info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Kronologi Turunnya Wahyu Pertama
Kronologi Turunnya Wahyu Pertama
Kronologi Turunnya Wahyu Pertama

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Penurunan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. merupakan peristiwa sejarah paling fundamental dalam Islam. Pemahaman kronologis dari peristiwa ini tersusun dari perpaduan berbagai riwayat sahabat dan tabi'in yang mencatat fase pra-kerasulan, momen puncak di Gua Hira, hingga dampak fisik dan respons setelahnya.

Berikut adalah alur kronologis peristiwa tersebut berdasarkan sintesis riwayat para tokoh yang disebutkan:

Fase Persiapan (Mimpi Benar & Tahannuth)

Sebelum Ramadan, 610 M

Riwayat Aisyah ra. & Abu Hurairah ra.

Proses kenabian diawali dengan Ar-Ru'ya as-Shalihah (mimpi yang benar), di mana setiap mimpi Beliau terjadi seperti fajar yang menyingsing. Setelah itu, timbul rasa cinta untuk menyendiri (tahannuth) di Gua Hira guna beribadah selama beberapa malam sebelum kembali mengambil bekal kepada Khadijah ra.

Peristiwa Puncak di Gua Hira

17 Ramadan / 610 M

Riwayat Aisyah ra. & Abdullah bin Abbas ra.

Malaikat Jibril mendatangi Nabi saw. di Gua Hira dan memerintahkan, "Bacalah!" (Iqra'). Beliau menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk dan memeluk Nabi saw. hingga tiga kali sebelum membacakan wahyu pertama: QS. Al-'Alaq ayat 1-5. Peristiwa ini menjadi penanda resmi pengangkatan Muhammad saw. sebagai Rasul Allah.

Kondisi Fisik dan Ketakutan Saat Pulang

Sesaat Setelah Wahyu Turun

Riwayat Aisyah ra., Umar bin Khattab ra., & Ubadah bin As-Shamit ra.

Nabi saw. pulang ke rumah Khadijah ra. dalam keadaan gemetar dan hati yang berdebar keras. Beliau meminta diselimuti (zammiluni, zammiluni). Riwayat Ubadah bin As-Shamit dan Umar bin Khattab menambahkan gambaran bahwa ketika menerima wahyu, tubuh Rasulullah saw. mengalami beban fisik luar biasa (muka memerah, berkeringat dingin meskipun cuaca dingin, dan merasa berat).

Penenangan oleh Khadijah & Pertemuan dengan Waraqah

Hari yang Sama

Riwayat Aisyah ra. & Ikrimah

Khadijah ra. menenangkan Beliau bahwa Allah tidak akan pernah menghinakannya karena Rasulullah adalah sosok yang menyambung silaturahmi dan membantu orang miskin. Khadijah membawa Nabi saw. bertemu Waraqah bin Naufal (seorang Nasrani terkemuka). Waraqah mengonfirmasi bahwa yang datang adalah An-Namus (Malaikat Jibril) yang pernah datang kepada Nabi Musa as.

Masa Terputusnya Wahyu (Fatrat al-Wahy)

Beberapa Waktu Setelah Wahyu Pertama

Riwayat Abdullah bin Amr ra., Zaid bin Tsabit ra., & Kharijah bin Zaid

Setelah surah Al-'Alaq turun, wahyu terhenti untuk sementara waktu. Para sahabat yang terhitung sebagai pencatat wahyu dan penghimpun di kemudian hari (seperti Zaid bin Tsabit dan Kharijah bin Zaid) memetakan masa ini sebagai fase penguatan mental Nabi saw. sebelum akhirnya turun wahyu berikutnya (QS. Al-Muddatsir 1-5) yang memerintahkan dakwah secara terbuka.

Penyampaian Detail Fenomena Wahyu kepada Para Sahabat

Masa Kenabian di Makkah & Madinah

Riwayat Ya'la bin Umayyah ra., Asma' bin Zaid ra., & Abu Arwa Ad-Dausi ra.

Para sahabat ini melengkapi narasi sejarah tentang proses atau keadaan ketika wahyu turun pada masa-masa berikutnya. Ya'la bin Umayyah pernah menyaksikan langsung raut wajah dan suara seperti dengungan lebah saat Nabi saw. menerima wahyu. Asma' dan Abu Arwa meriwayatkan beratnya tekanan wahyu hingga unta yang ditunggangi Nabi saw. terduduk bersimpuh karena tidak kuat menahan beban spiritual wahyu tersebut.

Perbedaan pendapat mengenai malaikat yang menemani Nabi Muhammad saw. pada fase awal kenabian—khususnya antara riwayat Amir asy-Sya'bi dan catatan Ibnu Sa'ad dalam Thabaqat al-Kubra—berkisar pada siapa malaikat pertama yang menyertai Beliau sebelum tugas dakwah penuh diserahkan kepada Malaikat Jibril as.

1. Riwayat Amir asy-Sya'bi (Malaikat Israfil as.)

  • Substansi Riwayat: Amir asy-Sya'bi meriwayatkan bahwa Allah menyertakan Malaikat Israfil as. untuk mendampingi Nabi Muhammad saw. selama 3 tahun.
  • Peran Malaikat: Selama masa 3 tahun tersebut, Malaikat Israfil mengajari Beliau berbagai kalimat, hikmah, dan bimbingan spiritual, namun belum menurunkan Al-Qur'an.
  • Peralihan: Setelah masa 3 tahun pendampingan oleh Israfil selesai, barulah tugas pendampingan kenabian dan penurunan wahyu Al-Qur'an diserahkan sepenuhnya kepada Malaikat Jibril as.

2. Catatan Ibnu Sa'ad (Malaikat Jibril as. & Variasi Durasi)

  • Substansi Riwayat: Dalam Thabaqat al-Kubra, Ibnu Sa'ad mencatat pendapat/riwayat yang menegaskan bahwa malaikat yang mendampingi dan mengampu wahyu sejak awal kenabian secara penuh adalah Malaikat Jibril as.
  • Masa Terputusnya Wahyu (Fatrat al-Wahy): Terkait masa jeda atau transisi di awal kenabian, Ibnu Sa'ad juga memuat riwayat alternatif mengenai durasi pendampingan awal/fase terhentinya wahyu, di mana beberapa riwayat menyebutkan rentang waktu yang berbeda (seperti 3 tahun atau bahkan hingga 6 tahun).

3. Kompromi Para Ulama (Al-Jam'u wa at-Taufiq)

Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani (dalam Fathul Baari) dan para ulama ahli sejarah Islam memadukan kedua pendapat ini untuk mendudukkan permasalahannya:

  1. Pengangkatan Kenabian (Nubuwwah): Pendampingan oleh Malaikat Israfil as. (berdasarkan riwayat Amir asy-Sya'bi) terjadi pada awal pengangkatan Beliau sebagai Nabi melalui tanda-tanda kenabian dan ilham.
  2. Pengangkatan Kerasulan (Risalah): Ketika Beliau diangkat menjadi Rasul yang diperintahkan untuk menyampaikan risalah dan Al-Qur'an (dimulai dari QS. Al-'Alaq dan Al-Muddatsir), tugas pendampingan utama secara mutlak dipegang oleh Malaikat Jibril as.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *