
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Peristiwa-peristiwa tersebut bersumber dari riwayat-riwayat Dala'il an-Nubuwwah (Tanda-Tanda Kenabian) dan Khasha'is an-Nabawiyyah (Keistimewaan Nabi). Riwayat ini mengisahkan momen saat Rasulullah ﷺ memohon pertanda nyata dari Allah SWT untuk menguatkan hati dan memberikan ketenangan batin, terutama di tengah tekanan dan ujian keras di Makkah.
Riwayat Umar bin al-Khattab di Al-Ujun
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab RA, suatu ketika Rasulullah ﷺ berada di Al-Ujun (sebuah tempat atau lembah di sekitar Makkah). Dalam keadaan sedih atau membutuhkan penguat batin, Nabi ﷺ berdoa memohon tanda kekuasaan-Nya:
"Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku suatu tanda (ayat) yang dengannya aku tidak akan peduli lagi terhadap orang yang mendustakanku."
Allah SWT mengabulkan doa tersebut. Rasulullah ﷺ kemudian memanggil sebatang pohon yang berada di tempat itu. Pohon tersebut serta-merta membelah tanah, berjalan mendekat, dan berdiri di hadapan Nabi ﷺ untuk memberi salam. Setelah itu, atas perintah Rasulullah ﷺ, pohon tersebut kembali ke tempat asalnya. Momen ini disaksikan langsung dan menguatkan hati para sahabat.
Riwayat Anas bin Malik: Ujian Penindasan dan Kehadiran Jibril
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, pada suatu hari Rasulullah ﷺ disakiti dan dipukul oleh penduduk Makkah yang menolak dakwah beliau. Beliau merasa sangat sedih dan berduka atas perlakuan serta penolakan tersebut.
Dalam kondisi duka itu, Malaikat Jibril AS turun mendatangi beliau dan bertanya:
"Apakah engkau ingin aku perlihatkan suatu tanda kekuasaan Allah yang akan membuat hatimu merasa mantap dan tenang?"
Rasulullah ﷺ menjawab: "Ya."
Jibril AS lalu menunjuk ke arah sebatang pohon yang berada di balik lembah dan meminta Nabi ﷺ memanggilnya. Ketika Nabi ﷺ memanggil pohon tersebut, pohon itu langsung datang melangkah hingga berdiri tegak di hadapan beliau. Jibril AS kemudian menyuruh Nabi ﷺ untuk memerintahkan pohon itu kembali, dan pohon itu pun berjalan mundur kembali ke tempat semula secara utuh. Peristiwa ini memantapkan hati Nabi ﷺ serta menghibur beliau dari rasa sakit akibat kezaliman musuh-musuhnya.
Hikmah dari Peristiwa Tunduknya Pohon
- Penguatan Hati (Ithmi'nan al-Qalb): Seperti halnya Nabi Ibrahim AS yang memohon diperlihatkan cara Allah menghidupkan makhluk mati agar hatinya makin mantap (QS. Al-Baqarah: 260), Rasulullah ﷺ memohon pertanda nyata untuk memberikan ketenangan batin saat menghadapi penolakan berat.
- Bukti Kenabian (A'lam an-Nubuwwah): Tunduknya benda mati seperti pohon menunjukkan bahwa seluruh alam semesta—atas izin Allah—mengenal dan taat kepada kerasulan Muhammad ﷺ.
- Penghibur di Kala Duka: Allah memberikan penampakan mukjizat fisik sebagai sarana hiburan spiritual (tasliyah) di masa-masa tersulit perjuangan beliau di Makkah.
Peristiwa dilemparnya setan dan jin dengan panah api (syihab) saat Nabi Muhammad ﷺ diutus merupakan salah satu peristiwa besar yang menandai datangnya era kenabian akhir zaman dan penjagaan wahyu Al-Qur'an dari campur tangan gaib.
Latar Belakang Peristiwa
Sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus, para jin dan setan secara bebas dapat naik ke langit untuk mencuri dengar berita-berita gaib (seperti ketetapan takdir, takdir malaikat, dan hal-hal mendatang) lalu membocorkannya kepada para dukun atau peramal di bumi dengan menambahkan ratusan kedustaan.
Namun, ketika Rasulullah ﷺ diutus, pintu-pintu langit mendadak ditutup rapat dan diperketat penjaganya. Setiap kali setan berusaha mendekat untuk mencuri dengar, mereka langsung dilempar dengan suluh/panah api yang membakar (syihab qubab).
Penjelasan Riwayat-Riwayat Terkait
1. Riwayat Ibnu Abbas RA Ibnu Abbas menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ diutus, setan-setan terhalang dari berita langit dan dilempari dengan panah-panah api. Mereka lalu berkumpul dan melapor kepada pemimpin mereka (Iblis): "Kami telah terhalang dari berita langit dan kami dilempari panah api." Iblis menyimpulkan bahwa pasti telah terjadi sesuatu yang besar di bumi. Mereka lalu menyebar ke seantero bumi untuk mencari penyebabnya, hingga sekelompok jin sampai di Tihamah (Makkah/Nakhlah) dan menemukan Rasulullah ﷺ sedang shalat Subuh berjamaah bersama para sahabat. Ketika mendengar bacaan Al-Qur'an, mereka sadar inilah penyebabnya, lalu mereka beriman. Peristiwa ini diabadikan dalam QS. Al-Jin: 1–2.
2. Riwayat Ubay bin Ka'b RA Ubay bin Ka'b meriwayatkan konteks kepanikan di bumi. Ketika fenomena pelemparan bintang/panah api (al-inkidaj) terjadi secara masif, manusia dan jin panik. Setan-setan yang mencoba naik hancur terbakar. Fenomena visual yang luar biasa ini membuat masyarakat Arab menyadari adanya perubahan besar dalam tatanan alam semesta sebagai tanda lahir atau diutusnya sang Nabi akhir zaman.
3. Riwayat Ya'qub bin Al-Akhnas, Wahb bin Munabbih, dan Abu Hurairah RA Riwayat-riwayat dari para perawi dan ulama generasi awal ini saling melengkapi gambaran bagaimana kerajaan jin dan Iblis mengalami kegoncangan hebat. Wahb bin Munabbih dan Abu Hurairah menggambarkan bahwa Iblis meraung-raung ketakutan dan mengumpulkan seluruh pasukannya begitu menyadari bahwa saluran informasi gaib mereka terputus total akibat pengutusan Nabi ﷺ.
Landasan dalam Al-Qur'an
Fenomena ini diceritakan langsung dari sudut pandang bangsa jin dalam Surah Al-Jin ayat 8–9:
"Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mencoba menyentuh (langit), maka kami mendapatinya dipenuhi penjagaan yang kencang dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (beritanya). Tetapi sekarang barang siapa mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah api yang mengintai untuk membakarnya."
Hikmah Utama Peristiwa
- Penjagaan Otentisitas Wahyu: Mencegah setan mencampuradukkan wahyu Al-Qur'an yang sedang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan bisikan-bisikan dusta.
- Tanda Kenabian (I'jaz): Menjadi sinyal kosmik bagi seluruh alam (manusia dan jin) bahwa era kenabian baru telah dimulai.
- Memutuskan Sumber Dukun: Menghancurkan keakuratan para ramalan dukun dan tukang sihir yang sebelumnya mengandalkan informasi curian dari jin.
Riwayat-riwayat mengenai Kaisar Abrawazir (Kisra Parviz / Khosrow II, penguasa Kekaisaran Sassanid Persia) tercantum dalam kitab-kitab sejarah dan tanda-tanda kenabian (Dala'il an-Nubuwwah / Al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa karya Ibnu al-Jauzi).
Riwayat yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Wahb bin Munabbih, Ibnu Ishaq, Az-Zuhri, Khalid bin Wa'il/Waidah, dan Ibnu Qutaibah mengisahkan goncangan besar, fenomena gaib, serta perubahan psikologis dan politik yang dialami oleh Kaisar Abrawazir saat Nabi Muhammad ﷺ diutus menjadi nabi.
1. Terputusnya Informasi Gaib dan Kepanikan 360 Tukang Ramal
Diriwayatkan melalui jalur Wahb bin Munabbih dan Ibnu Ishaq, Kaisar Abrawazir memiliki tradisi mengumpulkan ratusan tukang tenung, peramal (kahin), dan ahli astrologi istana (disebutkan berjumlah sekitar 360 orang) untuk meramal keberlangsungan kerajaannya.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ diutus:
- Para peramal dan tukang tenung Kaisar mendadak kehilangan penglihatan gaib dan ramalan mereka menjadi kacau total.
- Hal ini disebabkan oleh tertutupnya pintu-pintu langit dan terhalangnya setan/jin dari mencuri dengar berita langit karena dilempar panah api (syihab).
- Ketika Abrawazir menanyakan penyebab kekacauan tersebut, para peramal melaporkan bahwa kekuatan gaib di alam semesta telah berubah total dan seorang penutup para nabi telah diutus di tanah Arab.
2. Mipim atau Firasat Buruk Kaisar (Riwayat Ibnu Qutaibah)
Ibnu Qutaibah mengutip gambaran firasat dan kecemasan Batin yang melanda Kaisar Abrawazir. Kaisar bermimpi atau merasakan pertanda buruk berupa runtuhnya pilar-pilar kejayaan Persia.
Dalam pengamatan istana, terjadi berbagai kejanggalan alamiah dan sosial:
- Padamnya api abadi Majusi yang telah menyala selama ribuan tahun secara tiba-tiba saat pengutusan/kelahiran Sang Nabi.
- Bergoyangnya istana dan runtuhnya 14 balkon istana Kisra di Ctesiphon (Mada'in).
- Rasa cemas dan paranoia yang melanda Kaisar Abrawazir, di mana ia merasa kekuasaannya sedang digerogoti oleh kekuatan baru dari Arabia.
3. Tanda-Tanda Kehancuran Dinasti (Riwayat Az-Zuhri dan Khalid bin Waidah)
Diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhri dan ditransmisikan dalam catatan-catatan sejarah klasik (seperti karya Khalid bin Waidah/Wa'il):
- Pengutusan Nabi Muhammad ﷺ menandai awal dari keretakan internal Kekaisaran Persia.
- Kaisar Abrawazir yang sebelumnya dikenal amat perkasa dan sombong mulai mengalami kemunduran moral, keputusan politik yang salah, hingga kejatuhan wibawa di mata para pembesar negerinya.
- Puncak dari perubahan keadaan ini adalah timbulnya kekacauan politik di istana Persia yang kelak berujung pada pembunuhan Abrawazir oleh putranya sendiri (Syirawaih), sebagaimana yang diprediksikan secara tepat oleh Rasulullah ﷺ.
Hikmah Utama
Perubahan keadaan yang dialami oleh Kaisar Abrawazir menunjukkan bahwa diutusnya Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya berdampak pada aspek spiritual masyarakat Arab, melainkan merupakan peristiwa kosmik dan geopolitik global:
- Penghentian Praktik Peramalan: Kerajaan Persia yang sangat bergantung pada ramalan bintang dan jin mendadak lumpuh secara spiritual.
- Kebenaran Nubuat Kenabian: Keruntuhan kekuasaan Abrawazir menjadi bukti nyata bahwa kekuasaan sebesar apa pun di bumi tidak dapat membendung takdir Allah SWT atas kemenangan Islam.