
Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam kitab monumental Al-Bidayah wan Nihayah (البداية والنهاية), Ibnu Katsir menyusun riwayat para nabi berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an, hadis-hadis shahih, serta penyeleksian ketat terhadap riwayat Isra'iliyyat.
Kisah Nabi Isa AS merupakan salah satu bagian yang dijelaskan secara mendalam oleh Ibnu Katsir untuk menegaskan kedudukan beliau sebagai hamba dan rasul Allah SWT, sekaligus memuruskan keyakinan-keyakinan yang menyimpang.
Maryam binti Imran berasal dari garis keturunan mulia Bani Israil (Keluarga 'Imran). Ibunda Maryam bernazar menyerahkan anaknya untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Maryam tumbuh dalam kesucian di mihrab Baitul Maqdis di bawah pengasuhan Nabi Zakaria AS. Beliau kerap mendapat rezeki buah-buahan dari surga secara langsung.
Kelahiran Nabi Isa AS
Malaikat Jibril mendatangi Maryam untuk menyampaikan kabar gembira lahirnya seorang putra tanpa persetubuhan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa peniupan ruh ke dalam rahim Maryam menunjukkan keagungan kekuasaan Allah SWT. Maryam melahirkan di bawah pohon kurma dekat Baitul Maqdis.
Ketika tuduhan keji dilontarkan oleh masyarakat Bani Israil, Maryam cukup memberi isyarat kepada bayinya. Atas izin Allah, bayi Isa langsung berbicara: Muslim.or.id+ 2"Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi..." (QS. Maryam: 30) serambimuslim.comIbnu Katsir menekankan bahwa kata pertama yang diucapkan Nabi Isa adalah pengakuan sebagai hamba Allah ('Abdullah), sebagai bantahan langsung terhadap anggapan bahwa beliau adalah anak Tuhan.
Keutamaan dan Mukjizat Nabi Isa AS
Nabi Isa diutus khusus kepada Bani Israil untuk membenarkan Taurat dan membawa Kitab Injil. Ibnu Katsir mencatat berbagai mukjizat beliau yang diabadikan dalam Al-Qur'an:
- Menciptakan burung dari tanah liat lalu meniupnya hingga hidup atas izin Allah. serambimuslim.com
- Menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penderita kusta (abrash).
- Menghidupkan orang mati atas izin Allah.
- Mengetahui apa yang dimakan dan disimpan oleh orang-orang di rumah mereka.
- Hidangan dari Langit (Al-Ma'idah): Permintaan para pengikut setianya (Hawariyyun) untuk menguatkan keimanan mereka.
Konspirasi Pembunuhan dan Diangkatnya Nabi Isa
Ibnu Katsir menguraikan peristiwa kritis di mana penolakan tokoh-tokoh Bani Israil memuncak hingga mereka menghasut penguasa untuk membunuh Nabi Isa:
- Penyerupaan Wajah (Tasybih): Ketika rumah tempat Nabi Isa bersembunyi dikepung, Allah mengubah wajah salah seorang yang berada di tempat tersebut (salah satu murid/pengkhianat) hingga menyerupai Nabi Isa.
- Pengangkatan Jiwa dan Raga: Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit dalam keadaan hidup dan tertidur/dibawa ruh dan jasadnya.
- Bantahan Penyaliban: Ibnu Katsir mengukuhkan QS. An-Nisa: 157–158 bahwa Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan orang yang diserupakan itulah yang ditangkap dan disalib.
Turun Kembali di Akhir Zaman (Nihayah)
Dalam bagian An-Nihayah (kejadian akhir zaman), Ibnu Katsir merincikan hadis-hadis mutawatir mengenai kembalinya Nabi Isa AS. Beliau akan turun di menara timur Damaskus, Suriah, bersandarkan pada dua sayap malaikat.
Beliau tidak membawa ajaran baru, melainkan memimpin umat Islam, membunuh Dajjal di pintu Ludd, menghancurkan salib, dan menegakkan keadilan.
Setelah memerintah bumi dengan damai dan memenuhi ajalnya, Nabi Isa AS akan wafat dan dishalatkan oleh kaum muslimin.
Peristiwa Penyerupaan Wajah (Tasybih) Orang yang Disalib Menurut Ibnu Katsir
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah (serta dinukil secara mendalam dalam Tafsir Ibnu Katsir saat membahas QS. An-Nisa: 157–158), Ibnu Katsir memaparkan riwayat penyerupaan wajah (tasybih) dengan menyandarkannya pada riwayat yang paling shahih, yaitu jalur dari Ibnu Abbas RA.
Ketika tokoh-tokoh Bani Israil merasa terancam oleh dakwah Nabi Isa AS, mereka menghasut penguasa (raja) setempat untuk membunuh beliau. Nabi Isa bersama para pengikut setianya (Hawariyyun) berkumpul di dalam sebuah rumah, dalam riwayat disebutkan berjumlah 12 orang.
Saat rumah tersebut dikepung oleh pasukan musuh, Nabi Isa AS keluar dari kamar dalam keadaan rambutnya masih basah meneteskan air (seperti selesai mandi).
Nabi Isa AS tahu bahwa saatnya telah tiba bagi Allah untuk menyelamatkannya. Beliau kemudian bertanyakatanya kepada para muridnya:
"Siapakah di antara kalian yang bersedia diserupakan wajahnya dengan wajahku, lalu dia akan dibunuh (disalib) menggantikan aku, dan baginya surga serta derajat yang sama bersamaku?"
Mendengar tawaran tersebut, seorang pemuda yang paling muda usia di antara mereka berdiri dan menyanggupi, "Saya wahai Nabi Allah."
Nabi Isa AS sempat menyuruh pemuda itu duduk kembali dan mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali. Namun, setiap kali ditanya, hanya pemuda muda itulah yang terus berdiri dan menawarkan diri. Akhirnya Nabi Isa AS berkata: "Kalau begitu, engkaulah orangnya."
Atas izin Allah SWT Wajah pemuda tersebut diubah total oleh Allah hingga sangat mirip dengan rupa dan paras Nabi Isa AS. Nabi Isa AS diangkat ke langit melalui celah/atap (bubungan) rumah tersebut dalam keadaan tertidur/dibawa ruh dan jasadnya. Rumaysho.Com
Tak lama setelah Nabi Isa diangkat, pasukan musuh menerobos masuk ke dalam rumah. Mereka langsung menangkap pemuda yang wajahnya telah diserupakan tersebut. Tanpa menyadari penukaran itu, mereka membunuh dan menyalib pemuda tersebut, seraya bersorak bahwa mereka telah berhasil membunuh Isa bin Maryam.
Ibnu Katsir juga mengkritik dan memilah beberapa riwayat lemah (dha'if) atau Isra'iliyyat yang beredar di masyarakat:
- Bukan Pengkhianat (Bukan Yudas Iskariot): Dalam beberapa versi cerita/Isra'iliyyat dikisahkan bahwa yang diserupakan adalah Yudas Iskariot (murid yang mengkhianati dan membocorkan keberadaan Nabi Isa demi imbalan uang). Namun, Ibnu Katsir memposisikan riwayat shahih dari Ibnu Abbas sebagai pijakan utama, di mana yang diserupakan adalah murid setia yang secara sukarela mengorbankan dirinya demi melindungi Nabi Allah dan mengharapkan surga.
- Perpecahan Kaum Setelah Peristiwa: Ibnu Katsir mencatat bahwa setelah peristiwa penyaliban itu, orang-orang di zaman tersebut terpecah menjadi tiga kelompok:
- Kelompok Ekstrem (Ghulaw): Menganggap Isa adalah Tuhan yang turun ke bumi lalu naik kembali.
- *Kelompok Kurang: Menganggap Isa adalah Anak Tuhan.
- Kelompok Beriman (Orang-orang Muslim/Pengikut Sejati): Meyakini bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang diangkat ke langit, sedangkan yang disalib adalah pemuda penggantinya. SINDOnews.com
Menurut Ibnu Katsir, riwayat dengan sanad yang bersambung (shahih) dari Ibnu Abbas ini secara tegas membenarkan firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 157: "Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka..."
Peristiwa Turunnya Nabi Isa AS Diakhir Zaman dalam Kitab Al-Bidayah wan Nihayah
Dalam bagian jilid-jilid akhir kitab Al-Bidayah wan Nihayah (yang sering dihimpun secara khusus dalam bagian Kitab al-Fitan wa al-Malahim / Huru-Hara Akhir Zaman), Ibnu Katsir menyusun pembahasan turunnya Nabi Isa AS (Nuzul 'Isa) berdasarkan deretan hadis-hadis mutawatir (hadis yang diriwayatkan oleh sangat banyak jalur shahih sehingga tidak mungkin dusta).
Ibnu Katsir menegaskan bahwa peristiwa turunnya Nabi Isa AS ke bumi adalah salah satu Tanda-Tanda Besar Hari Kiamat (Asy-Srath al-Sa'ah al-Kubra).
Nabi Isa AS akan turun di Menara Putih (al-Manarat al-Baidha') di bagian timur kota Damaskus, Suriah. Beliau turun dengan mengenakan dua lembar pakaian yang dicelup warna kuning (musharraghatain). Beliau turun dengan meletakkan kedua telapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Apabila beliau menundukkan kepala, meneteslah air dari rambutnya. Apabila beliau mengangkatnya, berjatuhanlah butiran-butiran air seperti mutiara (menggambarkan kesucian dan ketampanan beliau). Tidak ada seorang kafir pun yang mencium bau napas Nabi Isa melainkan ia akan binasa/mati. Sejauh mata beliau memandang, sejauh itulah jangkauan bau napasnya.
Pertemuan dengan Imam Mahdi dan Shalat Pertama
Beliau turun menjelang shalat Shubuh di saat kaum muslimin sedang bersiap-siap untuk mendirikan shalat di bawah pimpinan Al-Mahdi (pemimpin umat Islam saat itu).
Ketika Al-Mahdi melihat Nabi Isa datang, ia mundur untuk menyerahkan posisi imam shalat. Namun, Nabi Isa memegang pundak Al-Mahdi dan menolaknya seraya berkata bahwa ikamah telah dikumandangkan untuk Al-Mahdi, dan beliau menegaskan:"Sesungguhnya sebagian kalian menjadi pemimpin atas sebagian yang lain sebagai penghormatan Allah bagi umat ini."
Nabi Isa bermakmum di belakang Al-Mahdi pada shalat Shubuh tersebut sebagai wujud bahwa beliau turun bukan sebagai Nabi yang membawa syariat baru, melainkan sebagai pengikut syariat Nabi Muhammad SAW.
Perburuan dan Pembunuhan Dajjal
Setelah shalat selesai, Nabi Isa memerintahkan untuk membuka pintu masjid. Di luar, Dajjal bersama 70.000 prajurit Yahudi dari Isfahan telah mengepung tempat tersebut.
Begitu Dajjal melihat Nabi Isa AS, tubuhnya mulai meleleh seperti garam yang larut dalam air karena rasa takut yang sangat besar.Dajjal melarikan diri, namun Nabi Isa mengejarnya hingga mendapatinya di Pintu Ludd (Bāb Ludd — wilayah di Palestina dekat Yerusalem).
Nabi Isa menikam Dajjal dengan tombak pendeknya (harbah), hingga memperlihatkan bekas darah Dajjal di ujung tombaknya kepada kaum muslimin sebagai bukti kematian si fitnah terbesar tersebut.Kaum muslimin kemudian mencerai-beraikan dan mengalahkan seluruh pasukan pendukung Dajjal.
Peristiwa Pasukan Ya'juj dan Ma'juj
Tidak lama setelah Dajjal tewas, Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Isa bahwa Allah akan mengeluarkan kelompok makhluk yang tidak ada seorang pun sanggup memeranginya, yaitu Ya'juj dan Ma'juj. Allah SWT memerintahkan Nabi Isa untuk mengungsikan dan mengumpulkan kaum beriman ke Gunung Tursina (Thur Sina').
Ketika Ya'juj dan Ma'juj merusak bumi, Nabi Isa AS dan para sahabatnya berdoa dan memohon bantuan kepada Allah. Allah mengabulkannya dengan mengirimkan ulat-ulat (naghaf) yang menyerang leher-leher Ya'juj dan Ma'juj hingga mereka mati serentak seperti matinya satu jiwa.
Setelah kematian Ya'juj dan Ma'juj, bumi dipenuhi bau busuk bangkai mereka. Nabi Isa kembali berdoa, lalu Allah mengirimkan burung-burung besar untuk membawa bangkai-bangkai tersebut dan menyiram bumi dengan hujan lebat hingga bersih licin.
Masa Kepemimpinan dan Keadaan Bumi
Ibnu Katsir menggambarkan masa setelah hancurnya Ya'juj dan Ma'juj sebagai Masa Keemasan dan Keberkahan Bumi:
Nabi Isa menghancurkan salib-salib, membunuh babi-babi, dan menghapuskan pajak jizyah (karena semua orang saat itu masuk Islam atau tidak ada lagi tempat bagi kekafiran).
Permusuhan, kebencian, dan rasa iri hati dicabut dari hati manusia. Anak-anak kecil dapat bermain dengan ular beracun tanpa membahayakan mereka, dan serigala digembalakan bersama domba.
Allah memerintahkan bumi memuntahkan buah-buahan dan keberkahannya, sehingga sekelompok orang cukup makan dari satu buah delapan dan berteduh di bawah kulitnya.
Lama Tinggal, Wafat, dan Pemakaman
Ibnu Katsir mencantumkan riwayat shahih bahwa Nabi Isa AS akan tinggal di bumi selama 40 tahun (dalam sebagian riwayat dihitung sejak kedatangan beliau atau total masa hidup beliau di bumi).
Beliau akan melakukan ibadah Haji dan Umrah di Baitullah (Mekkah). Setelah genap ajalnya, Nabi Isa AS akan wafat secara alami seperti manusia pada umumnya. Kaum muslimin akan menshalatkan jenazah beliau, dan beliau dimakamkan di Kota Madinah di samping makam Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA (di dalam Hujrah Syarifah).
Kehidupan Manusia Setelah Nabi Isa AS Wafat menurut kitab Al-Bidayah wan Nihayah
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah (khususnya pada jilid Al-Fitan wa Al-Malahim), Ibnu Katsir menjelaskan bahwa wafatnya Nabi Isa AS menandai berhentinya "Masa Keemasan" umat manusia.
Setelah kepergian beliau, kondisi bumi dan moralitas manusia mengalami kemerosotan drastis secara bertahap (gradual) hingga akhirnya menyentuh titik terendah, di mana keimanan benar-benar diangkat dari muka bumi menjelang terjadinya Kiamat Kubra (Kiamat Besar).
Setelah Nabi Isa AS wafat dan dimakamkan di samping Nabi Muhammad SAW di Madinah, generasi beriman yang hidup bersama beliau perlahan-lahan wafat.
Ibnu Katsir memaparkan bahwa setelah generasi saleh ini habis. Manusia mulai melupakan ajaran tauhid. Shalat, puasa, zakat, dan haji perlahan-lahan ditinggalkan hingga tidak ada lagi yang memahami makna kalimat Lā ilāha illallāh. Perzinahan dan kejahatan dilakukan secara terbuka di jalan-jalan umum tanpa ada rasa malu, di mana Ibnu Katsir menukil hadis yang menggambarkan manusia saat itu berzina di jalanan seperti layaknya keledai.
Ibnu Katsir mencatat salah satu peristiwa paling mencekam setelah periode tersebut, yaitu lenyapnya Al-Qur'an:
- Mushaf Menjadi Kosong: Dalam satu malam, seluruh tulisan Al-Qur'an yang ada di lembaran-lembaran mushaf akan diangkat/dihapus oleh Allah SWT sehingga yang tersisa hanyalah kertas kosong.
- Hilangnya Al-Qur'an dari Dada: Hafalan Al-Qur'an yang ada di dalam ingatan dan hati para penghafal (huffazh) juga diangkat hingga tidak ada satu ayat pun yang tersisa di bumi.
Untuk menjaga kehormatan orang-orang beriman agar tidak menyaksikan dahsyatnya peristiwa Kiamat Besar, Allah SWT mengirimkan angin yang sangat lembut (dalam riwayat disebutkan berbau harum seperti minyak kasturi dan terasa dingin dari arah Yaman/Syam).
- Angin ini akan mencabut nyawa setiap orang yang di dalam hatinya masih terdapat keimanan, meskipun hanya sebesar biji sawi.
- Setelah angin ini berhembus, tidak ada lagi satu pun hamba Allah di muka bumi yang mengucapkan nama "Allah" atau beriman kepada-Nya.
Penghancuran Ka'bah oleh Dzu As-Suwaiqatain
Ketika bumi hanya dihuni oleh orang-orang kafir dan tidak ada lagi yang mengagungkan Baitullah:
- Ibnu Katsir menguraikan munculnya seorang pria dari Habasyah (Ethiopia) yang digambarkan betisnya kecil/bengkok (Dzu As-Suwaiqatain).
- Ia akan meruntuhkan Ka'bah batu demi batu, merampas perhiasannya, dan melepaskan kiswahnya tanpa ada seorang pun yang mencegahnya.
Dengan tidak adanya lagi kaum beriman, bumi sepenuhnya dikuasai oleh manusia-manusia terburuk (syirar al-khalq). Pada masa inilah tanda-tanda kiamat terakhir bermunculan secara beruntun seperti untaian mutiara yang terputus talinya:
- Matahari Terbit dari Barat (Tulu' ash-syams min maghribiha): Pintu tobat ditutup rapat secara permanen.
- Keluarnya Binatang Melata (Dabbatul Ardh): Binatang ajaib yang keluar untuk memberi tanda/cap pembeda pada wajah manusia untuk memperjelas status kekafiran mereka.
- Keluarnya Api dari Yaman: Api besar yang keluar dari lembah 'Aden yang menggiring seluruh manusia tersisa menuju tempat perhimpunan (Mahsyar) di tanah Syam.
Puncak Kejadian (Kiamat): Ibnu Katsir menutup pembahasan ini dengan menegaskan hadis Nabi SAW bahwa Kiamat tidak akan terjadi kecuali kepada seburuk-buruknya manusia. Mereka inilah yang akan merasakan dahsyatnya tiupan sangkakala (tsipaan malaikat Israfil) yang menghancurkan seluruh alam semesta.