info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Kisah Qus bin Sa’idah
Kisah Qus bin Sa’idah
Kisah Qus bin Sa’idah

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Kisah Qus bin Sa'idah Al-Iyadi merupakan salah satu peristiwa menarik dalam sirah nabawiyah yang menunjukkan keberadaan orang-orang Hunafa (penganut tauhid murni peninggalan Nabi Ibrahim AS) di Jazirah Arab sebelum diangkatnya Muhammad SAW menjadi Nabi.

di Jazirah Arab sebelum diangkatnya Muhammad SAW menjadi Nabi.

Khutbah di Pasar 'Ukaz

Masa Jahiliyah (Sebelum Kenabian)

Nabi Muhammad SAW sewaktu muda pernah mengunjungi Pasar 'Ukaz dan menyaksikan Qus bin Sa'idah Al-Iyadi berkhutbah di atas unta merahnya. Qus menyampaikan pidato monotheisme yang fenomenal tentang kematian, alam semesta, dan petunjuk datangnya Nabi akhir zaman.

Kedatangan Utusan Abdul Qais

Tahun Utusan (9 Hijriah)

Rombongan delegasi dari suku Bani Abdul Qais (termasuk Al-Jarud bin Al-Ala') datang ke Madinah untuk memeluk Islam dan menemui Rasulullah SAW di masjid.

Pertanyaan & Sabda Rasulullah

Peristiwa Utama

Rasulullah SAW bertanya kepada mereka tentang keberadaan Qus bin Sa'idah. Mereka mengabarkan bahwa Qus telah wafat. Nabi lalu bersabda mendoakannya dan mengingat khutbahnya yang legendaris.

Abu Bakar Menuturkan Isi Khutbah

Puncak Dialog

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA tampil dan membacakan hafalan lengkap dari isi khutbah Qus bin Sa'idah yang pernah dia dengar langsung di Pasar 'Ukaz.

Komentar Bani Abdul Qais

Penutup Pertemuan

Anggota delegasi Bani Abdul Qais mengonfirmasi serta menambahkan bait-bait syair sastra peninggalan Qus bin Sa'idah yang menegaskan ajaran tauhid.

Kronologi Detail Peristiwa

1. Rasulullah SAW Bertanya tentang Qus bin Sa'idah Ketika utusan dari suku Bani Abdul Qais tiba di Madinah, Rasulullah SAW bertanya: "Siapakah di antara kalian yang mengenali Qus bin Sa'idah Al-Iyadi?" Al-Jarud bin Al-Ala' (pemimpin delegasi) menjawab: "Kami semua mengenalnya, wahai Rasulullah." Rasulullah SAW kemudian bersabda: "Semoga Allah merahmatinya. Sungguh aku seakan-akan masih melihatnya di Pasar 'Ukaz di atas untanya yang berwarna merah, sedang berkhutbah kepada manusia."

2. Kesaksian & Sabda Nabi SAW Nabi Muhammad SAW menyampaikan penilaian beliau terhadap sosok Qus bin Sa'idah:

"Aku berharap Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat kelak sebagai satu umat tersendiri (satu bangsa tunggal yang beriman)."

3. Abu Bakar RA Menceritakan Isi Khutbah Qus Abu Bakar Ash-Shiddiq RA yang berada di majelis tersebut berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku menghadiri hari itu dan masih menghafal kata-katanya." Abu Bakar lalu mengutip isi orasi Qus yang sangat masyhur:

  • "Wahai manusia, dengarkanlah dan pahamilah! Barang siapa yang hidup pasti akan mati, barang siapa yang mati pasti telah sirna, dan segala sesuatu yang akan datang pasti terjadi."
  • "Malam yang gelap, siang yang terang, langit yang memiliki gugusan bintang, laut yang bergelombang, gunung yang tegak kokoh, dan sungai yang mengalir..."
  • "Sungguh di langit ada berita, dan di bumi ada pelajaran. Mengapa aku melihat manusia pergi dan tidak pernah kembali? Apakah mereka ridha tinggal di sana sehingga menetap, ataukah mereka ditinggalkan di sana lalu tertidur?"

4. Komentar dan Penambahan dari Suku Bani Abdul Qais Setelah Abu Bakar selesai melantunkan orasi tersebut, para utusan Bani Abdul Qais menimpali dengan menyebutkan syair-syair peninggalan Qus bin Sa'idah. Mereka membacakan bait yang menegaskan keyakinan Qus akan datangnya Nabi akhir zaman:

"Di antara orang-orang yang telah lalu sebelum kita terdapat pelajaran bagi kita..."

"Aku melihat tak ada satu pun yang kembali dari mereka yang telah pergi, maka aku yakin aku pun akan menuju ke mana mereka pergi."

Para utusan Abdul Qais mengonfirmasi bahwa Qus bin Sa'idah senantiasa mencari agama yang lurus dan melarang masyarakatnya menyembah berhala hingga akhir hayatnya.

Dalam perspektif Sirah Nabawiyah, penjelasan dan penilaian Rasulullah SAW terhadap Qus bin Sa'idah Al-Iyadi memegang kedudukan yang sangat penting. Sosok Qus merupakan bagian dari Hunafa' (orang-orang yang tetap memegang teguh ajaran monoteisme/tauhid Nabi Ibrahim AS di tengah kegelapan syirik pra-Islam).

Berikut adalah poin-poin penjelasan Rasulullah SAW mengenai Qus bin Sa'idah beserta analisisnya dalam konteks Sirah Nabawiyah:

Actors perform during the Souq Okaz Festival at the Okaz market in Taif September 20, 2011. The Souq Okaz Festival features various activities to promote Saudi Arabia's heritage and cultural. The festival will run to September 27. Picture taken September 20, 2011. REUTERS/Fahad Shadeed (SAUDI ARABIA - Tags: SOCIETY)

1. Pengakuan atas Keimanan dan Status Istimewa di Hari Kiamat

Sabda Nabi SAW yang paling fenomenal mengenai Qus bin Sa'idah adalah:

"Semoga Allah merahmatinya. Sungguh aku berharap Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat kelak sebagai satu umat tersendiri (أُمَّةً وَحْدَهُ - Ummatan Wahdah)."

Makna Sirah:

  • Umat Tersendiri: Karena Qus hidup pada zaman fatrah (era kekosongan nabi antara Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW) dan tetap menyembah Allah tanpa pengikut yang terorganisasi, beliau diberi kehormatan untuk dibangkitkan bukan sebagai bagian dari kaumnya yang musyrik, melainkan sebagai sebuah "umat" yang berdiri sendiri.
  • Validasi Tauhid: Sabda ini membuktikan bahwa Allah tidak menyesatkan orang-orang yang secara tulus menggunakan akal dan fitrahnya untuk mencari kebenaran tauhid sebelum kerasulan Islam.

2. Memori Visual dan Apresiasi Rasulullah SAW di Pasar 'Ukaz

Ketika bertemu dengan delegasi Bani Abdul Qais yang menceritakan kabar wafatnya Qus, Rasulullah SAW langsung mengenang momen masa mudanya sebelum menjadi Nabi:

"Aku seakan-akan masih melihatnya di Pasar 'Ukaz di atas untanya yang berwarna merah, sedang berkhutbah kepada manusia..."

Makna Sirah:

  • Jejak Kerasulan Sebelum Kenabian: Momen ketika Muhammad muda mendengarkan Qus di Pasar 'Ukaz menunjukkan bagaimana lingkungan pra-Islam tetap memiliki titik-titik cahaya kebenaran.
  • Daya Ingat Nabi SAW: Nabi SAW mengingat dengan sangat detail rupa, kendaraan (unta merah), lokasi, serta kandungan orasi yang disampaikan Qus puluhan tahun sebelumnya.

3. Pembenaran Kebenaran Khutbah Qus bin Sa'idah

Setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA mengulang hafalan orasi Qus bin Sa'idah yang berisi peringatan tentang kematian, pergantian siang-malam, dan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, Rasulullah SAW membenarkan serta memuji isi pidato tersebut.

Makna Sirah:

  • Prinsip Hikmah dalam Islam: Kebenaran yang disampaikan oleh seseorang sebelum Islam tetap diakui dan diapresiasi oleh Rasulullah SAW ("Kebenaran adalah barang hilang milik orang mukmin").
  • Kesesuaian dengan Wahyu Al-Qur'an: Tema-tema yang diangkat Qus dalam khutbahnya (fenomena alam, kematian, keniscayaan kebangkitan) sangat selaras dengan pesan-pesan surah Makkiyah dalam Al-Qur'an.

Makna Penting Sosok Qus dalam Historiografi Islam

DimensiPenjelasan dalam Sirah Nabawiyah
KarakteristikTokoh sastrawan, orator ulung, hakim bijaksana, dan pemikir tauhid dari suku Iyad.
Fungsi HistorisMenjadi bukti historis bahwa ajaran tauhid Nabi Ibrahim AS tidak pernah benar-benar punah di Arabia.
Prediksi KenabianQus dalam syair-syairnya kerap memberi isyarat bahwa akan segera muncul seorang Nabi dari tanah Makkah/Haramain yang membawa agama lurus.

Melalui penjelasan Rasulullah SAW, Qus bin Sa'idah tidak hanya dikenang sebagai orator ulung masyarakat Arab Jahiliyah, tetapi sebagai penegak tauhid murni yang mendapat rahmat dan tempat istimewa di sisi Allah SWT.

Selain Qus bin Sa'idah Al-Iyadi, terdapat beberapa tokoh utama penganut ajaran Hunafa' (pencari kebenaran tauhid berdasarkan Millah Ibrahim AS) yang menolak penyembahan berhala di Jazirah Arab sebelum diangkatnya Nabi Muhammad SAW.

Tokoh-Tokoh Hunafa' Utama Sebelum Islam

  • Zaid bin Amr bin Nufail – Sosok yang secara terang-terangan menentang penataan sesajen dan penyembelihan hewan untuk berhala di Makkah.
  • Waraqah bin Naufal – Sepupu Khadijah binti Khuwailid yang mempelajari Kitab Taurat dan Injil. Beliau memeluk Nasrani monoteis dan kelak menjadi orang pertama yang membenarkan wahyu pertama Rasulullah SAW di Gua Hira.
  • Ubaidullah bin Jahsy – Sepupu Rasulullah SAW yang menolak berhala. Ia sempat memeluk Islam dan ikut hijrah ke Habasyah (Syam), meski di sana ia berpindah ke agama Nasrani hingga wafatnya.
  • Utsman bin Al-Huwairits – Tokoh Quraisy yang pergi ke wilayah Kekaisaran Romawi untuk mempelajari agama Nasrani monoteis dan menolak tradisi kemusyrikan Makkah.
  • Umayyah bin Abi Ash-Shalt – Penyair ulung dari suku Tsaqif (Thaif) yang membaca kitab-kitab terdahulu dan menyebarkan ajaran tauhid melalui syair-syairnya, meskipun ia kelak enggan memeluk Islam karena gengsi kesukuan.

Kisah Lengkap Zaid bin Amr bin Nufail

Zaid bin Amr bin Nufail adalah paman dari Umar bin Khattab RA dan ayah dari Sa'id bin Zaid RA (salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga). Zaid dikenal sebagai sosok Hanif yang paling gigih mempraktikkan tauhid secara terbuka di Makkah.

1. Pencarian Kebenaran Hingga ke Syam

Zaid merasa gelisah dengan tradisi musyrik suku Quraisy. Ia melakukan perjalanan ke Syam dan Mesopotamia untuk bertemu para pendeta Yahudi dan Nasrani.

  • Pendeta Yahudi memberitahunya bahwa ia tidak bisa memeluk Yahudi kecuali siap menanggung kemurkaan Allah (karena penyimpangan ajaran mereka).
  • Pendeta Nasrani pun memberi pesan serupa bahwa ajaran mereka telah banyak berubah.
  • Seorang pendeta Nasrani yang bijak kemudian menasihatinya: "Kembalilah ke negerimu, karena telah dekat waktu terbitnya seorang Nabi dari negerimu yang membawa agama Ibrahim yang lurus (Al-Hanifiyyah)."

2. Prinsip dan Penolakan Terhadap Berhala

Sekembalinya ke Makkah, Zaid menyandarkan punggungnya ke Ka'bah dan berseru di hadapan kaum Quraisy:

"Wahai kaum Quraisy, demi Dzat yang jiwa Zaid berada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun di antara kalian yang berada di atas agama Ibrahim selain aku."

Zaid secara tegas menolak memakan daging hewan yang disembelih atas nama berhala. Ia berkata kepada masyarakat Makkah: "Kambing itu diciptakan oleh Allah, Allah menurunkan air hujan dari langit untuknya dan menumbuhkan rumput dari bumi untuknya, lalu kalian menyembelihnya atas nama selain Allah?"

Buku Rujukan Utama Sirah Nabawiyah.

3. Penyelamat Bayi-Bayi Perempuan

Salah satu amalan paling mulia dari Zaid bin Amr adalah penolakannya terhadap tradisi jahiliyah mengubur bayi perempuan hidup-hidup (Wa'dul Banat). Jika ada seorang ayah yang hendak membunuh anak perempuannya, Zaid akan berkata: "Jangan kau bunuh dia, serahkan padaku, aku yang akan menanggung nafkahnya." Ketika anak itu dewasa, Zaid menawarkan kepada ayahnya untuk mengambilnya kembali atau membiarkannya tinggal bersama Zaid.

4. Wafat dan Penilaian Rasulullah SAW

Zaid wafat ketika bangunan Ka'bah direnovasi oleh kaum Quraisy, sekitar 5 tahun sebelum Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi. Beliau dibunuh oleh sekelompok orang di wilayah Lakhmi saat kembali dari perjalanannya.

Setelah Islam datang, anak Zaid (Sa'id bin Zaid) dan Umar bin Khattab bertindak memohonkan ampunan untuk Zaid kepada Rasulullah SAW: "Wahai Rasulullah, bolehkah kami memohonkan ampunan untuk Zaid bin Amr?"

Rasulullah SAW menjawab:

"Ya, mohonkanlah ampunan untuknya. Karena sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak sebagai satu umat tersendiri antara aku dan Isa bin Maryam."

Nabi SAW juga mengabarkan bahwa beliau melihat Zaid bin Amr berada di dalam surga dengan dua tingkatan kenikmatan karena keteguhannya mencari jalan tauhid di tengah kegelapan Jahiliyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *