
Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Ibnu Katsir menempatkan kisah Uzair sebagai salah satu bukti terbesar kekuasaan Allah SWT dalam membangkitkan kembali makhluk yang telah mati, sekaligus pelajaran tentang kebangkitan setelah kematian (al-ba'ts).
Ringkasan Kisah menurut Ibnu Katsir
1. Latar Belakang dan Kehancuran Yerusalem
Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa Uzair adalah salah seorang ulama dan penghafal Taurat terkemuka dari kalangan Bani Israil. Ketika raja Babylon, Nebukadnezar, menghancurkan Yerusalem (Baitul Maqdis), membakar Kitab Taurat, dan membunuh atau menawan mayoritas kaum Yahudi, Uzair termasuk di antara sedikit orang yang selamat dan hafal isi Taurat.
2. Melewati Kota yang Hancur
Suatu hari, Uzair berjalan menunggangi keledainya sambil membawa bekal berupa sekantung buah tin, perasan anggur, dan sedikit roti. Ia melintasi reruntuhan Kota Yerusalem yang telah hancur lebur dan berantakan tanpa penghuni.
Melihat pemandangan yang begitu memprihatinkan, timbul rasa heran dan kagum di dalam dirinya atas keagungan Allah, lalu ia bergumam:
"Bagaimana Allah dapat menghidupkan kembali kota ini setelah hancurnya?"
Ibnu Katsir menegaskan bahwa pertanyaan Uzair ini bukanlah bentuk keraguan terhadap kekuasaan Allah, melainkan rasa takjub (ta'ajjub) dan kerinduan untuk menyaksikan bagaimana proses kebangkitan itu terjadi secara nyata.
3. Diwafatkan Selama 100 Tahun
Mendengar gumaman tersebut, Allah SWT mencabut nyawa Uzair di tempat itu juga. Ia ditidurkan dalam keadaan mati selama 100 tahun.
Selama rentang waktu seratus tahun tersebut, keadaan dunia berubah:
- Allah membangkitkan kembali kawasan Baitul Maqdis.
- Pemimpin baru muncul dan Bani Israil mulai kembali membangun pemukiman mereka.
Setelah 100 tahun berlalu, Allah membangkitkan kembali Uzair. Malaikat kemudian bertanya kepadanya:
Malaikat: "Berapa lama engkau tinggal di sini?"
Uzair: "Aku telah tinggal sehari atau setengah hari." (karena ia diwafatkan di pagi/siang hari dan dibangkitkan menjelang sore).
Malaikat: "Tidak, engkau telah tinggal selama seratus tahun!"
4. Tanda-Tanda Kekuasaan Allah
Untuk membuktikan hal tersebut, Allah memerintahkan Uzair memperhatikan dua hal:
- Bekal Makanan: Makanan (buah tin/roti) dan minuman (perasan anggur) milik Uzair sama sekali tidak membusuk atau berubah rasa, padahal sudah berlalu 100 tahun.
- Keledainya: Keledai tunggangannya telah mati total dan tulang-belulangnya telah hancur berserakan.
Allah kemudian memperlihatkan proses pembentukan kembali keledai tersebut secara langsung di depan mata Uzair. Tulang-belulang keledai itu bersatu kembali, dibalut dengan daging, urat, dan kulit, hingga ruh ditiupkan kembali dan keledai itu berdiri serta meringkik.
Melihat keajaiban itu, Uzair berseru:
"Aku tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu!"
Kembalinya Uzair ke Kaumnya
Setelah dibangkitkan, Uzair kembali ke kampung halamannya di Baitul Maqdis. Namun, tidak ada seorang pun yang mengenalnya karena satu generasi telah berganti.
- Ia mendatangi rumahnya sendiri dan bertemu dengan seorang wanita tua yang buta dan lumpuh. Wanita itu adalah mantan pelayannya yang dulu ditinggalkan saat berusia sekitar 20 tahun, dan kini telah berusia 120 tahun.
- Uzair berkata, "Aku adalah Uzair." Wanita itu terkejut dan berkata bahwa Uzair telah hilang seratus tahun lalu. Untuk membuktikannya, wanita itu meminta Uzair mendoakannya agar sembuh, karena Uzair dikenal sebagai orang yang doanya selalu dikabulkan.
- Uzair mendoakannya, dan dengan izin Allah, mata wanita itu dapat melihat kembali dan kakinya sembuh. Setelah melihat wajah Uzair, wanita itu mengenalinya dan berseru kepada Bani Israil bahwa Uzair telah kembali.
Pembuktian Lewat Hafalan Taurat
Sebagian tokoh Bani Israil masih ragu. Seorang tua dari mereka berkata:
"Taurat telah hilang saat pembantaian Nebukadnezar. Jika engkau benar Uzair, tuliskan kembali Taurat untuk kami dari hafalanmu."
Uzair kemudian duduk di bawah naungan pohon dan membacakan seluruh isi Kitab Taurat secara mendalam tanpa ada satu huruf pun yang terlewat. Melihat hal tersebut, Bani Israil sangat takjub.
Penyimpangan Kaum Yahudi (Konteks Surah At-Taubah: 30)
Ibnu Katsir menutup pembahasan ini dengan mengaitkannya pada Surah At-Taubah ayat 30:
{وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ}
"Orang-orang Yahudi berkata: 'Uzair itu putra Allah'."
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa karena keajaiban yang terjadi pada diri Uzair dikembalikan hidup setelah 100 tahun dan kemampuannya menghafal kembali Kitab Taurat yang telah lenyap sebagian kelompok dari kalangan Bani Israil yang berlebihan (ghuluw) jatuh ke dalam kesesatan dengan menganggap Uzair sebagai "Anak Allah".
Pelajaran Utama menurut Ibnu Katsir
- Bukti Nyata Kebangkitan (Hari Akhir): Peristiwa Uzair menjadi ikhtibar (bukti konkrit) bahwa mengembalikan jasad yang telah hancur menjadi hidup kembali adalah hal yang sangat mudah bagi Allah.
- Mukjizat Makanan dan Hewan: Terjadinya dua kondisi bertolak belakang dalam satu waktu makanan tidak membusuk selama 100 tahun (melawan hukum alam), sementara keledai hancur menjadi tulang-belulang menunjukkan kontrol mutlak Allah atas waktu dan materi.
- Pentingnya Menjaga Ilmu: Uzair dimuliakan karena ilmunya dan perannya dalam menyelamatkan syariat/Taurat bagi kaumnya.