info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Kesabaran Nabi Menghadapi Gangguan Quraisy
Kesabaran Nabi Menghadapi Gangguan Quraisy
Kesabaran Nabi Menghadapi Gangguan Quraisy

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ di Mekkah dipenuhi ujian fisik dan psikologis dari kaum Quraisy. Setiap riwayat shahih merekam sudut pandang historis mengenai intensitas gangguan tersebut serta keteguhan dan kesabaran beliau.

Ejekan dan Intimidasi Awal Dakwah Terang-terangan

Tahun ke-3 Kerasulan

Riwayat Ibnu Ishaq

Ketika Rasulullah ﷺ mulai mendatangi majelis-majelis Quraisy di sekitar Kakbah untuk menyampaikan Islam, para pembesar Quraisy merespons dengan celaan dan pengusiran. Ibnu Ishaq mencatat bagaimana Abu Lahab, Abu Jahal, dan Al-Akhnas bin Syuraiq senantiasa membuntutinya untuk memprovokasi masyarakat agar menolak dakwah beliau. Rasulullah ﷺ menghadapinya dengan terus menyampaikan risalah tanpa membalas makian.

Kotoran Unta di Atas Punggung Rasulullah ﷺ

Tahun ke-4–5 Kerasulan

Riwayat Abdullah bin Mas'ud (Sahih Bukhari & Muslim)

Saat Rasulullah ﷺ sedang sujud di dekat Kakbah, Abu Jahal dan kelompoknya meletakkan kotoran dan isi perut unta (sala al-jazur) yang baru disembelih ke atas punggung beliau. Beliau tetap bertahan dalam posisi sujud hingga putrinya, Fatimah radhiyallahu 'anha, datang membersihkannya. Setelah selesai salat, beliau berdoa memohon keadilan kepada Allah terhadap para pemuka Quraisy tersebut.

Percobaan Pencekikan di Kakbah

Tahun ke-6–7 Kerasulan

Riwayat Abdullah bin Amr bin al-'Ash & Urwah bin Az-Zubair (Sahih Bukhari)

Abdullah bin Amr bin al-'Ash menyaksikan Uqbah bin Abi Mu'ait mendatangi Rasulullah ﷺ yang sedang salat di Hijr Ismail, lalu melingkarkan pakaiannya ke leher beliau dan mencekiknya dengan sangat kuat. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu datang mendorong Uqbah seraya berkata: "Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki hanya karena ia mengatakan: Rabbku adalah Allah?"

Pencegatan dan Bantuan Abu Bakar

Tahun ke-8–9 Kerasulan

Riwayat Asma' binti Abu Bakar

Asma' merwayatkan kepanikan keluarga saat Abu Bakar lari menyelamatkan Rasulullah ﷺ yang dikerumuni dan ditarik-tarik oleh pemuka Quraisy di halaman Masjidil Haram. Abu Bakar pulang dengan luka-luka di kepala dan wajah akibat dikeroyok saat melindungi beliau, sementara Rasulullah ﷺ tetap teguh melanjutkan dakwahnya.

Gangguan Rumah Tangga & Perlindungan Keluarga

Tahun ke-10 Kerasulan

Riwayat Amr dari Usman bin Affan & Ibnu Abbas

Ibnu Abbas dan Usman bin Affan merincikan bentuk gangguan harian yang dialami beliau, seperti pelemparan kotoran ke depan pintu rumah oleh Ummu Jamil (istri Abu Lahab) dan duri di jalanan yang dilalui beliau. Usman bin Affan menegaskan bahwa kesabaran Nabi ﷺ dalam menghadapi gangguan tetangga dan pembesar kota Mekkah menjadi teladan utama para sahabat dalam mempertahankan keimanan.

Bentuk Kesabaran dan Respon Rasulullah ﷺ

  • Sabar Tanpa Anarkisme: Beliau melarang para sahabat membalas dengan kekerasan fisik selama periode Mekkah untuk menjaga keselamatan umat dan fokus pada pembinaan akidah.
  • Mendoakan Kebaikan: Ketika disakiti, beliau kerap berdoa: "Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."
  • Keteguhan Prinsip: Beliau menolak segala tawaran kompromi harta, tahta, dan wanita dari Quraisy yang bertujuan menghentikan dakwah.

Pemboikotan oleh kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Al-Muttalib merupakan salah satu fase paling krusial dan berat dalam periode dakwah Mekkah. Peristiwa ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun (tahun ke-7 hingga ke-10 kerasulan).

Penyebab dan Kesepakatan Piagam Boikot

Awal Tahun ke-7 Kerasulan

Gerakan dakwah Islam semakin kuat setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muttalib dan Umar bin Khattab, serta ditolaknya tuntutan Quraisy oleh Raja Najasyi di Habasyah. Melihat Bani Hasyim dan Bani Al-Muttalib (baik yang Muslim maupun non-Muslim, kecuali Abu Lahab) tetap melindungi Rasulullah ﷺ, para pembesar Quraisy berkumpul di Khaif Bani Kinanah. Mereka merumuskan piagam pemboikotan yang ditulis oleh Manshur bin Ikrimah.

Isi Piagam dan Pengasingan ke Syi'ib Abi Thalib

Muharram Tahun ke-7 Kerasulan

Seluruh anggota Bani Hasyim dan Bani Al-Muttalib dipaksa terisolasi dan mengungsi ke celah bukit milik Abu Thalib (Syi'ib Abi Thalib). Poin utama piagam tersebut meliputi:

  • Dilarang melakukan transaksi jual beli dengan Bani Hasyim dan Bani Al-Muttalib.
  • Dilarang melakukan pernikahan atau besanan dengan mereka.
  • Dilarang berbicara, bergaul, atau mengunjungi mereka.
  • Tidak ada perdamaian sampai mereka menyerahkan Rasulullah ﷺ untuk dibunuh.

Puncak Kelaparan dan penderitaan

Tahun ke-7–9 Kerasulan

Selama tiga tahun di pengasingan, jalur pasokan makanan ditutup rapat oleh kaum Quraisy. Jika ada kafilah dagang masuk ke Mekkah, Abu Jahal dan tokoh Quraisy membeli seluruh barang tersebut dengan harga tinggi agar tidak jatuh ke tangan Bani Hasyim. Warga di Syi'ib terpaksa mengonsumsi daun-daun pohon dan kulit binatang yang dikeringkan. Tangisan anak-anak yang kelaparan terdengar hingga ke luar celah bukit.

Gerakan Tokoh Quraisy dan Berakhirnya Boikot

Tahun ke-10 Kerasulan

Beberapa tokoh Quraisy yang masih memiliki hubungan kekerabatan—seperti Hasyim bin Amr, Zuhair bin Abi Umayyah, Mut'im bin 'Adi, Abu Al-Bukhturi, dan Zam'ah bin Al-Aswad—merasa iba dan sepakat untuk membatalkan piagam tersebut. Ketika mereka hendak merobek dokumen yang digantung di dalam Kakbah, mereka mendapati piagam tersebut telah hancur dimakan rayap, menyisakan hanya tulisan Bismikallahumma (Dengan nama-Mu ya Allah), sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ sebelumnya.

Dampak Utama Peristiwa Boikot

  • Krisis Kemanusiaan dan Kesehatan: Penderitaan fisik dan kelaparan hebat selama tiga tahun memperburuk kesehatan para pelindung Nabi ﷺ, khususnya Abu Thalib dan Khadijah radhiyallahu 'anha, yang wafat tidak lama setelah pemboikotan berakhir (Tahun Kesedihan / 'Amul Huzni).
  • Pengorbanan Harta Khadijah: Seluruh kekayaan Khadijah radhiyallahu 'anha habis digunakan untuk membeli perbekalan dengan harga yang sangat mahal dari pihak ketiga secara sembunyi-sembunyi demi menopang hidup warga di pengasingan.
  • Consolidation Kesetiaan Kabilah: Memperkuat ikatan kekeluargaan dan loyalitas Bani Hasyim serta Bani Al-Muttalib dalam melindungi Rasulullah ﷺ atas dasar kehormatan kabilah dan keyakinan.
  • Penyebaran Informasi Dakwah: Peristiwa ini menjadi perhatian kabilah-kabilah Arab di luar Mekkah yang datang saat musim haji, membuat berita tentang risalah Nabi ﷺ makin meluas di jazirah Arab.

'Amul Huzni (Tahun Kesedihan) terjadi pada tahun ke-10 kerasulan (sekitar tahun 619 M), tidak lama setelah berakhirnya pemboikotan di Syi'ib Abi Thalib. Periode ini dinamakan Tahun Kesedihan karena Rasulullah ﷺ kehilangan dua sosok pelindung dan penopang utama dakwah beliau dalam waktu yang berdekatan.

Wafatnya Abu Thalib bin Abdul Muttalib

Syawal Tahun ke-10 Kerasulan

Kondisi kesehatan Abu Thalib memburuk akibat penderitaan fisik dan usia lanjut pasca-pemboikotan tiga tahun. Menjelang wafatnya, pimpinan Quraisy (seperti Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah) mendatangi Abu Thalib untuk mencegahnya mengucapkan kalimat tauhid. Abu Thalib akhirnya wafat dalam keadaan mempertahankan agama nenek moyangnya. Wafatnya paman beliau ini menghilangkan benteng perlindungan politik dan sosial terbesar Rasulullah ﷺ di Mekkah.

Wafatnya Umul Mukminin Khadijah radhiyallahu 'anha

Tiga Hari / Dua Bulan Setelahnya

Hanya berselang sekitar tiga hari (riwayat lain menyebut dua bulan) setelah wafatnya Abu Thalib, pendamping hidup beliau, Khadijah binti Khuwailid, wafat pada usia 65 tahun. Khadijah adalah orang pertama yang beriman, penenang jiwa Nabi ﷺ saat menerima wahyu pertama, serta menginfakkan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Rasulullah ﷺ memakamkan beliau di Jannat al-Mu'alla (Ma'la), Mekkah.

Peningkatan Eskalasi Intimidasi Quraisy

Pertengahan Tahun ke-10 Kerasulan

Tanpa perlindungan paman dan dukungan Khadijah, kaum kafir Quraisy semakin leluasa melakukan gangguan fisik secara langsung. Para pemuda Quraisy berani melemparkan pasir dan kotoran ke kepala serta tubuh Rasulullah ﷺ saat beliau berjalan di lorong-lorong Mekkah, sesuatu yang tidak pernah mereka berani lakukan selama Abu Thalib masih hidup.

Perjalanan dan Penolakan di Thaif

Syawal/Dzulqa'dah Tahun ke-10 Kerasulan

Melihat Mekkah semakin tidak kondusif, Rasulullah ﷺ berjalan kaki menuju Kota Thaif bersama Zaid bin Haritsah untuk mencari perlindungan dari Kabilah Thaqif. Namun, para pemimpin Thaqif menolak dakwah beliau dengan kasar dan mengerahkan penduduk serta anak-anak untuk melempari beliau dengan batu hingga terluka. Di tempat ini, Nabi ﷺ memanjatkan doa kepasrahan yang sangat menyentuh kepada Allah.

Dampak Peristiwa 'Amul Huzni

  • Peralihan Strategi Dakwah: Rasulullah ﷺ mulai memfokuskan pencarian pangkalan dakwah baru di luar Mekkah dengan mendatangi kabilah-kabilah yang hadir pada musim haji, yang nantinya membuka jalan menuju Perjanjian Aqabah dan Hijrah ke Yatsrib (Madinah).
  • Penghiburan dari Allah (Isra Mi'raj): Sebagai bentuk hiburan (tasliyah) atas kesedihan dan penderitaan mendalam yang dialami Nabi ﷺ, Allah memuliakan beliau dengan peristiwa luar biasa Isra Mi'raj untuk menerima perintah salat lima waktu.

Perjalanan ke Thaif terjadi pada bulan Syawal tahun ke-10 kerasulan (sekitar akhir bulan Mei atau Juni 619 M). Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, eskalasi intimidasi Quraisy di Mekkah memuncak, mendorong Rasulullah ﷺ mencari dukungan dan pangkalan dakwah baru di luar Mekkah.

Perjalanan Menuju Thaif

Syawal Tahun ke-10 Kerasulan

Rasulullah ﷺ menempuh perjalanan darat sejauh kurang lebih 60-70 kilometer menanjak menuju Kota Thaif yang berada di pegunungan. Beliau berjalan kaki bersama Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhu secara sembunyi-sembunyi agar tidak memicu kecurigaan atau penghadangan dari kaum Quraisy di Mekkah.

Pertemuan dengan Para Pemimpin Kabilah Thaqif

Selama 10 Hari di Thaif

Setibanya di Thaif, Rasulullah ﷺ mendatangi tiga orang bersaudara pimpinan Kabilah Thaqif, yaitu Abdi Yalil, Mas'ud, dan Habib anak-anak Amr bin Umair. Beliau mengajak mereka masuk Islam dan memohon perlindungan dakwah. Namun, ketiga pimpinan tersebut menolak dengan sangat kasar, melontarkan ejekan, serta memerintahkan Nabi ﷺ untuk segera meninggalkan Thaif.

Pelemparan Batu dan Penganiayaan

Momen Pengusiran

Para pimpinan Thaqif mengerahkan kerumunan warga, pemuda, dan budak-budak mereka untuk berbaris membentuk dua barisan di jalan keluar kota. Ketika Rasulullah ﷺ dan Zaid bin Haritsah berjalan melewati jalur tersebut, warga memaki dan melempari beliau dengan batu hingga tumit serta kaki beliau berdarah. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi tubuh Nabi ﷺ hingga kepalanya terluka parah.

Doa Pasrah Rasulullah ﷺ & Pertemuan dengan Addas

Di Kebun Anggur

Rasulullah ﷺ berlindung di sebuah kebun anggur milik dua bersaudara Utbah dan Syaibah anak-anak Rabi'ah (pemuka Quraisy). Di sana, beliau memanjatkan doa kepasrahan kepada Allah. Melihat kondisi tersebut, Utbah dan Syaibah iba lalu mengutus budak Kristen mereka bernama Addas untuk membawakan setangkai anggur. Ketika Rasulullah ﷺ mengucapkan "Bismillah" sebelum makan, Addas terkejut dan setelah berdialog, ia mencium kepala serta kaki Nabi ﷺ lalu menyatakan beriman.

Kedatangan Malaikat Jibril dan Malaikat Gunung

Perjalanan Pulang (Qarnul Manazil)

Dalam perjalanan kembali ke Mekkah, di kawasan Qarnul Manazil, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ bersama Malaikat Penjaga Gunung. Malaikat Gunung menawarkan diri untuk menimpakan dua gunung besar (Al-Akhsyabain) di Mekkah ke atas penduduk Thaif dan Mekkah. Namun, Rasulullah ﷺ menolak penawaran tersebut dan justru mendoakan agar keturunan mereka kelak menyembah Allah semata.

Doa Rasulullah ﷺ di Kebun Anggur

Di tengah penderitaan fisik dan kelelahan, Rasulullah ﷺ memanjatkan doa yang menguatkan ketauhidan dan kepasrahan diri:

"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan mefaktakan kekuatanku, keterbatasan daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Engkau adalah Rabb orang-orang yang tertindas dan Engkaulah Rabbku..."

"Kepada siapa Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang membenciku, atau kepada musuh yang Engkau beri kuasa atas urusanku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Namun, keselamatan dari-Mu adalah hal yang paling lapang bagiku..."

Dampak dan Pelajaran Penting Perjalanan Thaif

  • Puncak Kesabaran dan Kasih Sayang: Penolakan untuk membalas dendam melalui bantuan Malaikat Gunung membuktikan bahwa misi utama kerasulan adalah rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil 'Alamin).
  • Buah Kepasrahan: Keimanan Addas menjadi penanda bahwa pintu dakwah selalu terbuka, bahkan di tempat dan dari sosok yang tidak disangka-sangka.
  • Jalan Menuju Peristiwa Besar: Ujian di Thaif menjadi salah satu titik balik spiritual yang melapangkan jalan menuju peristiwa Isra Mi'raj serta pintu pembuka dakwah ke wilayah Yatsrib (Madinah).

Peristiwa Isra Mi'raj terjadi pada periode akhir dakwah Mekkah (sekitar tahun ke-10 hingga ke-12 kerasulan / 620–621 M), tidak lama setelah 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan) dan peristiwa Thaif. Perjalanan mukjizat ini terbagi menjadi dua tahap utama: Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan Mi'raj (naik dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha di langit ketujuh).

Pembersihan Dada & Keberangkatan Buraq

Fase Awal (Malam Hari di Mekkah)

Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ yang sedang tidur di dekat Hijr Ismail / rumah Ummu Hani' di Mekkah. Dada beliau dibedah untuk disucikan hati dan jiwanya menggunakan air zamzam serta diisi dengan hikmah dan keimanan. Setelah itu, beliau diperintahkan menunggangi Buraq—makhluk putih yang kecepatannya selangkah sejauh mata memandang—didampingi oleh Jibril 'alaihissalam.

Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Palestina)

Perjalanan Isra

Rasulullah ﷺ menempuh perjalanan malam menuju Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) di Yerusalem. Setibanya di sana, beliau mengikat Buraq di batu yang biasa digunakan para nabi. Di dalam Masjidil Aqsa, Rasulullah ﷺ memimpin salat dua rakaat sebagai imam bagi seluruh nabi dan rasul pendahulu, menandakan beliau sebagai pemimpin para nabi. Beliau juga memilih bejana berisi susu (simbol fitrah) dibanding bejana berisi khamr.

Pertemuan dengan Para Nabi di Setiap Tingkatan Langit

Perjalanan Mi'raj (Langit 1–7)

Nabi ﷺ diangkat naik menembus tujuh tingkatan langit dan disambut oleh para nabi:

  • Langit 1: Nabi Adam 'alaihissalam.
  • Langit 2: Nabi Yahya dan Nabi Isa 'alaihimassalam.
  • Langit 3: Nabi Yusuf 'alaihissalam.
  • Langit 4: Nabi Idris 'alaihissalam.
  • Langit 5: Nabi Harun 'alaihissalam.
  • Langit 6: Nabi Musa 'alaihissalam.
  • Langit 7: Nabi Ibrahim 'alaihissalam (bersandar di Baitul Ma'mur).

Penerimaan Perintah Salat Lima Waktu di Sidratul Muntaha

Puncak Mi'raj

Rasulullah ﷺ diangkat melewati Sidratul Muntaha hingga mencapai tempat tertinggi di mana beliau mendengar goresan pena takdir. Di sini, Allah ﷻ memberikan perintah salat secara langsung tanpa perantara malaikat. Awalnya, Allah mewajibkan 50 waktu salat sehari semalam. Saat turun melewati Langit ke-6, Nabi Musa menyarankan agar beliau memohon keringanan karena umat manusia tidak akan sanggup.

Rasulullah ﷺ bolak-balik menghadap Allah atas saran Nabi Musa hingga kewajiban tersebut dikurangi menjadi 5 waktu salat (Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh) dengan pahala setara 50 waktu salat. Beliau malu untuk meminta keringanan lebih lanjut.

Ujian Keimanan dan Pembuktian Abu Bakar

Keesokan Harinya di Mekkah

Ketika Rasulullah ﷺ menceritakan peristiwa tersebut kepada kaum Quraisy di Mekkah, mereka mengejek dan menganggapnya tidak masuk akal. Kaum Quraisy menguji beliau dengan meminta deskripsi detail bangunan Masjidil Aqsa, dan Allah memperlihatkan bayangan Masjidil Aqsa hingga beliau bisa menjawabnya dengan tepat. Pada momen ini, Abu Bakar langsung membenarkan cerita Nabi ﷺ tanpa ragu sedikit pun, sehingga beliau mendapat julukan Ash-Shiddiq (yang membenarkan).

Keistimewaan dan Dampak Perintah Salat Lima Waktu

  • Direct Revelation (Tanpa Perantara): Berbeda dengan syariat lain yang disampaikan melalui Wahyu Malaikat Jibril, perintah salat diterima secara langsung oleh Nabi ﷺ di hadapan Allah ﷻ, menunjukkan kedudukan salat yang amat agung.
  • Mir'aj-nya Orang Beriman: Salat dijadikan sarana komunikasi spiritual hamba langsung kepada Allah ﷻ (Ash-Shalatu Mi'rajul Mu'minin).
  • Peneguhan Imun Keimanan: Peristiwa Isra Mi'raj menjadi penyaring utama antara orang-orang yang benar-benar beriman secara tulus dengan orang-orang yang ragu-ragu menjelang peristiwa Hijrah ke Madinah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *