info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Tanda Kenabian Muhammad dan Hewan Liar
Tanda Kenabian Muhammad dan Hewan Liar
Tanda Kenabian Muhammad dan Hewan Liar

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Kisah-kisah pemberitahuan binatang liar atau peristiwa ajaib terkait kerasulan Nabi Muhammad saw. banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab Dala'il an-Nubuwwah (tanda-tanda kenabian), seperti karya Imam al-Baihaqi dan Abu Nu'aim al-Ashbahani.

1. Riwayat Abu Amr Al-Hudzali (Patung Suwa' & Serigala) Abu Amr Al-Hudzali meriwayatkan keberadaan penjaga atau penyembah berhala Suwa' (berhala suku Hudzail). Suatu ketika, seekor serigala datang membawakan seekor domba lalu memakannya di dekat berhala tersebut. Sang penjaga terkejut ketika mendengar bisikan atau seruan gaib yang bersumber dari wilayah sekitar berhala (atau suara binatang di sekitarnya) yang memberitahukan bahwa kemusyrikan akan hancur karena telah lahir seorang Nabi di Makkah yang membawa kebenaran dan menghapuskan penyembahan patung Suwa'.

2. Riwayat Mujahid dari Orang Tua Bernama Ibnu Anbas Mujahid meriwayatkan dari seorang tua dari bani Kinanah/Mudhar bernama Ibnu Anbas. Diceritakan bahwa Ibnu Anbas sedang berada di padang gembala atau hutan, lalu ia berhadapan dengan binatang liar (serigala). Secara ajaib, binatang tersebut berbicara kepadanya dengan bahasa manusia yang fasih dan memberi tahu bahwa seorang Rasul telah diutus di Makkah mengajak kepada tauhid. Kejadian ini membuat Ibnu Anbas terperanjat dan akhirnya mencari tahu keberadaan Rasulullah saw. hingga masuk Islam.

Serigala dalam kisah kenabian. Source: Ahmad Bek / 500px / Getty Images

3. Riwayat Abu Hurairah r.a. (Serigala Berbicara / Kalam adz-Dzi'b) Kisah dari Abu Hurairah r.a. adalah salah satu hadis yang sangat populer mengenai Kalam adz-Dzi'b (serigala yang berbicara).

  • Peristiwa: Seekor serigala menerkam domba milik seorang gembala. Gembala itu mengejar dan merebut kembali dombanya.
  • Teguran Serigala: Serigala itu duduk, mengibaskan ekornya, lalu berbicara: "Apakah engkau tidak takut kepada Allah? Engkau merebut dariku rezeki yang telah Allah alokasikan untukku?"
  • Kabar Kenabian: Gembala itu terheran-heran, "Sungguh menakjubkan, seekor serigala bisa berbicara seperti manusia!" Serigala itu membalas: "Mau kah aku beritahukan yang lebih menakjubkan dari ini? Di Yatsrib (Madinah), ada seorang lelaki (Muhammad saw.) yang memberitahukan kepada manusia tentang berita masa lalu dan masa depan."
  • Akhir Kisah: Gembala tersebut langsung menggiring dombanya ke Madinah, menemui Rasulullah saw., dan menceritakan kejadian tersebut. Rasulullah saw. membenarkan kejadian itu dan menegaskan bahwa ini adalah salah satu tanda semakin dekatnya hari kiamat.

Tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad saw. (Dala'il an-Nubuwwah) yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tokoh masa awal Islam mencakup berbagai peristiwa luar biasa sebelum maupun pada awal masa kerasulan.

1. Riwayat Ibnu Abbas r.a. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan berbagai fenomena alam dan kejadian gaib yang menandai kenabian:

  • Penjagaan Langit dengan Bintang: Sebelum pengutusan Rasulullah saw., setan dan jin bebas mencuri dengar berita langit. Ketika Nabi Muhammad saw. diutus, langit dijaga ketat dan setan-setan dilempar dengan panah-panah api (syihab).
  • Peristiwa Gajah: Kebinasaan pasukan gajah Abrahah pada tahun kelahiran Nabi Muhammad saw. sebagai pemuliaan terhadap Kakbah dan persiapan lahirnya sang Nabi.
  • Pengakuan Rahib Bahira: Ketika Nabi masih muda diajak berdagang oleh Abu Thalib ke Syam, Ibnu Abbas meriwayatkan pengamatan Rahib Bahira terhadap awan yang selalu menaungi Nabi dan pohon yang merunduk menaunginya.

2. Riwayat Aisyah r.a. Aisyah r.a. meriwayatkan tanda-tanda awal datangnya wahyu serta peristiwa pembukaan kerasulan:

  • Mimpi yang Benar (Ar-Ru'ya ash-Shalihah): Enam bulan sebelum menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad saw. mengalami mimpi-mimpi yang menjadi kenyataan secara jelas bagaikan terbitnya fajar subuh.
  • Kecintaan pada Tahannuth: Nabi mendapatkan dorongan kuat untuk menyendiri dan beribadah di Gua Hira sebelum akhirnya Malaikat Jibril turun membawa wahyu pertama (Surah Al-'Alaq).
View of the Mevlana Complex in Konya on a starry night.

3. Riwayat Abu Maisarah (Amr bin Syurahbil) Abu Maisarah meriwayatkan pengalaman Nabi Muhammad saw. mendengarkan panggilan gaib sebelum wahyu resmi turun:

  • Ketika Nabi Muhammad saw. berjalan sendirian di lembah Makkah, beliau mendengar suara panggilan "Wahai Muhammad! Wahai Muhammad!".
  • Saat beliau menengok ke kanan dan ke kiri, beliau tidak melihat seorang pun, namun mendengar pepohonan dan batu-batu di sekitarnya mengucapkan salam: "Assalamu 'alaika ya Rasulallah" (Keselamatan atasmu wahai Rasulullah).

4. Riwayat Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. Abu Bakar r.a. menyaksikan kejujuran dan kemuliaan sifat Nabi sejak sebelum masa kenabian:

  • Pengalaman di Syam: Abu Bakar bertolak ke Syam bersama Nabi Muhammad saw. untuk berdagang. Di sana, seorang rahib (Buhaira/Nestor) bertanya tentang sosok yang berteduh di bawah pohon. Rahib tersebut menegaskan bahwa tidak ada yang berteduh di bawah pohon itu setelah Isa a.s. kecuali seorang Nabi.
  • Keyakinan Tanpa Ragu: Karena telah mengenal karakter Al-Amin (dapat dipercaya) sejak kecil, Abu Bakar langsung membenarkan kenabian Muhammad saw. saat pertama kali diajak memeluk Islam tanpa meminta bukti mukjizat tambahan.

5. Riwayat Waraqah bin Naufal Waraqah bin Naufal adalah seorang sepupu Khadijah r.a. yang telah mempelajari kitab-kitab terdahulu (Taurat dan Injil):

  • Konfirmasi Namus (Jibril): Ketika Khadijah r.a. membawa Nabi Muhammad saw. kepadanya setelah peristiwa di Gua Hira, Waraqah mendengarkan cerita Nabi dan langsung mengenali sosok Malaikat Jibril sebagai Al-Namus Al-Akbar (malaikat pembawa wahyu yang pernah turun kepada Nabi Musa a.s.).
  • Nubuat Penolakan: Waraqah memberitahukan tanda kenabian lain, yaitu kaumnya kelak akan memusuhi dan mengusirnya dari tanah airnya, karena tidak ada seorang pun yang membawa ajaran serupa melainkan akan dimusuhi oleh kaumnya.

Peristiwa batu dan pohon memberikan salam kepada Nabi Muhammad saw. merupakan salah satu mukjizat dan tanda kenabian (Dala'il an-Nubuwwah) yang sahih. Peristiwa ini terjadi pada masa-masa awal sebelum atau di awal pengangkatan beliau sebagai Rasul, di mana Allah SWT memperdengarkan penghormatan dari benda-benda mati kepada beliau.

1. Riwayat Jabir bin Samurah r.a.

Riwayat dari Jabir bin Samurah r.a. merupakan salah satu riwayat paling populer yang dicatat dalam Shahih Muslim:

Rasulullah saw. bersabda:

"Sungguh aku mengetahui seekor batu di Makkah yang memberi salam kepadaku sebelum aku diutus (menjadi Nabi). Sungguh aku mengetahuinya sekarang." (HR. Muslim)

Riwayat ini menunjukkan bahwa mukjizat penghormatan benda mati kepada Nabi Muhammad saw. sudah terjadi bahkan sebelum wahyu pertama turun di Gua Hira, dan beliau masih mengenali batu tersebut hingga masa kerasulannya di Madinah.

2. Riwayat Ali bin Abi Thalib r.a.

Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan pengalaman langsungnya saat mendampingi Nabi Muhammad saw. berjalan di wilayah sekitar Makkah. Riwayat ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi:

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:

"Aku pernah bersama Nabi saw. di Makkah, lalu kami keluar menuju sebagian pinggiran kota Makkah. Tidak ada satu pun pohon maupun batu yang menyambut beliau melainkan mengucapkan: 'Assalamu 'alaika ya Rasulallah' (Keselamatan atasmu, wahai Rasulullah)." (HR. At-Tirmidzi)

Dalam riwayat ini, Ali r.a. menyaksikan secara langsung bahwa tidak hanya satu batu atau satu pohon saja, melainkan seluruh pepohonan dan bebatuan yang dilewati Nabi saw. mengeluarkan suara salam secara jelas.

3. Riwayat Barrah binti Abi Tajrah r.a.

Barrah binti Abi Tajrah r.a. meriwayatkan suasana dan detik-detik awal menjelang pengutusan Nabi Muhammad saw.:

Barrah binti Abi Tajrah r.a. menceritakan bahwa ketika Allah SWT hendak memuliakan Muhammad saw. dengan kenabian, beliau keluar untuk suatu keperluan hingga jauh ke lembah-lembah dan pinggiran Makkah. Tidaklah beliau melewati batu maupun pohon melainkan batu dan pohon itu berkata:

"Assalamu 'alaika ya Rasulallah."

Nabi saw. pun menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang, namun beliau tidak melihat siapa pun selain pepohonan dan bebatuan tersebut.

Riwayat dari Barrah ini menjelaskan respons awal Nabi saw. saat mendengar salam tersebut—beliau sempat mengira ada orang yang memanggilnya, namun setelah menoleh ke segala arah, beliau menyadari bahwa suara tersebut datang dari benda mati di sekelilingnya sebagai bentuk pemuliaan Allah SWT menjelang pengangkatan beliau sebagai Nabi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *