info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Pemikiran Ghazali: Kematian dan Kehidupan Akhirat
Pemikiran Ghazali: Kematian dan Kehidupan Akhirat
Pemikiran Ghazali: Kematian dan Kehidupan Akhirat

Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Pemikiran Imam Al-Ghazali tentang mengingat kematian (dzikrul ma'ut) dan kehidupan sesudah kematian (al-akhirah) merupakan salah satu puncak karya fenomenalnya, terutama yang tertuang dalam Ihya' 'Ulumuddin (khususnya Kitab ke-40: Kitab Dzikr al-Mawt wa Ma Ba'dah).

Bagi Al-Ghazali, kematian bukanlah sekadar akhir dari fungsi biologis tubuh, melainkan proses transisi kesadaran dan gerbang menuju realitas yang sejati.

1. Hakikat Kematian Menurut Al-Ghazali

Al-Ghazali menegaskan bahwa banyak orang salah memahami kematian. Kematian bukanlah ketiadaan (al-'adam), melainkan berpisahnya ruh dari jasad untuk berpindah dari satu alam ke alam lain.

  • Pengelupasan Pembungkus: Jasad hanyalah alat atau "kendaraan" bagi ruh selama hidup di dunia. Kematian ibarat melepaskan pakaian tua agar ruh kembali ke hakikat asalnya.
  • Terbukanya Tabir Kesadaran: Saat mati, panca indera fisik mati, namun kesadaran ruh justru menguat. Manusia akan melihat realitas spiritual yang selama di dunia tertutup oleh kesibukan fisik.

“Manusia itu tertidur, dan ketika mereka mati, barulah mereka terbangun.” (Hadis/Atsar yang sering dikutip Al-Ghazali).

2. Tingkatan Manusia dalam Mengingat Kematian

Al-Ghazali membagi manusia menjadi tiga tingkatan berdasarkan kesadarannya terhadap kematian:

  1. Orang yang Tenggelam dalam Dunia (Al-Munhamik): Mengingat kematian hanya dengan rasa benci dan takut karena takut kehilangan kesenangan dunia. Mengingat kematian pada tingkat ini justru membuatnya makin rakus mengejar dunia sebelum waktunya habis.
  2. Orang yang Bertobat (Al-Muta'ib): Mengingat kematian dengan rasa takut (khauf) agar teringat dosa-dosanya dan terdorong untuk bertobat serta memperbaiki amal sebelum terlambat.
  3. Orang yang Mengenal Allah / Makrifat (Al-'Arif): Mengingat kematian dengan rasa rindu (syawq), karena kematian adalah pintu perjumpaan (liqa') antara seorang pencinta dengan Yang Dicintainya (Allah SWT).

3. Metode Menghadirkan Dzikrul Ma'ut dalam Hati

Mengingat kematian secara efektif tidak cukup hanya dengan lisan atau ingatan sekilas. Al-Ghazali memberikan panduan agar ingatan tentang kematian mampu mengubah perilaku:

  • Pemusatan Pikiran (Tafakkur): Mengosongkan hati sejenak dari urusan duniawi dan membayangkan bahwa kematian bisa datang detik ini juga.
  • Mengingat Teman dan Kerabat yang Telah Wafat: Membayangkan wajah orang-orang yang dulu hidup bersama kita, bagaimana jasad mereka kini hancur di dalam tanah, dan bagaimana posisi serta kedudukan mereka di dunia kini tidak ada artinya lagi.
  • Ziarah Kubur: Bukan sekadar tradisi, melainkan sarana visual untuk menyadarkan diri bahwa tempat kembalinya semua manusia adalah sama.

4. Kehidupan Sesudah Kematian (Al-Ma'ad)

Al-Ghazali menjelaskan tahap-tahap spiritual yang dilalui ruh setelah terpisah dari jasad:

A. Alam Barzakh & Siksaan/Kenikmatan Kubur

Di alam kubur, ruh mengalami kenikmatan atau penderitaan. Al-Ghazali menjelaskan bahwa siksaan kubur berkaitan erat dengan karakter dan kualitas akhlak yang dipupuk manusia selama di dunia. Sifat dengki, kesombongan, dan kerakusan yang dipelihara di dunia akan menjelma menjadi penyesalan dan siksaan spiritual yang teramat nyata bagi ruh.

B. Hari Kebangkitan & Mahsyar

Seluruh manusia dihimpun kembali. Pada saat ini, amal perbuatan tidak lagi tampak sebagai catatan tulisan semata, melainkan hadir dalam bentuk rupa dan kondisi spiritual pengoperasian jiwa seseorang semasa hidup.

C. Surga dan Neraka

Al-Ghazali membagi kenikmatan dan kesengsaraan akhirat menjadi dua dimensi:

  • Dimensi Lahiriah/Jasmaniah: Kenikmatan dan penderitaan fisik sebagaimana digambarkan secara gamblang dalam Al-Qur'an (taman, sungai, api, makanan).
  • Dimensi Rohani/Rabbaniyah (Tingkat Tertinggi): Kenikmatan puncak surga adalah Rukyatullah (melihat wajah Allah SWT) dan kebahagiaan karena dekat dengan-Nya. Sebaliknya, penderitaan neraka terberat adalah Al-Hijab (terhalang dan terputus dari rahmat serta kehadiran Allah).

Inti Pesan Utama

Pemikiran Imam Al-Ghazali tentang kematian bukanlah untuk mengajak manusia menjadi pesimis atau meninggalkan aktivitas dunia secara total, melainkan untuk memposisikan dunia secara proporsional: dunia sebagai ladang (al-mazra'ah) dan tempat berbekal, sedangkan akhirat adalah tempat memetik hasil yang sebenarnya.

Dalam ajaran Islam, khususnya yang dibahas luas oleh para ulama seperti Imam Al-Ghazali, mengingat kematian (dzikrul maut) bukanlah sikap pesimis atau berputus asa dari kehidupan, melainkan sebuah ilmu dan kesadaran spiritual yang menjadi kunci kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

Rasulullah SAW sendiri menegaskan keutamaan ini dalam hadisnya:

"Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian)." (HR. Tirmidzi)

Berikut adalah beberapa keutamaan utama dari mengingat kematian:

1. Menjadi Ciri Orang yang Paling Cerdas (Al-Akyas)

Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat Anshar tentang siapa mukmin yang paling cerdas, beliau menjawab:

"Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk menghadapi apa yang setelahnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas." (HR. Ibnu Majah)

Mengingat kematian dianggap puncak kecerdasan karena orang tersebut mampu melihat jauh ke depan—tidak hanya berfokus pada kehidupan sementara di dunia, tetapi berinvestasi untuk kehidupan abadi setelahnya.

2. Melembutkan Hati dan Penawar Kerakusan Dunia

Hati manusia sering kali menjadi keras akibat terbuai oleh kenikmatan, harta, atau kedudukan. Mengingat kematian berfungsi sebagai penawar herbal bagi jiwa:

  • Meredam Sifat Tamak: Menyadarkan bahwa sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan, kain kafan adalah satu-satunya pakaian yang dibawa ke liang kubur.
  • Menghidupkan Hati: Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa menghadirkan kematian dalam pikiran secara rutin dapat memecahkan benteng hawa nafsu dan membersihkan noda-noda kesombongan dalam diri.

3. Mendorong Penyesalan (Taubat) dan Amal Saleh

Ketika seseorang menyadari bahwa ajalnya bisa datang kapan saja tanpa syarat—tanpa menunggu tua atau sakit—ia akan memiliki dorongan kuat untuk:

  • Segera Bertobat: Tidak menunda-nunda memohon ampun atas dosa dan kesalahan.
  • Meningkatkan Kualitas Amal: Mendorong seseorang untuk melaksanakan setiap ibadah dan kebaikan seolah-olah itu adalah amal terakhirnya (shalat al-muwaddi').

4. Melatih Kesabaran dan Memberi Ketenangan

Mengingat kematian memberikan perspektif yang sehat terhadap ujian hidup:

  • Saat Tertimpa Musibah: Menyengajakan ingatan pada kematian membuat ujian atau penderitaan dunia terasa kecil dan sementara.
  • Saat Memperoleh Kenikmatan: Mencegah seseorang dari rasa ujub (bangga diri) dan lupa diri, karena ia sadar semua nikmat akan dimintai pertanggungjawaban.

5. Meringankan Sakaratul Maut dan Memperbagus Khusnul Khatimah

Barangsiapa yang terbiasa mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuknya, Allah akan memudahkan baginya saat menghadapinya. Jiwa yang senantiasa ingat akan Tuhannya dan kesudahan hidupnya lebih siap dan tenang (al-nafs al-muthma'innah) ketika panggilan ajal tiba.

Ringkasan Hikmah

Sebagaimana diringkas oleh para ulama:

"Barangsiapa yang memperbanyak mengingat kematian, maka ia akan dimuliakan dengan tiga hal: segera bertobat, hati yang qana'ah (merasa cukup), dan rajin beribadah. Dan barangsiapa yang melupakan kematian, maka ia akan dihukum dengan tiga hal: menunda tobat, tidak ridha dengan pemberian, dan malas beribadah."

Dalam tradisi pemikiran Islam khususnya yang diuraikan secara mendalam oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumuddin pembahasan tentang memendekkan angan-angan (qashrul amal) dan mencela panjang angan-angan (thulul amal) merupakan kelanjutan logis dari kesadaran akan kematian (dzikrul maut).

Panjang angan-angan adalah penghalang utama yang membuat seseorang lupa akan kematian, sedangkan memendekkan angan-angan adalah buah nyata dari ingatan akan kematian.

1. Hakikat Panjang Angan-Angan (Thulul Amal)

Panjang angan-angan bukanlah sekadar memiliki cita-cita atau rencana masa depan, melainkan perasaan batin bahwa ajal masih jauh sehingga mendorong seseorang untuk terus menunda-nunda amal kebajikan dan sibuk mengumpulkan dunia secara berlebihan.

Penyebab Utama Thulul Amal

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sikap ini bersumber dari dua hal:

  1. Cinta Dunia (Hubbud Dunya): Ketika hati terlalu terikat pada kelezatan dunia, jiwa akan merasa berat membayangkan perpisahan darinya. Akhirnya, pikiran secara alami menolak bayangan kematian dan membayangkan umur yang masih panjang.
  2. Kebodohan (Al-Jahl): Merasa yakin akan hidup sampai tua hanya karena masih muda atau sehat, padahal kematian tidak mengenal syarat usia maupun kondisi fisik.

2. Celaan bagi Orang yang Panjang Angan-Angan

Para ulama dan rasul sangat mewaspadai bahaya thulul amal karena dampaknya yang merusak tatanan jiwa dan agama.

Rasulullah SAW bersabda:

"Yang paling aku takuti menimpa kalian ada dua hal: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu akan memalingkan dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan akan membuat lupa akan akhirat." (HR. Ibn Abi Dunya)

Dampak Buruk dan Bencana Thulul Amal:

  • Menunda-nunda Tobat (Taswif): Senantiasa berprinsip "nanti saja kalau sudah tua" atau "nanti kalau sudah sukses", hingga akhirnya ajal datang menjemput secara tiba-tiba dalam keadaan berbuat dosa.
  • Malas Beramal: Merasa waktu masih membentang luas sehingga meremehkan ibadah dan kesempatan berbuat baik.
  • Tamak dan Serakah: Terus menerus mengumpulkan harta dan kemewahan melebihi apa yang dibutuhkannya, karena membayangkan kebutuhan hidupnya untuk puluhan tahun ke depan.
  • Hati Menjadi Keras: Kehilangan kepekaan spiritual karena seluruh ruang pikirannya tersita oleh urusan materi dan rencana duniawi.

3. Keutamaan Memendekkan Angan-Angan (Qashrul Amal)

Memendekkan angan-angan adalah kondisi jiwa yang senantiasa sadar bahwa nafas yang sedang dihirup bisa jadi adalah nafas terakhir.

Sahabat Abdullah bin Umar RA meriwayatkan nasihat Rasulullah SAW:

"Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu datangnya pagi. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu datangnya sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum sakitmu, dan masa hidupmu sebelum matimu." (HR. Bukhari)

Keutamaan dan Buah Manis Qashrul Amal:

  • Segera Beramal dan Bertobat: Tidak ada kata "nanti". Setiap kesempatan untuk berbuat baik atau memohon ampunan langsung dieksekusi saat itu juga.
  • Hati yang Qana'ah (Merasa Cukup): Mampu melepaskan keterikatan berlebihan dari kemewahan dunia, karena sadar barang-barang tersebut tidak akan sempat dinikmati selamanya.
  • Khusyuk dalam Ibadah: Melaksanakan salat atau ibadah lainnya seolah-olah itu adalah ibadah perpisahan (shalat al-muwaddi').
  • Keringanan Jiwa dari Beban Dunia: Bebas dari rasa cemas berlebihan terhadap masa depan duniawi yang belum pasti, sehingga hidup terasa lebih tenang dan fokus pada hal yang bermakna.

Tingkatan Manusia dalam Qashrul Amal

Imam Al-Ghazali membagi kesadaran memendekkan angan-angan menjadi beberapa tingkatan:

  1. Tingkat Awam: Membayangkan bahwa dirinya mungkin tidak akan sampai pada musim, bulan, atau hari esok.
  2. Tingkat Khusus (Khawash): Membayangkan bahwa hari ini adalah hari terakhirnya, sehingga ia mengisi setiap jamnya dengan persiapan menghadap Allah.
  3. Tingkat Tertinggi (Khawashul Khawash): Tidak melihat masa depan melebihi satu helaan nafas. Ia tidak yakin apakah nafas yang dihirupnya saat ini akan sempat dihembuskan kembali.

Ringkasan Perbandingan

DimensiPanjang Angan-Angan (Thulul Amal)Memendekkan Angan-Angan (Qashrul Amal)
Pandangan Hidup"Nanti masih ada waktu""Bisa jadi ini kesempatan terakhir"
Sikap pada TobatMenunda-nunda (Taswif)Segera bertobat (Al-Mubadarah)
Sikap pada DuniaTamak dan sibuk menimbunCukup (Qana'ah) dan dermawan
Kondisi HatiKeras dan lalaiLembut, tenang, dan waspada

Sakaratul maut dan hal-hal yang disunnahkan

Dalam pandangan Islam, sakaratul maut adalah fase paling krusial di akhir kehidupan manusia di dunia saat-saat di mana ruh mulai dilepaskan dari jasad secara bertahap. Imam Al-Ghazali menggambarkan sakaratul maut sebagai rasa sakit yang sangat dahsyat, karena penderitaannya menghantam langsung pada inti jiwa (ruh) itu sendiri, bukan sekadar organ fisik.

Untuk membantu seseorang yang sedang berada dalam kondisi sakaratul maut (disebut muhtadhar), Rasulullah SAW memberikan bimbingan mengenai hal-hal yang disunnahkan untuk dilakukan oleh keluarga atau pendamping di sekitarnya.

1. Hakikat Sakaratul Maut

Secara bahasa, sakarat berasal dari kata yang berarti "mabuk" atau "kehilangan kesadaran", menggambarkan betapa beratnya rasa sakit hingga mengguncang kesadaran seseorang. Rasulullah SAW sendiri saat menjelang wafatnya mengusap wajah beliau dengan air dan bersabda:

"Lā ilāha illallāh, sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat (rasa sakit yang dahsyat)." (HR. Bukhari)

Para ulama menjelaskan bahwa dahsyatnya sakaratul maut memiliki hikmah:

  • Bagi Orang Beriman: Menjadi penggugur dosa-dosa terakhir dan peninggi derajat di sisi Allah.
  • Bagi Orang Zalim/Kafir: Merupakan awal dari kepedihan dan penyesalan yang membentang di alam berikutnya.

2. Hal-Hal yang Disunnahkan Saat Menghadapi Orang Sakaratul Maut

Ketika tanda-tanda kematian sudah tampak jelas pada seseorang (seperti nafas yang mulai tersendat, kaki terasa dingin, dan pandangan mata melembut), orang-orang di sekitarnya disunnahkan melakukan hal-hal berikut:

A. Menghadapkan Orang Tersebut ke Arah Kiblat

Disunnahkan memposisikan muhtadhar menghadap kiblat dengan salah satu dari dua cara:

  1. Berbaring Miring ke Kanan: Memposisikan tubuhnya miring ke kanan dengan wajah dan dadanya menghadap kiblat (seperti posisi dalam liang lahad). Ini adalah cara yang paling utama (afdhal).
  2. Berbaring Telentang: Jika tidak memungkinkan miring, baringkan telentang dengan kedua telapak kaki diarahkan ke kiblat dan kepalanya agak dinaikkan sedikit agar wajahnya menghadap ke arah kiblat.

B. Mementalkin Kesaksian Tauhid (Talqin)

Menuntun orang yang sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Tuntunlah (talqinkanlah) orang yang hendak mati di antara kalian dengan kalimat: Lā ilāha illallāh." (HR. Muslim)

Etika dalam Melakukan Talqin:

  • Dituntun dengan lembut, perlahan, dan tidak berulang-ulang secara berlebihan agar tidak membingungkan atau memberatkan orang yang sedang payah.
  • Jika orang tersebut sudah berhasil mengucapkannya satu kali, hentikan talqin dan jangan mengajak bicara hal-hal lain, kecuali jika ia mengucapkan kata-kata lain sesudahnya.

Tujuan: Agar ucapan terakhir yang keluar dari lisannya adalah kalimat tauhid. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang akhir ucapannya Lā ilāha illallāh, maka ia akan masuk surga." (HR. Abu Dawud).

C. Membacakan Surat Yasin atau Surat Ar-Ra'd

Disunnahkan membacakan Al-Qur'an di samping orang yang sedang sakaratul maut untuk menghadirkan ketenangan, meredakan ketakutan ruh, dan memohon keringanan dari Allah.

  • Pembacaan Surat Yasin bertujuan memohon kemudahan (taaysir) dalam proses keluarnya ruh.
  • Pembacaan Surat Ar-Ra'd juga dianjurkan oleh sebagian ulama (seperti Imam Syafi'i) karena kandungan ayatnya mengingatkan akan kekuasaan Allah dan kembalinya manusia kepada-Nya.

D. Mengkondisikan Suasana yang Baik dan Mendoakan

  • Membasahi Bibir dan Tenggorokan: Orang yang sakaratul maut sering kali mengalami rasa haus yang sangat berat. Disunnahkan membasahi bibirnya dengan air segar menggunakan kapas atau meneteskannya perlahan.
  • Menyebutkan Kebajikan dan Berprasangka Baik (Husnuzhan): Mengingatkan orang tersebut akan rahmat dan ampunan Allah yang sangat luas agar ia wafat dalam keadaan merindukan perjumpaan dengan Allah.
  • Hanya Mengucapkan Kata-Kata Baik: Para malaikat mengaminkan apa yang diucapkan oleh orang-orang di sekitar orang yang meninggal/sakaratul maut.

3. Amalan Sunnah Segera Setelah Ruh Terpisah dari Jasad

Apabila proses sakaratul maut telah selesai dan dipastikan bahwa ruh telah keluar (wafat), hal-hal yang disunnahkan segera dilakukan adalah:

  1. Memejamkan Kedua Matanya: Biasanya pandangan mata jenazah mengikuti arah keluarnya ruh ke atas. Disunnahkan memejamkannya sambil berdoa: "Bismillah wa 'ala millati Rasulillah..."
  2. Mendoakan Kebaikan dan Ampunan bagi Jenazah.
  3. Mengiikat Dagu ke Kepala: Menggunakan kain elastis agar mulut jenazah tidak menganga.
  4. Meluruskan Persendian: Meluruskan jemari, siku, dan kaki perlahan sebelum tubuh menjadi kaku.
  5. Menutup Seluruh Tubuh Jenazah: Menggunakan kain yang bersih untuk menjaga kehormatannya.
  6. Segera Membayar Utang Jenazah: Menyelesaikan utang piutang dari hartanya atau tanggungan walinya.
  7. Menyegerakan Pengurusan Jenazah: Mulai dari memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga memakamkan.

Ringkasan Peran Pendamping

Urutan TindakanAmalan SunnahTujuan & Hikmah
1. PosisiMeringkan ke kanan / mengarahkan kaki ke KiblatMenghadap arah terbaik dalam ibadah
2. Bisikan BatinMenuntun kalimat Lā ilāha illallāh secara lembutMengakhiri hidup dengan tauhid
3. BacaanMembaca Surat Yasin / Ar-Ra'dMemberikan ketenangan spiritual dan kemudahan
4. SuasanaMembasahi bibir & membicarakan rahmat AllahMenjaga kesegaran dan menanamkan husnuzhan

Untuk mendalami tata cara pengurusan jenazah selanjutnya:

Tata cara memandikan dan mengkafani jenazah

Doa-doa khusus saat ziarah kubur dan takziah

Kesedihan ketika berjumpa dengan malaikat maut

Dalam pandangan Islam khususnya yang digambarkan secara mendalam oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumuddin dan kitab-kitab Tazkiyatun Nufs perjumpaan dengan Malaikat Maut (Izrail) adalah momen pembuka alam baru yang diwarnai oleh gejolak emosi dan kesadaran spiritual yang sangat kuat.

Salah satu perasaan yang paling dominan pada detik-detik tersebut adalah kesedihan (al-huzn) dan penyesalan (al-hasrah). Kesedihan ini hadir dalam bentuk yang berbeda, tergantung pada kualitas iman dan kondisi batin manusia saat sakaratul maut tiba.

1. Kesedihan dan Penyesalan Orang yang Lalai (Al-Ghafil)

Bagi mereka yang menghabiskan hidupnya dalam kelalaian, tenggelam dalam thulul amal (panjang angan-angan), dan menunda-nunda tobat, berjumpa dengan Malaikat Maut membawa kesedihan yang amat mendalam dan tak tertahankan.

Bentuk Kesedihan Orang Lalai:

  • Kesedihan atas Harta dan Dunia yang Ditinggalkan: Mereka menyadari secara mendadak bahwa semua harta, rumah, jabatan, dan keluarga yang mereka kumpulkan dengan bersusah payah tidak ada satu pun yang bisa dibawa atau menolong mereka.
  • Kesedihan atas Kesempatan Beramal yang Hilang: Ketika terbayang di depan mata bahwa pintu amal telah tertutup rapat, timbul rasa ingin kembali walau hanya sebentar. Kesedihan ini diabadikan dalam Al-Qur'an:"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (dengan menyesal), 'Ya Rabbku, sekiranya Engkau menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.'" (QS. Al-Munafiqun: 10)
  • Kesedihan karena Terbukanya Tabir Kepastian (Kasyf al-Ghitha'): Saat Malaikat Maut datang, tabir ghaib terbuka. Mereka melihat secara langsung realitas akhirat yang dulu sering mereka ingkari atau remehkan. Kesadaran bahwa siksa dan pertanggungjawaban di depan mata memicu kesedihan batin yang melebihi rasa sakit fisik sakaratul maut.

2. Kesedihan Orang Beriman dan Bertobat

Kesedihan juga dirasakan oleh orang-orang yang beriman, tetapi dalam bentuk dan kadar yang sangat berbeda dari orang zalim.

Bentuk Kesedihan Orang Beriman:

  • Kesedihan Berpisah dengan Amal Saleh: Orang beriman sedih bukan karena takut kehilangan kemewahan dunia, melainkan karena berpisah dari ladang ketaatan berpisah dari nikmatnya sujud di malam hari, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan berzikir.
  • Kekhawatiran akan Kualitas Bekal: Mereka merasa amalnya masih sangat sedikit dan penuh kekurangan jika dibandingkan dengan keagungan Allah SWT, sehingga timbul rasa malu dan sedih menjelang perjumpaan tersebut.

Bagaimana Allah Menghapus Kesedihan Orang Beriman?

Meskipun ada rasa cemas dan sedih, Allah SWT menyambut hamba-Nya yang beriman melalui kabar gembira dari para malaikat-Nya. Malaikat Maut dan malaikat rahmat datang dengan rupa yang indah, membawa harum surga, dan menenangkan hati mereka:

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'" (QS. Fussilat: 30)

Begitu mendengar kabar gembira ini, rasa takut dan sedih pada orang beriman seketika sirna, berganti menjadi kerinduan (syawq) untuk berjumpa dengan Allah SWT.

3. Pesan Moral Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kesedihan pada saat berjumpa Malaikat Maut adalah kesedihan yang tidak berguna lagi jika baru dirasakan pada detik tersebut.

Oleh karena itu, hikmah mendasar dari mempelajari bab ini adalah:

  1. Mengalihkan Kesedihan ke Masa Sekarang: Hendaknya seseorang merasa sedih dan menyesal atas dosa-dosanya hari ini (saat masih hidup dan sehat), sehingga penyesalan itu memicu tobat dan perbaikan amal.
  2. Memutus Keterikatan Hati dari Dunia: Jangan membiarkan hati terlalu terpikat pada dunia, agar ketika saatnya tiba untuk meninggalkannya, rasa sedih tidak menghancurkan jiwa.
  3. Mempersiapkan Bekal Terbaik: Mendorong diri untuk senantiasa siap kapan pun Izrail bertamu, sehingga perjumpaan tersebut menjadi momen kegembiraan (liqa'ullah), bukan momen bencana dan penyesalan abadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *