info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Kisah Ashabul Kahfi Ibnu Katsir
Kisah Ashabul Kahfi Ibnu Katsir
Kisah Ashabul Kahfi Ibnu Katsir

Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Kisah Ashabul Kahfi (Para Penghuni Gua) merupakan salah satu narasi paling fenomenal dalam tradisi Islam. Dalam karya monumental keagungan sejarahnya, Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir menguraikan kisah ini dengan pendekatan khasnya: menyandarkan pada ayat-ayat Al-Qur'an (Surah Al-Kahf), hadis-hadis sahih, serta melakukan pemilahan terhadap riwayat Isra'iliyyat (tradisi Ahli Kitab).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa para pemuda ini hidup di suatu negeri yang dipimpin oleh seorang raja zalim dan musyrik bernama Dikyanus (Decius). Raja tersebut memaksa seluruh rakyatnya untuk menyembah berhala dan mempersembahkan kurban kepadanya. Siapa saja yang menolak akan disiksa atau dihukum mati.

Siapa Mereka? Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ashabul Kahfi adalah para pemuda dari kalangan bangsawan dan anak-anak pejabat negeri tersebut. Mereka memiliki kedudukan mulia di masyarakatnya, bukan rakyat biasa yang tidak berdaya.

Hidayah dan Keteguhan Tauhid

Hidayah menyapa hati para pemuda ini secara terpisah, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka.

Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa negeri itu memiliki hari raya tahunan di mana masyarakat berkumpul untuk menyembah berhala. Ketika para pemuda ini melihat ritual tersebut, hati nurani mereka menolak. Satu per satu dari mereka menyendiri di bawah naungan sebuah pohon untuk menjauh dari kesyirikan.

Ketika mereka berkumpul di pohon tersebut, salah satu dari mereka memberanikan diri berkata, "Demi Allah, kalian tahu bahwa tidak ada yang membuat kalian keluar dari kaum kalian melainkan satu hal." Setelah saling terbuka, mereka menyadari bahwa mereka sama-sama memegang tauhid: beriman kepada Allah Yang Maha Esa.

"Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, 'Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia...'"

(QS. Al-Kahf: 14)

Pelarian ke Dalam Gua (Al-Kahf)

Ketika keberadaan dan keyakinan mereka tercium oleh Raja Dikyanus, mereka dipanggil dan diancam akan dibunuh jika tidak kembali kepada agama nenek moyang. Raja memberikan mereka waktu berpikir karena mempertimbangkan usia mereka yang masih muda.

Para pemuda ini memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarikan diri demi mempertahankan aqidah (Hijrah fi Sabilillah).

Dalam perjalanan menuju pegunungan, seekor anjing (yang populer dinamai Kitmir dalam sebagian riwayat) mengikut mereka. Para pemuda sempat mengusirnya agar tidak menggonggong dan membongkar keberadaan mereka, namun atas izin Allah, anjing tersebut ikut serta dan menjaga di pintu gua.

Mereka berlindung di sebuah gua. Allah kemudian menidurkan mereka dalam jangka waktu yang sangat lama, yaitu 309 tahun (menurut hitungan qamariyah/hijriyah) atau 300 tahun (menurut hitungan syamsiyah/masehi).

Ibnu Katsir menyoroti beberapa tanda kekuasaan Allah (Aayat) selama mereka tertidur:

  • Pancaran Sinar Matahari: Allah mengatur terbit dan terbenamnya matahari agar tidak merusak tubuh mereka. Saat terbit, matahari membelok ke arah kanan gua, dan saat terbenam, membelok ke arah kiri.
  • Membolak-balikkan Tubuh: Tubuh mereka dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri agar tanah tidak memakan daging dan pakaian mereka.
  • Kesan Mengerikan: Siapa pun yang melihat kondisi mereka saat itu akan dipenuhi rasa takut dan lari, karena mata mereka terbuka namun mereka tertidur terlelap.

Terbangun dan Terbongkarnya Rahasia

Setelah melewati waktu lebih dari tiga abad, Allah membangunkan mereka. Mereka merasa baru tertidur selama sehari atau setengah hari.

Karena merasa lapar, mereka mengutus salah satu sahabatnya (bernama Tamlikha dalam beberapa riwayat) pergi ke kota secara sembunyi-sembunyi dengan membawa uang perak (wariq) untuk membeli makanan yang paling halal dan bersih.

Tiba di kota, ia terkejut melihat suasana negeri yang berubah total. Negeri yang dulunya dipenuhi kesyirikan kini telah menjadi negeri beriman di bawah pemerintahan raja yang saleh (dalam beberapa riwayat disebut Taidhusiyis / Theodosius). Saat menyerahkan mata uang kuno untuk membayar makanan, pedagang terheran-heran dan mengira pemuda itu menemukan harta karun. Berita ini sampai ke telinga raja.

Raja beserta penduduk kota mendatangi gua tersebut dan menyadari bahwa pemuda-pemuda ini adalah kelompok yang hilang ratusan tahun lalu—sebuah kisah legendis yang tercatat dalam sejarah mereka.

Setelah bertemu dengan raja dan menyampaikan salam, Allah mematikan mereka secara sempurna (pembuktian janji Allah tentang hari kebangkitan). Penduduk kota kemudian berselisih tentang cara mengenang mereka. Pihak yang menang akhirnya memutuskan untuk mendirikan tempat ibadah (masjid) di atas pintu gua tersebut.

Catatan Khusus Ibnu Katsir

Ibnu Katsir memberikan beberapa kritik metodologis yang sangat penting dalam kitabnya:

  • Kritik Jumlah Pemuda: Ibnu Katsir menegaskan bahwa jumlah pasti Ashabul Kahfi tidak dijelaskan secara rinci oleh Al-Qur'an maupun hadis sahih. Beliau menyetujui isyarat Al-Qur'an bahwa jumlah mereka adalah tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya (karena pendapat ini yang tidak disanggah secara langsung dalam QS. Al-Kahf: 22).
  • Sikap Terhadap Isra'iliyyat: Ibnu Katsir menolak rincian-rincian rinci terkait nama-nama pemuda, warna kulit anjing, atau nama kota secara pasti jika hanya bersumber dari riwayat Isra'iliyyat tanpa sanad yang mutawatir, karena hal tersebut tidak memberikan faedah hukum atau keimanan.
  • Pelajaran Utama: Beliau menekankan bahwa inti dari kisah ini adalah kekuasaan Allah atas hari kebangkitan (Al-Ba'th) dan pentingnya menjaga keteguhan iman dari fitnah zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *