info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Wafatnya Para Khalifah Islam
Wafatnya Para Khalifah Islam
Wafatnya Para Khalifah Islam

Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Wafatnya Abu Bakar Ash-Siddiq R.A

Wafatnya Khalifah pertama umat Islam, Abu Bakar Ash-Siddiq ra., terjadi pada hari Senin, 22 Jumadil Akhir 13 H (bertepatan dengan 23 Agustus 634 M). Beliau wafat pada usia 63 tahun usia yang sama dengan Rasulullah saat wafat. Masa kepemimpinan beliau berlangsung selama kurang lebih 2 tahun 3 bulan 10 hari.

1. Penyebab Sakit dan Hari-Hari Terakhir

  • Penyebab Sakit: Menjelang wafatnya, Abu Bakar ra. mengalami demam tinggi yang berlangsung selama kurang lebih 15 hari. Menurut riwayat Ibnu Umar ra., sakit ini bermula setelah beliau mandi pada hari yang sangat dingin.
  • Pengunduran Diri dari Shalat Jamaah: Karena kondisinya yang semakin melemah, beliau menyerahkan tugas mengimami shalat di Masjid Nabawi kepada Umar bin Khattab ra.

2. Penunjukan Umar bin Khattab R.A sebagai Pengganti

Mengetahui ajalnya sudah dekat, Abu Bakar ra. tidak ingin meninggalkan umat Islam dalam perselisihan mengenai kepemimpinan. Beliau melakukan serangkaian musyawarah dengan para sahabat senior, seperti:

  • Abdurrahman bin Auf ra.
  • Utsman bin Affan ra.
  • Ali bin Abi Thalib ra.
  • Talhah bin Ubaidillah ra.

Setelah mendapatkan kesepakatan dari para sahabat utama, beliau meminta Utsman bin Affan ra. untuk menuliskan surat wasiat resmi yang menetapkan Umar bin Khattab ra. sebagai khalifah penerusnya. Langkah ini berhasil menjaga stabilitas politik kekhalifahan Islam saat itu.

3. Pesan dan Wasiat Terakhir

Wasiat Kederhanaan: Abu Bakar ra. berpesan agar pakaian yang digunakannya untuk kain kafan adalah pakaian sederhana yang biasa beliau kenakan sehari-hari, seraya berkata: "Orang yang hidup lebih membutuhkan pakaian baru daripada orang yang mati." Beliau juga memerintahkan agar seluruh harta yang pernah beliau terima dari kas negara (Baitul Maal) selama menjabat sebagai khalifah dikembalikan.

4. Pemakaman

Abu Bakar Ash-Siddiq ra. wafat pada malam Selasa. Sesuai dengan wasiatnya, beliau dimakamkan pada malam itu juga di samping makam Rasulullah $\text{SAW}$ di dalam kamar Aisyah ra. (Raudhah).

  • Posisi Makam: Kepala Abu Bakar ra. diletakkan tepat sejajar dengan pundak Rasulullah $\text{SAW}$.
  • Imam Shalat Jenazah: Shalat jenazah dipimpin oleh Umar bin Khattab ra

Wafatnya Umar bin Khattab ra

Wafatnya Khalifah kedua, Umar bin Khattab ra., merupakan salah satu peristiwa paling memilukan dalam sejarah Islam. Beliau wafat pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 23 H (sekitar awal November 644 M) pada usia 63 tahun usia yang sama dengan Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Siddiq ra. saat wafat. Masa kepemimpinan beliau berlangsung selama kurang lebih 10 tahun 6 bulan.

1. Peristiwa Penyerangan

Umar bin Khattab ra. diserang saat memimpin shalat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi:

  • Pelaku: Abu Lu'lu'ah (Fairuz), seorang budak Majusi milik al-Mughirah bin Syu'bah.
  • Kronologi: Saat Umar baru saja mengumandangkan takbiratul ihram dan memulai shalat, Abu Lu meyerang beliau menggunakan pisau belati bermata dua yang telah diolesi racun.
  • Luka yang Dialami: Umar mendapat enam tikaman (dalam beberapa riwayat tiga tikaman), salah satunya di bagian bawah pusar yang menembus organ dalam.
  • Penyelamatan Shalat: Meski terluka parah, Umar meminta Abdurrahman bin Auf ra. untuk menggantikannya menjadi imam agar shalat Subuh jamaah tetap berlanjut. Abu Lu'lu'ah sendiri akhirnya bunuh diri setelah mengepung dan melukai belasan sahabat lain yang mencoba menangkapnya.

2. Hari-Hari Terakhir dan Sikap Umar

Setelah dibawa ke rumahnya, Umar sempat pingsan. Saat sadar, pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya adalah:

"Apakah orang-orang sudah menyelesaikan shalatnya?"

Ketika diberi tahu bahwa yang menikamnya adalah Abu Lu'lu'ah (seorang non-Muslim/Majusi), Umar mengucap syukur kepada Allah bahwa kematiannya tidak disebabkan oleh tangan seorang Muslim yang pernah bersujud kepada Allah.

Umar bertahan hidup selama kurang lebih 3 hari setelah peristiwa penyerangan tersebut sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.

3. Pembentukan Dewan Syura (Sistem Suksesi)

Dalam kondisi kritis, Umar tidak langsung menunjuk satu nama sebagai penggantinya, melainkan membentuk dewan formatur yang terdiri dari 6 sahabat senior (Ahlus Syura) yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah

  1. Utsman bin Affan ra.
  2. Ali bin Abi Thalib ra.
  3. Abdurrahman bin Auf ra.
  4. Sa'ad bin Abi Waqqas ra.
  5. Az-Zubair bin al-Awwam ra.
  6. Talhah bin Ubaidillah ra.

Umar memberi waktu 3 hari kepada dewan ini untuk bermusyawarah memilih khalifah berikutnya, yang kemudian menghasilkan terpilihnya Utsman bin Affan ra.

4. Pemakaman

Sebelum wafat, Umar mengutus putranya, Abdullah bin Umar ra., untuk menemui Aisyah ra. guna meminta izin agar diperbolehkan dimakamkan di samping dua sahabat utamanya (Rasulullah dan Abu Bakar ra.). Aisyah ra. memberikan izin tersebut.

  • Waktu Wafat: Hari Rabu, 26 Dzulhijjah 23 H (atau awal Muharram 24 H dalam beberapa riwayat penetapan pemakaman).
  • Imam Shalat Jenazah: Shalat jenazah dipimpin oleh Suhaib ar-Rumi ra., yang ditunjuk Umar sebagai imam sementara Masjid Nabawi selama masa transisi kekhalifahan.
  • Posisi Makam: Umar dimakamkan di dalam kamar Aisyah ra. (Raudhah), tepat di samping Abu Bakar Ash-Siddiq ra. dan di sisi Rasulullah

Wafatnya Usman bin Affan R.A

Wafatnya Khalifah ketiga, Utsman bin Affan ra., merupakan salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah Islam yang memicu fitnah (Fitnah Kubra) di tengah umat. Beliau wafat pada hari Jumat, 18 Dzulhijjah 35 H (17 Juni 656 M) pada usia sekitar 82 atau 83 tahun di Madinah.

Masa kepemimpinan beliau berlangsung selama 12 tahun (644–656 M), menjadikannya masa pemerintahan terlama di antara Khulafaur Rasyidin.

1. Latar Belakang dan Pengepungan Rumah

Pada paruh kedua masa kepemimpinannya, muncul ketegangan politik dan tuduhan ketidakadilan dari kelompok pemberontak yang datang dari wilayah Kufah, Basra, dan Mesir.

  • Pengepungan Kediaman: Rumah Utsman ra. dikepung selama kurang lebih 40 hari. Para pemberontak melarang beliau keluar rumah, termasuk mengimami shalat di Masjid Nabawi hingga memblokir akses air bersih.
  • Sikap Menolak Pertumpahan Darah: Meskipun para sahabat muda seperti Hasan bin Ali, Husain bin Ali, Abdullah bin az-Zubair, dan Mu'awiyah ra. (melalui tawaran pasukan pengawal) siap membela dan berperang melawan pemberontak, Utsman ra. melarang keras adanya pertumpahan darah di kota Madinah demi membela dirinya. Beliau berkata:"Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang mengalirkan darah umat Rasulullah."

2. Peristiwa Pembunuhan

  • Mimpi Sebelum Wafat: Pada malam sebelum kejadian, Utsman ra. bermimpi bertemu Rasulullah, Abu Bakar ra., dan Umar ra. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah berkata: "Wahai Utsman, berbukalah bersama kami besok malam." Setelah terbangun, beliau berpuasa dan menyadari bahwa ajalnya telah dekat.
  • Kronologi: Pada hari Jumat, saat Utsman ra. sedang duduk membaca Al-Qur'an (Surah Al-Baqarah), sekelompok pemberontak memanjat dinding bagian belakang rumah beliau.
  • Penyerangan: Beberapa pemberontak menerobos masuk. Salah satu pimpinan penyerang (di antaranya dikenal bernama Al-Ghafiqi dan Sudan bin Humran) menebas Utsman ra. dengan pedang. Istri beliau, Nailah binti al-Farafishah, berusaha melindungi Utsman hingga beberapa jarinya terputus.
  • Darah di Atas Mushaf: Utsman ra. wafat dalam keadaan berpuasa dan memeluk mushaf Al-Qur'an. Percikan darah beliau mengenai ayat Al-Qur'an:"...Maka Allah akan memelihara engkau dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 137)

3. Pemakaman

Suasana Madinah pasca-kejadian sangat mencekam karena kota dikuasai oleh kelompok pemberontak.

  • Waktu dan Prosesi: Demi keamanan, jenazah Utsman ra. baru dapat dimakamkan pada malam hari secara sembunyi-sembunyi dan dihadiri oleh sekelompok kecil sahabat serta keluarga terdekat (seperti Marwan bin al-Hakam, Jubair bin Muth'im, dan Hakim bin Hizam ra.).
  • Lokasi Makam: Beliau dimakamkan di pemakaman Baqi' di Madinah (pada area yang dikenal sebagai Kawkab Danish, yang kemudian menjadi bagian terintegrasi dari kompleks Pemakaman Baqi').
  • Imam Shalat Jenazah: Shalat jenazah dipimpin oleh Jubair bin Muth'im ra. (dalam beberapa riwayat lain oleh As-Suraqah bin Malik ra.).

Wafatnya Ali bin Abi Thalib R.A

Wafatnya Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib ra., menandai berakhirnya era Khulafaur Rasyidin. Beliau wafat pada bulan Ramadhan tahun 40 H (Januari 661 M) pada usia 62 atau 63 tahun di Kufah, Irak.

Masa kepemimpinan beliau berlangsung selama kurang lebih 4 tahun 9 bulan.

1. Peristiwa Penyerangan dan Konspirasi

Penyerangan terhadap Ali bin Abi Thalib ra. merupakan bagian dari plot pembunuhan berencana yang dirancang oleh kelompok Khawarij.

  • Pelaku: Abdurrahman bin Muljam (Ibnu Muljam), seorang anggota kelompok Khawarij.
  • Waktu Peristiwa: Subuh, tanggal 17 atau 19 Ramadhan 40 H.
  • Kronologi: Saat Ali ra. berjalan menuju Masjid Agung Kufah untuk memimpin shalat Subuh sambil membangunkan warga untuk shalat, Ibnu Muljam menyergapnya dan menebas kepala beliau dengan pedang yang telah direndam racun mematikan selama seribu hari.
  • Sikap Ali terhadap Pelaku: Setelah Ibnu Muljam ditangkap, Ali berpesan kepada keluarganya untuk tetap memperlakukannya secara adil: beri dia makan dan minum yang layak, serta jangan disiksa. Jika Ali selamat, beliau yang akan memutuskan hukumannya; namun jika wafat, balasan hukum qishash ditimpakan sepadan (satu pukulan dibalas satu pukulan), tanpa melampaui batas.

2. Hari-Hari Terakhir dan Wasiat Beliau

Ali ra. bertahan hidup selama dua hingga tiga hari setelah penyerangan tersebut sebelum menghembuskan napas terakhirnya pada 21 Ramadhan 40 H.

Selama masa kritis tersebut, beliau menyampaikan beberapa wasiat penting kepada anak-anaknya (Hasan dan Husain) serta seluruh umat Islam:

Wasiat Kepada Keluarga dan Umat:

  • Bertakwalah kepada Allah dan jangan mengejar dunia meskipun dunia mengejarmu.
  • Berkatalah yang benar, beramallah untuk pahala akhirat, dan jadilah penolong bagi orang yang terzalimi serta penentang bagi zalimin.
  • Peliharalah tali silaturahmi dan perdamaian di antara sesama umat Islam.
  • Jagalah shalat dan perhatian terhadap anak-anak yatim serta tetangga.

Ketika ditanya apakah umat Islam harus membaiat putranya, Hasan bin Ali ra., beliau tidak memerintahkan maupun melarangnya, melainkan menyerahkan keputusan tersebut kepada musyawarah umat.

3. Pemakaman

Untuk mencegah perusakan makam oleh musuh-musuh politik atau kelompok radikal pada masa ketegangan tersebut, lokasi pemakaman Ali bin Abi Thalib ra. dirahasiakan oleh pihak keluarga.

  • Imam Shalat Jenazah: Shalat jenazah dipimpin oleh putra sulungnya, Hasan bin Ali ra.
  • Lokasi Makam: Beliau dimakamkan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari di Najaf (dekat Kufah, Irak modern). Seiring berjalannya waktu, lokasi makam ini kemudian diketahui umum dan kini menjadi kompleks Masjid Imam Ali di Najaf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *