info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Biografi Tsuwaibah, Ibu Susu Nabi
Biografi Tsuwaibah, Ibu Susu Nabi
Biografi Tsuwaibah, Ibu Susu Nabi

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Tsuwaibah Al-Aslamiyah (ثويبة الأسلمية) adalah wanita pertama selain ibundanya, Aminah binti Wahab, yang menyusui Nabi Muhammad saw. Ia merupakan seorang budak milik Abu Lahab (paman Nabi saw.) yang kemudian dimerdekakan.

Nasab dan Identitas

  • Nama Lengkap: Tsuwaibah Al-Aslamiyah
  • Status: Awalnya merupakan budak sahaya milik Abu Lahab (paman Nabi saw.), yang kelak dimerdekakan.
  • Status Kedudukan: Sebagian ulama mengategorikannya sebagai sahabat wanita (shahabiyah) karena ia sempat hidup hingga masa Islam dan masuk Islam bersama putranya.

Peran dalam Menyusui Nabi saw.

  • Masa Penyusuan: Sebelum dititipkan kepada Halimah As-Sa'diyyah di pedalaman perkampungan Bani Sa'ad, Rasulullah saw. disusui oleh Tsuwaibah selama beberapa hari/minggu bersama anaknya yang bernama Masruh.
  • Saudara Sesusuan Nabi: Selain anak kandungnya (Masruh), Tsuwaibah juga pernah menyusui figur penting lainnya, sehingga mereka menjadi saudara sesusuan Rasulullah saw., antara lain:
    • Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi)
    • Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi

Kemerdekaan Tsuwaibah

  • Menurut riwayat populer, Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah sebagai bentuk kebahagiaan dan kegembiraan saat Tsuwaibah datang menyampaikan kabar kelahiran keponakannya, Muhammad bin Abdullah.

Sikap dan Penghormatan Rasulullah saw.

  • Rasulullah saw. dan Ummul Mukminin Khadijah r.a. sangat menghormati serta memuliakan Tsuwaibah sepanjang hidupnya.
  • Ketika berada di Makkah, Khadijah r.a. pernah berniat membelinya dari Abu Lahab untuk dimerdekakan, namun saat itu Abu Lahab menolaknya (sebelum akhirnya dimerdekakan sendiri oleh Abu Lahab).
  • Setelah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, beliau senantiasa mengirimkan bantuan berupa pakaian, uang, dan bahan makanan kepada Tsuwaibah hingga beliau wafat.

Wafatnya Tsuwaibah wafat pada tahun ke-7 Hijriah, tak lama setelah Perang Khaibar. Kabar wafatnya sampai kepada Rasulullah saw. saat beliau kembali dari Khaibar, di mana beliau juga menanyakan keadaan putra Tsuwaibah (Masruh), namun dikabarkan bahwa putranya telah wafat lebih dahulu.

Halimah as-Sa’diyyah (حليمة السعدية) berasal dari suku Bani Sa’ad bin Bakr, salah satu cabang dari kabilah Hawazin yang mendiami wilayah pegunungan dekat Tha'if. Masyarakat Arab Quraisy di Makkah memiliki tradisi menitipkan bayi mereka kepada wanita-wanita dari pedalaman (badiyah) agar anak-anak mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat, fasih berbahasa Arab murni, dan jauh dari penyakit perkotaan.

Identitas dan Silsilah

  • Nama Lengkap: Halimah binti Abi Dzuaib (nama asli ayahnya Abdullah bin Al-Harits) al-Sa’diyyah al-Hawazin
  • Suami: Al-Harits bin Abdul Uzza (dikenal juga dengan sebutan Abu Kabsyah)
  • Anak-anak: Abdullah, Anisa, dan Asma (lebih dikenal dengan julukan Asy-Syaima, yang kelak ikut mengasuh dan menggendong Nabi saw.)

Awal Pertemuan dengan Rasulullah saw. Pada tahun kelahiran Nabi saw., wilayah tempat tinggal Bani Sa’ad sedang mengalami paceklik hebat. Halimah bersama para wanita kabilahnya pergi ke Makkah untuk mencari bayi susuan demi mendapatkan imbalan/penghidupan.

Awalnya, tidak ada satu pun wanita yang mau mengambil Muhammad kecil karena beliau seorang anak yatim—mereka berharap mendapat imbalan lebih dari ayah si bayi. Namun, karena Halimah tidak mendapatkan bayi lain dan tidak ingin pulang dengan tangan hampa, atas kesepakatan dengan suaminya, ia memutuskan untuk mengambil Muhammad saw.

Keberkahan dalam Mengasuh Nabi saw. Seketika setelah mengambil Muhammad saw., Halimah dan keluarganya menyaksikan berbagai keberkahan yang luar biasa:

  • Keberlimpahan ASI dan Susu Ternak: Keledai tunggangan Halimah yang tadinya sangat lemah dan lambat mendadak berjalan sangat cepat melebihi tunggangan rombongan lainnya. Unta tua miliknya yang tadinya kering tiba-tiba menghasilkan susu yang melimpah.
  • Kesuburan Tanah: Hewan-hewan ternak milik Halimah selalu pulang dalam keadaan kenyang dan menghasilkan susu banyak, sementara ternak penduduk lain kekurangan makanan.
  • Tumbuh Tumbuh yang Cepat: Muhammad saw. tumbuh dan berkembang jauh lebih cepat dan sehat dibanding anak-anak seusianya.

Masa Pengasuhan dan Peristiwa Pembelahan Dada Halimah menyusui dan mengasuh Nabi saw. hingga usianya genap 2 tahun (masa sapih). Namun, karena melihat keberkahan yang dibawa oleh beliau serta mengkhawatirkan penyakit di Makkah, Halimah memohon kepada ibunda Nabi, Aminah, agar diizinkan membawa Muhammad kembali ke pedalaman. Aminah pun mengizinkannya.

Nabi saw. tinggal bersama Halimah hingga berusia sekitar 4 atau 5 tahun, sampai terjadinya peristiwa Syaqqus Shadr (pembelahan dada). Malaikat Jibril mendatangi Muhammad saw., membelah dadanya, dan membersihkan hatinya dari bagian setan. Kejadian ini membuat Halimah dan suaminya khawatir akan keselamatan beliau, sehingga mereka memutuskan untuk mengembalikan Muhammad saw. secara baik-baik kepada ibundanya di Makkah.

Masuk Islam dan Penghormatan Rasulullah saw.

  • Memeluk Islam: Mayoritas ulama sejarah mencatat bahwa Halimah as-Sa’diyyah beserta suaminya masuk Islam di kemudian hari setelah kerasulan Nabi Muhammad saw.
  • Sikap Rasulullah saw.: Rasulullah saw. sangat menghormati Halimah sepanjang hidupnya. Setiap kali Halimah berkunjung, Nabi saw. membentangkan sorbannya untuk diduduki Halimah sebagai bentuk pemuliaan tertinggi kepada ibu yang telah menyusuinya.
  • Peristiwa Hunain: Saat Perang Hunain selesai dan kaum Hawazin menjadi tawanan perang, Asy-Syaima (saudara sesusuan Nabi) mendatangi Rasulullah saw. Setelah mengenali identitasnya, Rasulullah saw. membebaskan para tawanan dari kabilah tersebut dan memberi mereka banyak hadiah sebagai bentuk penghormatan atas jasa keluarga Halimah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *