
Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah (jilid bagian kisah bangsa-bangsa terdahulu/raja-raja Arab kuno), Ibnu Katsir mencatat salah satu kisah tragis tentang penguasa Kerajaan Al-Hadhr (Hatra) yang dikenal dengan julukan As-Sathirun (nama aslinya adalah Dhaizan bin Mu'awiyah Al-'Ubaidi).
Kisah ini merupakan gabungan legenda sejarah Arab kuno dan peristiwa politik jatuhnya benteng Al-Hadhr ke tangan Bangsa Persia (Sassania).
1. Sosok As-Sathirun dan Benteng Al-Hadhr
- Al-Hadhr (Hatra): Sebuah kota benteng yang sangat kokoh di wilayah Mesopotamia (Irak bagian utara). Kota ini dikelilingi tembok tinggi, benteng pertahanan yang sulit ditembus, serta sumber air yang melimpah di dalam kota.
- As-Sathirun: Raja atau penguasa Al-Hadhr dari kalangan suku Arab kuno (Suku Quda'ah/Iyad). Julukan As-Sathirun diberikan karena kekuasaan dan kemegahan kerajaannya.
Kerajaan ini sangat kuat hingga mampu bertahan dari berbagai pengepungan besar, termasuk serbuan tentara Romawi.
2. Pengepungan oleh Raja Persia (Sapur / Ardashir)
Raja Persia dari Dinasti Sassanid—dalam beberapa riwayat disebut Sabur (Sapur I) atau ayahnya Ardashir memimpin pasukan besar untuk menaklukkan Al-Hadhr. Namun, karena kokohnya benteng dan tangguhnya kepemimpinan As-Sathirun, pengepungan berlangsung berbulan-bulan tanpa hasil. Pasukan Persia mulai mengalami frustrasi dan kelelahan.
3. Pengkhianatan Nadhirah (Putri As-Sathirun)
Di tengah pengepungan yang buntu, nasib Al-Hadhr justru ditentukan dari dalam benteng melalui kisah cinta dan pembelotan:
- Putri Raja: As-Sathirun memiliki seorang putri bernama Nadhirah yang sangat jelita. Dari atas benteng, Nadhirah kerap melihat Raja Sabur yang tampan dan berbaju zirah megah di kemah pasukan Persia.
- Jatuh Cinta: Nadhirah jatuh cinta pada Raja Sabur dan mengirimkan pesan rahasia secara sembunyi-sembunyi. Ia berjanji akan memberitahukan rahasia kelumpuhan benteng tersebut jika Sabur berjanji akan menikahinya.
- Rahasia Benteng: Nadhirah membocorkan rahasia atau celah keamanan benteng. Dalam sebagian riwayat Arab klasik, disebutkan rahasia mistik (seperti jimat/mantra penjaga benteng yang harus dihancurkan) atau celah saluran air rahasia serta titik lemah penjagaan para pengawal ketika mabuk minuman keras.
4. Kejatuhan Al-Hadhr dan Gugurnya As-Sathirun
Berkat informasi dari Nadhirah, pasukan Persia melancarkan serangan kejutan di malam hari:
- Pasukan Persia berhasil menembus pertahanan yang selama ini dianggap tak tertembus.
- Raja As-Sathirun terbunuh dalam serangan tersebut, dan seluruh kota Al-Hadhr dihancurkan.
- Kerajaan Al-Hadhr yang megah runtuh seketika.
5. Akhir Tragis Sang Putri
Sesuai janjinya, Raja Sabur menikahi Nadhirah dan membawanya ke kerajaannya. Namun, akhir dari Nadhirah tidaklah bahagia:
- Pada suatu malam di peraduan, Nadhirah tidak bisa tidur nyenyak dan merintih kesakitan. Ketika diperiksa, ternyata hanya ada sehelai daun Myrtle (daun kemuning) yang terselip di balik lipatan kasurnya yang sangat empuk, namun berhasil membuat kulitnya yang sangat halus memar.
- Raja Sabur merasa heran dan bertanya: "Bagaimana ayahmu memanjakanmu hingga kulitmu selembut ini?" Nadhirah pun menceritakan betapa luar biasa kasih sayang dan kemewahan yang diberikan oleh ayahnya (As-Sathirun) semasa hidup.
- Mendengar hal itu, Raja Sabur tersadar dan merasa jijik atas pengkhianatan Nadhirah. Sabur berpikir: "Jika terhadap ayah kandungmu sendiri yang begitu memanjakanmu engkau sanggup berkhianat dan mengorbankannya, apalagi terhadapku?"
- Raja Sabur kemudian memerintahkan prajuritnya untuk mengikat Nadhirah pada ekor kuda yang liar, lalu diseret hingga tewas sebagai hukuman atas pengkhianatannya kepada sang ayah.
Hikmah Kisah dalam Al-Bidayah wan Nihayah
Ibnu Katsir mencantumkan kisah-kisah seperti ini dalam karyanya untuk mengutip catatan sejarah dan syair-syair Arab klasik tentang kefanaan dunia.
Pesan moral dari kisah As-Sathirun adalah:
- Pengkhianatan tidak membuahkan kebahagiaan: Orang yang berkhianat pada orang tuanya demi cinta palsu atau keuntungan pribadi akhirnya akan dihancurkan oleh pihak yang dibantunya.
- Kerajaan yang megah sekalipun akan sirna: Benteng Al-Hadhr yang kokoh tidak mampu menyelamatkan penguasanya ketika takdir kehancuran telah tiba.