
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Berikut adalah sejarah, asal-usul kekayaan, dan kisah Abdullah bin Jud'an serta tinjauannya dalam perspektif Sirah Nabawiyah:
1. Nasab dan Hubungan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Jud'an bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah. Ia merupakan salah seorang pimpinan dan tokoh terkemuka dari Bani Taim, salah satu kabilah berpengaruh di suku Quraisy.
Hubungan kekerabatannya dengan Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat dekat; Abdullah bin Jud'an adalah sepupu dari Abu Quhafah (ayah dari Abu Bakar Ash-Shiddiq).
2. Masa Muda dan Asal-Usul Kekayaannya
Pada masa awal hidupnya, Abdullah bin Jud'an bukanlah orang kaya maupun terpandang. Ia hidup miskin, sering terjerumus dalam berbagai kejahatan, serta tindak kriminal. Perbuatannya membuat ia dibenci, ditolak, dan diasingkan oleh keluarga, ayahnya, maupun kaumnya sendiri.
Penemuan Gua Makam Raja-Raja Jurhum
Dalam keadaan putus asa dan gelisah, Abdullah bin Jud'an berjalan ke pelosok tebing gunung di Makkah. Ia melihat celah gua dan berniat masuk untuk mengakhiri hidupnya.
- Di mulut gua, ia terkejut melihat sosok dalam kegelapan yang tampak seperti ular siap menyerang.
- Ketika diamati lebih dekat, ternyata itu adalah patung ular dari emas dengan mata yang terbuat dari batu zamrud berharga.
- Setelah memecahkan patung tersebut, ia melangkah lebih dalam dan menemukan bahwa tempat itu adalah kompleks pemakaman para penguasa dan raja-raja Suku Jurhum (suku kuno yang pernah menguasai Makkah).
- Di dalam gua tersebut terdapat jasad raja-raja (seperti Al-Harits bin Madhadh) dengan lempengan emas di atas kepalanya yang mencatat tanggal wafat dan wilayah kekuasaannya. Di sekeliling makam, tersimpan harta karun berlimpah berupa perhiasan, emas, perak, dan batu permata.
Abdullah bin Jud'an mengambil sebagian harta tersebut, menandai lokasi gua, dan kembali ke Makkah. Setiap kali persediaan hartanya menipis, ia kembali ke gua tersebut untuk mengambil simpanan harta Jurhum.
3. Riwayat Abdul Malik bin Hisyam dalam Kitab At-Tijan
Kisah penemuan makam raja-raja Jurhum dan asal-usul kekayaan Abdullah bin Jud'an ini dicatat secara detail oleh sejarawan Ibnu Hisyam (Abdul Malik bin Hisyam) dalam karyanya yang berjudul Kitab At-Tijan fi Muluk Himyar (serta dirwayatkan pula oleh Ahmad bin Amr dalam Rayy al-'Athasy wa Uns al-Wahsy).
Setelah memperoleh harta penemuan tersebut, Abdullah bin Jud'an membagikan kekayaannya kepada kaumnya, menyambung tali silaturahmi, dan menolong orang-orang yang membutuhkan. Perubahan perilakunya ini membuat masyarakat di Makkah sangat mencintai dan menghormatinya hingga ia diangkat menjadi pemimpin (Sayyid) bagi kaumnya.
4. Kedermawanan dan Bejana (Jafnah) Abdullah bin Jud'an
Abdullah bin Jud'an menjadi salah satu figur yang paling legendaris dalam hal kedermawanan pada masa Jahiliyah.
- Bejana Makanan yang Sangat Besar: Ia menyediakan tempat makan (jafnah) yang luar biasa besar untuk memberi makan penduduk Makkah, para musafir, dan penziarah. Saking besarnya bejana tersebut, dikiaskan/diberitakan bahwa seekor unta atau orang dewasa dapat berteduh di bawah naungan bejananya atau menaikinya untuk makan dari bagian atasnya.
- Seruan Penjaga Ka'bah: Setiap malam, seorang penyeru ditugaskan naik ke atap Ka'bah untuk memanggil orang-orang: "Kemarilah menuju bejana hidangan makanan Abdullah bin Jud'an!".
- Hilf al-Fudhul (Perjanjian Kehormatan): Rumah Abdullah bin Jud'an menjadi tempat bersejarah berkumpulnya para tokoh Quraisy (termasuk Nabi Muhammad SAW pada usia muda sebelum kenabian) untuk mengikrarkan Hilf al-Fudhul, yaitu ikrar untuk membela orang-orang yang terzalimi di Makkah.
5. Perspektif Sirah Nabawiyah & Nasib di Akhirat
Dalam tinjauan Sirah Nabawiyah, kedermawanan Abdullah bin Jud'an sering dijadikan contoh perbandingan antara kebaikan moral di dunia dan syarat keselamatan di akhirat berdasarkan akidah Islam.
Dalam sebuah hadis sahih (HR. Muslim), Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai nasib Abdullah bin Jud'an:
Aisyah berkata: "Wahai Rasulullah, Ibnu Jud'an pada masa Jahiliyah adalah orang yang menyambung silaturahmi dan memberi makan orang miskin. Apakah hal itu bermanfaat baginya di akhirat?"
Rasulullah SAW menjawab: "Tidak bermanfaat baginya. Karena sesungguhnya dia tidak pernah sekalipun mengucapkan (berdoa): 'Ya Rabbku, ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan (kiamat)'."
Pelajaran dari Sirah Nabawiyah:
- Pentingnya Iman: Kebaikan sosial yang luar biasa (kedermawanan, menyambung silaturahmi, menolong sesama) diakui keindahannya secara kebudayaan dan moral manusia, tetapi tidak bernilai pahala akhirat di sisi Allah jika tidak dilandasi oleh Iman dan Tauhid.
- Karakter Bangsa Arab: Keberadaan figur seperti Abdullah bin Jud'an menunjukkan bahwa bangsa Arab sebelum Islam memiliki nilai-nilai keutamaan mulia (seperti memuliakan tamu dan dermawan) yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam.