
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Pembedahan dada Nabi Muhammad SAW saat masih kecil merupakan peristiwa spiritual luar biasa (irhash) yang dialami beliau sebagai bentuk penyucian dan persiapan kenabian.
Peristiwa ini terjadi ketika Nabi berusia sekitar 4–5 tahun saat berada di bawah pengasuhan ibu susunya, Halimah as-Sa'diyyah, di kawasan dusun Bani Sa'ad.
Kronologi Peristiwa
- Kedatangan Malaikat Jibril: Ketika Muhammad kecil sedang bermain bersama saudara-saudara sepersusuannya, Malaikat Jibril mendatangi beliau, merubuhkan tubuhnya, dan membelah dadanya.
- Pembersihan Hati: Jibril mengeluarkan hati beliau, lalu mengambil segumpal darah hitam dari dalamnya seraya berkata: "Inilah bagian syaitan yang ada padamu."
- Penyucian dengan Air Zamzam: Hati tersebut kemudian dicuci di dalam sebuah bejana emas yang berisi air Zamzam, lalu dikembalikan ke tempat semula dan ditutup rapat.
- Reaksi Lingkungan: Saudara sepersusuan beliau lari ketakutan menuju Halimah dan suaminya sambil berteriak bahwa Muhammad telah dibunuh. Saat mereka sampai di lokasi, mereka menemukan Muhammad kecil dalam keadaan selamat namun dengan wajah yang pucat.
Hikmah dan Makna Peristiwa
- Pembersihan Potensi Kejahatan: Mencabut segala celah benteng syaitan (haddzhush-syaithan) sehingga beliau terjaga dari dorongan maksiat sejak usia dini ('ishmah).
- Persiapan Mental & Spiritual: Menyiapkan wadah jiwa dan fisik Nabi agar sanggup menerima beban wahyu yang sangat berat di kemudian hari.
- Tanda Keistimewaan (Irhash): Menjadi bukti kekuasaan Allah sekaligus isyarat kerasulan yang telah tampak sebelum beliau diutus secara resmi menjadi Rasul.
Peristiwa ini diriwayatkan dalam berbagai hadis sahih, salah satunya diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik RA, yang juga menyebutkan bahwa garis bekas jahitan halus di dada Nabi masih terlihat oleh para sahabat.
Setelah berusia lima tahun, kehidupan Nabi Muhammad SAW diwarnai oleh berbagai peristiwa penting yang membentuk kepribadian, ketabahan, serta kedudukan beliau di tengah masyarakat Quraisy sebelum diangkat menjadi Rasul.
Kembali ke Pangkuan Ibu dan Wafatnya Aminah (Usia 6 Tahun) Setelah peristiwa pembedahan dada, Halimah as-Sa'diyyah mengembalikan Muhammad kecil kepada ibunya, Aminah, di Makkah. Tak lama kemudian, Aminah membawa beliau melakukan perjalanan ke Yatsrib (Madinah) untuk mengunjungi makam ayahnya, Abdullah, sekaligus bersilaturahmi dengan kerabat dari Bani Najjar.
Dalam perjalanan pulang menuju Makkah, Aminah jatuh sakit dan meninggal dunia di sebuah tempat bernama Al-Abwa'. Muhammad kecil yang baru berusia enam tahun harus kehilangan ibunya dan kembali ke Makkah diasuh oleh pengasuhnya, Ummu Aiman.
Pengasuhan dan Wafatnya Sang Kakek, Abdul Muthalib (Usia 6–8 Tahun) Sepeninggal ibunya, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, seorang pemimpin Quraisy yang sangat disegani. Abdul Muthalib memberikan kasih sayang yang sangat besar dan selalu mendudukkan Muhammad di atas pembaratannya (firasysy) dekat Ka'bah—tempat yang biasanya tidak boleh diduduki oleh siapa pun termasuk anak-anak Abdul Muthalib lainnya.
Namun, kebersamaan ini hanya berlangsung selama dua tahun. Saat Muhammad berusia delapan tahun, Abdul Muthalib meninggal dunia.
Diasuh oleh Paman, Abu Thalib (Usia 8 Tahun ke Atas) Sesuai wasiat Abdul Muthalib, pengasuhan dilanjutkan oleh pamannya, Abu Thalib. Meskipun Abu Thalib tidak kaya dan memiliki banyak anak, ia merawat Muhammad seperti anaknya sendiri dan selalu membela serta melindunginya hingga akhir hayatnya.
Perjalanan Bisnis Pertama ke Syam dan Pertemuan dengan Bahira (Usia 12 Tahun) Saat berusia 12 tahun, Muhammad diajak oleh Abu Thalib ikut dalam rombongan dagang menuju Syam (Suriah). Ketika sampai di Bushra, mereka bertemu dengan seorang rahib Kristen bernama Bahira.
- Bahira mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad kecil melalui ciri-ciri fisik dan fenomena alam (seperti gumpalan awan yang selalu menaungi beliau selama perjalanan).
- Bahira menyarankan Abu Thalib untuk segera membawa Muhammad kembali ke Makkah dan melindunginya dari ancaman bahaya, terutama dari pihak-pihak yang mungkin mengenali tanda kenabian tersebut.
Menggembala Kambing (Masa Remaja) Di masa mudanya, Nabi Muhammad bekerja sebagai penggembala kambing milik penduduk Makkah. Pengalaman menggembala ini melatih kesabaran, ketenangan, kepemimpinan, dan empati beliau dalam memimpin makhluk hidup sebelum kelak memimpin umat.
Pengasuhan Abdul Muthalib terhadap Nabi Muhammad SAW merupakan fase penting yang memberikan perlindungan sosial, kasih sayang mendalam, serta penanaman nilai kepemimpinan pada diri beliau setelah menjadi yatim piatu.
Awal Pengasuhan (Usia 6 Tahun) Setelah ibunda Nabi, Aminah, wafat di Al-Abwa' dalam perjalanan kembali dari Yatsrib, Muhammad kecil yang baru berusia enam tahun dibawa pulang ke Makkah oleh pengasuhnya, Ummu Aiman. Pemimpin utama kaum Quraisy sekaligus kakek beliau, Abdul Muthalib, langsung mengambil alih tanggung jawab untuk mengasuh dan membesarkan cucunya tersebut.
Bentuk Kasih Sayang dan Penghormatan Khusus Abdul Muthalib mencintai Muhammad melebihi anak-anak kandungnya sendiri. Keistimewaan perlakuan Abdul Muthalib terlihat dari beberapa aspek:
- Karpet Khusus di Sisi Ka'bah: Abdul Muthalib memiliki tempat duduk khusus (firasysy) berupa karpet di bawah naungan Ka'bah. Paman-paman Nabi tidak ada yang berani duduk di atasnya sebagai bentuk hormat. Namun, ketika Muhammad kecil datang dan duduk di atasnya, paman-pamannya mencoba melarang, tetapi Abdul Muthalib mencegah mereka seraya berkata: "Biarkan cucuku ini, demi Allah, ia akan memiliki kedudukan yang sangat agung."
- Pelindung dan Pendamping: Dalam berbagai pertemuan penting para pemuka Quraisy, Abdul Muthalib selalu mengajak Muhammad kecil duduk di sisinya sambil mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang.
Nilai Pembentukan Karakter Meskipun pengasuhan ini berlangsung singkat, berada di lingkungan sosok pemimpin utama Makkah memberikan pengaruh tersendiri:
- Pendidikan Kepemimpinan: Muhammad muda menyaksikan langsung bagaimana kakeknya mengelola urusan masyarakat, melayani para peziarah Ka'bah, dan menyelesaikan berbagai perselisihan antar suku.
- Penguatan Wibawa Spiritual: Keberadaan beliau di sisi Abdul Muthalib memperkuat kedudukan sosial beliau di tengah masyarakat Quraisy sejak dini.
Akhir Masa Pengasuhan (Usia 8 Tahun) Masa pengasuhan ini hanya bertahan selama dua tahun. Saat Nabi Muhammad berusia delapan tahun (sekitar 578 M), Abdul Muthalib jatuh sakit dan meninggal dunia dalam usia lanjut.
Sebelum wafatnya, Abdul Muthalib secara khusus mengamanahkan dan mewasiatkan pengasuhan Muhammad kepada putranya, Abu Thalib—paman Nabi yang sekandung dengan almarhum ayah Nabi, Abdullah.