info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Pernikahan Abdullah dan Aminah
Pernikahan Abdullah dan Aminah
Pernikahan Abdullah dan Aminah

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Pernikahan antara Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam tradisi Islam, karena dari pernikahan inilah lahir Nabi Muhammad SAW.

Latar Belakang dan Garis Keturunan

  • Abdullah bin Abdul Muthalib: Berasal dari kabilah Bani Hasyim, suku Quraisy. Abdullah adalah putra kesayangan Abdul Muthalib, seorang pemimpin terpandang di Mekkah yang mengurus Ka'bah dan penyerahan air Zamzam. Abdullah dikenal memiliki paras yang tampan, akhlak terpuji, dan kedudukan sosial yang tinggi di kalangan pemuda Mekkah.
  • Aminah binti Wahab: Berasal dari kabilah Bani Zuhrah, suku Quraisy. Aminah adalah putri dari Wahab bin Abdu Manaf, seorang pemimpin kabilah Bani Zuhrah. Aminah dikenal sebagai wanita paling mulia dari segi nasab (garis keturunan) dan kedudukan di kalangan suku Quraisy pada masa itu.

Proses Pernikahan

Pernikahan ini berlangsung di Yatsrib (sekarang Madinah) atau di Mekkah berdasarkan tradisi peminangan suku Quraisy. Abdul Muthalib membawa putranya, Abdullah, untuk melamar Aminah kepada wali keluarganya (paman Aminah, Wuhaib bin Abdu Manaf, atau ayahnya Wahab). Setelah kesepakatan dicapai, pernikahan pun dilangsungkan dengan penuh kehormatan sesuai adat istiadat Arab yang mulia saat itu.

Masa Pernikahan dan Peristiwa Setelahnya

  • Kehidupan Singkat: Pasangan ini hidup bersama dalam waktu yang relatif singkat. Tidak lama setelah pernikahan, Abdullah berangkat bersama rombongan dagang menuju Syam (Suriah).
  • Wafatnya Abdullah: Dalam perjalanan pulang dari Syam, Abdullah jatuh sakit di Yatsrib dan meninggal dunia di sana pada usia sekitar 18 hingga 25 tahun. Abdullah dimakamkan di Yatsrib sebelum sempat melihat putranya lahir.
  • Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Ketika Abdullah wafat, Aminah sedang mengandung. Beberapa bulan kemudian, Aminah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad oleh kakeknya, Abdul Muthalib.

Pernikahan antara Abdullah dan Aminah dipandang sebagai penyatuan dua garis keturunan termulia di kalangan Arab Quraisy, yang mempersiapkan jalan bagi lahirnya pembawa risalah Islam.

Masa kehamilan Aminah binti Wahab saat mengandung Nabi Muhammad SAW diwarnai oleh berbagai peristiwa spiritual dan fenomena istimewa yang dicatat dalam literatur sirah nabawiyah.

Peristiwa dan Keistimewaan Masa Kehamilan

  • Kehamilan yang Ringan dan Tanpa Rasa Sakit: Berbeda dengan kehamilan pada umumnya, Aminah tidak merasakan berat, lelah, maupun rasa sakit (seperti mual atau letih berlebihan) selama mengandung Nabi Muhammad SAW.
  • Mimpi dan Isyarat Kenabian: Aminah bermimpi didatangi malaikat yang memberitahukannya bahwa ia sedang mengandung pemimpin umat ini. Dalam mimpi tersebut, ia diperintahkan untuk menamainya "Muhammad" dan memohon perlindungan kepada Allah untuk bayinya dari kejahatan dengki.
  • Cahaya yang Memancar: Dalam beberapa riwayat sirah, Aminah menyaksikan cahaya terang benderang keluar dari dirinya saat mengandung. Cahaya tersebut menyinari istana-istana di wilayah Busra (Syam/Suriah), yang menjadi isyarat bahwa ajaran yang dibawa anaknya kelak akan menerangi bumi bagian timur dan barat.
  • Wafatnya Abdullah bin Abdul Muthalib: Duka mendalam dialami Aminah ketika suaminya, Abdullah, wafat di Yatsrib (Madinah) dalam perjalanan pulang dari berdagang di Syam. Kejadian ini membuat Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan yatim.
  • Peristiwa Pasukan Gajah (Amul Fil): Pada masa akhir kehamilan Aminah, kota Mekkah diserang oleh pasukan gajah dari Yaman yang dipimpin oleh Abrahah dengan tujuan menghancurkan Ka'bah. Peristiwa ini berakhir dengan kehancuran pasukan Abrahah melalui pertolongan Allah (burung Ababil), sehingga tahun kelahiran Nabi dikenal sebagai Tahun Gajah.

Berbagai keistimewaan ini menjadi pembuka (irhashat) atau tanda-tanda kenabian sebelum Nabi Muhammad SAW lahir dan diutus menjadi rasul.

Dalam kitab Al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa karya Imam Ibnul Jawzi, kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW dipaparkan dengan menyatukan riwayat-riwayat sirah dan keutamaan (fadhail) yang penuh keajaiban spiritual (irhashat).

Detik-Detik Kelahiran menurut Kitab Al-Wafa

  • Kehadiran Para Wanita Mulia: Saat detik-detik persalinan, Aminah didampingi oleh beberapa wanita terhormat, di antaranya Syifa binti 'Amr (ibunda Abdurrahman bin Auf) yang bertindak sebagai bidan, serta Fatimah binti 'Abdullah.
  • Proses Lahir yang Bersih dan Bersujud: Ibnul Jawzi meriwayatkan bahwa bayi Muhammad lahir dalam keadaan bersih tanpa noda darah atau kotoran plasenta. Beliau langsung jatuh dalam posisi bersujud ke tanah sambil menengadahkan pandangannya ke arah langit.
  • Terpotong Tali Pusat dan Terkhitan: Beliau lahir sudah dalam keadaan terkhitan dan tali pusatnya telah terpotong secara alami (makhthun maqth'uar-surrah), membuat mereka yang menyaksikannya takjub.
  • Genggaman Tanah: Begitu menyentuh bumi, kedua tangan kecil beliau menggenggam tanah, yang ditakwilkan oleh para ulama sebagai isyarat bahwa beliau kelak akan menguasai dan memimpin bumi.

Fenomena Alam dan Peristiwa Agung Dunia

Ibnul Jawzi mencatat serangkaian kejadian luar biasa di berbagai belahan dunia pada malam kelahiran beliau:

Peristiwa MagisDeskripsi dalam Kitab Al-Wafa
Runtuhnya Istana Kisra14 tiang mahkota Istana Raja Persia (Kisra Anushirwan) runtuh seketika sebagai tanda hancurnya kejayaan kekaisaran tersebut.
Padamnya Api MajusiApi suci di kuil penyembah api Persia yang tidak pernah padam selama lebih dari 1.000 tahun mendadak padam total.
Surutnya Danau SawahDanau Sawah (Sawa) di kawasan Persia yang disembah dan diandalkan airnya mendadak mengering dalam semalam.
Cahaya Terang di SyamCahaya dahsyat memancar dari rumah Aminah hingga menerangi istana-istana di Busra, kawasan Syam.

Kegembiraan Abdul Muthalib

Setelah persalinan selesai, Syifa mengabarkan kelahiran tersebut kepada kakeknya, Abdul Muthalib, yang sedang berada di Ka'bah. Abdul Muthalib segera datang, memangku bayi mulia tersebut dengan penuh sukacita, membawanya masuk ke dalam Ka'bah untuk berdoa dan bersyukur, lalu memberinya nama Muhammad—nama yang belum pernah digunakan oleh bangsa Arab masa itu.

Dalam kitab Al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa karya Imam Ibnul Jawzi, pemeliharaan nama "Muhammad" (محمد) bagi sang bayi mulia dijelaskan secara terperinci.

Alasan Pemilihan Nama oleh Abdul Muthalib

Secara kebahasaan, kata Muhammad berasal dari bentuk ism maf'ul (objek) yang bermakna "orang yang senantiasa dipuji berulang-ulang" (katsirul-hamd). Abdul Muthalib memilih nama ini berdasarkan alasan kuat yang mencakup isyarat spiritual dan doa:

  • Harapan Agar Dipuji di Langit dan Bumi: Saat ditanya mengenai alasannya, Abdul Muthalib menegaskan tujuannya: "Aku menginginkan agar dia dipuji oleh Allah Ta'ala di langit dan dipuji oleh makhluk-Nya di bumi."
  • Ilham dan Isyarat Kenabian: Ibnul Jawzi dan para ulama sirah menjelaskan bahwa Allah membimbing hati Abdul Muthalib (serta Aminah melalui wahyu mimpi/isyarat malaikat) untuk menyematkan nama tersebut. Hal ini bertujuan agar nama beliau selaras dengan kedudukannya sebagai pembawa risalah terpuji yang telah tertulis dalam kitab-kitab terdahulu (seperti Taurat dan Injil).

Tanggapan dan Keheranan Kaum Quraisy

Keputusan Abdul Muthalib menamai cucunya dengan "Muhammad" memicu reaksi ketakjuban sekaligus keheranan dari para pemuka dan pemuda suku Quraisy saat menghadiri acara syukuran (aqiqah).

  • Merasa Asing dengan Nama Tersebut: Nama "Muhammad" merupakan nama yang teramat jarang dan asing di kalangan masyarakat Arab jahiliyah saat itu.
  • Menyimpang dari Adat Kebiasaan: Tradisi masyarakat Quraisy saat itu adalah menamai anak-anak mereka dengan nama leluhur, nama berhala, atau nama yang mencerminkan keteguhan kabilah.
  • Pertanyaan Kaum Quraisy: Mereka pun mendatangi Abdul Muthalib dan bertanya: "Mengapa engkau membenci nama-nama nenek moyangmu dan memilih nama yang tidak pernah digunakan oleh bapak-bapakmu maupun kaummu sebelumnya?"

Hikmah di Balik Penamaan Menurut Ulama

Ibnul Jawzi menggarisbawahi bahwa Allah menjaga nama "Muhammad" agar tidak umum digunakan oleh bangsa Arab sebelum masa kelahiran Nabi. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kesamaran mengenai siapa sosok nabi akhir zaman yang dijanjikan. Nama tersebut menjadi perwujudan dari doa sang kakek dan penetrates keistimewaan sosok Rasulullah SAW sebagai pribadi yang paling dipuji di seluruh penjuru alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *