info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Kisah Ashabul Fil Ibnu Katsir
Kisah Ashabul Fil Ibnu Katsir
Kisah Ashabul Fil Ibnu Katsir

Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Kisah Ashabul Fil (Pasukan Bergajah) merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang dicatat secara mendalam oleh Ibnu Katsir dalam kitab monumental beliau, Al-Bidayah wan Nihayah (Khususnya pada Jilid 2, pembahasan tentang sejarah Arab pra-Islam dan masa menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW).

Abrahah al-Asyram adalah seorang penguasa Kerajaan Aksum (Etiopia) yang menguasai wilayah Yaman. Ketika melihat betapa besarnya penghormatan bangsa Arab terhadap Ka'bah di Makkah, timbul rasa iri dalam dirinya.

Pembangunan Al-Qullais: Abrahah membangun sebuah gereja yang sangat megah dan mewah di Shan'a bernama Al-Qullais. Ambisinya adalah memindahkan pusat ziarah dan ibadah bangsa Arab dari Makkah ke Yaman.

Penyebab Kemarahan Abrahah: Bangsa Arab menolak hal tersebut. Dalam sebuah riwayat, seorang pria dari suku Kinanah pergi ke Yaman dan menodai (mengotori) gereja Al-Qullais sebagai bentuk penghinaan. Hal ini menyulut kemarahan besar Abrahah, hingga ia bersumpah akan meruntuhkan Ka'bah sampai rata dengan tanah.

Perjalanan Pasukan Gajah Menuju Makkah

Abrahah menyiapkan pasukan besar yang dilengkapi dengan gajah perang, hal yang sangat langka dan menakutkan bagi masyarakat Arab kala itu. Gajah utamanya bernama Mahmud.

Perlawanan Suku-suku Arab: Dalam perjalanannya menuju Makkah, beberapa pemuka suku Arab (seperti Dzu Nafar dan Nufail bin Habib al-Khats'ami) berusaha menghadang pasukan Abrahah. Namun, pasukan Arab mengalami kekalahan karena kalah jumlah dan kekuatan.

Penyitaan Harta Abdul Muthalib: Ketika sampai di Mghammas (dekat Makkah), pasukan Abrahah merampas harta benda penduduk Makkah, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad SAW yang merupakan pemimpin Makkah saat itu).

Pertemuan Abrahah dan Abdul Muthalib

Abrahah mengutus utusannya, Hanathah al-Himyari, untuk menemui pemimpin Makkah dan menyampaikan bahwa mereka tidak berniat berperang dengan warga Makkah, melainkan hanya ingin menghancurkan Ka'bah.

Abdul Muthalib kemudian menemui Abrahah secara langsung. Abrahah sangat kagum dengan wibawa Abdul Muthalib dan bertanya tentang tujuannya datang.

Dialog Terkenal:

Abdul Muthalib meminta agar 200 ekor untanya dikembalikan. Abrahah pun heran dan berkata:

"Aku kagum padamu saat melihatmu, namun aku kecewa setelah engkau berbicara. Apakah engkau hanya memikirkan 200 ekor untamu dan membiarkan Rumah (Ka'bah) yang menjadi agamamu dan agama nenek moyangmu akan kuhancurkan?"

Abdul Muthalib menjawab dengan tenang:

"Aku adalah pemilik unta-unta itu. Sedangkan Rumah itu (Ka'bah) memiliki Pemiliknya sendiri (Allah) yang akan melindunginya."

Abrahah mengembalikan unta-unta tersebut, lalu Abdul Muthalib menyuruh seluruh penduduk Makkah untuk mengungsi dan berlindung di celah-celah bukit/gunung sekitar Makkah.

Keajaiban dan Kehancuran Pasukan Abrahah

Ketika pasukan Abrahah bersiap memasuki Makkah dan mengarahkan gajah Mahmud untuk menghancurkan Ka'bah, terjadi peristiwa luar biasa:

  1. Gajah yang Mogok: Gajah bernama Mahmud tiba-tiba berlutut (mabrûk) dan menolak berjalan menuju Makkah. Namun, jika diarahkan ke arah Yaman, Syam, atau timur, gajah tersebut langsung berlari cepat.
  2. Kiriman Burung Ababil: Saat pasukan Abrahah kebingungan, Allah SWT mengutus kawanan Burung Ababil dari arah laut.
  3. Batu Sijjil: Setiap burung membawa tiga buah batu kecil (satu di paruh, dua di kaki) dari tanah yang terbakar (Sijjil). Ukurannya kecil (sebesar kacang tanah atau kedelai), tetapi memiliki daya hancur luar biasa.
  4. Dampak Kehancuran: Batu-batu tersebut mengenai pasukan Abrahah. Siapa pun yang terkena batu itu, tubuhnya akan hancur dan berlubang. Ibnu Katsir menggambarkan keadaan mereka menjadi seperti daun-daun yang dimakan ulat (ka'asfin ma'kûl).

Akhir Hidup Abrahah dan Hikmah Peristiwa

  • Kematian Abrahah: Abrahah tidak langsung mati di tempat. Ia terluka parah dengan daging tubuhnya yang terkelupas satu per satu selama perjalanan pulang. Ia akhirnya tewas secara mengenaskan ketika sampai di Shan'a, Yaman.
  • Tahun Kelahiran Nabi: Peristiwa ini diabadikan dalam Surah Al-Fil (Surah ke-105) dalam Al-Qur'an. Peristiwa ini terjadi pada tahun yang sama dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW, yang kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah ('Am al-Fil).

Analisis Ibnu Katsir:

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa peristiwa ini adalah bentuk Irhash (tanda-tanda ke miraculous-an) dan pemuliaan Allah terhadap Ka'bah serta sebagai pengantar/persiapan dimunculkannya Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *