
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Peristiwa permulaan wahyu (Bad'ul Wahyi) merupakan titik balik paling krusial dalam sejarah Islam. Kronologi ini dirangkai berdasarkan riwayat-riwayat shahih utama, khususnya riwayat Aisyah ra. (Shahih Bukhari No. 3) yang mendeskripsikan peristiwa di Gua Hira hingga perjumpaan dengan Waraqah, serta riwayat Jabir bin Abdullah ra. (Shahih Bukhari No. 4992) yang menjelaskan masa terhentinya wahyu (fatra al-wahyi) hingga turunnya wahyu kedua.
1. Fase Persiapan: Ar-Ru'ya as-Shalihah dan Tahannuts
Peristiwa berawal menjelang usia Rasulullah saw. menginjak 40 tahun sekitar tahun 610 M.
- Mimpi yang Benar (Ar-Ru'ya as-Shalihah): Menurut riwayat Aisyah ra., permulaan wahyu diawali dengan mimpi-mimpi fajar yang terang benderang. Setiap mimpi yang dialami Nabi saw. di dalam tidur selalu menjadi kenyataan secara persis di alam nyata.
- Pengasingan Diri (Tahannuts): Setelah fase mimpi tersebut, timbul rasa cinta dalam diri beliau untuk menyendiri (al-khala'). Beliau berkontemplasi di Gua Hira di puncak Jabal An-Nur, membawa bekal makanan yang dipersiapkan oleh istrinya, Khadijah ra.
2. Peristiwa Utama: Turunnya Malaikat Jibril dan Wahyu Pertama
Pada suatu malam di bulan Ramadan, Malaikat Jibril mendatanginya di Gua Hira.
- Perintah "Iqra'": Jibril memeluk Nabi saw. dengan sangat erat hingga beliau merasa payah, lalu melepaskannya sambil berkata, "Iqra'!" (Bacalah!). Nabi saw. menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Proses memeluk dan melepas ini berulang sebanyak tiga kali.
- Turunnya Surah Al-'Alaq 1-5: Pada dekapan ketiga, Jibril membacakan wahyu pertama:"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ar-Ru'ya as-Shalihah & Tahannuts
Awal 610 M
Nabi saw. mengalami mimpi-mimpi nyata dan mulai mengasingkan diri di Gua Hira untuk beribadah.
Wahyu Pertama di Gua Hira
Ramadan 610 M
Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah saw. dan menyampaikan Surah Al-'Alaq ayat 1-5.
Dukungan Khadijah ra. & Pertemuan Waraqah
Ramadan 610 M
Rasulullah saw. pulang dalam keadaan menggigil. Khadijah menenangkan beliau dan membawanya bertemu Waraqah bin Naufal.
Masa Fatra al-Wahyi
610 M (Beberapa Bulan)
Wahyu terhenti sementara waktu. Rasulullah saw. merasakan kerinduan dan kecemasan yang mendalam.
Turunnya Wahyu Kedua (Surah Al-Muddassir)
Akhir 610 M / Awal 611 M
Riwayat Jabir bin Abdullah ra. mencatat suara dari langit dan penampakan Jibril yang melandasi turunnya wahyu kenabian terbuka.
3. Kepulangan ke Rumah dan Peran Khadijah ra.
Rasulullah saw. pulang ke rumah dalam keadaan gemetar dan jantung berdebar keras.
- Permintaan diselimuti: Beliau menemui Khadijah ra. dan berkata, "Zammiluuni, zammiluuni" (Selimuti aku, selimuti aku). Khadijah menyelimutinya hingga rasa takutnya reda.
- Kecemasan Beliau: Nabi saw. mengungkapkan kekhawatirannya akan keselamatan dirinya.
- Peneguhan Khadijah ra.: Dengan kecerdasan dan kekuatan emosionalnya, Khadijah menenangkan beliau dengan kata-kata puitis dan rasional yang monumental dalam sejarah:"Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau selalu menyambung tali silaturahmi, menanggung beban orang lemah, memberi orang miskin, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang menegakkan kebenaran."
4. Kesaksian Waraqah bin Naufal
Khadijah membawa Nabi saw. menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal bin Asad, seorang sepuh penganut Nasrani yang mahir menulis Kitab Injil dalam bahasa Ibrani dan telah buta karena usia.
- Penjelasan Waraqah: Setelah mendengar cerita Nabi saw., Waraqah menegaskan:"Ini adalah An-Namus (Malaikat Jibril) yang pernah diutus kepada Nabi Musa as."
- Nubuat Perjuangan: Waraqah berharap masih hidup dan muda ketika kaum Nabi saw. mengusirnya nanti. Ketika Nabi saw. terkejut dan bertanya, "Apakah mereka akan mengusirku?", Waraqah menjawab bahwa tidak ada seorang pun yang membawa ajaran seperti yang dibawa Nabi saw. melainkan pasti dimusuhi.
- Tidak lama setelah peristiwa ini, Waraqah meninggal dunia.
5. Masa Fatra al-Wahyi dan Wahyu Kedua (Perspektif Jabir bin Abdullah ra.)
Setelah perjumpaan dengan Waraqah, wahyu terhenti untuk beberapa waktu (fatra al-wahyi). Di sinilah riwayat Jabir bin Abdullah ra. memberikan kontinuitas sejarah:
- Pengalaman di Jalan: Jabir ra. meriwayatkan bahwa Nabi saw. bercerita saat beliau sedang berjalan, beliau mendengar suara dari langit. Ketika menengadah, beliau melihat malaikat yang mendatangi di Gua Hira sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi.
- Perasaan Takut dan Wahyu Kedua: Beliau merasa takut lalu pulang dan minta diselimuti ("Datsiruuni, datsiruuni").
- Turunnya Surah Al-Muddassir: Saat itulah Allah menurunkan wahyu:"Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!" (QS. Al-Muddassir: 1-2).
Turunnya Surah Al-Muddassir ini menandai dimulainya tugas kerasulan (perintah berdakwah kepada umum), setelah Surah Al-'Alaq menandai pengangkatannya sebagai Nabi.
Perbedaan antara penetapan kenabian (nubuwwah) melalui Surah Al-’Alaq dan penetapan kerasulan (risalah) melalui Surah Al-Muddassir merupakan salah satu pembagian fase paling fundamental dalam ilmu Sirah Nabawiyah dan Aqidah Islam.
Perubahan ini menandai transformasi posisi Rasulullah saw., baik dari segi tanggung jawab teologis maupun dinamika sejarah perjuangan dakwahnya.
1. Konsekuensi Teologis
Kedua surah ini memiliki beban hukum dan penegasan status yang berbeda secara teologis dalam tradisi keilmuan Islam:
| Dimensi Teologis | Wahyu Pertama: QS. Al-’Alaq (1-5) | Wahyu Kedua: QS. Al-Muddassir (1-7) |
| Status Hukum | Pengangkatan sebagai Nabi (Nubuwwah) | Pengangkatan sebagai Rasul (Risalah) |
| Inti Perintah | Iqra’ (Bacalah) — Pengayaan pribadi, penerimaan ilmu, dan penataan spiritual internal. | Qum fa-andzir (Bangunlah, lalu berilah peringatan) — Perintah eksternal untuk beraksi. |
| Cakupan Beban | Bersifat individu (fardhi). Beliau menerima wahyu untuk dirinya sendiri sebagai bentuk penyucian jiwa dan kesiapan intelektual-spiritual. | Bersifat publik (ijtima'i). Beliau dibebani kewajiban menyampaikan syariat (tabligh) kepada masyarakat luas. |
| Perubahan Hubungan dengan Manusia | Hubungan vertikal antara Allah dan hamba-Nya (kontemplatif). Beliau belum diperintahkan berinteraksi secara dakwah dengan kaumnya. | Hubungan horizontal yang terikat dengan wahyu vertikal. Beliau wajib mendatangi masyarakat dan menghadapi resistensi mereka. |
Prinsip Keilmuan Islam
Para ulama ushul dan aqidah menyimpulkan kaidah terkenal:
"Nabi digelari melalui Surah Al-’Alaq, sedangkan Rasul diutus melalui Surah Al-Muddassir."
(Nubbi-a bi Iqra', wa Ur-sila bil-Muddassir)
2. Konsekuensi Sejarah
Ditinjau dari perspektif sejarah (tarikh), perbedaan fokus dari kedua wahyu tersebut mengubah lanskap sosial dan politik di Makkah secara drastis.
[Gua Hira: QS. Al-'Alaq]
│
▼ (Fase Kontemplasi & Penyucian Diri)
[Nabi / Pengembangan Spiritual Internal]
│
▼ (Fatra al-Wahyi & Turunnya QS. Al-Muddassir)
[Rasul / Penggerak Perubahan Sosial]
│
├─► Dakwah Sirriyah (Sembunyi-sembunyi) -> Pembentukan Kader Awal
└─► Dakwah Jahriyah (Terang-terangan) -> Konfrontasi Sosial & Hijrah
A. Pergeseran Metode Perjuangan (Dari Kontemplasi ke Aksi)
- Pasca Al-’Alaq: Rasulullah saw. berada pada fase perenungan pribadi dan pencarian ketenangan jiwa. Tidak ada aktivisme sosial atau konfrontasi ideologis dengan masyarakat Quraysh.
- Pasca Al-Muddassir: Perintah Qum (Bangunlah) mengakhiri masa istirahat dan isolasi mandiri di Gua Hira. Rasulullah saw. secara aktif mendatangi pusat-pusat keramaian, pasar, dan pertemuan suku untuk menyampaikan ajaran Islam.
B. Lahirnya Dakwah dan Reaksi Masyarakat Makkah
- Garis Pembatas Konfrontasi: Selama beliau hanya menerima pencerahan di Gua Hira (Nabi), masyarakat Quraysh tidak merasa terancam. Namun, ketika beliau menyampaikan peringatan (Andzir) tentang bahaya syirik dan ketidakadilan sosial (Rasul), otoritas politik dan ekonomi Quraysh merasa terganggu.
- Tahapan Dakwah Makkah:
- Dakwah Sembunyi-sembunyi (Sirriyah): Dimulai tepat setelah Al-Muddassir turun, berfokus pada pembentukan karakter dasar para Assabiqunal Awwalun (pemeluk Islam pertama) di rumah Arqam bin Abi Arqam.
- Dakwah Terang-terangan (Jahriyah): Dilakukan setelah perintah dakwah terbuka turun (QS. Al-Hijr: 94), yang berujung pada pemboikotan, penyiksaan sahabat, hingga peristiwa Hijrah.
C. Pembentukan Komunitas dan Institusi Hukum
Secara sejarah, peran sebagai Rasul membutuhkan adanya umat yang diatur. Melalui arahan dalam Al-Muddassir (seperti membersihkan pakaian dan menjauhi perbuatan dosa/berhala), Nabi Muhammad saw. mulai membangun norma-norma etika baru yang kelak menjadi fondasi hukum dan tata kota di Madinah.
Turunnya Surah Al-Muddassir menjadi penanda dimulainya kewajiban berdakwah. Menghadapi konstelasi politik Makkah yang didominasi oleh tradisi kemusyrikan dan sistem kesukuan yang ketat, Rasulullah saw. menerapkan strategi Dakwah Sirriyah (dakwah secara rahasia/sembunyi-sembunyi) yang berpusat di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam (Darul Arqam).
Fase ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun dan menjadi fondasi terpenting pembentukan karakter serta keimanan para pengikut awal Islam.
1. Pemilihan Darul Arqam sebagai Pusat Operasional
Pemilihan rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil perhitungan strategi (taktik) yang sangat matang:
- Posisi Strategis namun Tersembunyi: Rumah ini terletak di kaki Bukit Shafa, sangat dekat dengan Ka'bah yang merupakan pusat aktivitas masyarakat Quraisy. Hal ini memudahkan para sahabat untuk datang secara bergelombang tanpa memicu kecurigaan.
- Latar Belakang Pemilik (Al-Arqam): Al-Arqam berasal dari Bani Makhzum—suku yang menjadi rival utama Bani Hasyim (kabilah Nabi saw.). Kaum Quraisy tidak akan pernah menyangka bahwa pusat gerakan ajaran baru yang dibawa oleh seorang anggota Bani Hasyim justru berada di dalam rumah seorang pemuda dari kabilah musuhnya.
- Usia dan Aksesibilitas: Al-Arqam saat itu masih sangat muda (sekitar 17–18 tahun) dan belum masuk dalam radar pengawasan para pimpinan senior Quraisy seperti Abu Jahal atau Umayyah bin Khalaf.
2. Dinamika Masuknya Islam (Assabiqunal Awwalun)
Dinamika perekrutan anggota pada fase Sirriyah dilakukan melalui pendekatan personal (mubasyar) yang berbasis kepercayaan penuh:
[Mata Chain Perekrutan Personal]
Rasulullah saw. ──► Khadijah ra. & Ali bin Abi Thalib ra.
│
├──► Zaid bin Haritsah ra.
│
└──► Abu Bakar As-Siddiq ra.
│
├──► Utsman bin Affan ra.
├──► Az-Zubair bin Al-Awwam ra.
├──► Abdurrahman bin Auf ra.
├──► Sa'ad bin Abi Waqqas ra.
└──► Talhah bin Ubaidillah ra.
- Jalur Tokoh Kunci (Abu Bakar ra.): Tokoh terpenting dalam ekspansi jaringan dakwah Sirriyah adalah Abu Bakar As-Siddiq ra. Sebagai pedagang terpandang, ramah, dan ahli silsilah Arab, Abu Bakar menggunakan pengaruh pribadinya untuk merangkul sahabat-sahabat dekatnya hingga mereka memeluk Islam.
- Komposisi Sosial Inklusif: Komunitas Darul Arqam terdiri dari pelbagai lapisan masyarakat Makkah:
- Bangsawan & Elite: Utsman bin Affan ra., Abdurrahman bin Auf ra.
- Muda & Revolusioner: Ali bin Abi Thalib ra., Al-Arqam, Sa'ad bin Abi Waqqas ra.
- Kaum Dhu'afa & Budak: Bilal bin Rabah ra., Khabbab bin Al-Arat ra., keluarga Yasir (Ammar, Yasir, Sumayyah).
3. Kurikulum dan Strategi Pembinaan di Darul Arqam
Darul Arqam berfungsi sebagai maddrasah (sekolah) sekaligus mukhayyam (kaderisasi) pertama dalam sejarah Islam. Kurikulum yang diterapkan berfokus pada tiga pilar utama:
| Pilar Pembinaan | Bentuk Aktivitas & Fokus |
| Pembersihan Aqidah (Tazkiyatun Nufs) | Mengikis tuntas mentalitas jahiliyah dan penyembahan berhala, digantikan dengan penanaman Tauhid yang murni melalui pembacaan dan pemahaman ayat-ayat Makkiyah. |
| Ibadah Komunal Terbatas | Menjalankan salat dua rakaat di pagi dan petang secara tersembunyi. Pengalaman ibadah bersama ini merekatkan rasa persaudaraan (ukhuwah) antar-anggota. |
| Pembentukan Resiliensi Mental | Mempersiapkan jiwa para sahabat untuk menghadapi tekanan psikologis maupun fisik yang diperkirakan akan muncul ketika dakwah beralih ke fase terbuka (Jahriyah). |
4. Dampak dan Akhir Fase Sirriyah
Strategi dakwah di Darul Arqam berhasil melahirkan sekitar 40 hingga 50 orang pemeluk Islam pertama. Kelompok kecil inilah yang kelak menjadi pilar inti (core team) kepemimpinan Islam pada masa-masa paling krusial di Makkah dan Madinah.
Fase pembinaan rahasia ini berakhir setelah turunnya wahyu yang memerintahkan dakwah secara terang-terangan:
"Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik."
(QS. Al-Hijr: 94)
Diiringi dengan masuk Islamnya dua tokoh kuat Makkah, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib ra. dan Umar bin Khattab ra., kekuatan komunitas Muslim semakin mantap untuk melangkah keluar dari Darul Arqam dan menyampaikan Islam secara terbuka di hadapan publik Makkah.