info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Kisah Dzulqarnain Menurut Ibnu Katsir
Kisah Dzulqarnain Menurut Ibnu Katsir
Kisah Dzulqarnain Menurut Ibnu Katsir

Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Dalam ensiklopedia sejarah monumental Al-Bidayah wan Nihayah (البداية والنهاية), karya ulama pakar tafsir dan sejarah Imam Ibnu Katsir (w. 774 H), pembahasan mengenai sosok Dzulqarnain ditulis dengan pendekatan sejarah yang kritis berbasis dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Salah satu penegasan paling krusial dari Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah adalah membedakan secara tegas antara Dzulqarnain dengan Iskandar Al-Maqduni (Alexander Agung dari Makedonia):

PembedaDzulqarnain (Raja yang Disebut Al-Qur'an)Alexander Agung (Iskandar Al-Maqduni)
KeyakinanSeorang mukmin, tauhid, hamba Allah yang saleh.Musyrik, menyembah bintang/berhala.
Masa HidupBerada di zaman Nabi Ibrahim AS (bahkan berhaji bersama beliau).Hidup sekitar tahun 330 SM (berguru pada Aristoteles).
Jarak WaktuDipisahkan selisih waktu sekitar 2.000 tahun lebih awal.Jauh di masa belakangan.

Penjelasan Ibnu Katsir:

"Banyak orang menyangka keduanya adalah orang yang sama. Padahal Iskandar yang pertama (Dzulqarnain) adalah hamba Allah yang beriman dan bertauhid, sedangkan Iskandar kedua adalah orang Yunani, musyrik, dan menyembah patung. Pembahasan ini penting agar tidak terkecoh oleh kesalahan sejarawan terdahulu."

Arti Nama "Dzulqarnain"

Ibnu Katsir mencatat beberapa pendapat mengenai asal-usul sebutan Dzulqarnain (Pemilik Dua Tanduk/Dua Kekuasaan):

Ia menaklukkan wilayah bagian barat (maghrib) hingga timur (masyriq) tempat terbit dan terbenamnya matahari. Ungkapan metaforis atas kepemimpinan, keberanian, dan kekuasaan luar biasa yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Allah memberikan Dzulqarnain perlengkapan, sarana, dan kekuatan (as-sabab) untuk melintasi negeri-negeri. Ibnu Katsir membagi perjalanannya menjadi tiga tahapan besar sesuai urutan Surah Al-Kahf.

A. Perjalanan ke Barat (Maghrib asy-Syams) AnyFlip

Dzulqarnain sampai di tempat terbenamnya matahari (secara pandangan mata di tepi lautan luas yang berlumpur hitam/panas).

Di sana ia menemukan suatu kaum. Allah memberikan pilihan kepadanya untuk menghukum atau memperlakukan mereka dengan baik. tafsiralquran.id

Prinsip Keadilan Dzulqarnain: Ia menetapkan bahwa orang yang zalim dan kafir akan dihukum, sedangkan yang beriman dan beramal saleh akan dilindungi serta diberi kemudahan.

B. Perjalanan ke Timur (Masyriq asy-Syams)

Ia melanjutkan perjalanan hingga ke tempat terbitnya matahari.

Di sana ia bertemu dengan kaum yang tidak memiliki pelindung atau tempat bernaung dari teriknya sinar matahari. Ia memperlakukan mereka sesuai aturan keadilan yang sama.

C. Perjalanan ke Antara Dua Gunung (Baina as-Saddain) Republika Online

Dzulqarnain tiba di suatu daerah yang diapit dua gunung tinggi. Di sana bermukim kaum yang hampir tidak memahami bahasa luar. Republika Online

Kaum tersebut mengadukan gangguan dan kerusakan yang dilakukan oleh Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Magog). Republika Online

Pembangunan Dinding Penghalang (Benteng Besi) Republika Online

Ketika masyarakat setempat menawarkan imbalan harta (kharaj) agar Dzulqarnain membangunkan benteng pemisah, Dzulqarnain menolaknya secara halus dengan jawaban tawaduk:

"Apa yang telah dianugerahkan Tuhanku kepadaku itu lebih baik (daripada imbalan kalian), maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan peralatan)..."

Ibnu Katsir menjelaskan proses pembangunannya secara detail:

  1. Bahan Utama: Potongan-potongan besi (zubar al-hadid) disusun menumpuk hingga menutup celah di antara kedua gunung. Republika Online
  2. Pengolesan Tembaga Cair: Besi tersebut dibakar hingga membara, lalu disiram dengan tembaga/perunggu cair (qithr) agar melekat erat, licin, dan tidak bisa dipanjat maupun dilubangi.
  3. Sikap Rendah Hati: Setelah dinding tersebut selesai, Dzulqarnain tidak sombong melainkan berkata: "Ini adalah rahmat dari Tuhanku. Apabila janji Tuhanku telah datang, Dia akan menjadikannya hancur luluh..." AnyFlip

Hikmah Utama yang Ditegaskan Ibnu Katsir

Melalui penceritaan ini, Ibnu Katsir menggarisbawahi beberapa pengajaran penting:

  • Karakter Pemimpin Ideal: Seorang penguasa dunia yang berhasil menggabungkan antara ketegasan militer, ilmu pengetahuan, serta ketakwaan yang mendalam kepada Allah.
  • Penggunaan Sumber Daya secara Bijak: Tidak memanfaat kekuasaan untuk memeras rakyat (menolak imbalan harta), melainkan memberdayakan potensi gotong royong masyarakat.
  • Prinsip Hukum yang Adil: Memberikan ganjaran (reward) bagi yang berbuat kebaikan dan sanksi (punishment) bagi kezaliman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *