info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Hari Kerja Sama Selatan-Selatan PBB
Hari Kerja Sama Selatan-Selatan PBB
Hari Kerja Sama Selatan-Selatan PBB

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Hari Kerja Sama Selatan-Selatan PBB diperingati setiap tanggal 12 September. Peringatan ini merayakan solidaritas teknis, ekonomi, dan politik di antara negara-negara berkembang (Global South) untuk mencapai kemandirian bersama tanpa terus-menerus bergantung pada bantuan negara-negara maju (Global North).

Sejarah dan Asal Usul

Akar dari Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS) berawal dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955. Pertemuan tersebut menjadi momentum bersejarah tempat negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka sepakat untuk saling mendukung dekolonisasi dan kemandirian ekonomi.

Secara formal di PBB, tonggak penting KSS ditandai dengan pengesahan Buenos Aires Plan of Action (BAPA) pada 12 September 1978 oleh Majelis Umum PBB. Dokumen ini menjadi kerangka kerja utama untuk mempromosikan dan memfasilitasi kerja sama teknis antarnegara berkembang. Pada bulan Desember 2011, Majelis Umum PBB secara resmi menetapkan tanggal 12 September sebagai peringatan tahunan Hari Kerja Sama Selatan-Selatan PBB.

Perspektif Geopolitik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya

DimensiSkala Internasional (Global South)Skala Nasional (Indonesia)
GeopolitikMengubah peta kekuatan dunia dari pola bipolar/unipolar menuju multipolarism. KSS memberi daya tawar politik kolektif bagi negara berkembang dalam forum global (seperti PBB, G20, dan BRICS) untuk menyuarakan reformasi tata kelola dunia agar lebih adil.Memperkuat posisi diplomasi bebas-aktif Indonesia. Indonesia tidak hanya berperan sebagai penerima bantuan, tetapi tampil sebagai donor/provider bantuan teknik bagi negara lain di Pasifik dan Afrika.
EkonomiMendorong ketergantungan kolektif melalui perdagangan antarnegara berkembang, transfer teknologi berbiaya terjangkau, serta pembentukan lembaga keuangan alternatif.Membuka pasar nontradisional baru bagi komoditas dan produk industri Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok nasional.
SosialMengatasi tantangan bersama seperti pengentasan kemiskinan, perubahan iklim, serta ketahanan pangan dan kesehatan global melalui berbagi pengalaman (best practices).Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia melalui program pertukaran ahli, pelatihan teknik, dan bantuan kemanusiaan internasional.
BudayaMematahkan dominasi hegemonik budaya Barat (Westcentric) dengan mempromosikan nilai-nilai kebudayaan lokal, solidaritas, serta rasa saling menghormati identitas bangsa berkembang.Memperkuat soft power dan diplomasi kebudayaan Indonesia di mata internasional melalui pertukaran pendidikan dan pemahaman antarbudaya.

Melalui KSS, negara-negara berkembang tidak lagi menempatkan diri sekadar sebagai objek dalam geopolitik dunia, melainkan subjek aktif yang membentuk agenda pembangunan global.

Dalam kerangka geopolitik global, Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS) tidak dirancang sebagai aliansi militer formal seperti NATO. Namun, KSS memegang peranan strategis sebagai penyeimbang diplomasi (hedging), kekuatan mediasi, dan penjamin ketahanan ekonomi di tengah dua eskalasi konflik besar: konflik AS/Israel vs Iran di Timur Tengah dan perang Rusia vs Ukraina.

Prinsip dasar KSS—yaitu penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, dan penyelesaian sengketa secara damai—menjadi landasan bagi negara-negara Global South untuk menyikapi kedua perang tersebut.

1. Peran KSS dalam Konflik AS/Israel vs Iran

Konflik yang melibatkannya dinilai oleh banyak negara Global South sebagai cerminan intervensi kekuatan Barat di kawasan Timur Tengah. Peran KSS dalam dinamika ini mencakup:

  • Mediasi Jalur Belakang (Backchannel Diplomacy): Negara-negara KSS seperti Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Oman konsisten bertindak sebagai mediator antara Iran dan pihak Barat/Israel. Mereka memfasilitasi pertukaran tahanan, diplomasi nuklir, dan komunikasi krisis guna mencegah perang terbuka yang lebih luas.
  • Konsolidasi Melalui Platform Multipolar (BRICS+): Bergabungnya Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab ke dalam kelompok BRICS memberikan ruang baru bagi diplomasi kolektif. Forum ini memungkinkan dialog langsung antara Iran dengan kekuatan Global South lainnya (seperti Tiongkok, India, dan Brasil) untuk meredakan ketegangan geopolitik.
  • Perlawanan Terhadap Sanksi Unilateral: Negara-negara KSS umumnya menolak sanksi sepihak AS terhadap Iran. Melalui mekanisme perdagangan lokal (de-dolarisasi) dan jalur energi alternatif, KSS membantu menstabilkan dampak ekonomi dari sanksi tersebut di tingkat regional.

2. Peran KSS dalam Konflik Rusia vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina menempatkan negara-negara Global South dalam posisi dilematis karena Rusia merupakan mitra penting KSS, sementara agresi militer melanggar prinsip kedaulatan wilayah.

  • Posisi "Non-Blok" dan Diplomasi Netral: Sebagian besar negara KSS (seperti India, Indonesia, Afrika Selatan, dan Brasil) menolak untuk berpihak secara eksplisit pada NATO maupun Rusia. Sikap independen ini memungkinkan negara KSS diterima sebagai juru bicara perdamaian yang netral.
  • Inisiatif Kemanusiaan dan Pangan:
    • Negara KSS mempelopori kesepakatan koridor pangan (seperti Black Sea Grain Initiative yang didorong Turki dan PBB) untuk menjamin pasokan gandum dan pupuk ke Afrika dan Asia yang terdampak perang.
    • Negara-negara seperti Afrika Selatan dan Brasil secara aktif mengajukan inisiatif proposal damai (peace mission) langsung ke Moskow dan Kyiv.
  • Pertukaran Tahanan dan Pelindungan Sipil: Negara-negara Teluk (seperti Arab Saudi dan UEA) berulang kali sukses memediasi pertukaran tawanan perang dan penyatuan kembali anak-anak yang terdampak konflik.

3. Perspektif Geopolitik: Peran dan Cara Kerja KSS

Aspek GeopolitikPeran KSS dalam Konflik GlobalCara Kerja & Mekanisme
Otonomi StrategisMemutus hegemonik dominasi perang dingin baru (AS/Barat vs Rusia/Tiongkok).Menggunakan narasi non-blok agar tidak terseret ke dalam perang perantara (proxy wars) pihak majemuk.
Ketahanan Ekonomi KolektifMengurangi dampak distorsi rantai pasok global (pangan, minyak, dan energi) akibat perang.Mendorong transaksi berbasis mata uang lokal, diversifikasi rute logistik, dan perdagangan bilateral antarnegara berkembang.
Reformasi Tata Kelola GlobalMenyuarakan kelemahan Dewan Keamanan PBB yang sering mengalami kebuntuan (veto deadlock).Menggalang kekuatan suara di Majelis Umum PBB dan forum G20/BRICS untuk menuntut penyelesaian konflik berbasis hukum internasional, bukan kekuatan militer.

KSS berperan sebagai penyeimbang geopolitik yang mengedepankan pendekatan diplomasi multipolar dan penyelesaian berdimensi ekonomi-kemanusiaan. KSS mencegah konflik di Ukraina dan Timur Tengah meluas menjadi Perang Dunia ketiga dengan menjaga saluran komunikasi antarblok tetap terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *