
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam kitab Al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa karya Imam Ibnu al-Jauzi, dijelaskan kisah Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib (kakek moyang Nabi Muhammad SAW ke-8) yang menyampaikan kabar kenabian jauh sebelum Nabi lahir.
Berikut rincian dan poin utama penjelasannya berdasarkan riwayat dalam kitab tersebut :
1. Kebiasaan Mengumpulkan Kaum pada Hari ‘Arubah (Jumat)
Ka’ab bin Lu’ay adalah tokoh pemimpin Quraisy yang dihormati dan memegang ajaran tauhid (hanif). Pada masa jahiliah, orang Arab menyebut hari Jumat sebagai hari ‘Arubah. Setiap hari tersebut, Ka’ab mengumpulkan kaumnya untuk memberikan nasihat dan arahan.
2. Isi Khotbah dan Renungan Alam
Dalam riwayat yang disampaikan melalui jalur sahabat seperti Abdurrahman bin Auf, Ka’ab memulai seruannya dengan mengajak kaumnya merenungkan keagungan penciptaan alam semesta:
- Bergantinya malam dan siang.
- Bumi yang terbentang dan langit yang dibangun tinggi.
- Gunung-gunung serta keteraturan alam yang menandakan adanya Sang Pencipta.
3. Kabar tentang Diutusnya Nabi Akhir Zaman
Dari pengetahuannya yang ia dapatkan dari kitab-kitab dan penjelasan para Ahli Kitab (Taurat/Injil), Ka’ab bin Lu’ay menegaskan:
- Akan diutus seorang Nabi mulia di akhir zaman.
- Nabi tersebut membawa kebenaran dan merupakan petunjuk bagi umat manusia.
- Ka’ab mengisyaratkan bahwa Nabi tersebut kelak akan muncul dari garis keturunannya sendiri.
4. Wasiat dan Perintah untuk Beriman
Ka’ab tidak hanya mengabarkan, tetapi juga meninggalkan wasiat tegas kepada kaum Quraisy:
"Sekiranya aku mendapati masa kenabiannya, niscaya aku akan mengikutinya dan menolongnya dengan sekuat tenaga."
Ia memerintahkan anak cucunya dan suku Quraisy untuk mempercayai, membenarkan, serta melindungi Nabi tersebut apabila beliau telah diutus.
Makna dan Kedudukan Riwayat dalam Kitab Al-Wafa
Imam Ibnu al-Jauzi memasukkan riwayat ini ke dalam bab Basyair an-Nubuwwah (kabar gembira/tanda-tanda sebelum kenabian). Hal ini menunjukkan bahwa berita kedatangan Nabi Muhammad SAW sudah tersebar di kalangan orang-orang yang berpikiran lurus (hunafa) serta disampaikan dalam kitab-kitab terdahulu jauh sebelum beliau dilahirkan.
Dalam kitab Al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa karya Imam Ibnu al-Jauzi, kisah mimpi Rabi’ah bin Nashr al-Lakhmi (salah satu raja Yaman dari dinasti Tubba’/Lakhmid) menjadi salah satu bukti tanda-tanda kenabian (Irhasat dan Basyair) sebelum kelahiran Rasulullah SAW
1. Peristiwa Mimpi dan Kerahasiaannya
Rabi’ah bin Nashr mengalami sebuah mimpi yang sangat menakutkan dan membuatnya sangat gelisah. Namun, karena rasa cemas dan ingin menguji kebenaran para peramal/dukun pada masa itu, ia merahasiakan isi mimpinya dan tidak mau menceritakannya kepada siapa pun.
Ia mengumpulkan seluruh peramal, dukun, dan ahli nujum di wilayah Kerajaan Yaman, lalu menantang mereka:
"Barang siapa yang dapat memprediksi dan menceritakan isi mimpiku sebelum aku menceritakannya, maka dialah yang sanggup menafsirkan maknanya dengan benar."
2. Jawaban Para Peramal
Mayoritas dukun dan peramal mengaku tidak sanggup menebak mimpi yang dirahasiakan tersebut. Namun, mereka menyarankan raja untuk menemui dua peramal legendaris dan paling bijak pada zaman itu, yaitu Sathiq (atau Sathih) dan Dzi'ab bin Hujr (sering disebut Shiqq).
3. Penjelasan Sathih dan Shiqq tentang Isi Mimpi
Ketika dipanggil secara terpisah, baik Sathih maupun Shiqq berhasil menebak isi mimpi raja dengan tepat tanpa diberitahu terlebih dahulu:
- Isi Mimpi: Raja melihat gumpalan api/bara api (jamrah) yang keluar dari kegelapan, jatuh di bumi Tihamah (wilayah pesisir/Jazirah Arab), lalu memakan/melahap segala sesuatu yang memiliki tengkorak/kepala di sana.
4. Takwil dan Isyarat Kedatangan Rasulullah SAW
Setelah menebak isi mimpi tersebut, Sathih dan Shiqq memberikan penafsiran (takwil) yang bernilai sejarah tinggi mengenai masa depan Jazirah Arab:
- Penguasaan Bangsa Habasyah (Etiopia): Api tersebut menandakan kedatangan pasukan dari Habasyah yang akan menguasai dan menaklukkan tanah Yaman selama puluhan tahun.
- Kehadiran Rasulullah SAW: Penjajahan Bangsa Habasyah tidak berlangsung selamanya. Masa kekuasaan mereka akan dihancurkan, dan dari tanah Arab (khususnya keturunan Quraisy/Makkah) akan lahir seorang Nabi dan Rasul pilihan.
- Sifat Kenabian: Nabi tersebut membawa wahyu dan kebenaran, memutus tradisi kemesyrikan, serta menyebarkan ajaran yang berlaku hingga akhir zaman.
Makna Riwayat dalam Kitab Al-Wafa
Imam Ibnu al-Jauzi mencantumkan riwayat mimpi Rabi’ah bin Nashr ini untuk menegaskan bahwa:
- Berita dan kenabian Nabi Muhammad SAW telah diisyaratkan melalui takdir, firasat, dan kabar para ahli kitab/tokoh masa lalu (basyair).
- Peristiwa ini menjadi latar belakang sejarah penting yang mendorong migrasi atau perubahan peta politik di Arab Selatan sebelum fajar Islam terbit.