
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam tradisi literatur keislaman, kisah-kisah kenabian Muhammad saw. mencakup fenomena penanda kenabian (irhash dan dalail an-nubuwwah), termasuk suara tanpa rupa (hatif), ramalan patung/jin, hingga kesaksian para sahabat yang memeluk Islam.
dynamic tokoh dan peristiwa terkait tanda-tanda kenabian Rasulullah saw.:
Fathimah binti An-Nukman dari Bani Najjar
Fathimah binti An-Nukman merupakan seorang wanita dari suku Bani Najjar di Yatsrib (Madinah). Dalam riwayat-riwayat penanda kenabian (Dalail An-Nubuwwah), ia dikisahkan memiliki hubungan dengan alam gaib/jin pengawal sebelum Islam masuk. Saat mendekati masa diutusnya Nabi Muhammad saw., jin penasihatnya tidak lagi membawakan berita dari langit. Jin tersebut lalu memberi tahu Fathimah bahwa seorang nabi ummi telah muncul di Makkah yang membawa ajaran tauhid dan melarang praktik perukunan serta sihir, yang menjadi tanda awal perpindahan kepercayaan masyarakat Madinah menuju Islam.
Khuraim bin Fatik dengan Umar bin Khattab
Khuraim bin Fatik Ad-Asadi menceritakan kisah keislamannya dan kabar kenabian yang sampai kepadanya saat ia sedang mencari untanya yang hilang di suatu lembah. Ia mendengar suara tanpa rupa (hatif) yang berseru agar orang-orang mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw., nabi akhir zaman di Makkah. Khuraim kemudian menuju Makkah dan memeluk Islam. Kisah pengalaman supranatural dan pengakuan kenabian ini kelak disampaikan dan didiskusikan dalam dialog bersama Umar bin Khattab ra. pada masa kekhalifahannya untuk mencatat tanda-tanda kebenaran Risalah.
Mazin bin Al-Ghadubah
Mazin bin Al-Ghadubah Al-Tha'i merupakan orang Oman pertama yang memeluk Islam. Sebelum memeluk Islam, ia adalah penjaga berhala bernama Najiya. Suatu hari ketika ia menyembelih kurban untuk berhala tersebut, ia mendengar suara misterius dari dalam berhala yang mengabarkan munculnya Nabi Muhammad saw. yang mengajak pada kebenaran dan keesaan Allah. Terperanjat oleh kejadian itu, Mazin meruntuhkan berhalanya dan melakukan perjalanan ke Madinah untuk menemui Rasulullah saw. secara langsung lalu menyatakan keislamannya.
Khatsam dan Hatif
Khatsam merujuk pada individu atau riwayat dari suku Arab yang mengalami peristiwa hatif (suara pemanggil tanpa wujud fisik) menjelang kenabian. Fenomena hatif adalah salah satu bentuk tanda kenabian (irhash) yang kerap dialami bangsa Arab pra-Islam, di mana suara-suara misterius di lembah atau dari tempat tersembunyi menyerukan bahwa zaman kegelapan telah usai dan Rasulullah saw. telah diutus di Hijaz.
Tamim Ad-Dary
Tamim ad-Dari adalah sahabat Nabi asal Palestina yang sebelumnya merupakan pendeta Nasrani dari klan Bani ad-Dar. Keislamannya memperkuat bukti kenabian Muhammad saw. melalui peristiwa terkenal tentang pertemuannya dengan sosok misterius (Al-Jassasah) dan Dajjal di sebuah pulau terpencil saat kapalnya terdampar. Ketika Tamim menceritakan pengalamannya kepada Rasulullah saw., cerita tersebut cocok secara persis dengan wahyu yang diterima Nabi. Nabi Muhammad saw. bahkan naik ke mimbar dan menyampaikan kembali kesaksian Tamim tersebut kepada jamaah sahabat.
Khuwailid Ad-Darimy
Khuwailid Ad-Darimy (berasal dari klan/suku Ad-Darim, sekerabat dengan Tamim Ad-Dary) merupakan salah satu utusan dari wilayah Syam/Palestina yang mendatangi Madinah bersama rombongan Bani ad-Dar. Kedatangan mereka bertujuan untuk bertemu langsung dengan Rasulullah saw. guna menguji serta mengonfirmasi kebenaran kabar kenabian yang telah menyebar luas hingga ke perbatasan kekaisaran Bizantium.
Video di atas mendokumentasikan perjalanan sejarah Mazin bin Al-Ghadubah, orang Oman pertama yang memeluk Islam setelah mendengar kabar kenabian Rasulullah saw. https://www.youtube.com/watch?v=5SDatw5Xh8I
Dalam litelatur Dalail An-Nubuwwah (kitab-kitab bukti kenabian), kisah mengenai ketiga tokoh ini berkaitan erat dengan peristiwa kesaksian, fitrah keesaan, dan tanda-tanda kenabian Rasulullah saw. (irhash):
1. Jubair bin Muth'im
Jubair bin Muth'im ra. adalah salah seorang tokoh terpandang dari kaum Quraisy yang kemudian memeluk Islam. Kaitannya dengan penanda kenabian meliputi dua peristiwa besar:
- Kesaksian Wukuf di Arafah sebelum Kenabian:Pada masa Jahiliyah, kaum Quraisy yang merasa jumawa sebagai penjaga Ka'bah enggan melakukan wukuf di Arafah bersama suku-suku Arab lainnya; mereka memilih wukuf di Muzdalifah. Namun, Jubair menceritakan bahwa saat mencari untanya yang hilang di Padang Arafah pada musim haji era Jahiliyah, ia terkejut melihat Muhammad (yang belum diangkat menjadi Nabi) sedang wukuf di Arafah. Bimbingan fitrah dan kesucian beliau untuk tetap mengikuti ajaran lurus Nabi Ibrahim as. tanpa terpengaruh kesombongan tradisi Quraisy menjadi bukti penjagaan Allah ('ishmah) atas kenabian beliau.
- Getaran Hati oleh Ayat Al-Qur'an:Saat tiba di Madinah sebagai utusan musyrikin untuk mengurus tawanan Perang Badar, Jubair mendengar Rasulullah saw. memimpin salat Maghrib dengan membaca Surah At-Thur. Ketika Nabi sampai pada ayat:"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (QS. At-Thur: 35)Jubair mengaku bahwa hatinya seakan ingin terbang dan itulah momen pertama kalinya iman merasuk ke dalam dadanya, menandakan kekuatan mu'jizat Al-Qur'an yang meluluhkan penentang beliau.
2. Al-Abbas bin Mirdas
Al-Abbas bin Mirdas Al-Sulami adalah penyair ulung sekaligus pimpinan kaumnya dari Suku Sulaim. Peristiwa keislamannya merupakan salah satu bentuk bukti kenabian melalui fenomena runtuhnya dominasi berhala (hatif):
- Suara Misterius dari Berhala Dhimar:Al-Abbas bin Mirdas memiliki berhala yang diwariskan oleh ayahnya bernama Dhimar. Setelah Rasulullah saw. diutus, ketika Abbas sedang membersihkan berhalanya, terdengar suara tanpa wujud (hatif) yang keluar dari dalam berhala tersebut melalui syair: "Katakan kepada seluruh suku Sulaim bahwa Dhimar telah hancur, sedangkan tempat ibadah telah menjadi sunyi... Sesungguhnya orang yang membawa petunjuk dan kebenaran adalah Muhammad..."
- Meninggalkan Berhala:Mendengar ucapan tersebut, Al-Abbas tersentak dan menyadari bahwa berhala yang dibanggakannya hanyalah batu tak berdaya. Ia segera membakar berhala Dhimar, lalu berangkat menemui Rasulullah saw. untuk menyatakan keislamannya dan menggubah syair-syair pujian atas kebenaran risalah kenabian Muhammad saw.
3. Rasyid bin Abdi Rabbih
Nama Rasyid bin Abdi Rabbih (di beberapa riwayat klasik ditulis Ghawas bin Abdi Rabbih sebelum namanya diubah oleh Nabi) terkait erat dengan kisah pembersihan simbol syirik dan pengakuan tanda kenabian:
- Kisah Penjaga Berhala Suwa' / Dzul Halasah:Sebelum masuk Islam, ia adalah orang yang mengabdi atau menyembah berhala. Suatu hari, ia menyaksikan dua ekor rubah (tha'lab) mendatangi berhala tersebut, lalu kencing di atas kepalanya. Peristiwa menggelikan dan nista ini membuatnya tersadar bahwa benda mati itu tidak pantas disembah, sebagaimana syair terkenal yang ia ucapkan: "Apakah berhala ini layak menjadi tuhan padahal rubah saja berkencing di kepalanya? Sungguh hina orang yang menjadikannya tuhan."
- Diubah Namanya oleh Rasulullah saw.:Setelah menyaksikan kehinaan berhalanya, ia mencari keberadaan Rasulullah saw. Ketika tiba di hadapan Nabi dan menceritakan kisahnya, Rasulullah saw. bertanya tentang namanya. Ia menjawab bahwa namanya adalah Ghawas (artinya yang sesat/terbenam) atau Ghawil. Nabi Muhammad saw. kemudian mengubah namanya menjadi Rasyid (artinya yang mendapat petunjuk) bin Abdi Rabbih (hamba Tuhannya). Pengubahan nama ini menandai perpindahannya dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya kenabian.