
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Sejarah Asal-Usul dan Perjanjian Hudaibiyah
Hudaibiyah (bahasa Arab: الحديبية) secara historis adalah nama sebuah sumur (Bi'r al-Hudaibiyah) atau sebuah desa yang terletak sekitar 22-24 kilometer di sebelah barat daya Kota Makkah. Jalur ini merupakan rute lama yang menghubungkan Makkah dengan Jeddah. Nama "Hudaibiyah" sendiri diyakini berasal dari nama pohon Hadaf yang pernah tumbuh di wilayah tersebut, atau dikaitkan dengan nama orang yang pertama kali menggali sumurnya.
Peristiwa Monumental: Perjanjian Hudaibiyah (628 M / 6 H)
Tempat ini abadi dalam sejarah Islam karena menjadi lokasi terjadinya Shulh al-Hudaibiyah (Perjanjian Hudaibiyah) pada bulan Dzulqa'dah tahun 6 Hijriah.
- Latar Belakang: Rasulullah ﷺ bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat dari Madinah menuju Makkah dengan niat murni untuk melaksanakan ibadah Umrah. Mereka membawa hewan kurban (hadyu) dan tidak mempersenjatai diri untuk perang.
- Penghadangan: Kaum musyrikin Quraisy menolak masuknya kaum Muslimin ke Makkah dan bersiap menghadang dengan kekuatan militer di bawah pimpinan Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam). Untuk menghindari pertumpahan darah di tanah haram, Rasulullah ﷺ mengambil rute alternatif yang terjal hingga unta beliau, Al-Qashwa, berhenti dan menderem di Hudaibiyah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa unta tersebut ditahan oleh Zat yang menahan pasukan gajah (Allah SWT).
- Bai'atur Ridhwan: Di lokasi ini pula terjadi sumpah setia para sahabat di bawah pohon (Syajarah ar-Ridhwan) untuk membela Rasulullah ﷺ sampai titik darah penghabisan, setelah beredar rumor bahwa utusan Muslim, Utsman bin Affan, dibunuh oleh Quraisy. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur'an (QS. Al-Fath: 18).
- Isi Perjanjian: Ketegangan berakhir dengan negosiasi antara Rasulullah ﷺ dan Suhail bin Amr sebagai utusan Quraisy. Perjanjian yang sepintas merugikan Muslim ini (seperti penundaan umrah hingga tahun depan dan kewajiban mengembalikan orang Makkah yang masuk Islam tanpa izin walinya) ternyata menjadi kemenangan diplomatik yang besar (Fathan Mubina). Perjanjian ini membuka kran dakwah secara masif tanpa sekat peperangan.
Perspektif Sejarah Perkembangan: Pemeliharaan dan Fungsi Sebagai Miqat
Hudaibiyah memiliki posisi geografis yang unik karena terletak tepat di perbatasan antara Tanah Haram (Makkah) dan Tanah Halal. Hal ini menjadikannya salah satu titik Miqat Makkani bagi jamaah yang berada di dalam kota Makkah untuk mengambil miqat umrah (melakukan ihram kembali).
[ TANAH HALAL ] ======================> [ TANAH HARAM ]
Hudaibiyah Batas Tanah Haram (Makkah)
(Tempat Miqat)
1. Era Klasik (Sahabat hingga Khilafah)
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, perhatian terhadap batas-batas Tanah Haram diperketat. Pohon tempat terjadinya Bai'atur Ridhwan sendiri sengaja ditebang atas perintah Khalifah Umar untuk mencegah potensi kultus atau syirik di kalangan umat awam yang mulai mengkeramatkan pohon tersebut. Namun, wilayah Hudaibiyah tetap dipelihara sebagai pos singgah dan sumurnya terus dimanfaatkan oleh para musafir. Sebuah masjid bata kuno kemudian dibangun di dekat sisa-sisa sumur sejarah tersebut.
2. Era Modern (Kerajaan Arab Saudi)
Saat ini, wilayah Hudaibiyah secara administratif dikenal dengan nama Al-Syumaisi (الشميسي). Pemerintah Arab Saudi melakukan modernisasi besar-besaran di kawasan ini:
- Pembangunan Masjid Baru: Pemerintah membangun sebuah masjid modern yang luas dan nyaman di samping runtuhan struktur masjid lama berbahan batu hitam (arsitektur Utsmani/klasik) yang sengaja dibiarkan sebagian sebagai situs arkeologi.
- Fasilitas Miqat: Masjid Al-Hudaibiyah/Al-Syumaisi kini dilengkapi dengan fasilitas bersuci (kamar mandi dan tempat wudhu) yang memadai bagi jamaah umrah yang ingin mandi ihram dan melaksanakan salat sunah dua rakaat sebelum kembali ke Masjidil Haram.
- Aksesibilitas: Jalur menuju lokasi telah diintegrasikan dengan jalan raya modern Makkah-Jeddah lama, menjadikannya alternatif miqat yang sangat mudah dijangkau selain Ji'ranah dan Tan'im.
Lingkungan Geografis: Sentra Peternakan dan Susu Unta
Secara lanskap, Hudaibiyah (Al-Syumaisi) dikelilingi oleh topografi gurun pasir yang landai dengan vegetasi semak khas Hijaz. Kondisi geografis ini menjadikannya wilayah yang sangat ideal untuk peternakan unta tradisonal maupun semi-modern.
Daya Tarik Agro-Turisme Islam: Bagi jamaah umrah atau wisatawan yang bergerak dari Makkah menuju Jeddah (atau sebaliknya), kawasan Hudaibiyah merupakan salah satu destinasi utama untuk melihat langsung kehidupan badui dan interaksinya dengan hewan ikonik gurun.
Aktivitas dan Komoditas di Lingkungan Hudaibiyah:
- Peternakan Unta (Mazra'at Al-Ibil): Di sepanjang pinggiran Hudaibiyah, terdapat banyak kluster peternakan unta yang dikelola oleh warga lokal (Suku Badui). Jamaah dapat berinteraksi langsung, memberi makan, atau berfoto dengan unta berbagai usia.
- Konsumsi Susu Unta Segar (Halib al-Ibil): Tempat ini terkenal sebagai sentra penjualan susu unta segar. Unta-unta betina diperah langsung di hadapan pembeli. Susu unta di Hudaibiyah umumnya disajikan hangat tanpa pemanis tambahan, memiliki rasa agak asin-gurih yang khas, dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan yang tinggi bagi stamina serta pencernaan.
- Air Kencing Unta (Urinal pengobatan): Berdasarkan tradisi pengobatan nabawi (Thibbun Nabawi), sebagian peternak juga menyediakan air kencing unta muda yang digembalakan di gurun (biasanya dicampur dengan susu unta dalam takaran tertentu) bagi pengunjung yang mencari wasilah pengobatan penyakit tertentu.
- Daging Unta: Beberapa titik di sekitar area luar wilayah haram menyediakan kuliner berbahan dasar daging unta, baik dalam bentuk panggangan maupun olahan nasi khas setempat.
Lokasi Geografis Tepat
Secara astronomis dan navigasi modern, lokasi situs Perjanjian Hudaibiyah/Masjid Al-Syumaisi dapat diidentifikasi sebagai berikut:
- Jarak: Sekitar 22 - 24 km dari Masjidil Haram (arah barat daya).
- Rute: Berada di tepi Jalan Raya Jeddah - Makkah Lama (Old Jeddah-Makkah Road).
- Koordinat Geografis (Perkiraan): $21^\circ 26'25" N, 39^\circ 40'01" E$.
Saat berkunjung ke sana hari ini, Anda akan menemukan perpaduan kontras yang indah antara tapak sejarah awal Islam (puing batu kuno), fasilitas ibadah modern yang megah, serta geliat kehidupan agraris gurun lewat deretan tenda dan kandang-kandang unta yang eksotis.
Pembangunan Masjid Hudaibiyah (yang kini secara administratif terletak di wilayah Al-Syumaisi, sekitar 24 km dari Masjidil Haram) sebagai situs bersejarah sekaligus titik miqat makani bagi jamaah umrah memiliki rekam jejak kronologis yang sangat unik.
Berbeda dengan masjid miqat besar lainnya seperti Bir Ali di Madinah atau Masjid Aisyah di Tan'im yang memiliki kompleks megah dan luas, Masjid Hudaibiyah mempertahankan nilai historisnya lewat perpaduan bangunan kuno dan struktur fungsional modern.
1. Era Awal (Abad ke-6 M / Era Sahabat)
- Tahun 6 Hijriah (628 M): Tempat ini awalnya merupakan dataran terbuka di dekat sebuah sumur (Bi'r al-Hudaibiyah). Setelah peristiwa penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah dan Bai'at Ridhwan di bawah pohon mimosa, area ini mulai menjadi titik penting untuk beribadah dan menetapkan niat ihram.
- Era Khilafah: Atas instruksi para khalifah, wilayah ini terus dijaga sebagai pos singgah kafilah karena lokasinya yang strategis di perbatasan Tanah Halal dan Tanah Haram. Sebuah struktur masjid sederhana dibangun berdekatan dengan sumur sejarah tersebut agar para musafir dapat mendirikan salat saat melintas rute lama Makkah–Jeddah.
2. Era Dinasti Utsmani (Ottoman) hingga Abad ke-20
- Pembangunan Struktur Batu Hitam: Memasuki era Kesultanan Utsmani, masjid di Hudaibiyah dibangun kembali menggunakan gaya arsitektur klasik benteng dengan material utama batu gunung hitam yang direkatkan tanah liat, dengan ketebalan dinding mencapai satu hasta. Bangunan ini didirikan tanpa kubah besar modern, melainkan berbentuk ruangan persegi kokoh sebagai pelindung jemaah.
- Menjadi Situs Reruntuhan yang Dilindungi: Seiring berjalannya waktu dan berpindahnya jalur utama Makkah–Jeddah, bangunan era Utsmani ini mulai menua, runtuh di bagian atapnya, dan menyisakan struktur dinding batu tanpa atap. Pemerintah Arab Saudi sengaja membiarkan dan memagari puing-puing ini di sisi utara sebagai cagar budaya (situs arkeologi) agar nilai historisnya tidak hilang.
3. Era Pembangunan Masjid Fungsional Modern (Abad ke-21)
- Pembangunan Masjid Baru: Untuk memfasilitasi jamaah umrah yang ingin mengambil miqat di tempat ini, Pemerintah Arab Saudi membangun sebuah masjid baru yang berdiri persis di sebelah reruntuhan masjid lama. Masjid baru ini sering disebut juga sebagai Masjid Ar-Ridhwan atau Masjid Al-Syumaisi.
- Kondisi Tahun 2006 (Dua Dekade Lalu): Pada pertengahan tahun 2000-an, kawasan ini sempat dinilai kurang terawat oleh para jemaah, fasilitas pembersihan serta pasokan air bersih untuk bersuci (mandi ihram) masih sangat terbatas, dan kapasitas area parkirnya kecil.
- Rencana Revitalisasi (2015): Departemen Urusan Islam berkolaborasi dengan Komisi Saudi untuk Pariwisata dan Warisan Nasional (SCTNH) meluncurkan proyek besar pemugaran masjid-masjid warisan sejarah Islam, termasuk rencana rekonstruksi kawasan Hudaibiyah menggunakan teknik arsitektur terbaru guna menonjolkan makna diplomatik tempat ini.
4. Luas Bangunan dan Kapasitas
Secara fisik, Masjid Hudaibiyah dikategorikan sebagai masjid miqat berukuran kecil hingga sedang.
- Berbeda dengan Masjid Tan'im yang luasnya mencapai ribuan meter persegi dan menampung puluhan ribu jemaah sekaligus, bangunan utama ruang salat Masjid Hudaibiyah hanya berukuran sekitar beberapa ratus meter persegi dan memiliki kapasitas tampung jemaah yang relatif terbatas. Oleh karena itu, masjid ini cenderung tidak sepadat miqat lainnya, namun menawarkan suasana kontemplasi yang lebih tenang dan sakral.
5. Situasi dan Kondisi Saat Ini (Tahun 2026)
Hingga tahun 2026, situasi dan kondisi di Masjid Hudaibiyah telah mengalami transformasi yang jauh lebih baik dan nyaman bagi para peziarah:
- Infrastruktur & Fasilitas yang Tertata: Kondisi fisik masjid saat ini jauh lebih rapi, bersih, dan fungsional dibandingkan dua dekade lalu. Kamar mandi untuk berwudhu dan ruang ganti kain ihram terus dirawat. Di area mihrab dalam ruang salatnya yang bersahaja, nuansa tradisional masih dipertahankan dengan adanya detail-detail unik seperti jam atau radio pengingat waktu salat yang khas.
- Pemandangan Dua Era (Juxtaposition): Jemaah yang berkunjung pada tahun 2026 disuguhkan pemandangan kontras yang memukau: bangunan utama tempat ibadah modern yang fungsional berdiri berdampingan secara harmonis dengan benteng reruntuhan batu hitam era Utsmani yang eksotis.
- Geliat Ekonomi Lokal & Agro-Turisme: Di sekitar kawasan luar masjid, situasi lingkungan sangat hidup dengan hadirnya peternakan unta lokal milik suku Badui. Jamaah umrah memanfaatkannya sebagai destinasi dwi-fungsi: setelah berihram di masjid, mereka melakukan napak tilas sejarah sekaligus berwisata mencicipi susu unta segar langsung di lokasi.
Akses jalan lama Jeddah–Makkah yang terintegrasi dengan baik ke infrastruktur modern Makkah membuat Masjid Hudaibiyah di tahun 2026 ini tetap menjadi jalur miqat alternatif favorit bagi jemaah yang mendambakan perjalanan umrah spiritual yang sarat nilai edukasi sejarah perjuangan Rasulullah ﷺ.