info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Makna Dakwah Terang-terangan Al-Hijr: 94
Makna Dakwah Terang-terangan Al-Hijr: 94
Makna Dakwah Terang-terangan Al-Hijr: 94

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Surah Al-Hijr ayat 94 merupakan titik balik sejarah (momen krusial) dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW :

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (QS. Al-Hijr: 94)

1. Makna dan Tafsir Ayat (Perintah Dakwah Terang-terangan)

Kata فَاصْدَعْ (fashda') secara harfiah berarti "belahlah" atau "pecahkanlah". Dalam konteks dakwah, para ahli tafsir memaknainya sebagai perintah untuk menyampaikan kebenaran Islam secara tegas, lantang, dan terang-terangan, sehingga memisahkan (membelah) antara kebenaran dan kebathilan.

Sebelum ayat ini turun, Rasulullah SAW melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi (da'wah sirriyyah) selama kurang lebih 3 tahun. Setelah ayat ini diturunkan, Nabi SAW dan para sahabat mulai keluar menyebarkan Islam secara terang-terangan (da'wah jahriyyah) di tengah masyarakat Quraisy.

2. Kaitan dengan Riwayat Imam Az-Zuhri & Abu Abdurrahman

  • Riwayat Imam Az-Zuhri (Ibnu Shihab Az-Zuhri):Dalam riwayat sirah dan dalail an-nubuwwah (seperti yang dicatat oleh Al-Baihaqi dan Ath-Thabari), Imam Az-Zuhri menceritakan fase transisi dakwah Nabi. Menurut Az-Zuhri, Rasulullah SAW mula-mula menyeru manusia kepada Islam secara rahasia dan individu. Ketika Allah menyingkapkan perinah melalui QS. Al-Hijr: 94 dan QS. Asy-Syu'ara: 214 ("Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat"), Nabi SAW langsung berdiri di atas Bukit Shafa menyeru seluruh suku Quraisy.
  • Riwayat Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas'ud / Abu Abdurrahman As-Sulami):Dalam jalur riwayat dari Abu Abdurrahman (gelar kunyah dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu atau perawi tabi'in Abu Abdurrahman As-Sulami), disebutkan:"Nabi SAW dan para sahabat senantiasa menyembunyikan diri dan berdakwah secara rahasia, hingga turunlah ayat 'Fashda' bima tu'mar' (QS. Al-Hijr: 94). Setelah itu, beliau dan para sahabat keluar secara terang-terangan menunjukkan keislaman mereka di hadapan kaum musyrikin."

3. Poin Kunci Perubahan Metode Dakwah

  1. Peralihan Fase: Transisi resmi dari Fase Sirriyyah (Sembunyi-sembunyi) ke Fase Jahriyyah (Terang-terangan).
  2. Sikap Terhadap Penentang: Kalimat “dan berpalinglah dari orang-orang musyrik” mengajarkan Rasulullah SAW untuk terus fokus menyampaikan risalah tanpa memedulikan ejekan, hinaan, atau perlawanan dari para pemuka Quraisy.
  3. Perlindungan Allah: Ayat berikutnya (QS. Al-Hijr: 95) menegaskan bahwa Allah-lah yang menjamin perlindungan bagi Nabi SAW dari tipu daya orang-orang yang memperolok-olok beliau.

Peristiwa peringatan Nabi Muhammad SAW kepada manusia saat musim dagang tiba digambarkan dalam riwayat Thariq bin Abdullah Al-Muharibi dan Jabir bin Abdillah RA, yang mencatat perjuangan gigih Rasulullah SAW berdakwah di Makkah selama kurang lebih 10 hingga 13 tahun (atau merujuk pada rentang masa perjuangan beliau di Makkah hingga musim haji/perdagangan).

1. Riwayat Thariq bin Abdullah Al-Muharibi

Thariq bin Abdullah Al-Muharibi menceritakan kesaksian langsungnya ketika ia masih belum memeluk Islam dan sedang berada di pasar Sual-Majaz (salah satu pasar dagang utama di Makkah saat musim haji):

  • Kesaksian Thariq: Ia melihat seorang laki-laki (Rasulullah SAW) memakai jubah merah, menyeru di tengah keramaian pasar dengan suara lantang:"Wahai manusia! Katakanlah Laa ilaha illallah, niscaya kalian akan beruntung (selamat)!"
  • Penentangan Abu Lahab: Di belakang Nabi SAW, ada seorang laki-laki yang terus membuntutinya sambil melemparkan batu hingga tumit Rasulullah SAW berdarah. Laki-laki itu berteriak:"Wahai manusia! Jangan dengarkan dia! Dia adalah pendusta/orang yang keluar dari agama nenek moyangnya!"
  • Penjelasan: Ketika Thariq bertanya siapa kedua orang tersebut, masyarakat setempat menjawab bahwa laki-laki yang mengajak pada ketauhidan adalah Muhammad dari Bani Hasyim, sedangkan yang melempari batu adalah paman beliau sendiri, Abu Lahab.

2. Riwayat Jabir bin Abdillah RA

Dalam riwayat Jabir bin Abdillah RA (dicatat dalam Musnad Ahmad dan Sunan at-Tirmidzi), digambarkan bagaimana konsistensi dakwah Nabi SAW memanfaatkan momentum berkumpulnya suku-suku Arab:

  • Sikap Nabi di Musim Dagang/Haji: Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa mendatangi kemah-kemah, tempat pertemuan, dan pasar-pasar dagang para kabilah Arab (seperti Ukaz, Majannah, dan Zul Majaz) pada musim haji.
  • Seruan Beliau: Nabi SAW menawarkan risalahnya dan mencari perlindungan untuk dakwah Islam:"Adakah laki-laki yang mau membawaku ke kaumnya (untuk menyampaikan risalah)? Karena sesungguhnya orang-orang Quraisy telah melarangku menyampaikan Kalam Rabb-ku."
  • Puncak Keberhasilan: Usaha tanpa lelah yang berlangsung bertahun-tahun di musim dagang ini akhirnya membuahkan hasil ketika beliau bertemu dengan rombongan suku Aus dan Khazraj dari Yatsrib (Madinah), yang berujung pada Perjanjian Aqabah dan peristiwa Hijrah.

3. Makna Kontekstual "Selama Perjuangan di Makkah"

Beberapa teks sirah menggambarkan dedikasi Nabi SAW secara kumulatif sepanjang masa kenabian di Makkah hingga fase pasca-hijrah:

  1. Strategi Mengoptimalkan Momentum: Musim dagang dan haji adalah sarana terbaik untuk menjangkau masyarakat di luar Makkah, karena ribuan suku Arab berkumpul di satu tempat.
  2. Ketabahan Menghadapi Penolakan: Selama bertahun-tahun, mayoritas kabilah menolak ajakan Nabi SAW, bahkan mengejek dan mengusirnya. Namun beliau tidak pernah putus asa dan terus mendatangi mereka setiap tahunnya.
  3. Penyebaran Risalah Tanpa Batas: Metode dakwah di pasar dagang menunjukkan bahwa Islam didakwahkan secara terbuka di tempat publik, bukan hanya untuk kalangan terbatas.

Peringatan Nabi Muhammad SAW kepada pihak keluarga dan kerabat dekatnya merupakan babak awal penegakan dakwah secara terbuka, yang terjadi tepat setelah turunnya perintah Allah SWT dalam Surah Asy-Syu'ara ayat 214 :

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."

Secara kronologis berdasarkan riwayat-riwayat sahabat utama (Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah), peristiwa ini berlangsung melalui dua tahap utama :

Phase 1: Jamuan Makan di Rumah Nabi (Riwayat Ali bin Abi Thalib)

Tahap awal dakwah kerabat ini dimulai secara khusus di internal keluarga besar Bani Abdul Muthallib.

  • Kronologi Peristiwa: Setelah QS. Asy-Syu'ara: 214 turun, Nabi SAW memerintahkan Ali bin Abi Thalib (yang saat itu masih berusia muda) untuk menyiapkan makanan berupa sedikit paha kambing dan satu wadah susu, lalu mengundang paman-paman beliau dari Bani Abdul Muthallib (sekitar 40 orang).
  • Keajaiban Makanan & Penolakan Abu Lahab: Secara mukjizat, porsi makanan yang sedikit tersebut cukup untuk mengenyangkan seluruh tamu. Namun, ketika Nabi SAW hendak berbicara menyampaikan risalah, Abu Lahab memotong dan memprovokasi tamu dengan tuduhan bahwa Nabi telah menyihir mereka, sehingga majelis tersebut bubar sebelum Nabi berdakwah.
  • Pertemuan Kedua & Deklarasi Ali: Nabi SAW meminta Ali mengulang mengundang mereka di hari berikutnya. Pada kesempatan kedua ini, Rasulullah SAW berhasil menyampaikan seruan tauhid dan bertanya siapa di antara mereka yang mau mendukung tugas mulia ini. Seluruh kerabat tertua diam, lalu Ali bin Abi Thalib berdiri dan menyatakan kesiapannya untuk mendukung dan membela Rasulullah SAW.

Phase 2: Seruan Terbuka di Bukit Shafa (Riwayat Ibnu Abbas)

Setelah mengimbau secara internal, Nabi SAW memperluas jangkauan peringatan kepada seluruh klan Quraisy di tempat umum.

  • Kronologi Peristiwa: Rasulullah SAW naik ke puncak Bukit Shafa lalu berteriak memanggil klan-klan utama Quraisy: "Ya Bani Fihr! Ya Bani 'Adi!" hingga kabilah-kabilah Quraisy berkumpul (bahkan yang tidak bisa hadir mengirimkan utusannya).
  • Analogi Kepercayaan: Nabi SAW membuka seruan dengan mengajukan pertanyaan:"Bagaimana pendapat kalian jika aku beritahukan bahwa ada pasukan berkuda di balik lembah ini yang siap menyerang kalian, apakah kalian percaya padaku?" Mereka menjawab: "Ya, kami tidak pernah mendapati engkau berbohong sedikit pun."
  • Seruan Risalah & Respon Abu Lahab: Setelah mereka mengakui kejujuran beliau, Nabi SAW berkata: "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang pedih." Seketika Abu Lahab memotong dengan perkataan kasar yang sangat terkenal dalam sejarah:"Binasalah engkau wahai Muhammad sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?"
  • Dampak Sejarah: Merespon caci maki Abu Lahab tersebut, Allah SWT menurunkan Surah Al-Lahab (Tabbat Yadaa Abee Lahabinw Wa Tabb) sebagai teguran keras dan vonis atas kebinasaan Abu Lahab beserta istrinya.

Phase 3: Peringatan Spesifik kepada Individu Keluarga (Riwayat Abu Hurairah)

Tahap penegasan bahwa kedekatan nasab/darah tidak dapat menyelamatkan seseorang dari keadilan hukum Allah di akhirat tanpa fondasi iman.

  • Isi Peringatan Nabi SAW: Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW berdiri memanggil nama kabilah dan individu kerabatnya satu per satu secara spesifik:
    • "Wahai kaum Quraisy, selamatkanlah diri kalian sendiri dari neraka, aku tidak kuasa menolak azab Allah sedikit pun dari kalian!"
    • "Wahai Bani Abdi Manaf, aku tidak kuasa menolong kalian di hadapan Allah!"
    • "Wahai Abbas bin Abdul Muthallib (paman Nabi), aku tidak kuasa menolongmu di hadapan Allah!"
    • "Wahai Shafiyyah binti Abdul Muthallib (bibi Nabi), aku tidak kuasa menolongmu di hadapan Allah!"
    • "Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah kepadaku harta apa saja yang kau kehendaki dari hartaku, namun aku tidak kuasa menolongmu sedikit pun dari azab Allah!"

Poin Penting Perspektif Sejarah

  1. Prinsip Keadilan Transendental: Riwayat Abu Hurairah menegaskan prinsip dasar Islam bahwa iman dan amal saleh berada di atas ikatan nasab/pertalian darah.
  2. Karakter Pemimpin Islam: Diriwayatkannya kesediaan Ali bin Abi Thalib sejak awal menunjukkan loyalitas dan keberanian dalam mendampingi perjuangan Nabi SAW.
  3. Pemisahan Kebenaran dan Kebatilan: Sikap Abu Lahab dan respons Al-Qur'an (Surah Al-Lahab) menegaskan batas yang jelas antara pihak yang mendukung dan yang menentang risalah tauhid, meskipun berasal dari keluarga kandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *