di luar musim haji.
A. Kenyamanan Beribadah di Raudah (Taman Surga)
- Akses Lebih Mudah: Bagi jemaah non-haji (pemegang visa umrah, mukimin/ekspatriat, dan penduduk lokal) yang berada di Madinah, hari Arafah adalah momen emas. Mengakses Raudah Al-Syarifah dan melakukan ziarah ke makam Rasulullah SAW serta kedua sahabat beliau (Abu Bakar dan Umar bin Khattab) menjadi jauh lebih tenang dan khusyuk.
- Waktu Berdoa Lebih Panjang: Antrean di aplikasi Nusuk biasanya lebih longgar, dan petugas (Askar) cenderung memberikan kelonggaran waktu sedikit lebih lama bagi jemaah untuk menitikkan air mata, bersalawat, dan memanjatkan doa di dalam batas tiang-tiang hijau Raudah.
B. Aktivitas Salat, Itikaf, dan Membaca Al-Qur'an
- Kekhusyukan Salat Lima Waktu: Saf-saf salat di dalam bangunan inti Masjid Nabawi tidak lagi meluber hingga ke pelataran luar atau ke jalan raya di bawah payung-payung raksasa. Jemaah bisa dengan mudah mendapatkan saf terdepan atau bersandar di tiang-tiang masjid untuk beriktikaf tanpa terganggu lalu lalang orang.
- Gema Salawat dan Al-Qur'an: Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an dari para pencari kedamaian terdengar syahdu di bawah kubah-kubah masjid yang bergeser. Atmosfernya sangat mendukung untuk tadabbur (merenungkan makna) ayat-ayat suci.
C. Tradisi Buka Puasa Sunah Arafah di Pelataran
Salah satu pemandangan paling indah di Masjid Nabawi pada tanggal 9 Zulhijah adalah buka puasa bersama.
- Puasa Arafah: Mayoritas penduduk lokal Madinah, pekerja, dan jemaah yang tinggal di sana menjalankan ibadah Puasa Sunah Arafah (yang menghapuskan dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang).
- Sufrah Madinah: Menjelang magrib, suasana pelataran dan bagian dalam masjid kembali hidup. Penduduk Madinah secara sukarela menggelar plastik panjang (sufrah) dan membagikan kurma ruthab, roti tamis, yogurt (duggah), kopi arab (gahwa), dan zam-zam secara gratis.
- Suasana Magrib: Ketika azan magrib berkumandang dari menara Masjid Nabawi, jutaan orang berbuka puasa bersama dalam keheningan yang magis, dilanjutkan dengan doa bersama yang menggetarkan hati, memohon agar saudara-saudara mereka yang sedang menyelesaikan wukuf di Makkah mendapatkan haji yang mabrur.
3. Sudut Pandang Emosional: Kerinduan yang Tertinggal
Secara psikologis, suasana di Masjid Nabawi saat hari wukuf dipenuhi oleh rasa haru yang mendalam.
- Bagi para mukimin (warga asing yang menetap) atau warga lokal yang belum berkesempatan berangkat haji tahun itu, menghabiskan waktu di Masjid Nabawi pada hari Arafah adalah cara mereka "menghibur diri".
- Mereka menghadapkan wajah ke arah kiblat (Makkah), menangis di dekat makam Rasulullah, seolah mengirimkan getaran doa agar ruh spiritual mereka ikut hadir bersama jutaan manusia yang sedang berwukuf di Padang Arafah.
Kesimpulan
Jika hari wukuf di Makkah adalah puncak dari sebuah "gerakan massa terbesar", maka hari wukuf di Madinah adalah puncak dari "keheningan spiritual yang agung". Masjid Nabawi bertransformasi menjadi ruang kontemplasi yang damai, memberikan kesempatan bagi mereka yang tinggal untuk mereguk berkah hari Arafah langsung dari kota sang Nabi.
Menjelang dan saat pelaksanaan wukuf di Arafah, Masjid Quba’—masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW dalam sejarah Islam—juga menyajikan atmosfer spiritual yang sangat unik.
Sama seperti Masjid Nabawi, Masjid Quba' terbebas dari kepadatan massal jemaah haji reguler dunia yang sudah bergeser ke Makkah. Namun, bagi masyarakat lokal Madinah (wong Madinah), mukimin, dan jemaah umrah non-haji, momen 9 Zulhijah di Masjid Quba’ adalah waktu yang sangat istimewa.
1. Menjelang Wukuf (Fase Transisi)
Pada hari-hari sebelum 9 Zulhijah (seperti hari Tarwiyah pada 8 Zulhijah), Masjid Quba' mengalami penurunan jumlah pengunjung yang sangat drastis.
- Hilangnya Antrean Bus Wisata: Di hari biasa, pelataran Masjid Quba’ selalu dipadati oleh puluhan bus jemaah haji yang melakukan ziarah Madinah. Menjelang wukuf, pemandangan bus-bus besar ini menghilang.
- Waktu Utama yang Longgar: Sunah Rasulullah SAW untuk mendatangi Masjid Quba’ dalam keadaan suci (wudu dari hotel/rumah) lalu melakukan salat dua rakaat—yang pahalanya setara dengan pahala umrah—kini bisa ditunaikan tanpa harus mengantre saf atau berdesakan di pintu masuk.
2. Saat Wukuf Berlangsung (9 Zulhijah)
Pada hari Arafah, kegiatan di Masjid Quba’ bergeser menjadi pusat ibadah yang bersifat sangat personal, tenang, dan dipenuhi oleh tradisi lokal penduduk Madinah.
A. Berburu Pahala "Setara Umrah" di Hari Utama
Bagi umat Muslim di Madinah yang tidak bisa pergi berhaji ke Makkah, mereka mengejar keutamaan hari Arafah (hari terbaik dalam setahun) salah satunya dengan mendatangi Masjid Quba’. Based on the hadith of the Prophet SAW:
"Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba’, lalu ia salat di dalamnya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala umrah." (HR. Ibnu Majah)
Di hari Arafah, jemaah lokal sengaja datang sejak pagi (waktu duha) atau menjelang asar untuk menghidupkan sunah ini, merengkuh pahala besar di hari di mana Allah SWT membanggakan hambanya yang beribadah kepada para malaikat.
B. Aktivitas Salat Sunah, I'tikaf, dan Doa Arafah
- Salat Sunah Berjamaah & Sendiri: Selain salat wajib yang barisannya sangat rapi dan longgar, jemaah memanfaatkan keheningan Masjid Quba’ untuk melakukan salat-salat sunah, seperti salat Duha, salat Taubat, dan salat Hajat.
- Majelis Zikir Kecil: Di sudut-sudut masjid yang berarsitektur indah dengan kubah-kubah putihnya, terlihat keluarga-keluarga lokal atau kelompok kecil mukimin duduk melingkar. Mereka bersama-sama melantunkan zikir terbaik di hari Arafah:$$\text{لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}$$
- Membaca Al-Qur'an dengan Tenang: Tidak ada hiruk-pikuk suara pemandu zikir (muthawwif) dari rombongan haji, sehingga suasana dalam masjid sangat hening. Sayup-sayup yang terdengar hanyalah gumam tilawah Al-Qur'an dari jemaah yang beriktikaf.
C. Tradisi Buka Puasa Arafah di Pelataran Quba'
Sama seperti di Masjid Nabawi, mayoritas jemaah yang mendatangi Masjid Quba' pada 9 Zulhijah sedang menjalankan Puasa Sunah Arafah.
- Sufrah Khusus Warga Lokal: Menjelang magrib, suasana di dalam dan pelataran Masjid Quba’ kembali hangat. Warga Madinah yang tinggal di sekitar kawasan Quba' berdatangan membawa kurma, air zam-zam, kopi Arab, dan roti. Mereka menggelar karpet atau plastik untuk dinikmati bersama jemaah lain.
- Momen Mustajab Belum Buka Puasa: Sesaat sebelum azan magrib berkumandang, suasana di Masjid Quba’ menjadi sangat emosional. Jemaah mengangkat tangan setinggi-tingginya menghadap kiblat, memanfaatkan waktu paling mustajab (saat wukuf di Makkah mendekati akhir dan waktu berbuka puasa di Madinah), menangis memohon ampunan Allah SWT di masjid yang dibangun atas dasar takwa ini.
Kesimpulan
Jika Masjidil Haram melambangkan dinamika ibadah fisik yang dahsyat dan Masjid Nabawi melambangkan kerinduan mendalam kepada Rasulullah, maka Masjid Quba’ pada hari Arafah bertindak sebagai "oasis pelarian spiritual" bagi mereka yang ditinggalkan oleh kafilah haji. Di sana, kesederhanaan, ketenangan, dan kejaran pahala setara umrah menyatu dalam keheningan doa di hari yang mulia.