info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Nasab Nabi Muhammad SAW: Tiga Tingkatan
Nasab Nabi Muhammad SAW: Tiga Tingkatan
Nasab Nabi Muhammad SAW: Tiga Tingkatan

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Dalam kitab Al-Wafā bi Aḥwāl al-Muṣṭafā karya Imam Ibnul Jauzi (Ibn al-Jawzi), penjelasan mengenai silsilah dan nasab Nabi Muhammad SAW disandarkan pada riwayat para sahabat, tabi'in, serta kesepakatan para ahli nasab (ash-hab al-ansab).

Para ulama dan ahli sejarah membagi silsilah nasab Rasulullah SAW ke dalam tiga tingkatan (klasifikasi):

1. Tingkat Pertama: Disepakati Sepenuhnya (Muttafaq 'Alaih)

Bagian nasab dari Nabi Muhammad SAW hingga Adnan merupakan silsilah yang shahih dan disepakati oleh seluruh ulama, ahli sejarah, dan ahli nasab tanpa ada perbedaan pendapat:

  • Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul Muththalib (Syaibah) bin Hasyim ('Amr) bin 'Abdu Manaf (al-Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (dikenal sebagai Quraisy) bin Malik bin an-Nadhar (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah ('Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.

2. Tingkat Kedua: Diperselisihkan Perinciannya

Bagian nasab dari Adnan hingga Nabi Ismail a.s. (dan Nabi Ibrahim a.s.):

  • Kesepakatan: Para ahli nasab sepakat bahwa Adnan adalah keturunan langsung dari Nabi Ismail a.s. bin Nabi Ibrahim a.s., sehingga bangsa Arab dari jalur ini disebut Arab Adnaniyah atau al-Arab al-Musta'rabah.
  • Perbedaan Pendapat (Khilaf): Terjadi perbedaan mengenai jumlah nama dan perantara kakek antara Adnan hingga Ismail a.s. Sebagian riwayat menyebutkan ada 7, 9, 10, hingga 40 generasi.
  • Karena tidak adanya jalur periwayatan yang bersambung secara shahih untuk perincian nama-nama di atas Adnan, mayoritas ulama (termasuk riwayat dari Ibnu Abbas r.a.) menganjurkan untuk tidak berspekulasi dan memilih berdiam diri (imsaak) pada tingkatan ini.

3. Tingkat Ketiga: Bersumber dari Catatan Kuno dan Ahli Kitab

Bagian nasab dari Nabi Ibrahim a.s. hingga Nabi Adam a.s.:

  • Silsilah pada tingkatan ini banyak dirujuk dari tradisi sejarah kuno, mushaf Taurat, dan riwayat Ahli Kitab (Israiliyat).
  • Urutan ringkasnya: Ibrahim a.s. bin Tarih (Azar) bin Nahur bin Sarugh bin Ra'u bin Falikh bin 'Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh a.s. bin Lamik bin Mutawasylikh bin Akhnukh (Nabi Idris a.s.) bin Yarid bin Mahla'il bin Qainan bin Anusy bin Syits a.s. bin Adam a.s.

Keutamaan dan Kesucian Nasab

Ibnul Jauzi menuturkan berbagai hadits shahih yang menegaskan bahwa Allah SWT memilih jalur nasab terbaik dan paling mulia di setiap generasinya:

  • Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim." (HR. Muslim).
  • Nasab beliau terpelihara dari pernikahan yang sah dan bersih dari tradisi jahiliyah sejak zaman Nabi Adam a.s. hingga kedua orang tua beliau, 'Abdullah dan Aminah.

Dalam kitab Al-Wafā bi Aḥwāl al-Muṣṭafā, Imam Ibnul Jauzi menyusun bab khusus mengenai kesucian (thaharah) dan kemuliaan (syaraf) leluhur Rasulullah SAW. Beliau menegaskan bahwa seluruh nenek moyang Nabi Muhammad SAW terpelihara dari perbuatan perzinahan Jahiliyah dan senantiasa dilahirkan melalui pernikahan yang sah.

According to Islamic prophetic tradition, Muhammad was descended from Adnan. Tradition records the genealogy from Adnan to Muhammad comprises 21 generations. Various genealogies of Adnan up to Isma'il have been narrated and is subject to controversies and doubt. Adnan was the ancestor of the Adnani Arabs of northern, central and western Arabia and a direct descendant of Isma'il. It is not confirmed how many generations are between them, however Adnan was fairly close to Isma'il. Isma'il had twelve sons who are said to have become twelve tribal chiefs throughout the regions from Havilah to Shur (from Assyria to the border of Egypt). Genealogists differ from which son of Isma'il the main line of descent came, either through his eldest son Nabut, or his second son Qedar who was the father of the North Arabian Qedarite tribe that controlled the region between the Persian Gulf and the Sinai Peninsula. Genealogists also differ in the names on the line of descent. (Photo by: Pictures From History/Universal Images Group via Getty Images)

Hadits-Hadits Terkait dan Para Perawinya dalam Al-Wafa

1. Terpelihara dari Perzinahan Jahiliyah

  • Hadits: Rasulullah SAW bersabda, "Aku dilahirkan dari pernikahan yang sah, bukan dari perzinahan, sejak dari Adam hingga aku dilahirkan oleh kedua orang tuaku. Tidak ada sedikit pun dari noda perzinahan Jahiliyah yang menyentuhku."
  • Perawi/Jalur Sanad: Riwayat ini ditakhrij melalui sanad Ibnu Abbas r.a. dan Sayyidah 'Aisyah r.a., disandarkan oleh Ibnu Asakir serta diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah.

2. Terpilih dari Jalur Keturunan Terbaik

  • Hadits: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim."
  • Perawi/Jalur Sanad: Diriwayatkan dari sahabat Watsilah bin Al-Asqa' r.a. (HR. Muslim dan At-Tirmidzi). Ibnul Jauzi menempatkan hadits ini sebagai fondasi utama bukti bahwa Rasulullah SAW berasal dari garis keturunan paling elite di kalangan bangsa Arab.

3. Berasal dari Generasi Terbaik Sepanjang Masa

  • Hadits: Rasulullah SAW bersabda, "Aku diutus dari generasi terbaik anak cucu Adam, masa demi masa, hingga aku berada di generasi tempat aku dilahirkan sekarang."
  • Perawi/Jalur Sanad: Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. (HR. Al-Bukhari).

4. Cahaya Kerasulan (Nur An-Nubuwwah) yang Dipindahkan

  • Hadits: Dalam riwayat lain mengenai pemindahan cahaya kenabian, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Aku senantiasa berpindah dari tulang sulbi laki-laki yang suci ke rahim wanita yang suci."
  • Perawi/Jalur Sanad: Diriwayatkan dari jalur Ibnu Abbas r.a. dan Anas bin Malik r.a.

Sisi Kemuliaan dan Kesucian Nenek Moyang Beliau

  • Kesucian Moral (Thaharah): Tidak ada satu pun kakek atau nenek beliau dari jalur ayah maupun ibu yang lahir atau melakukan hubungan di luar pernikahan (sifah).
  • Kemulian Sosial (Syaraf): Tokoh-tokoh dalam silsilah beliau, seperti Qushay bin Kilab (pemegang kunci Ka'bah dan penyatu Quraisy), Hasyim (pemberi makan jamaah haji), dan 'Abdul Muththalib (pemilik wibawa besar yang menggali kembali sumur Zamzam), adalah para pemimpin (sayyid) yang dihormati di Jazirah Arab.

Dalam kitab Al-Wafā bi Aḥwāl al-Muṣṭafā, Imam Ibnul Jauzi memberikan porsi pembahasan khusus mengenai sosok 'Abdul Muththalib (kakek Rasulullah SAW). Beliau dilukiskan sebagai tokoh sentral Makkah yang karismatik, memiliki keteguhan iman pada ajaran keturunan Nabi Ibrahim a.s., serta memegang peranan sejarah penting menjelang kelahiran Rasulullah SAW.

1. Biografi dan Asal-usul Nama

  • Nama Asli: Syaibah al-Hamd (شيبة الحمد), yang berarti "pemuda beruban yang senantiasa dipuji". Ibnu Jauzi mencatat bahwa ia diberi nama tersebut karena saat lahir sudah terdapat helai rambut putih (uban) di kepalanya dan diharapkan menjadi sosok yang terpuji.
  • Orang Tua: Putra dari Hasyim bin 'Abdu Manaf dan Salma binti 'Amr (wanita terpandang dari suku Khazraj di Yatsrib/Madina).
  • Asal-usul Gelar 'Abdul Muththalib: Setelah Hasyim wafat di Gaza, Syaibah kecil dibesarkan oleh ibunya di Yatsrib. Paman Syaibah, yaitu Al-Muththalib bin 'Abdu Manaf, kemudian menjemputnya ke Makkah. Ketika Al-Muththalib membonceng Syaibah memasuki Makkah dengan pakaian lusuh perjalanan, orang-orang Quraisy mengira ia adalah budak ('abd) baru milik Al-Muththalib. Walaupun Al-Muththalib telah menjelaskan bahwa anak itu adalah keponakannya, sebutan 'Abdul Muththalib akhirnya melekat padanya.

2. Peranan dan Peristiwa Penting dalam Kitab Al-Wafa

A. Penggalian Kembali Sumur Zamzam (Hafr Zamzam)

Salah satu pencapaian terbesar 'Abdul Muththalib yang dirinci Ibnul Jauzi adalah penemuan kembali lokasi sumur Zamzam yang sempat tertimbun dan hilang selama berabad-abad sejak era Suku Jurhum.

  • Isyarat Mimpi: 'Abdul Muththalib bermimpi didatangi sosok yang memerintahkannya: "Galilah Thibah, galilah Barrah, galilah Al-Madhnunah, galilah Zamzam!"
  • Penggalian dan Nadzar: Bersama putra tunggalnya saat itu (Al-Harits), beliau berhasil menggali lokasi yang diisyaratkan di dekat dua patung (Isaf dan Na'ilah). Ketika air Zamzam terpancar kembali, suku Quraisy menuntut hak kepemilikan. 'Abdul Muththalib bertahan bahwa itu adalah karunia khusus untuknya.
  • Atas peristiwa perselisihan tersebut, beliau bernadzar: jika diberi 10 anak laki-laki yang dewasa dan mampu melindunginya, beliau akan menyembelih salah satunya di sisi Ka'bah sebagai kurban untuk Allah.

B. Peristiwa Pengorbanan Abdullah (Ayah Rasulullah SAW)

Setelah dikaruniai 10 putra, 'Abdul Muththalib hendak menepati nadzarnya melalui undian. Undian tersebut jatuh pada putra kesayangannya, 'Abdullah.

  • Atas desakan para pembesar Quraisy yang menghalangi penyembelihan manusia, beliau berkonsultasi dengan seorang wanita bijak (kahinah).
  • Solusi yang didapat adalah mengundi antara 'Abdullah dan 10 ekor unta. Setiap kali nama 'Abdullah keluar, jumlah unta ditambah 10 ekor. Undian baru berhenti pada hitungan 100 ekor unta, yang kemudian disembelih sebagai penebus (fidyah) nyawa 'Abdullah. Dari peristiwa inilah Rasulullah SAW kelak dikenal sebagai "An-Nabi ibn adz-Dzabihaen" (Nabi putra dari dua orang yang disembelih: Nabi Ismail a.s. dan 'Abdullah).

C. Menghadapi Pasukan Gajah Abrahah

Ibnul Jauzi menggambarkan keteguhan dan wibawa 'Abdul Muththalib saat Gubernur Yaman, Abrahah, datang membawa pasukan gajah untuk merubuhkan Ka'bah.

  • Wibawa di Hadapan Abrahah: Ketika 'Abdul Muththalib menemui Abrahah untuk meminta kembali 200 ekor untanya yang dirampas, Abrahah terkesan dengan ketampanan dan wibawanya, namun heran mengapa beliau tidak memohon keselamatan untuk Ka'bah.
  • Ungkapan Bersejarah: 'Abdul Muththalib menjawab ungkapan terkenal:"Aku adalah pemilik unta-unta itu, sedangkan Baitullah (Ka'bah) ini memiliki Pemiliknya sendiri yang akan melindunginya."
  • Beliau kemudian memimpin penduduk Makkah mengungsi ke bukit-bukit dan berdoa memegang pintu Ka'bah hingga Allah menghancurkan pasukan Abrahah dengan burung Ababil.

D. Pengasuh Pertama Rasulullah SAW

Setelah 'Abdullah meninggal dunia sebelum Nabi lahir, dan Aminah (ibunda Nabi) wafat saat Nabi berusia 6 tahun, 'Abdul Muththalib mengambil alih pengasuhan cucunya dengan kasih sayang yang amat besar.

  • Beliau mendudukkan Nabi Muhammad kecil di atas karpet khususnya di samping Ka'bah—tempat yang tidak boleh diduduki oleh siapapun, termasuk putra-putranya sendiri.
  • Beliau senantiasa mengamati cucunya dan berkata kepada paman-paman Nabi: "Biarkan dia, demi Allah, dia memiliki kedudukan yang sangat agung di masa depan."
  • 'Abdul Muththalib mengasuh Nabi Muhammad SAW hingga beliau wafat saat Rasulullah SAW berusia sekitar 8 tahun, lalu mengamanahkan pengasuhannya kepada Abu Thalib.

3. Karakter dan Ajaran Tauhid Kakek Nabi

Dalam Al-Wafā, Ibnul Jauzi menegaskan bahwa 'Abdul Muththalib memegang tradisi lurus (Al-Hanifiyyah) peninggalan Nabi Ibrahim a.s. Beliau menerapkan beberapa hukum moral yang kemudian dibenarkan oleh Syariat Islam, di antaranya:

  1. Mengharami pernikahan antara mahram.
  2. Melarang tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup.
  3. Mengharamkan khamar (minuman keras) bagi dirinya.
  4. Menetapkan hukuman potong tangan bagi pencuri.
  5. Menetapkan bagian penjelas dalam denda pembunuhan (diyat) sebanyak 100 ekor unta.

Dalam kitab Al-Wafā bi Aḥwāl al-Muṣṭafā karya Imam Ibnul Jauzi, kisah penyerangan Abrahah dan Pasukan Gajah (Ash-hāb al-Fīl) dirincikan sebagai peristiwa besar (I'jaz) yang menjadi pendahulu (irhashat) serta tanda kemuliaan menjelang kelahiran Rasulullah SAW.

Berikut alur kronologis dan poin-poin penting kisah penyerangan tersebut sebagaimana dituturkan dalam riwayat kitab Al-Wafa:

1. Latar Belakang dan Latar Pemicu

  • Pembangunan Gereja Al-Qullais: Abrahah al-Asyram, penguasa Yaman (wakil Kerajaan Aksum/Habasyah), membangun sebuah gereja yang sangat megah di Shana'a yang dinamai Al-Qullais. Tujuannya adalah untuk memalingkan orang-orang Arab agar tidak lagi melakukan ibadah haji ke Ka'bah di Makkah, melainkan beralih ke gereja tersebut.
  • Pemicu Amarah Abrahah: Seorang lelaki dari bangsa Arab (Suku Kinanah) yang mendengar niat Abrahah merasa tersinggung. Ia mendatangi gereja Al-Qullais pada malam hari dan mengotorinya. Mengetahui hal tersebut, Abrahah bersumpah akan mendatangi Makkah untuk meruntuhkan Ka'bah batu demi batu.

2. Keberangkatan Pasukan Gajah dan Perjalanan ke Makkah

  • Abrahah menyiapkan pasukan besar yang dilengkapi dengan gajah-gajah perang (salah satu gajah utamanya yang berukuran paling besar bernama Mahmud).
  • Dalam perjalanan menuju Makkah, beberapa suku Arab mencoba menghadang dan berperang menolak kedatangan Abrahah (seperti pasukan yang dipimpin Dzu Nafar dan Nufail bin Habib al-Khats'ami), namun semuanya berhasil dikalahkan oleh pasukan Abrahah yang sangat kuat.
  • Ketika tiba di wilayah Ath-Tha'if, suku Thaqif menyerah dan mengirimkan utusan bernama Abu Righal untuk menunjukkan jalan menuju Makkah.

3. Peran 'Abdul Muththalib dan Pembicaraan dengan Abrahah

Ketika pasukan Abrahah sampai di Al-Mughammas (kawasan dekat Makkah), Abrahah mengutus pasukannya untuk merampas harta benda dan hewan ternak penduduk. Salah satu yang dirampas adalah 200 ekor unta milik 'Abdul Muththalib.

Ibnul Jauzi meriwayatkan dialog legendaris antara 'Abdul Muththalib dan Abrahah ketika beliau mendatangi perkemahan pasukan Yaman:

  1. Wibawa 'Abdul Muththalib: Abrahah sangat terkesan dan kagum melihat perawakan, ketampanan, serta wibawa kepemimpinan 'Abdul Muththalib. Abrahah bahkan turun dari takhtanya dan duduk bersama 'Abdul Muththalib di atas permadani.
  2. Permintaan Unta: Melalui penerjemahnya, Abrahah bertanya tentang maksud kedatangan 'Abdul Muththalib. 'Abdul Muththalib menjawab bahwa beliau minta agar 200 ekor untanya yang dirampas dikembalikan.
  3. Kekecewaan dan Jawaban Karismatik Abrahah:Abrahah berkata (sebagaimana dirinci dalam Al-Wafa):"Awalnya aku sangat mengagumimu ketika melihatmu, namun kekagumanku sirna setelah engkau berbicara. Apakah engkau hanya memikirkan 200 ekor untamu dan sama sekali tidak membicarakan Rumah Suci (Ka'bah) yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu, padahal aku datang untuk meruntuhkannya?"'Abdul Muththalib menjawab dengan tenang dan penuh keyakinan tauhid:أَنَا رَبُّ الإِبِلِ ، وَلِلْبَيْتِ رَبٌّ سَيَحْمِيهِ"Aku adalah pemilik unta-unta itu, sedangkan Baitullah ini memiliki Pemiliknya sendiri yang akan melindunginya."

Abrahah lalu mengembalikan unta-unta tersebut. 'Abdul Muththalib kembali ke Makkah dan memerintahkan seluruh penduduk untuk mengungsi ke bukit-bukit dan lembah guna menghindari korban dari kekejaman pasukan Abrahah.

4. Doa 'Abdul Muththalib di Sisi Ka'bah

Sebelum meninggalkan kota, 'Abdul Muththalib bersama beberapa pembesar Quraisy memegang lingkar pintu Ka'bah dan berdoa memohon perlindungan Allah SWT. Ibnul Jauzi mengutip di antara bait doa yang diucapkan oleh 'Abdul Muththalib:

"Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba saja mampu melindungi binatang ternaknya, maka lindungilah Rumah-Mu. Jangan biarkan salib mereka dan kekuatan mereka mengalahkan kekuatan-Mu..."

5. Pembangkangan Mahmud (Si Gajah) dan Bencana Burung Ababil

Ibnul Jauzi mendeskripsikan detik-detik kehancuran pasukan Abrahah secara terperinci:

  1. Gajah yang Mogok Dituntun: Ketika pasukan disiapkan untuk memasuki kota Makkah, gajah utama (Mahmud) dipukul dan dipaksa bergerak ke arah Makkah. Namun, Mahmud mendadak berderum (duduk) dan menolak keras melangkah ke arah Ka'bah. Apabila badannya diarahkan kembali ke Yaman, Syam, atau timur, gajah itu langsung bangkit dan berlari. Namun saat diarahkan kembali ke Ka'bah, ia kembali terduduk diam.
  2. Kedatangan Burung Ababil: Di tengah kebingungan pasukan, Allah mengirimkan kawanan burung (Thayran Abābīl) dari arah laut yang berwujud mirip burung layang-layang/kelelawar.
  3. Lemparan Batu Sijjail: Setiap ekor burung membawa tiga buah batu kecil yang panas/keras (satu di paruh dan dua di masing-masing cengkraman kakinya) seukuran biji kacang/sawi.
  4. Kehancuran Tragis Pasukan: Batu-batu tersebut menjatuhi para prajurit Abrahah dengan daya tembus yang dahsyat. Daging dan tubuh mereka hancur membusuk secara bertahap hingga binasa seperti "daun-daun yang dimakan ulat" ('asfin ma'kūl).

Abrahah sendiri tertimpa penyakit parah akibat lemparan tersebut. Jarinya tanggal satu per satu dan dadanya terbelah hingga ia tewas mengenaskan setibanya kembali di Shana'a.

Kesimpulan dan Hikmah dalam Kitab Al-Wafa

Dalam analisis kitab Al-Wafa, peristiwa Pasukan Gajah ini terjadi pada Tahun Gajah ('Am al-Fil), yakni tahun yang sama dengan dilahirkannya Rasulullah SAW (mayoritas riwayat menyebutkan peristiwa penyerangan terjadi sekitar 50–55 hari sebelum lahirnya Nabi SAW).

Imam Ibnul Jauzi menegaskan bahwa mukjizat kehancuran Abrahah bukan sekadar pemuliaan bagi suku Quraisy, melainkan persiapan awal (kemuliaan ikhtisas) untuk menyambut kedatangan sang Penutup Para Nabi, Muhammad SAW, yang kelak lahir di kota suci Makkah yang telah disucikan dan dilindungi oleh Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *