
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Kisah bertawasul melalui Nabi Muhammad SAW. Saat beliau masih kecil untuk memohon hujan atas petunjuk mimpi Raqiqah binti Abi Shaifi merupakan salah satu peristiwa penting dalam tradisi sirah Nabawiyah sebelum masa kenabian (irhash).
Latar Belakang dan Alur Peristiwa
- Bencana Kekeringan di Makkah: Kaum Quraisy mengalami kemarau panjang (pancaroba/krisis air) yang menyebabkan kelaparan, pepohonan mengering, dan ternak binasa.
- Mimpi Raqiqah binti Abi Shaifi: Raqiqah (seorang wanita dari suku Quraisy) bermimpi mendengar suara gaib yang berseru:"Wahai kaum Quraisy, seorang nabi akan diutus dari kalangan kalian. Carilah seorang laki-laki dari tengah-tengah kalian yang bertubuh tinggi, tampan, alisnya menyambung, dan bulu matanya lentik. Hendaknya ia keluar bersama anak cucunya, lalu bawalah anak kecil itu bersamanya untuk berdoa memohon hujan."
- Inisiatif Abdul Muthalib: Raqiqah menceritakan mimpi tersebut kepada masyarakat. Abdul Muthalib, yang mengenali tanda-tanda fisik tersebut pada dirinya dan cucunya, Nabi Muhammad SAW (yang saat itu masih anak-anak), segera mengambil tindakan.
- Prosesi Memohon Hujan:
- Abdul Muthalib menggandeng tangan Nabi Muhammad SAW yang masih kecil dan membawanya ke dekat Ka'bah atau ke atas bukit Abu Qubais.
- Abdul Muthalib mengangkat anak kecil tersebut ke atas bahunya atau memegang tangannya, lalu berdoa mendatangkan hujan dengan menjadikan kedudukan dan kesucian Nabi Muhammad SAW kecil sebagai perantara (tawassul).
- Hasil: Menurut riwayat sirah, sebelum mereka turun dari tempat berdoa, awan tebal tiba-tiba berkumpul dan hujan deras mengguyur kota Makkah hingga lembah-lembah terisi air penuh.
Makna dan Signifikansi Historis
- Bentuk Irhash: Peristiwa ini dipandang oleh para ulama sirah sebagai irhash—yaitu kejadian luar biasa sebelum pengangkatan kerasulan yang menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad SAW sejak masa kanak-kanak.
- Kedudukan Abdul Muthalib dan Muhammad SAW: Menggambarkan penghormatan kaum Quraisy terhadap keluarga Hasyim serta pengakuan atas keberkahan yang melekat padaNabi Muhammad SAW bahkan sebelum masa kenabian.
Peristiwa kunjungan delegasi Quraisy yang dipimpin oleh Abdul Muthalib kepada Raja Saif bin Dzi Yazan dari Yaman merupakan salah satu catatan bersejarah penting dalam sirah Nabawiyah yang memuat kabar gembira (bisyarah) mengenai kenabian Muhammad SAW.
Latar Belakang dan Alur Peristiwa
- Kemenangan Saif bin Dzi Yazan: Setelah berhasil mengusir pasukan Abasinia (Etiopia) dari Yaman dengan bantuan kekaisaran Persia, Saif bin Dzi Yazan naik tahta menjadi Raja Yaman di Istana Ghumdan, Sana'a.
- Misi Utusan Quraisy: Tokoh-tokoh terkemuka Makkah, dipimpin oleh Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad SAW. berangkat menuju Yaman untuk menyampaikan ucapan selamat dan menjalin hubungan diplomatik.
- Pertemuan Khusus: Dalam audiensi, Abdul Muthalib menyampaikan pidato penghormatan atas nama suku Quraisy. Raja Saif menyambut delegasi ini dengan hangat dan secara khusus meminta Abdul Muthalib untuk berbicara empat mata.
- Kabar Gembira tentang Nabi Muhammad SAW :
- Raja Saif mengungkapkan bahwa ia menemukan rahasia dalam kitab-kitab kuno tentang akan lahirnya seorang anak laki-laki di wilayah Tihamah (Makkah).
- Ia menyebutkan tanda-tanda khusus anak tersebut: memiliki tanda kenabian di antara kedua bahunya, ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, dan dipelihara oleh kakeknya serta pamannya.
- Raja Saif memprediksi anak ini kelak akan menjadi pemimipin besar, menghancurkan berhala, dan membawa ajaran tauhid.
- Pesan Rahasia kepada Abdul Muthalib: Setelah Abdul Muthalib mengonfirmasi bahwa ciri-ciri tersebut cocok dengan cucunya (Muhammad SAW, Raja Saif berpesan agar Abdul Muthalib menjaga cucunya dengan sangat hati-hati, terutama dari ancaman kaum Yahudi yang mungkin iri dan berniat jahat jika mengetahuinya.
Makna dan Signifikansi Historis
- Bentuk Bisyarah (Kabar Gembira): Pengakuan dari Saif bin Dzi Yazan menjadi salah satu bukti bahwa tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad SAW. telah tercatat dalam literatur dan ramalan raja-raja terdahulu.
- Penegasan Kedudukan Abdul Muthalib: Pertemuan ini menunjukkan posisi terpandang Abdul Muthalib di mata para penguasa Jazirah Arab sekaligus memperkuat komitmennya dalam melindungi cucunya dengan ekstra ketat.
Wafatnya Abdul Muthalib (Syaibah bin Hasyim), kakek sekaligus pelindung utama Nabi Muhammad SAW, merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah sirah Nabawiyah. Peristiwa ini menandai fase perubahan pengasuhan Nabi Muhammad SAW. dari masa kanak-kanak menuju remaja.
Kronologi Sejarah Wafatnya Abdul Muthalib
- Menerima Pengasuhan Nabi Muhammad SAW (Usia 6 Tahun):Setelah ibunda Nabi, Sayyidah Aminah, wafat di Al-Abwa dalam perjalanan pulang dari Madinah, Nabi Muhammad SAW. yang berusia 6 tahun dibawa kembali ke Makkah oleh Ummu Aiman. Abdul Muthalib menyambut cucunya dengan penuh kasih sayang dan mengambil alih pengasuhan secara langsung.
- Masa Pengasuhan Penuh Kasih (Usia 6–8 Tahun):Selama dua tahun, Abdul Muthalib memberikan perhatian khusus kepada Nabi Muhammad $\text{SAW}$. Diriwayatkan bahwa Abdul Muthalib memiliki tempat duduk khusus (hujrah/karpet) di dekat Ka'bah yang tidak boleh diduduki oleh siapapun, termasuk anak-anak kandungnya. Namun, jika Nabi Muhammad SAW. kecil datang dan duduk di atasnya, Abdul Muthalib membiarkannya sambil berkata bahwa cucunya kelak akan memiliki kedudukan yang sangat besar.
- Jatuh Sakit dan Wasiat Pengasuhan (Usia Nabi 8 Tahun / ~578–579 M):Saat memasuki usia sekitar 80–82 tahun (beberapa riwayat menyebutkan lebih dari itu), kesehatan Abdul Muthalib menurun drastis akibat usia lanjut. Memahami ajalnya sudah dekat, ia mengumpulkan putra-putranya untuk menentukan siapa yang akan melanjutkan pengasuhan Muhammad SAW. Abdul Muthalib memilih Abu Thalib (saudara kandung seibu dengan ayah Nabi, Abdullah) untuk memikul tanggung jawab tersebut.
- Wafat dan Pemakaman:Abdul Muthalib wafat di Makkah. Jenazahnya diusung menuju pemakaman Al-Hujun (Jannatul Ma'la) dan dimakamkan di dekat kakek buyutnya, Qushay bin Kilab. Diriwayatkan oleh Ummu Aiman bahwa Nabi Muhammad SAW. yang saat itu berusia 8 tahun berjalan mengiringi keranda kakeknya sambil menangis pilu.
Dampak dan Signifikansi Historis
- Pukulan Bagi Bani Hasyim: Kehilangan Abdul Muthalib merupakan duka mendalam bagi Makkah. Beliau adalah pemimpin berwibawa yang disegani oleh seluruh kabilah Quraisy.
- Peralihan Kepada Abu Thalib: Sesuai wasiat, Abu Thalib mengambil alih peran pengasuh dan pelindung Nabi Muhammad SAW. Kendati secara ekonomi Abu Thalib tidak sekaya saudara-saudaranya yang lain, ia membela dan melindungi Nabi Muhammad SAW. dengan seluruh jiwa raganya hingga akhir hayatnya.
- Pematangan Jiwa Rasulullah SAW: Pengalaman kehilangan sosok-sosok pelindung secara berturut-turut—ayah sebelum lahir, ibu pada usia 6 tahun, dan kakek pada usia 8 tahun—menjadi bagian dari pembentukan ketabahan jiwa Nabi SAW. yang diabadikan dalam Al-Qur'an (QS. Ad-Duha: 6).