info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Mimpi Amr bin Murrah dan Islam
Mimpi Amr bin Murrah dan Islam
Mimpi Amr bin Murrah dan Islam

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Amr bin Murrah al-Juhani (عمرو بن مرة الجهني) adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. dari kabilah Juhainah. Sebelum memeluk Islam, beliau bermimpi mengenai kemunculan Rasulullah saw., yang menjadi petunjuk utama baginya untuk segera bertolak ke Mekkah dan bersyahadat.

Latar Belakang dan Isi Mimpi

Ketika Amr bin Murrah sedang melakukan perjalanan ibadah/perdagangan bersama rombongannya ke Syam (Syiria), beliau bermimpi melihat sebuah cahaya terang yang memancar dari Kakbah di Mekkah hingga menerangi wilayah Syam.

Dalam mimpi tersebut, beliau mendengar suara tanpa rupa (hatif) yang menyeru:

"Kegelapan telah sirna, cahaya telah datang menerangi, dan penutup para nabi telah diutus."

Setelah itu, terdengar suara kedua yang memanggil nama kabilahnya:

"Telah diutus seorang nabi yang jujur dan terpercaya dari keturunan Quraisy."

Tindakan Setelah Bermimpi

  1. Bertolak ke Mekkah: Begitu terbangun, Amr bin Murrah merasa terkesan dan yakin bahwa mimpi tersebut adalah petunjuk ilahi. Beliau langsung menyelesaikannya urusannya dan pergi ke Mekkah.
  2. Bertemu Rasulullah saw.: Di Mekkah, beliau menemui Nabi Muhammad saw. dan menceritakan mimpi yang dialaminya.
  3. Masuk Islam: Nabi saw. membenarkan mimpinya, dan Amr bin Murrah seketika mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dampak dan Peran Amr bin Murrah

Setelah masuk Islam, Amr bin Murrah diutus kembali oleh Rasulullah saw. ke kaumnya (Bani Juhainah) untuk berdakwah. Berkat seruan dan kisah yang dibawanya, mayoritas anggotanya menerima ajaran Islam tanpa perlawanan. Beliau juga menyusun sebuah bait syair terkenal yang mengabadikan peristiwa mimpinya dan keputusannya mengikuti risalah kenabian Muhammad saw.

Dalam kitab Al-Wafa bi-Ahwal al-Mustafa karya Imam Ibnul Jauzi (Ibn al-Jawzi), kisah pernikahan Abdul Muthalib dan putranya, Abdullah, dengan wanita dari Bani Zuhrah dijelaskan melalui riwayat yang memuat latar belakang isyarat kenabian.

1. Latar Belakang dan Isyarat Pendeta/Rahib Yahudi

Ketika Abdul Muthalib melakukan perjalanan ke Yaman bersama rombongannya, beliau bertemu dengan seorang ulama Yahudi yang membaca kitab Zabur. Rahib tersebut meminta izin untuk memeriksa fisik Abdul Muthalib dan melihat tanda pada lubang hidungnya.

Rahib itu lalu berkata:

"Aku menemukan kerajaan pada satu lubang hidungmu dan kenabian pada lubang yang lainnya. Apakah engkau sudah memiliki Sya'ah (istri)?"

Setelah Abdul Muthalib menjawab belum, rahib tersebut memberitahukan bahwa keberkahan kenabian itu berada pada garis keturunan Bani Zuhrah dan menasihatinya untuk segera meminang wanita dari kabilah tersebut ketika kembali ke Mekkah.

2. Pelaksanaan Pernikahan Ganda

Setibanya di Mekkah, Abdul Muthalib menuju ke kediaman pimpinan Bani Zuhrah. Dalam satu kesempatan/majelis yang sama, dilangsungkan dua pernikahan sekaligus:

  • Abdul Muthalib meminang dan menikah dengan Halah binti Wuhayb bin 'Abd Manaf bin Zuhrah.
  • Abdullah bin Abdul Muthalib meminang dan menikah dengan Aminah binti Wahb bin 'Abd Manaf bin Zuhrah.

(Catatan: Wahb dan Wuhayb adalah saudara kandung, sehingga Aminah binti Wahb dan Halah binti Wuhayb merupakan sepupu dekat).

3. Keturunan dari Pernikahan Tersebut

  • Dari pernikahan Abdul Muthalib dan Halah binti Wuhayb, lahirlah Hamzah bin Abdul Muthalib (serta Shafiyah binti Abdul Muthalib).
  • Dari pernikahan Abdullah dan Aminah binti Wahb, lahirlah Nabi Muhammad saw.

Peristiwa ini menjelaskan mengapa Hamzah bin Abdul Muthalib r.a. memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat dekat dengan Rasulullah saw.—yaitu sebagai paman dari jalur ayah, kerabat dekat dari jalur ibu, serta saudara sesusuan (melalui Thuwaybah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *