Wafatnya Rasulullah Muhammad saw. merupakan salah satu peristiwa paling mengharukan dan bersejarah dalam peradaban Islam. Peristiwa ini menandai berakhirnya era kerasulan sekaligus penyempurnaan ajaran Islam.
Berikut adalah gambaran ringkas mengenai kronologi dan detik-detik akhir wafatnya Rasulullah saw.:
1. Tanda-Tanda Sebelum Wafat
Sebelum wafat, beberapa isyarat telah nampak bahwa tugas kerasulan Beliau telah mendekati akhir:
- Turunnya Surah An-Nasr: Surah ini mengisyaratkan bahwa ketika pertolongan Allah dan kemenangan telah datang, maka tugas Nabi telah selesai dan saatnya kembali kepada Allah.
- Ibadah Haji Wada' (Haji Perpisahan): Pada tahun 10 H (632 M), Rasulullah menyampaikan khotbah bersejarah di Padang Arafah. Beliau bersabda: "Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku, sebab aku tidak tahu apakah aku dapat bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini di tempat ini."
- Turunnya Wahyu Terakhir: Di Arafah, Allah menurunkan firman-Nya:"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Ma'idah: 3)
2. Sakitnya Rasulullah saw.
- Pada akhir bulan Safar tahun 11 H, Rasulullah mulai menderita sakit kepala berat dan demam tinggi setelah menghadiri pemakaman di Baqi.
- Kendati dalam keadaan sakit, Beliau tetap memimpin salat berjamaah selama beberapa hari. Ketika sakitnya semakin parah, Beliau meminta izin kepada istri-istri Beliau untuk dirawat di rumah Aisyah r.a.
- Ketika tidak kuat lagi imam di masjid, Rasulullah memerintahkan agar Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. menggantikannya menjadi imam salat.
3. Wasiat dan Pesan Terakhir
Di hari-hari terakhirnya, Rasulullah saw. senantiasa mengingatkan umatnya tentang dua hal utama:
- Menjaga Salat: Beliau berulang kali menegaskan pentingnya mendirikan salat.
- Memuliakan Hak-Hak Manusia: Beliau mengingatkan untuk memperlakukan hamba sahaya, wanita, dan kaum yang lemah dengan baik.
Beliau juga menegaskan bahwa Beliau tidak meninggalkan harta warisan materi, melainkan dua hal yang jika dipegang teguh tidak akan membuat umatnya tersesat: Al-Qur'an dan Sunnah.
4. Detik-Detik Terakhir
Pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 11 H (bertepatan dengan 8 Juni 632 M), di usia 63 tahun, kondisi Beliau kian melemah.
- Dalam pangkuan Aisyah r.a., Rasulullah membasahi wajahnya dengan air dan bersabda: "Lā ilāha illallāh, sesungguhnya sakaratul maut itu memiliki dahsyatnya rasa sakit."
- Beliau kemudian menatap ke atas dan mengucapkan kalimat terakhirnya:"Ar-Rafīqal-A'lā" (Bersama Kekasih Yang Maha Tinggi/Allah).
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, tangan Beliau terkulai dan ruh mulianya kembali kepada Sang Pencipta.
5. Reaksi Para Sahabat & Pemakaman
Wafatnya Rasulullah membawa duka yang sangat mendalam bagi seluruh penduduk Madinah:
- Umar bin Khattab r.a. sempat berada dalam keadaan syok berat dan tidak percaya atas wafatnya Nabi.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dengan tenang dan bijaksana menenangkan kaum muslimin dengan perkataan yang sangat terkenal:"Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." (Kemudian beliau membaca QS. Ali 'Imran: 144).
Rasulullah saw. dimandikan dan dikafani oleh pihak keluarga (termasuk Ali bin Abi Thalib r.a.), lalu dimakamkan di tempat Beliau wafat, yaitu di dalam kamar Aisyah r.a., yang kini berada di dalam kompleks Masjid Nabawi di Madinah.