
Oleh : Dr. KH Achmad Muhammad, MA
Makam Ma'la (secara resmi dikenal sebagai Jannat al-Mu'alla) adalah salah satu pemakaman paling bersejarah dan suci di dunia Islam. Terletak di kota suci Makkah, pemakaman ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi keluarga Nabi Muhammad ﷺ, para sahabat, tabi'in, serta ulama-ulama besar dari seluruh dunia, termasuk dari Nusantara.
Sejarah, Asal-Usul, dan Lokasi
Asal-Usul dan Nama
Secara bahasa, Al-Mu'alla berarti "yang tinggi" atau "tempat yang luhur". Nama ini disematkan karena lokasinya berada di dataran tinggi perbukitan Makkah (wilayah Hujun), berjarak sekitar 1 hingga 1,5 km di sebelah utara Masjidil Haram. Pemakaman ini sudah digunakan oleh masyarakat Makkah sejak zaman jahiliyah, jauh sebelum datangnya Islam, sebagai kompleks pemakaman keluarga suku Quraisy.
Lokasi dan Luas Wilayah
- Lokasi: Terletak di jalan Al-Hujun, tak jauh dari persimpangan jalan menuju Masjidil Haram.
- Luas: Awalnya pemakaman ini tidak terlalu luas dan dibatasi oleh bukit-bukit batu. Namun, seiring waktu dan proyek perluasan kota Makkah oleh Pemerintah Arab Saudi, area pemakaman ini terus diperluas, diratakan, dan kini dikelilingi oleh dinding marmer yang kokoh dengan pengamanan yang ketat. Luasnya saat ini diperkirakan mencapai puluhan ribu meter persegi untuk menampung jenazah penduduk Makkah serta jemaah haji/umrah yang wafat di sana.
Perspektif Sejarah: Pelestarian, Pemeliharaan, dan Pembangunan
Sejarah arsitektur dan bentuk Al-Ma'la mengalami transformasi besar yang dipengaruhi oleh dinamika politik dan paham keagamaan di Semenanjung Arabia:
- Era Klasik hingga Utsmani (Turki Usmani): Selama berabad-abad, makam-makam tokoh agung di Al-Ma'la dipelihara dengan baik. Banyak di antaranya yang dibangun kubah (qubbah) besar yang indah, dinding pelindung, dan batu nisan yang terukir indah sebagai tanda penghormatan. Makam Sayyidah Khadijah, misalnya, dahulu memiliki bangunan kubah yang megah dan sering diziarahi.
- Era Saudi Modern (Peristiwa Tahun 1925/1926): Setelah jatuhnya Syarif Makkah dan masuknya pemerintahan Raja Abdul Aziz bin Saud yang mengusung paham Wahabi/Salafi, kebijakan pemeliharaan makam berubah total. Pada tahun 1925-1926, seluruh bangunan kubah, menara, dan struktur di atas makam di Al-Ma'la (termasuk di Jannat al-Baqi, Madinah) diratakan dengan tanah.
- Alasan Teologis: Pemerintah Saudi menerapkan prinsip pencegahan ghuluw (berlebih-lebihan dalam mengagungkan kuburan) yang dikhawatirkan dapat mengarah pada perbuatan syirik.
- Kondisi Kontemporer (Pengembangan Modern): Saat ini, Al-Ma'la dikelola secara modern oleh Amanah Ash-Shofiyyah (otoritas tata kota Makkah). Makam tidak lagi memiliki nisan bertuliskan nama. Semua kuburan diratakan dengan tanah, hanya ditandai dengan sebongkah batu biasa (fihir) sebagai penanda posisi kepala. Area pejalan kaki dipaving dengan rapi, sistem drainase dibangun untuk mencegah banjir dari gunung, dan dibuat zonasi pemakaman yang sistematis.
Tokoh-Tokoh Agung yang Dimakamkan di Al-Ma'la
Al-Ma'la menjadi istimewa karena di sinilah bersemayam jasad para kekasih Allah. Berikut beberapa figur utamanya:
1. Sayyidah Khadijah binti Khuwailid (Istri Rasulullah ﷺ)
Ini adalah makam paling utama di Al-Ma'la. Beliau adalah Ummul Mu'minin, istri pertama Nabi ﷺ yang mengorbankan seluruh jiwa, raga, dan hartanya demi mendukung awal dakwah Islam. Beliau wafat pada tahun ke-10 kenabian (Amul Huzni / Tahun Kesedihan). Makamnya terletak di bagian depan/tengah pemakaman dan menjadi titik utama yang paling sering diziarahi (dari luar pagar).
2. Sahabat Abdullah bin Zubair RA
Beliau adalah putra dari Asma binti Abu Bakar dan Zubair bin Awwam. Abdullah bin Zubair adalah bayi muhajirin pertama yang lahir di Madinah dan sempat menjadi khalifah yang berpusat di Makkah. Beliau gugur dalam pertempuran melawan pasukan Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Thaqafi di dekat Ka'bah dan dimakamkan di Al-Ma'la. Ibundanya, Asma binti Abu Bakar (Dzatun Nithaqain), serta nenek baginda Nabi, Safiyah binti Abdul Muthalib, juga dimakamkan di kawasan ini.
3. Ulama Klasik: Syeikh Nawawi Al-Bantani
Beliau adalah Sayyidul Hijaz, ulama besar asal Banten, Indonesia, yang menjadi Imam Masjidil Haram dan maha guru dari jalur sanad ulama Nusantara (termasuk guru dari KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Ahmad Dahlan). Beliau wafat di Makkah pada tahun 1897 M. Ada cerita masyhur di kalangan pesantren bahwa ketika makam beliau hendak dibongkar (kebijakan rutin Saudi setelah beberapa tahun untuk diganti jenazah baru), jasad Syeikh Nawawi ditemukan masih utuh, sehingga makamnya dibiarkan utuh hingga kini.
4. Ulama Kontemporer: Syeikh Muhammad bin Alawi al-Maliki
Wafat pada tahun 2004, beliau adalah ulama ahlussunnah wal jama'ah paling berpengaruh di Makkah pada abad ke-20 dan awal abad ke-21. Beliau adalah guru dari ribuan ulama di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Makam beliau berada di Al-Ma'la dan saat pemakamannya, lautan manusia mengantarkan jasadnya. Makamnya kerap diziarahi oleh para pencinta ilmu dan habaib.
5. Ulama Nusantara: KH. Maimun Zubair (Mbah Moen)
Ulama kharismatik Nusantara, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, wafat saat menunaikan ibadah haji pada tanggal 6 Agustus 2019. Atas kehormatan besar dan kecintaan umat, beliau dimakamkan di Al-Ma'la (Baris ke-124, nomor 15). Makam Mbah Moen menjadi salah satu titik yang paling sering dikunjungi oleh jemaah haji dan umrah asal Indonesia.
Tokoh Lainnya:
- Abdul Muthalib & Abu Thalib: Kakek dan paman Rasulullah ﷺ (menurut sebagian besar catatan sejarah sejarawan Makkah).
- Qasim bin Muhammad: Putra sulung Rasulullah ﷺ yang wafat saat masih kecil.
- Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Ulama besar asal Sumatra Barat yang juga pernah menjadi Imam dan Khatib bermadzhab Syafi'i di Masjidil Haram.
Makna Spiritual dan Ziarah Saat Ini
Bagi umat Islam, berziarah ke Makam Ma'la bukan sekadar melihat tanah pemakaman, melainkan napak tilas sejarah perjuangan Islam awal.
Catatan Ziarah Modern: Saat ini, peziarah umumnya hanya diperbolehkan melihat dan berdoa dari luar pagar besi pembatas yang tinggi, terutama bagi wanita yang dilarang masuk ke dalam area pemakaman berdasarkan regulasi resmi Arab Saudi. Namun, pintu gerbang biasanya dibuka pada waktu-waktu tertentu setelah shalat jenazah di Masjidil Haram selesai diturunkan untuk proses pemakaman baru.
Selain Makam Ma'la, wilayah tanah suci Makkah al-Mukarramah memiliki beberapa situs pemakaman bersejarah lainnya. Sebagian besar makam ini terkait erat dengan peristiwa besar di masa awal Islam, seperti peperangan mempertahankan keimanan, serta pemakaman modern yang menampung jemaah dari berbagai belahan dunia.
1. Makam Syuhada Badar (Maqbarah Syuhada Badr)
Meskipun secara geografis terletak di pinggir wilayah administratif Makkah (sekitar 150 km ke arah barat daya Madinah, namun secara historis sangat kuat ikatannya dengan peziarah tanah suci), Lembah Badar adalah tempat terjadinya perang legendaris antara kaum Muslimin dan kaum kafir Quraisy.
- Siapa yang Dimakamkan: Di sinilah tempat peristirahatan terakhir bagi 14 sahabat Nabi yang gugur sebagai syuhada dalam Perang Badar (perang pembeda/Yawm al-Furqan).
- Kondisi Saat Ini: Makam para syuhada ini berada dalam satu kompleks yang dipagari tembok tinggi. Di bagian depan, terdapat papan nama besar yang menuliskan nama-nama ke-14 syuhada Badar tersebut, di antaranya Ubaidah bin al-Harits, Umair bin Abi Waqqas, dan Bilal bin Al-Harits.
2. Makam Syuhada Hunain (Maqbarah Hunain)
Terletak di Lembah Hunain, sekitar 26 km di sebelah timur kota Makkah (arah menuju Thaif). Tempat ini menjadi saksi bisu Perang Hunain yang terjadi tak lama setelah peristiwa Pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah) pada tahun 8 Hijriah.
- Siapa yang Dimakamkan: Makam ini menampung jasad para sahabat Nabi yang gugur dalam pertempuran sengit melawan suku Hawazin dan Tsaqif. Sebanyak 4 hingga 12 sahabat (tergantung riwayat) syahid di sini, termasuk Aiman bin Ubaid (saudara tiri Usama bin Zaid).
- Kondisi Saat Ini: Area ini berupa tanah lapang berpasir yang dipagari dan dijaga ketat oleh otoritas setempat, menandai titik krusial di mana keteguhan hati para sahabat diuji dalam mempertahankan Rasulullah ﷺ.
3. Pemakaman Syara'i (Maqbarah Asy-Syarai')
Ini adalah salah satu pemakaman umum modern terbesar yang aktif digunakan saat ini untuk wilayah kota Makkah. Lokasinya berada di distrik Asy-Syarai', di jalan utama menuju kota Thaif (luar area tanah haram/perbatasan).
- Fungsi Utama: Jika Makam Ma'la sudah sangat padat, sebagian besar jemaah haji, jemaah umrah, atau penduduk ekspatriat yang wafat di Makkah saat ini akan dibawa dan dimakamkan di Pemakaman Syara'i.
- Kondisi Saat Ini: Sangat terorganisir dengan sistem penomoran blok yang ketat menggunakan komputer. Pola pemakamannya mengikuti aturan syariat yang berlaku di Arab Saudi: tanpa bangunan, tanpa gundukan tinggi, dan hanya ditandai batu pipih tanpa nama.
4. Pemakaman Muhajirin (Maqbarah Al-Muhajirin)
Terletak di wilayah pinggiran Makkah, pemakaman ini memiliki nilai historis karena pada masa awal Islam digunakan untuk memakamkan orang-orang yang melakukan hijrah dari berbagai daerah menuju Makkah atau mereka yang meninggal dalam perjalanan ibadah.
- Kondisi: Saat ini sebagian besar areanya sudah menyatu dengan perkembangan tata kota Makkah modern, namun sisa-sisa areanya tetap dipelihara oleh kementerian urusan Islam setempat sebagai ruang terbuka hijau atau cagar budaya yang dilindungi dari pembangunan gedung.
5. Makam Syuhada Hudaibiyah (Wilayah Syumaisi)
Hudaibiyah (sekarang dikenal sebagai wilayah As-Syumaisi) terletak sekitar 23 km dari Masjidil Haram di jalan lama menuju Jeddah. Tempat ini terkenal dengan peristiwa Bai'atur Ridhwan dan Perjanjian Hudaibiyah.
- Siapa yang Dimakamkan: Di sekitar wilayah bersejarah ini terdapat beberapa makam kuno para sahabat yang meninggal selama masa ket ketegangan negosiasi antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy, serta mereka yang terluka dan wafat di benteng pertahanan perbatasan Makkah.
Perbedaan Tata Cara Pemakaman di Makkah (Modern) vs Tradisi Nusantara
Bagi masyarakat Nusantara (Indonesia), melihat pemakaman di Makkah (baik Ma'la maupun Syara'i) sering kali mendatangkan rasa takjub sekaligus heran karena perbedaan budaya yang kontras:
- Sistem Gali Kembali (Siklus): Karena keterbatasan lahan di kota batu seperti Makkah, liang lahat umumnya akan digali kembali setelah rentang waktu tertentu (biasanya 1 hingga 3 tahun tergantung tingkat dekomposisi tanah). Tulang belulang yang tersisa akan dikumpulkan dengan hormat ke bagian dalam, lalu liang lahat tersebut siap digunakan untuk jenazah yang baru. Kecuali untuk makam-makam tokoh besar tertentu yang memiliki karakteristik tanah khusus atau kebijakan perlindungan.
- Ketiadaan Kijing dan Nama: Sesuai dengan fatwa resmi ulama Arab Saudi, tidak diperkenankan menaruh foto, tulisan nama, menabur bunga, atau membangun semen di atas kuburan guna menjaga kemurnian tauhid dan asas kesetaraan di hadapan Allah ㎡.
Makam yang Anda maksud kemungkinan besar adalah Makam Syuhada Datsar atau yang lebih dikenal di kalangan jamaah haji/umrah dengan nama Makam Syuhada Fakh (Fakhkh). Namun, jika dalam pelafalan lokal atau pendengaran jamaah Indonesia sering terdengar seperti "Makam Dina" atau "Makam Dihin", merujuk pada peristiwa masa lalu, tempat ini memiliki sejarah yang sangat memilukan dalam catatan sejarah kota Makkah.
Sejarah dan Asal-Usul (Tragedi Lembah Fakh)
Makam ini terletak di Lembah Fakh (Wadi Fakh), yang saat ini berada di kawasan Al-Shuhada (An-Nuzhah), sekitar 6 km di sebelah utara Masjidil Haram (arah menuju jalan lama Makkah - Madinah).
Tempat ini menjadi saksi peristiwa Pertempuran Fakh yang terjadi pada tanggal 8 Dzulhijjah 169 H (786 M).
- Latar Belakang: Terjadi pertempuran antara pasukan Kekhalifahan Abasiyah (di masa Khalifah Al-Hadi) melawan kelompok keturunan cucu Rasulullah ﷺ (kaum Alawiyyin/ahlul bait) yang dipimpin oleh Al-Husain bin Ali bin Al-Hasan (cicit dari Imam Hasan bin Ali RA).
- Tragedi Memilukan: Pertempuran ini berakhir dengan kekalahan tragis di pihak ahlul bait. Banyak dari keturunan Nabi ﷺ yang gugur secara syahid di lembah ini. Karena kesucian nasab mereka dan tragisnya peristiwa tersebut, Imam Muhammad al-Baqir bahkan pernah menyebutkan bahwa Lembah Fakh adalah salah satu tempat paling suci sekaligus pilu setelah Karbala.
Siapa Saja yang Dimakamkan di Sana?
Di dalam kompleks pemakaman Syuhada Fakh ini bersemayam jasad-jasad mulia dari keluarga Nabi ﷺ, di antaranya:
- Al-Husain bin Ali bin Al-Hasan (Pemimpin pergerakan Fakh).
- Puluhan anggota keluarga Ahlul Bait (keturunan Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain) yang gugur bersama beliau.
- Para pendukung setia dari kalangan tabi'ut tabi'in yang ikut membela hak-hak keluarga Nabi.
Kondisi Pemakaman Saat Ini
- Tata Letak Modern: Saat ini, area Fakh sudah menjadi kawasan perkotaan yang padat di Makkah (daerah Syuhada). Kompleks pemakaman ini dikelilingi oleh benteng atau pagar tembok yang cukup tinggi untuk melindunginya dari perluasan bangunan dan jalan raya.
- Karakteristik Ziarah: Sama seperti makam-makam lain di Arab Saudi, di dalam kompleks ini tidak ada bangunan kubah, kijing, atau tulisan nama pada nisan. Semuanya diratakan dan hanya ditandai dengan batu-batu alam. Peziarah biasanya datang untuk mendoakan keselamatan para syuhada dari luar pagar pembatas.
Catatan Alternatif:
Jika yang Anda maksud dengan "Dina" merujuk pada nama tokoh perempuan atau pelafalan lain yang spesifik (seperti makam buatan/situs lokal tertentu), dalam catatan resmi geografi Islam di Makkah, situs pemakaman utama di luar Ma'la yang paling mendekati nama tersebut dan bernilai sejarah tinggi adalah Makam Syuhada Fakh (Kawasan Al-Shuhada) ini.
Makam Mina (atau secara resmi dikenal sebagai Pemakaman Muashim / Maqbarah al-Mu'ashim) adalah kompleks pemakaman umum terbesar dan paling krusial yang terletak di kawasan Mina, kota suci Makkah.
Bagi jutaan jemaah haji dari seluruh dunia, nama Mina sangat lekat dengan ibadah mabit (bermalam) dan melontar jumrah. Namun, di balik tenda-tenda putih Mina, terdapat kompleks pemakaman khusus yang memiliki peran sangat penting dalam manajemen ibadah haji moderen.
1. Lokasi dan Karakteristik Luas
- Lokasi: Pemakaman ini terletak di wilayah Al-Muashim, yang berada di bagian timur lembah Mina (masih di dalam kawasan Mina/Arafah-Muzdalifah). Posisinya dekat dengan jalur pelontaran jumrah dan kompleks pemotongan hewan kurban (Majzalah).
- Luas dan Daya Tampung: Tempat ini merupakan pemakaman massal yang sangat luas, dirancang dengan sistem modern untuk mengantisipasi wafatnya jemaah dalam jumlah besar saat puncak pelaksanaan ibadah haji.
2. Fungsi Utama: Peristirahatan Para Tamu Allah (Dhuyufurrahman)
Makam Mina/Muashim ini memiliki fungsi yang sangat spesifik jika dibandingkan dengan Makam Ma'la:
- Khusus Musim Haji: Pemakaman ini utamanya diaktifkan secara masif selama hari-hari tasyrik dan puncak ibadah haji (9 hingga 13 Dzulhijjah).
- Jemaah yang Wafat saat Ihram: Jemaah haji yang wafat di tenda-tenda Mina, di jalur Jamarat, maupun di padang Arafah dan Muzdalifah, sebagian besar akan dievakuasi, dimandikan di rumah sakit terdekat (seperti RS Al-Wadi Mina atau RS Al-Muashim), lalu dimakamkan di sini.
- Keistimewaan Syariat: Banyak ulama menjelaskan bahwa jemaah yang wafat dalam keadaan mengenakan kain ihram di tempat ini akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak dalam keadaan mengumandangkan kalimat Talbikh (Labbaiykallahumma Labbaiyk). Oleh karena itu, bagi keluarga jemaah, dimakamkan di tanah Mina adalah sebuah kehormatan dan berkah yang luar biasa.
3. Saksi Bisu Sejarah Peristiwa Besar (Tragedi Mina)
Kompleks Pemakaman Muashim di Mina ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi ratusan hingga ribuan syuhada haji yang menjadi korban dalam beberapa tragedi besar di Mina:
- Tragedi Terowongan Mina (1990): Ribuan jemaah haji (termasuk ratusan jemaah asal Indonesia) yang wafat akibat saling berdesakan di dalam terowongan Al-Muashim dimakamkan secara massal dan terhormat di kompleks pemakaman ini.
- Insiden Desakan Mina (2015): Korban peristiwa berdesakan di Jalan 204 Mina juga dievakuasi dan sebagian besar dimakamkan di pemakaman Muashim ini setelah melalui proses identifikasi DNA yang ketat oleh otoritas Arab Saudi.
4. Tata Kelola Modern dan Sistem Makam
Pemerintah Arab Saudi menerapkan teknologi manajemen jenazah yang sangat ketat di Pemakaman Muashim Mina:
- Sistem Blok dan Penomoran: Mengingat banyaknya jenazah yang masuk dalam waktu yang hampir bersamaan saat musim haji, makam ini dibagi menjadi blok-blok khusus (misalnya Blok Jemaah Asia Tenggara, Blok Afrika, dll). Setiap liang lahat diberi nomor kode digital yang tercatat di sistem komputer kementerian kesehatan dan urusan haji Saudi agar pihak keluarga di negara asal bisa melacak lokasi persisnya.
- Tanpa Nisan Bernama: Seperti halnya Ma'la dan Baqi, tidak ada tulisan nama, kijing, atau bangunan di atas kuburan di Mina. Hanya ada batu penanda (fihir). Setelah beberapa tahun, tanah akan diratakan kembali demi mempersiapkan musim haji berikutnya.
- Pengamanan Ketat: Selama musim haji, area ini dijaga sangat ketat oleh askar (petugas keamanan) untuk menjaga ketertiban prosesi pemakaman dan mencegah terjadinya kerumunan peziarah yang bisa mengganggu jalur evakuasi ambulans.