info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Keumuman Risalah Nabi Muhammad saw.
Keumuman Risalah Nabi Muhammad saw.
Keumuman Risalah Nabi Muhammad saw.

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Pesan kenabian Nabi Muhammad saw. memiliki dua keistimewaan utama: keumuman risalah (Risaalah 'Aammah)—yang mencakup seluruh umat manusia dan bangsa jin—serta kedudukan beliau sebagai penutup para nabi (Khaatam an-Nabiyyiin).

Dalam perjalanan sejarah (Sirah Nabawi), kedua hakikat ini tidak muncul begitu saja secara instan, melainkan ditanamkan dan dibuktikan secara bertahap melalui peristiwa-peristiwa kronologis sepanjang fase Makkah hingga Madinah.

sepanjang fase Makkah hingga Madinah.

Timeline Kronologis Risalah Nabi saw.

Awal Kenabian & Kesadaran Risalah Awal

610 M (Fase Makkah)

Turunnya wahyu pertama di Gua Hira (QS. Al-'Alaq: 1-5). Waraqah bin Naufal menegaskan bahwa yang mendatangi Nabi adalah Namus (Malaikat Jibril) yang pernah datang kepada Nabi Musa as. Ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw. berada dalam rantai para nabi pembawa wahyu ilahi.

Peristiwa di Ath-Tha'if & Dakwah Kepada Bangsa Jin

619–620 M (Tahun Kesedihan)

Setelah wafatnya Khadijah ra. dan Abu Thalib, Nabi saw. pergi berdakwah ke Tha'if namun ditolak keras. Sekembalinya dari Tha'if, beliau beristirahat di Lembah Nakhlah dan melaksanakan shalat malam. Saat itulah rombongan jin mendengarkan lantunan Al-Qur'an dan beriman (QS. Al-Ahqaf: 29-32 dan QS. Al-Jinn: 1-2). Peristiwa ini membuktikan secara fisik-historis bahwa dakwah beliau melampaui batas alam manusia.

Pengukuhan Kedudukan di Peristiwa Isra' Mi'raj

621 M (Makkah)

Di Masjid Al-Aqsa, Nabi Muhammad saw. memimpin shalat berjamaah di mana seluruh nabi dan rasul terdahulu menjadi makmum di belakang beliau. Secara simbolis-historis, ini menandakan kepemimpinan spiritual beliau atas seluruh ajaran para nabi terdahulu dan transisi tongkat estafet kenabian universal.

Kirim Surat ke Para Raja & Penguasa Dunia

628 M / 6–7 H (Fase Madinah)

Pasca Perjanjian Hudaibiyah, Nabi saw. mengirimkan utusan dan surat diplomatik kepada para penguasa dunia saat itu (Kaisar Heraklius dari Bizantium, Raja Khosrau dari Persia, Muqawqis dari Mesir, dan Najasyi dari Habasyah). Langkah diplomasi ini menjadi bukti historis konkrit bahwa risalah beliau bukan hanya untuk suku Quraisy atau bangsa Arab, melainkan untuk seluruh umat manusia.

Penutupan Wahyu & Haji Wada'

632 M / 10 H (Madinah)

Dalam Khutbah Wada' di Padang Arafah dan turunnya QS. Al-Ma'idah: 3, Allah mengumumkan kesempurnaan agama Islam. Penyerahan risalah telah tuntas, menegaskan posisi beliau sebagai nabi terakhir karena agama Allah telah sempurna dan tidak lagi membutuhkan nabi pembawa hukum baru.

Analisis Perspektif Sirah Nabawi

1. Keumuman Risalah (Risaalah 'Aammah)

Berbeda dengan para rasul terdahulu yang diutus khusus untuk kaumnya (seperti Nabi Musa as. dan Nabi Isa as. khusus untuk Bani Israil), Nabi Muhammad saw. diutus untuk seluruh alam. Dalam Sirah, bukti terbesarnya adalah Peristiwa Pengiriman Surat (628 M). Beliau menembus batas geopolitik Arab dengan menyeru dua kekaisaran adidaya masa itu (Romawi dan Persia) untuk memeluk Islam.

al-Qur'an mengabarkan:

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan..." (QS. Saba': 28)

2. Diutus Kepada Bangsa Jin (Rasa'il ila al-Jinn)

Pencatatan sejarah mengenai peristiwa di Lembah Nakhlah menunjukkan bahwa Al-Qur'an berfungsi sebagai petunjuk bagi dua alam (at-Thaqalain: Manusia dan Jin). Bangsa jin mendengarkan Al-Qur'an, beriman, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan. Dakwah Nabi saw. mencakup seluruh makhluk mukallaf (yang dibebani syariat).

3. Penutup Para Nabi (Khaatam an-Nabiyyiin)

Kedudukan ini dibuktikan secara bertahap dalam Sirah:

  • Secara Konseptual: Syariat Islam menyempurnakan dan menghapus (nasakh) hukum-hukum syariat terdahulu yang bersifat lokal/temporal.
  • Secara Historis: Nabi saw. bersabda dalam perumpamaan bahwa kenabian itu ibarat sebuah istana indah yang kurang satu batu bata di sudutnya. Beliau adalah batu bata terakhir tersebut (Khaatam an-Nabiyyiin, HR. Bukhari & Muslim).
  • Kesempurnaan Syariat: Pada Haji Wada' (632 M), ajaran Islam dinyatakan selesai dan sempurna, menandakan tidak akan ada lagi wahyu syariat baru yang dibutuhkan hingga akhir zaman.

Pasca Perjanjian Hudaibiyah (628 M / 6–7 H), Nabi Muhammad saw. memanfaatkan situasi damai untuk menyebarkan Islam ke luar Semenanjung Arabia. Beliau membuat stempel cincin perak bertuliskan "Muhammad Rasulullah" dan mengutus beberapa sahabat untuk menyampaikan surat diplomatik kepada para penguasa adidaya dunia saat itu.

Berikut adalah uraian lengkap mengenai isi surat Nabi saw. kepada Kaisar Heraklius (Romawi) dan Raja Khosrau II (Persia) beserta respons dramatis dari kedua penguasa tersebut:

1. Surat kepada Kaisar Heraklius (Kaisar Bizantium/Romawi Timur)

  • Utusan: Dihyah bin Khalifah al-Kalbi ra.
  • Isi Surat:

Surat diawali dengan Basmalah dan ditulis dengan bahasa yang sopan namun tegas, mengajak sang kaisar menuju ketauhidan.

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya, kepada Heraklius penguasa Romawi.

Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.

Amma ba'du: Sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat, dan masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa rakyatmu (orang-orang Arisiun).

Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun..." (Mengutip QS. Ali 'Imran: 64)

  • Respons Heraklius:
  1. Investigasi Lapangan: Heraklius yang saat itu berada di Yerusalem menerima surat tersebut dengan penuh rasa ingin tahu. Ia meminta dihadirkan orang dari Makkah untuk dimintai keterangan. Kebetulan, Abu Sufyan (saat itu masih musyrik dan musuh Nabi) sedang berdagang di Syam.
  2. Interogasi Abu Sufyan: Heraklius mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam kepada Abu Sufyan mengenai silsilah Nabi, kejujurannya, pengikutnya (apakah dari kalangan kaya atau miskin), serta perkembangan ajarannya.
  3. Pengakuan: Dari jawaban jujur Abu Sufyan, Heraklius menyimpulkan bahwa sifat-sifat Muhammad cocok dengan kriteria nabi yang tertulis dalam Kitab Suci. Heraklius bahkan berkata bahwa jika ia berada di dekat Nabi, ia akan membasuh kedua kakinya.
  4. Penolakan Politik: Heraklius sempat mengumpulkan para pembesar Romawi untuk mengajak mereka memeluk Islam, namun mereka menolak keras dan marah. Demi mempertahankan tahta dan kekuasaannya, Heraklius memilih untuk memuliakan utusan Nabi dan membalasnya dengan hadiah, tetapi ia tidak masuk Islam.

2. Surat kepada Raja Khosrau II (Khosrau Parvez / Raja Persia)

  • Utusan: Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi ra.
  • Isi Surat:

Surat diawali dengan menyeru Raja Persia yang menyembah api (Majusi) untuk menyembah Allah Yang Maha Esa.

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Khosrau penguasa Persia.

Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Aku menyerumu dengan seruan Allah, karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada seluruh manusia untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup... Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Jika engkau menolak, maka dosa kaum Majusi ada di atas pundakmu."

  • Respons Khosrau II:
  1. Kesombongan & Perobekan Surat: Ketika surat dibacakan dan diterjemahkan, Khosrau II sangat murka karena nama Nabi Muhammad saw. ditulis di atas namanya. Dalam kemarahannya, ia merobek-robek surat tersebut dan mengusir utusan Nabi.
  2. Doa Kebinasaan: Ketika berita perobekan surat sampai kepada Nabi Muhammad saw., beliau mendoakan kebinasaan bagi kerajaan tersebut:"Semoga Allah merobek-robek kerajaannya." (HR. Bukhari)
  3. Pengejaran Nabi: Khosrau II menulis surat kepada gubernurnya di Yaman (Badzan) untuk mengirimkan dua orang prajurit kuat ke Yatsrib (Madinah) guna menangkap Nabi Muhammad saw. dan membawanya ke Persia.
  4. Kehancuran Tragis: Ketika dua utusan dari Yaman sampai di Madinah, Nabi saw. memberitahu mereka bahwa Khosrau II telah dibunuh oleh anaknya sendiri, Syirawaih (Siroes). Kabar ini terbukti benar beberapa hari kemudian, yang akhirnya membuat gubernur Yaman beserta rakyatnya memeluk Islam. Tak lama berselang, kekaisaran Persia yang megah hancur total secara perlahan.

Perbandingan Karakter Respons

KarakteristikKaisar Heraklius (Romawi)Raja Khosrau II (Persia)
Penerimaan SuratDiterima dengan hormat, mengutus pencarian informasi.Murka, sombong, dan merobek surat.
Sikap terhadap UtusanDiberi hadiah dan diperlakukan dengan sangat baik.Diusir dengan hina.
Sikap PolitikMengakui kebenaran kenabian tetapi memilih tahta.Menolak secara total dan berniat menangkap Nabi.
Dampak KerajaanKerajaan Romawi bertahan lebih lama (meski wilayah Syam/Yerusalem kelak jatuh ke tangan Islam).Kerajaan Persia runtuh total dan hancur dalam waktu singkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *