
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam kitab Ihyā’ ‘Ulūmiddīn (khususnya pada bab Kitāb At-Tauhīd wa At-Tawakkul di bagian Rub‘ Al-Munjiyāt), Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal bukanlah pasrah tanpa arah, melainkan buah langsung dari tauhid yang mendalam.
Bagi Al-Ghazali, tauhid adalah dasar ilmiah/keyakinan (ilmu), sedangkan tawakal adalah kondisi hati (hāl) yang lahir dari pemahaman tauhid tersebut, yang pada akhirnya membuahkan tindakan (‘amal).
Konsep Tauhid
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa fondasi tawakal adalah Tauhid. Namun, beliau membagi Tauhid menjadi 4 tingkatan (diibaratkan seperti buah kelapa dari kulit luar hingga minyaknya):
- Pengakuan Lisan (Kulit Luar): Sekadar mengucapkan Laa ilaaha illallah tanpa penghayatan hati. Ini adalah tauhidnya orang munafik. Ameena Journal
- Pembenaran Hati (Kulit Dalam): Meyakini kebenaran makna kalimat tauhid di dalam hati tanpa keraguan. Ini adalah tauhidnya kaum muslimin pada umumnya (orang awam). FAI Umsida - Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
- Penyaksian Hati (Isi Kelapa): Hati melihat bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Penggerak segalanya (Lā Fā‘ila illallāh, tidak ada Pelaku sesungguhnya selain Allah). Pada tingkat ini, seseorang melihat semua sebab materi di dunia hanyalah perantara atau "alat" di tangan Allah. Ameena Journal
- Puncak Tauhid (Minyak Kelapa / Al-Fanā’ fi At-Tauhīd): Seseorang yang hanya melihat Yang Satu (Allah) dalam segala sesuatu, hingga ia lupa melihat dirinya sendiri karena larut dalam keagungan Allah.
Tauhid yang menjadi syarat sahnya tawakal adalah tingkat ketiga. Seseorang baru bisa bertawakal secara sungguh-sungguh jika hatinya telah mantap meyakini bahwa segala daya, kekuatan, dan hasil sepenuhnya berada di tangan Allah.
Konsep Tawakal
Tawakal secara bahasa berarti "menyerahkan" atau "mewakilkan". Menurut Imam Al-Ghazali, tawakal adalah ketenangan hati saat bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT sebagai pelindung/penjamin (Wakīl).
Tawakal memiliki 3 unsur utama yang saling berkaitan:
- Ilmu (Pengetahuan): Meyakini kekuatan, keikhlasan, kemurahan, dan kedermawaan Allah dalam menjamin rezeki dan takdir hamba-Nya. ejournal.ymal.or.id
- Hāl (Kondisi Hati): Perasaan tenang, damai, dan bebas dari keraguan karena percaya penuh kepada penjamin-Nya (Allah).
- ‘Amal (Tindakan): Menjalankan ikhtiar secara wajar tanpa membebani pikiran dengan kecemasan akan hasil akhir.
Hubungan Tawakal dan Ikhtiar (Sebab-Akibat)
Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap tawakal berarti meninggalkan usaha atau ikhtiar. Imam Al-Ghazali secara tegas meluruskan hal ini. Beliau membagi usaha/ikhtiar manusia menjadi 3 kategori:
- Usaha Pasti (Al-Asbāb Al-Yaqīniyyah): Sebab yang pasti mendatangkan akibat sesuai hukum alam (sunnatullah), seperti makan untuk menghilangkan lapar atau minum untuk menghilangkan haus. Menolak ikhtiar ini bukanlah tawakal, melainkan kebodohan dan kegilaan.
- Usaha Bernilai Kemungkinan Besar (Al-Asbāb Al-Mzhūnah): Sebab yang secara umum menghasilkan akibat, tetapi bisa saja gagal. Contohnya: membawa bekal perjalanan saat melewati gurun pasir atau berobat saat sakit. Mengambil tindakan ini tetap sejalan dengan tawakal.
- Usaha Ragu-ragu/Kemungkinan Kecil (Al-Asbāb Al-Muwahhamah): Sebab yang tidak pasti atau berspekulasi berlebihan, seperti jimat atau ramalan. Meninggalkan hal-hal seperti ini justru merupakan tanda sempurnanya tawakal.
Ringkasan Konseptual
- Tauhid memberikan kacamata pandang: Allah adalah satu-satunya sebab hakiki (Musabbib al-Asbab). ejournal.ymal.or.id
- Tawakal adalah sikap mental: Hati menyandar penuh kepada Allah, sementara fisik/panca indra tetap bergerak menjalankan sunnatullah (berikhtiar).
Seseorang yang bertawakal ala Ihya' Ulumiddin tidak akan gelisah oleh kegagalan maupun sombong oleh keberhasilan, sebab ia tahu bahwa tangannya hanya bertugas berikhtiar, sedangkan takdir sepenuhnya berada di genggaman-Nya.
Pendapat para guru tasawuf tentang tawakal
Dalam tradisi tasawuf, tawakal bukan sekadar konsep moral, melainkan salah satu maqam (stasiun spiritual) tertinggi yang harus dilalui seorang hamba. Para guru tasawuf melihat tawakal dari dimensi kedalaman hati, yaitu sejauh mana seorang hamba mampu melepaskan ketergantungannya pada makhluk dan menyandarkan segalanya hanya kepada Allah.
Pandangan dan aksentuasi dari beberapa tokoh utama tasawuf:
1. Sahl at-Tustari: Hubungan Usaha dan Tawakal
Sahl at-Tustari memberikan pernyataan yang sangat intuitif mengenai hubungan antara usaha fisik dan kondisi hati:
"Tawakal adalah keadaan (hal) Nabi Muhammad SAW, sedangkan usaha/bekerja (kasab) adalah sunnah beliau. Siapa yang berjalan di atas 'keadaan' Nabi, janganlah ia meninggalkan 'sunnah' Nabi."
Bagi beliau, orang yang bertawakal tetap berikhtiar secara lahiriah karena menjalankan sunnah, tetapi hatinya sama sekali tidak bergantung pada ikhtiar tersebut.
2. Al-Junaid al-Baghdadi: Ketentraman Tanpa Syak
Sebagai pemuka tasawuf moderat (Tasawuf Sunni), Al-Junaid menekankan tawakal sebagai kemantapan jiwa:
"Tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah SWT tanpa ada keraguan sedikit pun, serta yakin bahwa apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan luput darimu, dan apa yang bukan untukmu tidak akan pernah menimpamu."
3. Dzul Nun al-Misri: Pelepasan Pengaturan Diri (Tadbir)
Dzul Nun al-Misri melihat tawakal sebagai keberanian untuk berhenti mendikte Allah atas bagaimana hidup kita seharusnya berjalan:
- Hakikat Tawakal: Menanggalkan keterikatan pada perencanaan pribadi (khoruj 'an at-tadbir) dan memasrahkan diri pada pengaturan Ilahi.
- Ciri orang yang benar-benar bertawakal adalah ketika ia tidak lagi gelisah saat tidak memiliki apa-apa, dan tidak menjadi sombong atau merasa aman saat memiliki segalanya.
4. Ibn 'Atha'illah as-Sakandari: Istirahat dari Beban Pikiran
Dalam karyanya yang tersohor, Al-Hikam, Ibn 'Atha'illah membuka ajarannya dengan pembahasan seputar penyerahan diri dan usaha:
"Istirahatkan dirimu dari perencanaan (tadbir). Apa yang telah dijalankan oleh Selainmu (Allah) untuk kepentingan dirimu, tidak perlu engkau sibukkan dirimu dengannya."
Pandangan ini meluruskan bahwa keletihan mental manusia sering kali muncul bukan karena fisiknya bekerja, melainkan karena hatinya mengambil alih peran Allah dengan terus-menerus cemas memikirkan masa depan.
5. Syaykh Abdul Qadir al-Jilani: Tingkatan Tawakal
Syaykh Abdul Qadir al-Jilani membagi tawakal menjadi beberapa tingkatan spiritual:
- Tawakal Orang Awam: Bertawakal setelah melakukan ikhtiar, menyerahkan hasil akhir kepada Allah.
- Tawakal Khawas (Khusus): Menyaksikan bahwa sebab dan akibat semuanya adalah ciptaan Allah, sehingga hatinya hanya tertuju pada Sang Pencipta Sebab (Musabbib al-Asbab).
- Tawakal Khawasul Khawas: Lenyapnya kehendak pribadi (fana') di dalam kehendak Allah. Keadaannya bagaikan "jenazah di tangan orang yang memandikannya" ridha sepenuhnya pada jalan yang ditentukan Allah.
Benang Merah Para Guru Tasawuf
Meskipun diungkapkan dengan penekanan yang berbeda-beda, para sufi sepakat pada satu muara: Tawakal adalah pekerjaan hati, bukan pekerjaan anggota badan.
Anggota badan bertugas berikhtiar di alam sebab-akibat (dunia), sedangkan hati bertugas melampaui alam sebab-akibat untuk bersandar hanya pada Sang Pencipta (Allah).
Larangan Tadbir dalam Kitab Al-Hikam karya Ibn 'Atha'illah as-Sakandari.
Dalam kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari meletakkan konsep Tadbir sebagai salah satu fondasi utama untuk mencapai kedamaian spiritual dan ketauhidan yang murni.
Hikmah ke-4 Al-Hikam berbunyi secara eksplisit:
"Arih nafsaka minat-tadbiir, famaa qaama bihi ghairuka 'anka laa taqum bihi linafsik." (Istirahatkan dirimu dari Tadbir/perencanaan yang melelahkan. Sebab, apa yang telah dijamin dan diurus oleh Selainmu [Allah] untuk dirimu, tidak perlu engkau ikut menyibukkan dirimu dengannya.)
Secara bahasa, tadbir berarti mengatur, merencanakan, atau memikirkan akibat dari suatu perkara. Namun dalam istilah tasawuf Ibn 'Atha'illah, Tadbir yang dilarang (Tadbir al-madzmum) merujuk pada:
Kecemasan dan ego mental ketika hati mencoba "mengatur" masa depan, mengatur rezeki, atau mendikte bagaimana Allah seharusnya menjalankan roda kehidupan kita.
Langkah ini dilarang bukan berarti Islam melarang kita membuat jadwal, rencana kerja, atau berhitung secara ekonomis. Yang dilarang adalah proses mental yang dipenuhi kegelisahan, keputusasaan, dan rasa sok berkuasa seolah-olah nasib kita ditentukan sepenuhnya oleh hitungan kepala kita sendiri, bukan oleh rahmat Allah.
Mengapa Tadbir Harus Diistirahatkan?
Ibn 'Atha'illah memberikan dua alasan fundamental:
a. Penghambaan vs. Ketuhanan (‘Ubudiyyah vs. Rububiyyah)
Tugas seorang hamba (‘abd) adalah menjalankan perintah dan berikhtiar secara syariat, sedangkan tugas Sang Pencipta (Rabb) adalah mengatur takdir, rezeki, dan hasil akhir.
Ketika seseorang tenggelam dalam kecemasan tadbir, secara tidak sadar hatinya sedang mengambil alih peran Rububiyyah (Peran Ketuhanan). Ia merasa bertanggung jawab atas hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendalinya.
b. Beban Mental dan Kelelahan Jiwa (An-Nafs)
Keletihan terbesar manusia modern jarang disebabkan oleh otot yang bekerja keras, melainkan oleh pikiran yang tidak pernah berhenti merencanakan dan mengkhawatirkan skenario masa depan. Ibn 'Atha'illah menyerukan "Arih nafsaka" (Istirahatkan dirimu/jiwamu) karena tadbir egoistis hanya membuahkan kecemasan, kelelahan batin, dan hilangnya kebahagiaan saat ini.
Dua Jenis Tadbir: Mana yang Boleh dan Mana yang Dilarang?
Para syarah (penjelas) Kitab Al-Hikam membagi tadbir menjadi dua:
| Jenis Tadbir | Karakteristik | Hukum / Status |
|---|---|---|
| Tadbir al-Madzmum (Dicela/Dilarang) | Dipicu oleh kecemasan, keraguan pada janji Allah, kesombongan ego, dan disertai perasaan bahwa diri sendirilah penentu keberhasilan. | Dilarang (Sebab merusak tawakal). |
| Tadbir al-Mahmud (Praiseworthy/Diperbolehkan) | Perencanaan yang dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar syariat (menjalankan kewajiban) dengan hati yang tetap pasrah total pada takdir dan takdir Allah. | Dianjurkan / Wajib (Bagian dari adab ikhtiar). |
Hubungan Tadbir dengan Maqam Tajrid dan Asbab
Dalam hikmah-hikmah awal Al-Hikam, Ibn 'Atha'illah juga menjelaskan posisi manusia terkait ikhtiar:
- Maqam Asbab: Seseorang yang ditakdirkan Allah harus bekerja/berusaha secara lahiriah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tadbir-nya adalah melakukan pekerjaan itu dengan jujur dan bersungguh-sungguh, tanpa menggantungkan hati pada gaji atau usahanya.
- Maqam Tajrid: Seseorang yang dibebaskan Allah dari kesibukan mencari sebab materi (misalnya fokus penuh mengajar atau beribadah). Tadbir-nya adalah tidak menuntut atau memikirkan dari mana rezeki besok datang.
Apapun maqam-nya, kuncinya satu: Lakukan tugasmu, dan biarkan Allah melakukan tugas-Nya.
Buah dari Menanggalkan Tadbir
Ketika seseorang berhasil melatih hatinya untuk melepaskan tadbir yang berlebihan, ia akan memperoleh:
- Ketenangan Jiwa (Sakinah): Bebas dari kecemasan mendalam akan masa depan.
- Keikhlasan Hakiki: Berikhtiar murni karena perintah Allah (keharusan syariat), bukan karena ketakutan atau keserakahan.
- Ketajaman Mata Hati (Basirah): Mampu melihat keindahan hikmah Allah di balik setiap peristiwa, baik yang sesuai keinginan maupun yang tidak.
Maqam Tajrid dan Maqam Asbab dalam Kitab Al-Hikam
Dalam Kitab Al-Hikam, Ibn 'Atha'illah as-Sakandari membahas Maqam Tajrid dan Maqam Asbab pada hikmah ke-2. Pembahasan ini merupakan penjelas konkret dari konsep Tadbir (perencanaan mental): bagaimana seorang hamba mendudukkan ikhtiar lahiriahnya sesuai dengan ketentuan spiritual yang sedang ditakdirkan Allah baginya.
Hikmah ke-2 Al-Hikam berbunyi:
"Keinginanmu untuk masuk ke dalam maqam Tajrid padahal Allah masih mendudukkanmu dalam maqam Asbab adalah bentuk syahwat yang tersembunyi (Syahwat Khafiyyah). Sebaliknya, keinginanmu untuk masuk ke dalam maqam Asbab padahal Allah telah mendudukkanmu dalam maqam Tajrid adalah suatu kemerosotan dari cita-cita yang luhur (Inkhifadh 'anil Himmah al-'Aliyyah)."
Definisi dan Karakteristik Kedua Maqam
Untuk memahami perbedaannya secara mendalam, berikut adalah perbandingan karakter dasar dari kedua maqam (kedudukan spiritual) tersebut:
| Dimensi | Maqam Asbab | Maqam Tajrid |
|---|---|---|
| Definisi | Kedudukan hamba yang oleh Allah ditempatkan dalam sunnatullah ikhtiar lahiriah (bekerja, berbisnis, bertani, dsb.) untuk memenuhi kebutuhan hidup. | Kedudukan hamba yang oleh Allah dibebaskan dari keterikatan mencari sebab-sebab materi; fokus utamanya disalurkan untuk ibadah, ilmu, atau khidmah. |
| Kewajiban Utama | Berikhtiar secara syariat dengan jujur dan tekun, tanpa menggantungkan hati pada pekerjaan/hasil ikhtiar tersebut. | Fokus menjaga kesucian hati dan konsistensi ibadah/tugas spiritual, tanpa gelisah memikirkan dari mana rezeki akan datang. |
| Bentuk Tawakal | Tawakal dalam gerak: Fisik bekerja keras di alam sebab, tetapi hati bersandar penuh pada Sang Pencipta Sebab (Musabbib al-Asbab). | Tawakal dalam diam: Pasrah total menerima penjaminan Allah tanpa perlu melakukan pergerakan ekonomi secara rutin. |
Bagaimana Mengetahui Maqam Kita Saat Ini?
Ibn 'Atha'illah dan para pensyarah Al-Hikam (seperti Syaykh Ahmad Zarruq dan Ibn 'Ajibah) memberikan tanda-tanda objektif (‘Alāmat) untuk mengenali di mana Allah mendudukkan seseorang:
Tanda Anda Berada di Maqam Asbab:
- Pekerjaan Halal Terbuka: Usaha atau pekerjaan yang Anda jalani berjalan lancar dan menghasilkan rezeki yang cukup/halal.
- Ibadah Tetap Terjaga: Kesibukan bekerja tidak membuat kewajiban agama, syariat, dan ketenangan batin Anda terganggu.
- Kewajiban Tanggungan: Anda memiliki tanggung jawab finansial atas keluarga, anak, atau orang-orang yang wajib Anda nafkahi.
Tanda Anda Berada di Maqam Tajrid:
- Sebab Lahiriah Terputus: Ketika Anda mencoba bekerja/berbisnis, ikhtiar tersebut sering kali gagal atau justru menghalangi tugas spiritual yang lebih besar.
- Rezeki Datang Tanpa Duga: Kebutuhan pokok selalu terpenuhi dari jalan-jalan yang tidak terduga (min haitsu laa yahtasib).
- Ketenangan Jiwa: Hati tetap tenang, tidak panik, dan tidak mengeluh saat tidak memegang uang atau materi.
Bahaya Memaksakan Diri Pindah Maqam
Salah satu poin paling mendalam dari ajaran Ibn 'Atha'illah adalah larangan memaksakan diri berpindah maqam sebelum waktunya (sebelum dipindahkan oleh Allah).
A. Memaksa Pindah dari Asbab ke Tajrid
Jika seseorang yang sebenarnya berada di maqam Asbab (misalnya punya tanggung jawab menafkahi keluarga) nekat berhenti bekerja dengan alasan "ingin tawakal total di masjid", Ibn 'Atha'illah menyebut tindakan ini sebagai Syahwat Tersembunyi (Syahwat Khafiyyah).
- Mengapa disebut syahwat? Karena pendorongnya sering kali adalah rasa malas bekerja, ingin dipandang sebagai orang saleh/zuhud, atau lari dari tanggung jawab syariat.
- Dampaknya: Ketika tidak punya uang, ia akan gelisah, merepotkan orang lain, atau bahkan menyalahkan takdir Allah.
B. Memaksa Pindah dari Tajrid ke Asbab
Jika seseorang yang sudah ditata oleh Allah di maqam Tajrid (misalnya seorang ulama, penuntut ilmu, atau pemikir fokus) bersikeras ingin terjun mencari harta di maqam Asbab, ini dianggap sebagai Kemerosotan Cita-cita (Inkhifadh 'anil Himmah).
- Mengapa disebut penurunan? Karena ia meninggalkan tugas luhur (fokus pada batin/umat) hanya untuk disibukkan oleh urusan materi yang sebenarnya sudah dijamin Allah untuknya.
Intisari Ketauhidan dalam Kedua Maqam
Ibn 'Atha'illah hendak menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari apakah ia berada di maqam Asbab atau Tajrid. Kedua maqam tersebut sama-sama mulia jika dijalani sesuai dengan kehendak Allah.
- Orang di maqam Asbab yang tidak terikat hatinya pada harta adalah hamba yang tauhidnya kuat.
- Orang di maqam Tajrid yang tidak menjadi beban orang lain dan istiqamah dalam ibadah juga hamba yang tauhidnya kuat.
Kunci utamanya adalah Rida terhadap kedudukan yang ditunjuk Allah untuk kita saat ini, sambil terus membersihkan hati dari Tadbir (kecemasan mental) di dalam maqam tersebut.
Melatih Hati Agar Bebas dari Kecemasan Tadbir
Untuk mentransformasi konsep pemikiran (ilmu) menjadi kesadaran batin (hāl), para ulama tasawuf menyusun serangkaian langkah praktis (riyahdhah batiniyyah) agar hati terbebas dari jebakan kecemasan Tadbir.
Langkah-langkah praktis ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui 5 tahapan utama:
1. Pemisahan Peran Lahir dan Batin (Tafrik al-Jawaril 'an al-Qalb)
Para sufi menetapkan kaidah dasar: "Tangan bertindak di alam sebab, hati beristirahat di alam takdir."
- Praktik Sehari-hari: Ketika Anda menyusun jadwal kerja, anggaran keuangan, atau strategi bisnis, lakukanlah itu sebagai bentuk menjalankan tugas syariat (ikhtiar lahiriah).
- Latihan Hati: Begitu perencanaan selesai, ucapkan dalam hati: "Tugasku merencanakan secara lahiriah telah selesai, adapun wujud hasil akhir sepenuhnya berada di tangan Allah." Batasi analisis berlebihan (overthinking) di luar batas kemampuan eksekusi Anda hari ini.
2. Praktik Muraqabah Rezeki (Menyadari Jaminan Ilahi)
Kecemasan Tadbir paling sering dipicu oleh ketakutan akan rezeki dan masa depan. Syaykh Ibn 'Atha'illah mengingatkan bahwa rezeki adalah jaminan Allah, sedangkan ibadah adalah tuntutan-Nya.
- Praktik Sehari-hari: Setiap kali pikiran mulai cemas memikirkan kebutuhan masa depan, hadirkan ingatan (muraqabah) pada rezeki yang telah berlalu.
- Latihan Batin: Katakan pada diri sendiri: "Sebagaimana Allah telah mencukupi rezekiku dari hari pertama aku lahir hingga hari ini tanpa pernah terlambat, Dia juga yang memegang hari esokku." Mengalihkan fokus dari pencarian rezeki ke penyempurnaan kualitas ikhtiar dan ibadah.
3. Melatih Sikap Rida bi al-Qadha' pada Hal-hal Kecil
Hati tidak bisa langsung pasrah pada peristiwa besar jika tidak terlatih pada peristiwa kecil sehari-hari.
- Praktik Sehari-hari: Saat menghadapi kemacetan lalu lintas, perubahan jadwal mendadak, atau rencana harian yang berantakan, hindari reaksi spontan berupa kekesalan berlebih.
- Latihan Batin: Jadikan momen tersebut sebagai media latihan menanggalkan Tadbir. Katakan: "Rencanaku terhenti, tetapi rencana Allah sedang berjalan. Allah pasti punya skenario yang lebih baik." Ini melatih fleksibilitas batin dalam menerima takdir real-time.
4. Melakukan Muhasabah di Akhir Hari
Ulama tasawuf menganjurkan evaluasi malam hari (muhasabah) untuk membersihkan residu kecemasan yang menumpuk sepanjang hari.
- Praktik Sehari-hari: Sebelum tidur, alokasikan waktu 5–10 menit untuk meninjau kecemasan yang muncul seharian.
- Pertanyaan Evaluasi Diri:
- Apakah hal yang aku cemaskan tadi siang benar-benar terjadi? (Sering kali tidak terjadi).
- Apakah kecemasanku menambah solusi, atau justru mengurangi energi dan kekhusyukanku?
- Penutup: Pasrahkan seluruh urusan hari esok kepada Allah sebelum memejamkan mata, melepaskan seluruh beban perencanaan yang menggantung di kepala.
5. Dzikir Penawar Kecemasan Tadbir
Dzikir dalam tradisi tasawuf berfungsi sebagai pengait batin agar tidak terseret oleh gelombang pikiran egoistic.
- Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh: Dibaca dengan penghayatan mendalam bahwa tidak ada daya untuk berikhtiar dan tidak ada kekuatan untuk meraih hasil melainkan dari Allah. Dzikir ini memotong rasa sok berkuasa dari ego (Nafs).
- Ḥasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl: Dibaca saat merasa kewalahan (overwhelmed) oleh beban tanggung jawab atau ketidakpastian masa depan, mengembalikan posisi Allah sebagai Pelindung dan Pengatur utama (Wakīl).
Ikhtiar Maksimal (Kerja Organ Tubuh) + Pasrah Total (Ketenangan Hati) = Bebas dari Kecemasan Tadbir
Dengan melatih kelima langkah ini secara konsisten, seseorang tetap bisa menjadi profesional yang produktif dan perencana yang matang di dunia luar, sementara hatinya tetap menikmati kedamaian dan ketenangan istirahat di dalam garis takdir Allah.