
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam studi sirah nabawiyah dan ulumul Qur'an, keterkaitan antara Umayyah bin Abi Ash-Shalt, surah Al-A'raf ayat 175, dan Abu Sufyan bin Harb memberikan gambaran historis mengenai kondisi spiritual dan dinamika sosio-politik masyarakat Jahiliah menjelang diutusnya Nabi Muhammad SAW.
1. Sosok Umayyah bin Abi Ash-Shalt Ats-Tsaqafi
Umayyah bin Abi Ash-Shalt adalah seorang penyair kenamaan dan tokoh terpandang dari suku Thaqif di Thaif. Dalam literatur sejarah Islam, ia dikategorikan sebagai seorang Hunafa (penganut ajaran monoteisme Hanif yang menolak penyembahan berhala sebelum datangnya Islam).
- Pencarian Spiritual: Umayyah mempelajari kitab-kitab terdahulu (Taurat dan Injil), mengutip ajaran para nabi, serta mengetahui ciri-ciri akhir zaman dan kabar akan datangnya seorang nabi akhir zaman dari jazirah Arab.
- Ambisi Diri: Berdasarkan pengetahuannya yang luas, Umayyah sangat berambisi bahwa dialah yang akan dipilih Allah menjadi nabi tersebut.
- Penolakan Terhadap Islam: Ketika Nabi Muhammad SAW diutus dari suku Quraisy, Umayyah menolak untuk beriman. Penolakannya didasari oleh rasa dengki dan kesombongan (hasad), karena kenabian jatuh kepada pemuda Quraisy, bukan dirinya yang merasa lebih berilmu. Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai syair-syairnya: "Hampir saja Umayyah bin Abi Ash-Shalt masuk Islam melalui syairnya." (HR. Muslim).
2. QS. Al-A'raf Ayat 175 dan Korelasinya
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'raf (7): 175:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat."
Tafsir dan Penafsiran Sirah:
- Asbabun Nuzul: Para mufassir (seperti Ibn Katsir dan At-Thabari) mencatat beberapa riwayat mengenai siapa sosok yang dimaksud. Sebagian sahabat dan tabi'in menunjuk Bal'am bin Ba'ura (dari Bani Israil), sedangkan riwayat lain dari Ibnu Abbas dan penganut kajian sirah menyebutkan bahwa ayat ini sangat relevan atau diturunkan berkenaan dengan Umayyah bin Abi Ash-Shalt.
- Makna Masal (Perumpamaan): Ayat ini menggambarkan seseorang yang telah diberi pemahaman ilmu kebenaran dan kitab-kitab Allah, namun meninggalkan ilmu tersebut demi menuruti hawa nafsu dan kesombongan. Kesombongan itulah yang membuat setan berhasil menguasainya hingga ia wafat dalam keadaan kafir pada tahun 2 H.
3. Peran Abu Sufyan dan Hubungannya dalam Tradisi Sirah
Abu Sufyan bin Harb adalah salah satu pemimpin utama suku Quraisy di Makkah. Hubungannya dengan Umayyah bin Abi Ash-Shalt serta konteks penolakan kenabian tercatat dalam beberapa narasi sirah:
- Hubungan Pertemanan dan Perjalanan Dagang: Abu Sufyan dan Umayyah merupakan sahabat erat yang sering melakukan perjalanan dagang bersama ke Syam. Dalam perjalanan-perjalanan tersebut, Umayyah sering menyampaikan risalah kitab-kitab kuno dan meramalkan kedatangan nabi baru.
- Persaksian Abu Sufyan: Dalam riwayat sirah (sebagaimana dicatat oleh Ibnu Hisyam dan Al-Baihaqi), Abu Sufyan menceritakan bahwa menjelang kerasulan Muhammad SAW, Umayyah menegaskan padanya bahwa waktu kemunculan nabi akhir zaman sudah sangat dekat. Namun, begitu Muhammad SAW mengumumkan kenabiannya, Umayyah justru menolaknya. Ketika Abu Sufyan bertanya alasannya, Umayyah menjawab bahwa ia malu kepada wanita-wanita Thaqif jika harus menjadi pengikut seorang pemuda Quraisy setelah sekian lama ia mengklaim dirinya calon nabi.
- Pelajaran Historis bagi Abu Sufyan: Penolakan Umayyah yang didasari gengsi kesukuan dan kekuasaan menjadi cermin dinamika masyarakat Mekkah saat itu. Abu Sufyan sendiri sempat memimpin perlawanan terhadap Islam karena motif politik dan kesukuan serupa, sebelum akhirnya mendapatkan hidayah dan masuk Islam pada peristiwa Fathu Makkah (Pembedahan Kota Makkah).
Sintesis Perspektif Sirah Nabawiyah
Pengangkatan kisah Umayyah bin Abi Ash-Shalt dan kaitannya dengan QS. Al-A'raf: 175 serta Abu Sufyan memberikan pelajaran penting dalam sirah:
- Ilmu Tanpa Hidayah: Pengetahuan keagamaan yang mendalam tidak menjamin seseorang mendapatkan hidayah jika hatinya terhinggupi penyakit hasad (dengki) dan kibr (sombong).
- Fanatisme Kesukuan (Ashabiyah): Penghalang utama tokoh-tokoh Jahiliah (seperti Umayyah dan elit Quraisy pada fase awal) untuk menerima Islam bukanlah ketidaktahuan akan kebenaran, melainkan kekhawatiran kehilangan status sosial dan hegemonik suku.
Dalam tradisi sirah nabawiyah, riwayat mengenai Umayyah bin Abi Ash-Shalt Ats-Tsaqafi sarat akan ibrah mengenai bahaya kesombongan intelektual dan fanatisme kesukuan. Meski ia memiliki pemahaman kitab-kitab terdahulu dan tanda-tanda kenabian, dengki menghalanginya dari kebenaran.
Perjalanan Dagang ke Bahrain dan Kabar Kerasulan
Umayyah adalah seorang penyair ternama dan penganut monoteisme (Hanif) dari Thaif. Ia sangat berambisi menjadi nabi yang dijanjikan dalam kitab-kitab kuno.
Dalam suatu perjalanan dagang menuju Bahrain, Umayyah bertemu dengan para rahib dan pendeta setempat. Dari mereka, ia mendapat kabar pasti bahwa nabi akhir zaman telah muncul di Mekah. Kabar ini mengejutkannya, karena nabi tersebut bukan berasal dari dirinya atau sukunya (Thaqif), melainkan dari bani Hasyim (Quraisy).
Pertemuan dengan Rasulullah SAW dan Pembacaan QS. Yasin 1-2
Sekembalinya dari Bahrain, Umayyah mendatangi Mekah untuk membuktikan kabar tersebut secara langsung. Ia bertemu dengan Rasulullah SAW dan meminta Beliau membacakan wahyu yang diterimanya.
Rasulullah SAW kemudian membacakan awal Surah Yasin (Ayat 1–2):
يس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ "Yā Sīn. Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah."
Mendengar bacaan tersebut, tubuh Umayyah bergetar. Sebagai seorang maestro penyair Arab, ia seketika menyadari bahwa susunan kata tersebut bukanlah syair, mantra dukun, atau rekaan manusia, melainkan benar-benar wahyu Ilahi.
Secara lisan ia mengakui kebenaran tersebut kepada kawan-kawannya, namun hatinya menolak untuk berserah diri (aslama). Ketika ditanya mengapa ia tidak mau mengikutinya, Umayyah menjawab dengan gengsi kesukuan: bahwa ia malu kepada wanita-wanita Thaif jika harus menjadi pengikut seorang pemuda Quraisy setelah sekian lama ia mengklaim dirinya sebagai calon nabi.
Hubungan dengan Utbah, Syaibah, dan Aksi Memotong Telinga Unta
Umayyah memiliki hubungan kekerabatan dan persahabatan yang erat dengan para pemuka Quraisy, seperti Utbah bin Rabi'ah dan saudaranya Syaibah bin Rabi'ah (paman dari istrinya atau sekutu dekatnya).
- Tragedi Perang Badar (2 H): Ketika Perang Badar berkecamuk, Utbah dan Syaibah tewas di tangan kaum muslimin dan jasad mereka dilemparkan ke dalam sumur Badar.
- Aksi Memotong Telinga Unta: Ketika kabar kematian Utbah dan Syaibah sampai kepadanya di Thaif, Umayyah sangat terpukul dan diliputi kemarahan yang luar biasa. Sebagai bentuk ratapan (niyahah) dan penolakan total terhadap Islam, ia meluapkan emosinya dengan memotong telinga untanya sendiri di hadapan khalayak, seraya meratapi tewasnya para pemuka Quraisy tersebut melalui syair-syair elegi (ritsa') yang membakar semangat permusuhan.
Penyair yang semula hampir beriman ini akhirnya mengunci rapat hatinya dan wafat dalam keadaan kafir tak lama setelah peristiwa Perang Badar.
Riwayat Shahih Muslim dan Hubungannya dengan Ibnu Jud'an
Dalam Shahih Muslim, nama Umayyah bin Abi Ash-Shalt kerap disandingkan dengan sosok Abdullah bin Jud'an dalam konteks pembahasan amal kebaikan orang kafir yang tidak didasari iman.
- Pengakuan Nabi atas Ilmu Umayyah: Rasulullah SAW pernah mendengarkan bait-bait syair Umayyah yang dibacakan oleh Amr bin Ash-Syarid. Beliau terus meminta ditambah hingga 100 bait, lalu bersabda:"Hampir saja Umayyah bin Abi Ash-Shalt masuk Islam melalui syairnya." (HR. Muslim)Bahkan dalam riwayat lain disebutkan: "Syairnya beriman, tetapi hatinya kafir."
- Korelasi dengan Ibnu Jud'an: Ibnu Jud'an adalah tokoh Quraisy yang sangat dermawan, suka menyambung tali silaturahmi, dan memberi makan orang miskin. Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW apakah kebaikan Ibnu Jud'an bermanfaat baginya di akhirat. Rasulullah SAW menjawab:"Tidak bermanfaat baginya, karena seumur hidupnya ia tidak pernah mengucapkan: 'Ya Rabbku, ampunilah kesalahanku pada hari kiamat'." (HR. Muslim)
Sintesis Sirah: Baik Umayyah (yang memiliki ilmu dan syair monoteis) maupun Ibnu Jud'an (yang memiliki kedermawanan sosial) sama-sama tidak mendapatkan manfaat di akhirat. Ilmu Umayyah dan kedermawanan Ibnu Jud'an gugur karena ketiadaan tauhid, keimanan yang tulus, serta ketundukan kepada Rasulullah SAW.