
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Peristiwa Malaikat Jibril mengajarkan wudhu dan shalat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu fondasi penting syariat Islam pada masa awal kenabian di Makkah (fase Makkiyah). Berikut adalah penjelasan berdasarkan riwayat-riwayat dan pandangan mufassir terkait:
1. Riwayat Usamah bin Zaid
Dalam riwayat yang bersumber dari Usamah bin Zaid (dari ayahnya, Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhuma), dijelaskan peristiwa awal penjelmaan Malaikat Jibril untuk mengajarkan bersuci:
- Proses Pengajaran: Pada awal mula menerima wahyu di Makkah, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW di lembah Makkah. Jibril mengentakkan kakinya ke bumi hingga memancar mata air. Jibril kemudian berwudhu untuk memperlihatkan tatacara bersuci kepada Nabi, lalu Nabi SAW menirukannya.
- Pengajaran Shalat: Setelah berwudhu, Jibril mengimami Rasulullah SAW melaksanakan shalat dua rakaat. Peristiwa ini menjadi landasan bahwa syarat sah shalat (yaitu bersuci/wudhu) telah diajarkan bersamaan dengan perintah tata cara shalat itu sendiri.
2. Riwayat Ibnu Al-Barra' (Bisyir bin Al-Barra' / Ka'b bin Al-Barra')
Nama Ibnu Al-Barra' merujuk pada kalangan sahabat Anshar dari Bani Salimah (seperti Bisyir bin Al-Barra' radhiyallahu 'anhu):
- Riwayat dari jalur sahabat Anshar ini menegaskan tradisi penyampaian sejarah (sirah) bahwa shalat diajarkan oleh Jibril sejak awal kenabian jauh sebelum peristiwa Isra' Mikraj.
- Penekanan riwayat ini mencatat bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan kembali tatacara wudhu dan shalat yang dipelajarinya dari Jibril kepada para sahabat awal (termasuk Khadijah radhiyallahu 'anha dan kalangan awal sahabat).
3. Pandangan Muqatil bin Sulaiman dan Para Mufassir
Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H), seorang mufassir awal Islam, beserta para ahli tafsir lainnya menjelaskan evolusi kewajiban shalat dan hubungannya dengan shalat malam (Qiyamul Lail):
- Kewajiban Shalat Awal (2 Rakaat Pagi & 2 Rakaat Petang):Muqatil bin Sulaiman menjelaskan bahwa pada awal kenabian, Allah mewajibkan shalat sebanyak dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada petang hari (al-ghadawatu wal-'asyiyyu). Penjelasan ini merujuk pada firman Allah SWT: "Dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi." (QS. Ghafir: 55)
- Shalat Malam (Qiyamul Lail):Para mufassir (seperti Ibnu Abbas, Muqatil, dan Ibnu Kathir) mencatat bahwa sebelum kewajiban shalat lima waktu diturunkan pada malam Isra' Mikraj, shalat malam (Qiyamul Lail) hukumnya wajib bagi Rasulullah SAW dan umat Islam berdasarkan awal Surah Al-Muzzammil (QS. 73: 1-4).
- Malaikat Jibril mengajarkan batasan waktu dan bentuk bacaan dalam shalat malam tersebut.
- Kewajiban shalat malam ini berlangsung selama kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya dirindankan (nakhs) menjadi sunnah melalui ayat terakhir Surah Al-Muzzammil (QS. 73: 20) dan digantikan oleh kewajiban shalat lima waktu setelah peristiwa Isra' Mikraj.
Kesimpulan
Secara historis, mekanisme wudhu dan shalat dua rakaat telah diajarkan oleh Malaikat Jibril secara langsung (fi'li) kepada Nabi SAW di awal masa kenabian (sebagaimana diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid dari ayahnya). Syariat shalat ini berkembang dari shalat rutin pagi-petang dan shalat malam wajib, hingga akhirnya disempurnakan menjadi shalat lima waktu pada peristiwa Isra' Mikraj.
Pada masa awal kenabian (Al-Bidayah), sebelum shalat lima waktu diwajibkan dalam peristiwa Isra' Mikraj, shalat dilaksanakan sebanyak dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada petang hari, serta shalat malam (Qiyamul Lail). Dalam periode yang sangat rahasia ini, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah menjadi laki-laki pertama (sekaligus anak-anak pertama) yang melaksanakan shalat bersama Rasulullah SAW.
1. Latar Belakang Keberadaan Ali di Rumah Nabi
Sebelum kerasulan, kota Makkah pernah dilanda krisis ekonomi dan paceklik yang berat. Abu Thalib, paman Nabi, memiliki banyak anak dan kesulitan menopang kebutuhan keluarga.
Untuk meringankan beban pamannya, Rasulullah SAW mengambil Ali bin Abi Thalib—yang saat itu masih berusia sekitar 8 hingga 10 tahun—untuk diasuh dan tinggal di rumah beliau. Hal ini membuat Ali tumbuh dalam pengawasan langsung Rasulullah SAW dan Khadijah radhiyallahu 'anha.
2. Peristiwa Pertama Ali Melihat Rasulullah SAW dan Khadijah Shalat
Suatu hari, Ali masuk ke rumah dan menyaksikan Rasulullah SAW bersama Khadijah sedang melakukan gerakan berdiri, ruku', dan sujud yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
- Pertanyaan Ali: Setelah shalat selesai, Ali bertanya: "Kepada siapakah engkau sujud dan gerakan apa ini?"
- Penjelasan Nabi: Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ini adalah agama Allah yang dipilih-Nya dan diutus para rasul untuk menyampaikannya. Beliau mengaitkannya dengan ketauhidan, mengajak Ali untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan berhala.
- Proses Masuk Islam: Ali tidak langsung mengiyakan hari itu juga karena ingin meminta izin kepada ayahnya, Abu Thalib. Namun, Nabi berpesan agar Ali menyembunyikan hal tersebut jika belum ingin beriman. Setelah merenungkan sepanjang malam tanpa berkonsultasi dengan ayahnya, Ali menemui Nabi keesokan harinya dan menyatakan keimanannya secara penuh.
3. Shalat Berjamaah Pertama dan Shalat Sembunyi-sembunyi
Setelah menyatakan keimanannya, Ali diajarkan wudhu dan tata cara shalat oleh Rasulullah SAW (sebagaimana diajarkan Malaikat Jibril).
- Barisan Pertama Islam: Pada fase awal ini, shalat berjamaah pertama dalam sejarah Islam hanya terdiri dari tiga orang: Rasulullah SAW sebagai imam, Khadijah di belakang/samping beliau, dan Ali bin Abi Thalib.
- Lokasi Pelaksanaan: Kerena dakwah masih bersifat rahasia (Da'wah Sirriyyah), shalat dilakukan secara sembunyi-sembunyi di dalam rumah Nabi, di celah-celah lembah Makkah (Syi'ab Makkah), atau di tempat yang jauh dari pengawasan kaum Quraysh.
4. Kesaksian Afif Al-Kindi (Saksi Mata)
Salah satu riwayat paling masyhur yang menggambarkan pemandangan shalat awal ini bersumber dari Afif al-Kindi (seorang pedagang yang kemudian masuk Islam). Ia menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke Makkah untuk membeli pakaian dan minyak wangi dari Abbas bin Abdul Muthalib:
"Ketika aku sedang berada di Mina bersama Al-Abbas, tiba-tiba keluar seorang laki-laki dari sebuah kemah/rumah. Ia melihat ke arah matahari, lalu berdiri menghadap Ka'bah dan memulai shalat. Tidak lama kemudian, keluar seorang wanita dan berdiri shalat di belakangnya. Lalu keluar seorang anak laki-laki yang beranjak remaja dan berdiri shalat di samping laki-laki tersebut.
Aku bertanya kepada Al-Abbas: 'Agama apa ini? Aku tidak pernah mendengar agama seperti ini.'
Al-Abbas menjawab: 'Laki-laki ini adalah Muhammad bin Abdullah, keponakanku. Ia mengklaim bahwa Allah telah mengutusnya sebagai Rasul. Wanita itu adalah istrinya, Khadijah binti Khuwailid, dan anak muda itu adalah keponakannya, Ali bin Abi Thalib. Demi Allah, tidak ada di muka bumi ini yang memeluk agama ini selain mereka bertiga.'"
(HR. Ahmad, An-Nasa'i dalam As-Sunan al-Kubra, dan Al-Hakim)
5. Reaksi Abu Thalib
Suatu ketika, Abu Thalib memergoki Rasulullah SAW dan Ali sedang shalat di salah satu lembah di Makkah.
- Abu Thalib bertanya kepada Nabi tentang apa yang sedang mereka lakukan. Nabi menjelaskan tentang agama tauhid dan mengajak pamannya untuk ikut serta.
- Meskipun Abu Thalib memilih untuk tetap berada pada agama leluhurnya, ia memberikan restu dan perlindungan kepada Ali dengan berkata:"Adapun dia (Muhammad), sungguh dia tidak akan mengajakmu kecuali kepada kebaikan, maka tetaplah bersamanya."
Kesimpulan
Shalatnya Ali bin Abi Thalib bersama Rasulullah SAW di awal Islam menggambarkan keteguhan iman dan kepeloporan (Sabiqunal Awwalun). Ali menjadi lelaki pertama yang sujud bersama Nabi SAW di muka bumi, menegaskan kedudukannya yang sangat istimewa dalam sejarah dan kenabian Islam.