
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Kisah As-Sathirun (gelar bagi Dhaizan bin Mu'awiyah bin Ubaid bin Ajram dari Bani Sulaih bin Hulwan/Qudha'ah) merupakan salah satu fragmen sejarah Arab pra-Islam yang amat berharga dalam memahami dinamika politik Jazirah Arab menjelang kelahiran dan utusan Rasulullah ﷺ.
Kerajaan dan Wilayah Kekuasaan Al-Hadhr
As-Sathirun adalah penguasa dari Kerajaan Al-Hadhr (Hatra), sebuah kota benteng nan megah yang terletak di wilayah Mesopotamia utara (sekarang berada di wilayah Ninawa/Mosul, Irak).
- Wilayah Kekuasaan: Al-Hadhr terletak di area strategis di antara Sungai Eufrat dan Tigris. Kota ini merupakan titik transit jalur perdagangan penting (Silk Road) dan menjadi buffer state (negara penyangga) yang berada di wilayah perbatasan langsung antara dua imperium adidaya dunia saat itu: Sasanid Persia dan Romawi (Bizantium).
- Karakteristik Kota & Pertahanan: Al-Hadhr terkenal dengan arsitektur dinding bentengnya yang tebal, tinggi, dan kokoh, dikelilingi oleh parit pertahanan yang sulit ditembus. Menurut catatan sejarah dan literatur klasik, benteng ini sedemikian kuat hingga beberapa kali menggagalkan pengepungan dari pasukan Kekaisaran Romawi maupun Sasanid.
- Suku Penguasa: As-Sathirun berasal dari etnis Arab (Bani Sulaih / Qudha'ah) yang menguasai dan menghuni kawasan perbatasan utara tersebut, memadukan kebudayaan Arab, Semit, Aram, dan Hellenistik-Persia.
Penghancuran Al-Hadhr: Narasi Sejarah Klasik
Kejatuhan Kerajaan Al-Hadhr tercatat dalam literatur sejarah Arab dan Islam klasik (seperti karya Ibnu Jarir at-Tabari dan Ibnu Katsir). Kisah ini berpusat pada bentrokan antara As-Sathirun dengan Sapur I (atau Ardashir I), Maharaja Sasanid Persia.
Ketika Raja Persia mengepung Al-Hadhr, benteng tersebut tetap kokoh bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama. Pengkhianatan internal akhirnya menjadi penentu kejatuhan kota ini: putri dari As-Sathirun sendiri (yang dalam beberapa riwayat bernama Nadhirah) jatuh cinta atau terpesona oleh Sapur I dan memberi tahu rahasia kelemahan pertahanan benteng tersebut. Setelah benteng ditembus, As-Sathirun terbunuh, dan Kerajaan Al-Hadhr hancur berantakan.
Geopolitik Pra-Islam dan Perspektif Sirah Nabawiyah
Kisah As-Sathirun dan jatuhnya Al-Hadhr memiliki implikasi geopolitik yang sangat signifikan dalam sejarah penataan kawasan menjelang utusan Rasulullah ﷺ:
1. Ketergantungan Arab pada Dua Imperium Adidaya
Kisah As-Sathirun mencerminkan realitas pahit bangsa Arab pra-Islam di wilayah utara (seperti Lakhmid di Hirah dan Ghassanid di Syam). Kerajaan-kerajaan Arab di perbatasan tidak pernah benar-benar berdaulat penuh; mereka diposisikan sebagai "kerajaan protektorat" atau "vsal" yang senantiasa dijepit, dimanfaatkan, atau dihancurkan jika dianggap mengancam kepentingan Persia maupun Romawi.
2. Ketiadaan Kesatuan dan Rentannya Pengkhianatan
Kerajaan Al-Hadhr mengilustrasikan kondisi sosiologis-politik Arab pra-Islam: meskipun memiliki benteng militer yang luar biasa kokoh, mereka rentan hancur dari dalam akibat ketidakberadaan ideologi pemersatu yang mengikat hati dan moralitas masyarakatnya.
3. Pemetaan Geopolitik Menjelang Diutusnya Nabi ﷺ
Kehancuran benteng-benteng pertahanan Arab utara seperti Al-Hadhr mengonsolidasikan kekuasaan Persia Sasanid di Irak dan sekitarnya. Hal ini menciptakan lanskap geopolitik baru:
- Di utara dan timur: Persia menancapkan kuku kekuasaannya melalui kerajaan satelit baru (Lakhmid).
- Di barat laut: Romawi mengontrol wilayah Syam melalui Ghassanid.
- Di jantung Jazirah Arab (Jazirah bagian tengah dan Hijaz seperti Makkah dan Madinah): Wilayah ini relatif terisolasi dari pendudukan langsung dua adidaya tersebut karena medannya yang gersang dan tidak dianggap bernilai secara ekonomi oleh Persia/Romawi.
4. Hikmah Sirah Nabawiyah
Dari perspektif Sirah Nabawiyah, kondisi geopolitik tersebut merupakan bagian dari skenario Ilahi (Tadbir Ilahi):
- Lahirnya Islam di Wilayah Bebas Hibrida: Rasulullah ﷺ tidak diutus di wilayah seperti Al-Hadhr atau Hirah yang berada di bawah cengkeraman ketat militer Persia/Romawi, melainkan di Makkah, kawasan independen yang bebas dari pendudukan asing.
- Penyatuan di Bawah Tauhid: Islam kemudian hadir bukan sekadar membawa sistem pertahanan fisik seperti tembok benteng Al-Hadhr, melainkan membawa akidah Tauhid yang berhasil menyatukan suku-suku Arab yang tadinya terpecah dan diperalat oleh imperium asing.
- Penghentian Dominasi Adidaya: Hanya dalam kurun waktu beberapa dekade setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, kepemimpinan Islam (dimulai dari era Khulafaur Rasyidin) berhasil membebaskan bekas wilayah-wilayah perbatasan ini—termasuk bekas kekuasaan Al-Hadhr—dan mengakhiri dominasi Imperium Sasanid Persia serta mengikis pengaruh Romawi di Timur Tengah.
Kisah pengepungan Al-Hadhr oleh Kisra Sapur II (Syapur Dzul Aktaf) dan keterlibatan Nadhirah binti As-Sathirun merupakan salah satu legenda tragedi melankolis paling tersohor dalam historiografi Arab dan Persia klasik, seperti yang diriwayatkan oleh Imam at-Tabari dan Ibnu Katsir.

Reruntuhan megah benteng Al-Hadhr.
Invasi Bani Sulaih ke Wilayah Persia
Fase Awal
Ketika Syapur II masih belia, suku-suku Arab dari Bani Sulaih di bawah pimpinan As-Sathirun memanfaatkan kekosongan kekuasaan Persia dengan melakukan penyerangan ke wilayah perbatasan Sasanid. Mereka menjarah kawasan pinggiran dan menarik diri kembali ke dalam benteng Al-Hadhr yang legendaris, sebuah kota bertembok tebal yang terkenal mustahil ditembus oleh pengepungan militer apa pun pada masanya.
Pengepungan Tanpa Hasil dan Terpesonanya Nadhirah
Fase Pengepungan
Setelah beranjak dewasa dan mengonsolidasi kekuatannya, Syapur II membalas dendam dengan membawa pasukan besar untuk mengepung Al-Hadhr. Pengepungan berlangsung berbulan-bulan tanpa hasil karena kokohnya benteng tersebut. Suatu hari, putri As-Sathirun yang bernama Nadhirah melihat Syapur II dari atas menara benteng. Terpesona oleh ketampanan, wibawa, dan pakaian kebesaran sang raja Persia, Nadhirah jatuh cinta secara mendalam dan mengirimkan pesan rahasia bahwa ia bersedia membantu membukakan jalan masuk jika Syapur berjanji akan menikahinya.
- Pengkhianatan dan Jatuhnya Al-Hadhr
Fase Pengkhianatan
Nadhirah memberi tahu rahasia pertahanan benteng—dalam beberapa teks disebutkan rahasia mantra jimat penjaga pintu benteng atau tempat terlemah parit pertahanan—serta membuat para penjaga dan ayahnya mabuk dengan anggur pada malam hari. Pasukan Persia berhasil merangsek masuk, membantai penghuni benteng, membunuh As-Sathirun, dan meratakan kerajaan Al-Hadhr yang megah menjadi reruntuhan.
- Pernikahan dan Nasib Tragis Nadhirah
Fase Tragis
Syapur II menepati janjinya dan memadahi Nadhirah sebagai istri. Namun pada suatu malam di istana, Nadhirah tidak bisa tidur karena merasa punggungnya tergores amat sakit. Ketika diperiksa, ternyata hanya ada sehelai daun miyrtus (atau sehelai rambut) yang tersangkut di lipatan kasur sutranya yang sangat lembut, menunjukkan betapa manja dan sangat dikasihinya ia oleh ayahnya sewaktu di Al-Hadhr.
Melihat hal itu, Syapur II bertanya dengan terkejut, "Bagaimana ayahmu memperlakukanmu dulu hingga kulitmu sehalus ini?" Nadhirah menjawab bahwa ayahnya selalu memanjakannya dengan makanan terbaik dan kain sutra terhalus. Syapur II lantas berkata dengan dingin, "Jika terhadap ayahmu yang begitu mencintai dan memanjakanmu saja engkau sanggup berkhianat, bagaimana engkau akan memperlakukan aku kelak?"
Atas perintah Syapur II, Nadhirah diikat pada ekor kuda liar yang berlari kencang hingga ia tewas mengenaskan—menutup kisah cinta mematikan ini dengan penyesalan dan tragedi.