info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Pekan ASI Sedunia: Sejarah dan Manfaat
Pekan ASI Sedunia: Sejarah dan Manfaat
Pekan ASI Sedunia: Sejarah dan Manfaat

Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week / WBW) adalah gerakan global yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 1 hingga 7 Agustus. Peringatan ini bukan sekadar perayaan rutin, melainkan momentum edukasi universal untuk menegaskan kembali pentingnya Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif bagi kelangsungan hidup, kesehatan, dan masa depan generasi penerus.

1. Sejarah dan Asal Usul

Gagasan mengenai Pekan ASI Sedunia berakar dari meningkatnya kesadaran global pada akhir abad ke-20 mengenai penurunan angka pemberian ASI dan dampaknya terhadap angka kematian bayi, khususnya di negara-negara berkembang.

  • Deklarasi Innocenti (1990): Pada bulan Agustus 1990, para pembuat kebijakan dari WHO (World Health Organization) dan UNICEF berkumpul di Florence, Italia, dan menghasilkan Deklarasi Innocenti. Deklarasi ini menyerahkan komitmen penuh dari seluruh negara untuk melindungi, mempromosikan, dan mendukung pemberian ASI.
  • Pembentukan WABA (1991): Sebagai tindak lanjut, pada tahun 1991 dibentuklah World Alliance for Breastfeeding Action (WABA), sebuah jaringan global yang menghubungkan organisasi non-pemerintah dan aktivis kesehatan ibu dan anak.
  • Perayaan Pertama (1992): WABA merintis peringatan Pekan ASI Sedunia yang pertama pada tahun 1992. Sejak saat itu, kampanye ini diselenggarakan setiap tahun di lebih dari 120 negara dengan mengusung tema-tema strategis yang relevan dengan tantangan zaman.

2. Perspektif Kesehatan Jasmani Bayi dan Anak

Dari kacamata medis dan imunologis, ASI adalah nutrisi sempurna yang dirancang secara biologis oleh alam (gold standard).

  • Imunitas Alami (Kolostrum): ASI pertama yang keluar (kolostrum) kaya akan imunoglobulin (khususnya IgA) dan zat anti-infeksi. Ini bertindak sebagai "vaksin alami pertama" yang melapisi dinding usus bayi dari bahaya kuman, bakteri, dan virus.
  • Pencegahan Stunting & Malnutrisi: ASI menyediakan komposisi gizi yang seimbang (protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral) yang mudah diserap oleh pencernaan bayi yang belum matang. Hal ini memainkan peran vital dalam mencegah tengkes (stunting) serta obesitas anak di masa depan.
  • Perkembangan Otak (Kognitif): ASI mengandung asam lemak esensial seperti DHA dan AA yang sangat dibutuhkan untuk pembentukan sel-sel saraf dan perkembangan daya pikir anak.

3. Perspektif Pertumbuhan Rohani dan Mental

Pemberian ASI tidak hanya urusan transfer nutrisi fisik, melainkan sebuah proses psikologis mendalam yang membentuk fondasi mental dan karakter anak.

  • Ikatan Emosional (Bonding): Kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) saat menyusui menstimulasi pelepasan hormon oksitosin (hormon kasih sayang) pada ibu dan bayi. Bayi merasa aman, terlindungi, dan dicintai.
  • Keamanan Psikologis (Basic Trust): Pengalaman menyusui yang penuh ketenangan membentuk rasa percaya dasar (basic trust) pada diri bayi terhadap lingkungannya. Anak yang tumbuh dengan rasa aman emosional cenderung memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kepribadian yang tangguh di masa dewasa.
  • Nilai Kemanusiaan dan Pengorbanan: Menyusui adalah manifestasi nyata dari nilai kepedulian, pengorbanan, dan kasih sayang tanpa syarat (unconditional love). Ini menjadi peletak dasar nilai-nilai kebaikan dan kehalusan budi dalam jiwa anak.

4. Demi Masa Depan Penuh Harapan dan Cita-Cita Mulia

Membangun bangsa yang kuat dan bermartabat dimulai dari memenuhi hak dasar setiap anak di awal kepak sayap kehidupannya.

DimensiDampak Jangka Panjang
Generasi UnggulAnak yang sehat secara jasmani dan matang secara rohani akan tumbuh menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing tinggi dan berakhlak mulia.
Pertahanan Kesehatan PublikMenurunkan beban penyakit infeksi, menekan angka kematian anak, serta menghemat anggaran kesehatan nasional.
Ketahanan Sosial-EkonomiMenyusui membantu ketahanan pangan keluarga dan mengurangi ketergantungan pada produk olahan impor yang berbiaya tinggi.

Catatan Penting: Dukungan terhadap keberhasilan ASI bukan hanya tanggung jawab seorang ibu. Ayah, keluarga besar, masyarakat, tempat kerja, serta kebijakan pemerintah memainkan peran kunci untuk menciptakan lingkungan yang ramah menyusui (breastfeeding-friendly environment).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *