
Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam kitab karya Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah (serta dirincikan dalam Tafsir Ibnu Katsir saat membahas Surah Al-Buruuj), kisah Ashabul Ukhdud (Para Pemilik Parit) diuraikan secara detail berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Suhaib ar-Rumi radhiyallahu 'anhu.
Kisah ini berlatar belakang di wilayah Yaman (Najran) pada masa kekuasaan seorang raja zalim bernama Dzu Nuwas yang mengaku sebagai tuhan.
Seorang raja memiliki penyihir istana yang sudah tua. Raja memerintahkan agar seorang anak muda berguru kepada penyihir tersebut. Di tengah jalan menuju rumah penyihir, anak muda itu bertemu dengan seorang rahib (pemuda soleh bertauhid). Ia tertarik pada ajaran tauhid dan diam-diam belajar agama dari rahib tersebut.
Suatu hari, seekor binatang besar menghalangi jalan warga. Anak muda itu berdoa kepada Allah untuk membuktikan apakah ajaran rahib lebih dicintai Allah daripada sihir sang penyihir. Ia melempar batu kecil, dan binatang itu mati seketika. Anak muda itu juga diberi kemampuan menyembuhkan penyakit buta dan kusta atas izin Allah.
Penasihat raja yang tadinya buta berhasil disembuhkan setelah menyatakan beriman kepada Allah. Raja murka mengetahui hal ini. Penasihat raja dan sang rahib disiksa secara kejam (digergaji hingga terbelah) karena menolak murtad.
Raja berusaha membunuh anak muda tersebut berulang kali:
- Di Puncak Gunung: Para prajurit diguncang gempa dan jatuh ke jurang setelah anak muda berdoa: "Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki."
- Di Tengah Lautan: Sampan prajurit terbalik dan mereka tenggelam, sementara anak muda itu kembali berjalan ke istana dengan selamat.
Anak muda itu memberitahu raja bahwa ia tidak akan bisa membunuhnya kecuali dengan satu cara: kumpulkan seluruh rakyat di lapangan, salib dirinya di batang pohon, lalu panah dirinya sambil mengucapkan:
"Bismillahi Rabbil 'Ghulam" (Dengan menyebut nama Allah, Tuhan anak muda ini).
Raja melakukan hal tersebut. Saat panah menancap di pelipis sang pemuda, ia meninggal dunia.
Melihat kejadian ajaib itu, seluruh rakyat berteriak bersamanya: "Kami beriman kepada Tuhan anak muda ini!"
Raja yang panik dan murka memerintahkan prajuritnya menggali parit besar (ukhdud), menyalakan api membara di dalamnya, dan melemparkan siapa saja yang menolak murtad ke dalam parit tersebut.
Ibrah Peristiwa
Ibnu Katsir menyoroti satu peristiwa yang menguatkan hati para pengikut tauhid saat eksekusi berlangsung:
Ada seorang wanita yang menggendong bayinya yang masih menyusui. Wanita tersebut sempat ragu dan goyah ketika hendak dilemparkan ke dalam kobaran api. Atas izin Allah, bayi tersebut berbicara dengan lancar:
"Wahai ibu, bersabarlah! Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran."
Wanita itu pun mantap dan melompat bersama bayinya ke dalam parit.
- Keteguhan Iman (Isti'anah): Kemenangan sejati dalam Islam tidak selalu diukur dari kemenangan fisik di dunia, melainkan keberhasilan mempertahankan akidah hingga akhir hayat.
- Pengorbanan Satu Orang demi Ummat: Pengorbanan anak muda tersebut berhasil membebaskan ribuan rakyat dari kesyirikan menuju tauhid.
- Balasan Allah: Para pembakar (raja dan prajuritnya) pada akhirnya diancam dengan azab neraka jahannam yang jauh lebih dahsyat, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Buruuj ayat 10.
Tafsir Surah Al-Buruuj Ayat 1-10
Dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Ibnu Katsir menguraikan Surah Al-Buruuj ayat 1–10 sebagai bentuk pengagungan Allah SWT terhadap sumpah-sumpah-Nya, sekaligus ancaman keras bagi para pelaku kezaliman yang menyiksa orang-orang beriman dalam peristiwa Ashabul Ukhdud.
وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ (1) وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ (2) وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ (3)
- Ayat 1 (Demi langit yang mempunyai gugusan bintang): Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-Buruuj adalah tempat-tempat lintasan bintang-bintang besar (gugusan bintang/pintu-pintu langit) yang menunjukkan keagungan penciptaan Allah di alam semesta.
- Ayat 2 (Dan hari yang dijanjikan): Yang dimaksud adalah Hari Kiamat, hari pembalasan yang pasti terjadi di mana seluruh manusia akan dihisab atas perbuatannya.
- Ayat 3 (Dan yang menyaksikan serta yang disaksikan): Ibnu Katsir menukil beberapa pendapat hadis dan atsar sahabat:
- Syahid (yang menyaksikan): Hari Jum'at, Nabi Muhammad SAW, atau para saksi amal perbuatan manusia.
- Masyhud (yang disaksikan): Hari Arafah, Hari Kiamat, atau hari di mana seluruh makhluk dikumpulkan.
قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (4) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (5) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (6) وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7)
- Ayat 4 (Binasalah orang-orang yang membuat parit): Lafaz qutila di sini bermakna "dilaknat" atau dikutuk oleh Allah SWT. Ibnu Katsir menegaskan bahwa ini adalah doa kehancuran dan kutukan atas Raja Dzu Nuwas dan para prajuritnya yang menggali parit raksasa.
- Ayat 5 (Yang berapi yang dinyalakan dengan bahan bakar): Parit-parit (ukhdud) tersebut dipenuhi dengan api yang sangat panas dan kobaran bahan bakar yang terus dinyalakan untuk membakar rakyat bertauhid.
- Ayat 6–7 (Ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman): Ibnu Katsir menyoroti kebiadaban para algojo. Mereka duduk santai di pinggir parit sambil menikmati pemandangan mengerikan saat orang-orang beriman—pria, wanita, hingga bayi—dilemparkan hidup-hidup ke dalam api. Kehadiran mereka di sana menjadi saksi atas kejahatan luar biasa yang mereka lakukan sendiri.
وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (9)
- Ayat 8 (Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji): Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang-orang beriman itu tidak memiliki kesalahan atau dosa sama sekali di mata para penguasa zalim tersebut, kecuali satu hal: mereka menolak menyembah raja dan memilih beriman kepada Allah.
- Ayat 9 (Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu): Allah menegaskan kekuasaan-Nya yang mutlak atas langit dan bumi. Walaupun orang-orang beriman itu terbunuh secara fisik di dunia, Allah menyaksikan penderitaan serta keteguhan mereka, dan tidak ada satu pun perbuatan zalim raja itu yang luput dari pengawasan-Nya.
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (10)
- Kandungan Hukum dan Sikap Allah: Ibnu Katsir menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri mengenai ayat ini:"Lihatlah betapa Maha Pemudahnya Allah! Mereka membakar wali-wali-Nya dan kekasih-kekasih-Nya, namun Allah masih menyeru mereka: 'Apakah kalian mau bertobat?' Jika mereka bertobat, niscaya Allah akan mengampuni mereka."
- Ancaman Azab Dualis: Bagi mereka yang menyiksa (fatanuu = membakar/menseleksi dengan ujian berat) mukmin laki-laki dan perempuan lalu menolak bertobat hingga mati, Allah menyediakan dua bentuk pembalasan:
- 'Adzabu Jahannam: Azab karena kekufuran dan kesyirikan mereka.
- 'Adzabul Hariq (Azab yang membakar): Balasan setimpal (al-jaza' min jinsil 'amal) berupa pembakaran yang jauh lebih dahsyat di akhirat atas aksi mereka membakar kaum mukminin di dunia.
Kesimpulan Ringkas Ibnu Katsir
Dalam kesimpulannya, Ibnu Katsir menekankan bahwa ayat 1–10 Surah Al-Buruuj memberikan penghiburan (tasliyah) bagi umat Islam di setiap zaman. Walaupun orang zalim tampak menang dan membantai kaum beriman secara fisik, kemenangan hakiki adalah keteguhan mempertahankan iman hingga mati, sedangkan kekalahan abadi milik para zalim yang akan dijerumuskan ke dalam api neraka.