
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam karya monumental Al-Bidayah wan-Nihayah, Imam Ibnu Katsir meriwayatkan peristiwa Hijrah Rasulullah saw. secara mendalam dengan menyaring berbagai riwayat dan sanad shahih.
Setelah tiga belas tahun mendakwahkan Islam di Makkah di tengah intimidasi, pemboikotan, dan penyiksaan kaum Quraisy terhadap para sahabat, titik balik peristiwa hijrah dimulai.
1. Rencana Pembunuhan di Darun Nadwah
Melihat ajaran Islam mulai berakar kuat di Yatsrib (Madinah) pasca-Preatjanjian 'Aqabah II, para pemuka Quraisy berkumpul di Darun Nadwah. Atas usulan Abu Jahal, mereka memutuskan untuk memilih seorang pemuda gagah dari setiap suku guna membunuh Nabi Muhammad saw. secara bersama-sama. Dengan demikian, tuntutan darah dari Bani Hasyim tidak akan sanggup melawan seluruh kabilah Quraisy.
Namun, Allah Swt. memberitahukan rencana jahat tersebut kepada Rasulullah saw. dan memerintahkannya untuk segera berhijrah malam itu juga.
2. Malam Kepungan dan Peran Ali bin Abi Thalib
Pada malam keberangkatan, pemuda-pemuda Quraisy telah mengepung rumah Nabi saw. Beliau meminta Ali bin Abi Thalib r.a. untuk tidur di tempat tidur beliau dengan memakai selimut hijau khas milik beliau (burdah). Ibnu Katsir mencatat bahwa Ali r.a. rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Rasulullah saw.
Rasulullah saw. keluar dari rumahnya melewati para pengepung yang tertidur lelap setelah beliau membaca ayat dari Surah Yasin (ayat 9):
"Dan Kami jadikan di hadapan mereka sumbatan dan di belakang mereka sumbatan, dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat."
Beliau menaburkan debu ke atas kepala para pemuda tersebut lalu berlalu tanpa terdeteksi.
3. Menuju Gua Tsur Bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq
Rasulullah saw. mendatangi kediaman sahabat karibnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Keduanya telah mempersiapkan dua ekor unta dan menyewa seorang penunjuk jalan ulung yang belum masuk Islam bernama Abdullah bin Uraiqith.
Untuk mengelabui kejaran kaum Quraisy yang memperkirakan beliau bergerak ke utara (arah Madinah), Nabi saw. dan Abu Bakar justru bergerak ke arah selatan menuju Gua Tsur (Ghar Tsur). Mereka bersembunyi di sana selama tiga malam.
Ibnu Katsir menyoroti peran penting keluarga Abu Bakar dalam strategi ini:
- Abdullah bin Abi Bakar: Bertugas mencari informasi di Makkah pada siang hari dan menyampaikannya ke gua pada malam hari.
- Asma' binti Abi Bakar: Menyediakan dan mengantarkan bekal makanan (yang kelak menjulukinya Dzat an-Nithaqain atau "Pemilik Dua Sabuk").
- Amir bin Fuhairah (bekas budak Abu Bakar): Menggembalakan kambing di sekitar gua untuk menghapus jejak kaki serta menyediakan susu segar.
4. Peristiwa Mencekam di Depan Gua
Kaum Quraisy yang murka membuka sayembara berhadiah 100 ekor unta bagi siapa saja yang dapat menangkap Rasulullah saw. hidup atau mati. Para pencari jejak (qafa) berhasil melacak keberadaan mereka hingga ke mulut Gua Tsur.
Abu Bakar r.a. merasa sangat cemas dan berbisik: "Wahai Rasulullah, jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita."
Rasulullah saw. menangkannya dengan kalimat yang diabadikan dalam Al-Qur'an (QS. At-Taubah: 40):
"Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita."
Allah memalingkan pandangan kaum Quraisy sehingga mereka pergi tanpa memeriksa bagian dalam gua.
5. Perjalanan Menuju Madinah dan Peristiwa Suraqah
Pada malam keempat, setelah situasi relatif aman, Abdullah bin Uraiqith membawa unta tunggangan. Rasulullah saw. dan Abu Bakar memulai perjalanan menyusuri jalur pesisir pantai yang tidak biasa dilalui orang.
Di tengah perjalanan, Suraqah bin Malik berhasil mengejar mereka karena tergiur hadiah 100 ekor unta. Namun, setiap kali Suraqah mendekat, kaki kudanya terperosok ke dalam pasir keras hingga mengeluarkan asap/debu. Suraqah menyadari bahwa Rasulullah saw. dilindungi oleh kekuatan Ilahi. Ia kemudian memohon perlindungan, berjanji untuk menyembunyikan keberadaan beliau dari pengejar lain, dan Rasulullah saw. menjanjikannya gelang kebesaran Raja Kisra dari Persia di masa depan.
6. Kedatangan di Quba dan Yatsrib
Sebelum memasuki kota Madinah, Rasulullah saw. singgah di Quba (di kediaman Kultsum bin Hidm) dan menetap selama beberapa hari. Di sinilah beliau membangun masjid pertama dalam sejarah Islam, yaitu Masjid Quba.
Pada hari Jumat, 12 Rabi'ul Awwal, Rasulullah saw. bertolak menuju Madinah. Masyarakat Yatsrib menyambut kedatangan beliau dengan puji-pujian dan sukacita yang belum pernah ada tandingannya. Sejak hari itu, kota Yatsrib berganti nama menjadi Madinatun Nabi (Kota Nabi) atau Madinah Al-Munawwarah.
Dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah, Imam Ibnu Katsir mendokumentasikan bab peperangan (Kitab al-Maghazi) secara runtut. Beliau membaginya menjadi dua kategori utama: Sariyyah (ekspedisi militer yang tidak dihadiri Rasulullah saw.) dan Ghazwah (peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw.).
Awal mula digelarnya perang dalam Islam ditandai dengan turunnya Surah Al-Hajj ayat 39, yang memberi izin berperang setelah umat Islam bertahan dari kedzaliman musyrikin Makkah selama 13 tahun.
Landasan Awal: Izin Berperang dalam Islam
"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu." (QS. Al-Hajj: 39)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun tidak lama setelah Hijrah ke Madinah, menandai pergeseran strategi dari dakwah damai pasif menjadi perlawanan aktif untuk melindungi dakwah dan mencegat kafilah dagang Quraisy yang menguasai harta kaum Muhajirin di Makkah.
Sariyyah Hamzah bin Abdul Mutthalib (Sif al-Bahr)
Ramadhan 1 H
Ibnu Katsir mencatat ini sebagai ekspedisi militer pertama dalam Islam. Rasulullah saw. mengutus Hamzah bin Abdul Mutthalib membawa 30 prajurit Muhajirin menuju wilayah pesisir Sif al-Bahr untuk mencegat kafilah Quraisy yang dipimpin Abu Jahal (300 orang). Pertempuran terhindar berkat perantara Majdi bin 'Amr al-Juhani yang bersikap netral.
Sariyyah Ubaidah bin al-Harits (Rabigh)
Syawal 1 H
Rasulullah saw. mengutus Ubaidah bin al-Harits bersama 60 prajurit Muhajirin ke Lembah Rabigh. Di sinilah terjadi insiden pemanahan pertama dalam Islam oleh Sa'ad bin Abi Waqqas, meski pertempuran berskala besar belum pecah.
Sariyyah Sa'ad bin Abi Waqqas (Al-Kharrar)
Dzulqa'dah 1 H
Pasukan sebanyak 20 prajurit berjalan kaki mengintai pergerakan kafilah Quraisy hingga ke Al-Kharrar, namun kafilah musuh telah melintas sehari sebelumnya.
Ghazwah Al-Abwa / Waddan
Shafar 2 H
Perang pertama yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. Beliau keluar membawa 70 prajurit untuk mencegat Quraisy. Meski tidak terjadi bentrokan senjata, dalam ekspedisi ini Nabi saw. mengikat perjanjian damai dengan Banu Dhamrah melalui pemimpin mereka, Majdi bin 'Amr.
Ghazwah Buwath & Ghazwah Al-'Usyairah
Rabi'ul Awwal - Jumadil Ula 2 H
Nabi saw. memimpin ekspedisi ke Buwath dan kemudian ke Al-'Usyairah untuk mencegat kafilah dagang besar Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan bin Harb. Kafilah Abu Sufyan berhasil lolos ke Syam, namun peristiwa Al-'Usyairah inilah yang kelak menjadi pemicu utama Perang Badar sewaktu kafilah tersebut kembali menuju Makkah.
Ghazwah Badr al-Ula (Perang Badar Pertama)
Jumadil Akhir 2 H
Ekspedisi ini diluncurkan untuk mengejar Kurz bin Jabir al-Fihri yang melancarkan penyerangan dan mencuri hewan ternak di pinggiran Madinah. Nabi saw. mengejarnya hingga ke lembah Safawan di dekat Badar, namun Kurz berhasil melarikan diri.
Sariyyah Nakhlah (Titik Balik Krusial)
Rajab 2 H
Rasulullah saw. mengutus Abdullah bin Jahsy bersama 8 orang membawa surat rahasia. Di Nakhlah, mereka mencegat kafilah Quraisy, menewaskan Amr bin al-Hadhrami, dan menawan dua orang. Peristiwa ini terjadi di akhir bulan Rajab (bulan haram), yang memicu protes Quraisy. Allah kemudian menurunkan Surah Al-Baqarah ayat 217 untuk menegaskan bahwa fitnah dan kemusyrikan Quraisy jauh lebih besar dosanya daripada berperang di bulan haram.
Puncak Perkembangan: Ghazwah Badr al-Kubra (Perang Badar Agung)
(17 Ramadhan 2 H / Maret 624 M)
Ibnu Katsir menumpahkan perhatian sangat besar pada pertempuran ini, yang dinamai Al-Qur'an sebagai Yaum al-Furqan (Hari Pemisah antara yang haq dan batil).

Skema Posisi Pasukan di Perang Badar.
1. Latar Belakang & Lolosnya Abu Sufyan
Kafilah dagang Abu Sufyan kembali dari Syam membawa harta melimpah milik kabilah Quraisy. Rasulullah saw. mengajak para sahabat untuk mencegatnya. Namun, Abu Sufyan yang sigap menyewa Dhamdham bin 'Amr al-Ghifari untuk meminta bantuan pasukan dari Makkah, sementara ia sendiri membelokkan rute kafilah melalui jalur pesisir pantai hingga lolos dari kejaran.
2. Ketegangan & Keputusan Pasukan Quraisy
Meskipun tahu kafilah Abu Sufyan telah selamat, Abu Jahal bersikeras membawa sekitar 1.000 prajurit Quraisy menuju Badar untuk menunjukkan kekuatan. Ibnu Katsir mengutip dialog para pemuka Makkah: sebagian suku seperti Banu Zuhrah memilih mundur, tetapi Abu Jahal memaksa pasukan utama tetap maju.
3. Musyawarah & Kesetiaan Anshar
Di pihak Muslimin (313–317 prajurit), fokus awal yang semula mencegat kafilah berganti menjadi menghadapi pasukan tempur. Rasulullah saw. bermusyawarah dengan para sahabat. Sa'ad bin Mu'adz r.a. (mewakili kaum Anshar) menyampaikan ikrar monumental:
"Demi Allah, sekiranya engkau membawa kami mengarungi lautan ini, niscaya kami akan mengarunginya bersamamu... Kami sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran."
4. Strategi Posisi Sumur & Peristiwa Malam Perang
Atas saran pakar taktik Al-Hubab bin al-Mundhir, Nabi saw. memindahkan posisi pasukan ke sumur air yang paling dekat dengan musuh, menimbun sumur-sumur sisanya, dan membuat kolam penampungan air. Pada malam hari sebelum perang, Allah menurunkan hujan tenang yang menyucikan kaum Muslimin serta memperkuat pijakan tanah tempat mereka berdiri (QS. Al-Anfal: 11).

5. Jalannya Pertempuran Badar
- Duel Satu lawan Satu (Mubarazah): Perang dibuka dengan duel tiga tokoh Quraisy ('Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, dan Al-Walid bin 'Utbah) melawan tiga pahlawan Muslim (Hamzah bin Abdul Mutthalib, 'Ubaidah bin al-Harits, dan 'Ali bin Abi Thalib). Ketiga pahlawan Quraisy tewas, sementara 'Ubaidah mengalami luka berat.
- Bantuan Para Malaikat: Pertempuran umum berkecamuk. Rasulullah saw. berdoa tanpa henti di kemahnya ('Arsy) hingga jubahnya terjatuh dari bahunya. Allah mengabulkan doa beliau dengan mengirimkan bantuan 1.000 malaikat yang dipimpin Malaikat Jibril a.s. (QS. Al-Anfal: 9).
- Kematian Abu Jahal: Tokoh utama penentang Islam, Abu Jahal, tewas di tangan dua pemuda Anshar bersaudara, Mu'adz bin 'Amr dan Mu'awwidz bin 'Afra', yang kemudian diselesaikan oleh Abdullah bin Mas'ud r.a.
6. Hasil & Dampak Kemenangan
- Korban: 70 prajurit Quraisy tewas (termasuk para pembesar seperti Utbah, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Jahal) serta 70 orang lainnya ditawan. Di pihak Muslimin, 14 prajurit gugur sebagai syuhada (6 Muhajirin dan 8 Anshar).
- Penanganan Tawanan: Ibnu Katsir menekankan keputusan Rasulullah saw. yang menerima usulan Abu Bakar r.a. untuk menerima tebusan (fidyah) harta atau mengajar baca-tulis bagi warga Madinah, ketimbang hukuman mati.
Kemenangan Badar ini mengubah peta politik dan militer di Jazirah Arab, memperkokoh posisi daulah Islamiyah di Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah saw.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah mencatat bahwa periode antara Perang Badar (2 H) hingga Perang Ahzab/Khandaq (5 H) merupakan fase yang sangat krusial. Kekalahan telak Quraisy di Badar memicu dendam membara, sementara ancaman internal dari pengkhianatan Yahudi Madinah mulai mengemuka.
Ghazwah Banu Qainuqa' (Ancaman Internal Pertama)
Syawal 2 H
Kaum Yahudi Banu Qainuqa' melanggar Piagam Madinah setelah seorang wanita Muslimah dilecehkan di pasar mereka. Rasulullah saw. mengepung benteng mereka selama 15 malam hingga mereka menyerah. Atas desakan Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik), mereka tidak dihukum mati melainkan diusir dari Madinah menuju Syam.
Ghazwah As-Sawiq (Perang Tepung)
Dzulhijjah 2 H
Abu Sufyan memimpin 200 penunggang kuda menuju pinggiran Madinah untuk membalas dendam, membakar kebun kelapa sawit, dan membunuh dua warga Anshar. Ketika Nabi saw. dan para sahabat mengejar mereka, pasukan Quraisy melarikan diri dengan membuang karung-karung bekal tepung (sawiq) mereka agar beban kuda lebih ringan.
Ghazwah Dzi Amarr & Sariyyah Zaid bin Haritsah (Al-Qaradah)
Muharram - Jumadil Akhir 3 H
Nabi saw. memimpin pasukan ke Najd dalam ekspedisi Dzi Amarr untuk memecah konsolidasi kabilah Ghatafan. Kemudian pada Jumadil Akhir, Zaid bin Haritsah memimpin pasukan membendung kafilah dagang Quraisy di Al-Qaradah, memaksa Quraisy kehilangan rute dagang utama mereka ke Syam.
Ghazwah Uhud (Ujian Berat kaum Muslimin)
Syawal 3 H
Puncak pembalasan Quraisy. Dipimpin Abu Sufyan membawa 3.000 prajurit menuju Bukit Uhud.
Ghazwah Banu An-Nadhir (Pengusiran Yahudi Kedua)
Rabi'ul Awwal 4 H
Yahudi Banu An-Nadhir merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah saw. dengan menjatuhkan batu besar dari atas benteng saat beliau berkunjung. Allah memberitahukan rencana jahat ini. Nabi saw. mengepung benteng mereka hingga akhirnya mereka diusir dari Madinah. Sebagian dari mereka melarikan diri ke Khaibar dan menjadi dalang Perang Ahzab.
Ghazwah Badr al-Maw'id (Badar II)
Sya'ban 4 H
Sesuai janji Abu Sufyan di Uhud untuk bertemu kembali di Badar setahun kemudian. Nabi saw. keluar membawa 1.500 prajurit ke Badar, namun Abu Sufyan dan pasukan Quraisy gentar dan memilih kembali ke Makkah tanpa terjadi pertempuran.
Ghazwah Dumah al-Jandal
Rabi'ul Awwal 5 H
Ekspedisi menuju wilayah utara dekat perbatasan Syam untuk menertibkan kabilah-kabilah perampok yang menghadang kafilah perdagangan menuju Madinah.
Ghazwah Al-Ahzab / Al-Khandaq (Perang Parit)
Syawal 5 H
Pengepungan terbesar terhadap kota Madinah oleh gabungan pasukan sekutu (Ahzab).
Dua Pertempuran Puncak
1. Perang Uhud (Syawal 3 H)
Ibnu Katsir memberikan porsi pembahasan mendalam tentang peristiwa Uhud sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam mengenai pentingnya ketaatan pada instruksi Rasulullah saw.
- Strategi Pasukan Panah: Nabi saw. menempatkan 50 pemanah di atas Bukit Rumat di bawah pimpinan Abdullah bin Jubair r.a. dengan perintah tegas: "Jangan tinggalkan pos kalian, baik kita menang maupun kalah!"
- Kemenangan Awal & Kelalaian: Pada awal pertempuran, pasukan Muslim unggul dan mendesak Quraisy. Namun, sebagian besar pemanah melihat ghanimah (harta rampasan) dan turun dari bukit, meninggalkan pimpinan mereka.
- Serangan Balik Khalid bin al-Walid: Khalid bin al-Walid (saat itu belum masuk Islam) memanfaatkan celah tersebut, memutar dari belakang bukit, dan menyerang pasukan Muslim secara mendadak dari belakang.
- Kabar Burung & Syahidnya Hamzah: Hamzah bin Abdul Mutthalib r.a. gugur ditombak oleh Wahsyi. Isu bahwa Rasulullah saw. telah terbunuh sempat meruntuhkan moral pasukan, hingga Nabi saw. berhasil dikawal dan dilindungi oleh para sahabat pilihan seperti Abu Ubaidah, Talhah bin Ubaidillah, dan Sa'ad bin Abi Waqqas.
- Hasil: 70 sahabat gugur sebagai syuhada. Sehari setelahnya, Nabi saw. melancarkan Ghazwah Hamra al-Asad mengejar Quraisy untuk menunjukkan bahwa kaum Muslimin tidak runtuh secara mental.
2. Perang Ahzab / Al-Khandaq (Syawal 5 H)
Perang ini dipicu oleh provokasi para tokoh Yahudi Banu An-Nadhir (seperti Huyay bin Akhtab) yang menggalang koalisi raksasa (Ahzab) berkekuatan 10.000 prajurit dari Quraisy, Ghatafan, Banu Asad, dan kabilah lainnya.
- Inovasi Parit Salman al-Farisi: Menghadapi jumlah musuh yang belum pernah ada tandingannya, Salman al-Farisi r.a. mengusulkan penggalian parit (khandaq) di batas utara kota Madinah—satu-satunya akses yang terbuka untuk serangan kavaleri.
- Pengkhianatan Banu Qurayzhah: Di tengah pengepungan menderita dingin dan kelaparan, Yahudi Banu Qurayzhah yang berada di dalam kota membatalkan perjanjian damai akibat hasutan Huyay bin Akhtab, mengancam kaum Muslimin dari arah belakang.
- Taktik Nu'aim bin Mas'ud & Bantuan Angin Kencang: Nu'aim bin Mas'ud r.a. yang baru masuk Islam secara rahasia berhasil memecah belah kepercayaan antara Quraisy, Ghatafan, dan Banu Qurayzhah melalui taktik adu domba.
- Kemenangan Tanpa Kontak Fisik Besar: Setelah pengepungan selama hampir sebulan, Allah mengirimkan angin kencang bertiup dingin (Rih ash-Syarqiyyah) dan pasukan malaikat yang menteror hati musuh. Tenda-tenda musuh roboh, periuk mereka terbalik, hingga seluruh koalisi Ahzab kocar-kacir membubarkan diri (QS. Al-Ahzab: 9).
Pasca-peristiwa Ahzab, Rasulullah saw. bersabda: "Sekarang kitalah yang akan memukul mereka, dan mereka tidak akan mampu menyerang kita lagi."
Dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah, Imam Ibnu Katsir mencatat bahwa periode pasca-Perang Ahzab merupakan fase pembersihan ancaman lokal, pergeseran peta diplomasi, hingga puncak kejayaan Islam dengan pembebasan kota Makkah dan penundukan kabilah-kabilah besar di Jazirah Arab.
Ghazwah Banu Qurayzhah (Penumpasan Pengkhianat Ahzab)
Akhir Syawal - Dzulqa'dah 5 H
Malaikat Jibril mendatangi Nabi saw. saat beliau baru melepas baju besi pasca-Khandaq, memerintahkan untuk segera menuju pemukiman Banu Qurayzhah. Setelah pengepungan selama 25 malam, Banu Qurayzhah menyerah dan sepakat menerima keputusan Sa'ad bin Mu'adz r.a. Keputusannya: prajurit pria dieksekusi mati, wanita dan anak-anak dijadikan tawanan, serta harta mereka dibagi sebagai ghanimah.
Ghazwah Banu al-Mustaliq (Muraisi')
Sya'ban 6 H
Nabi saw. menyerang Banu al-Mustaliq yang sedang mengumpulkan pasukan untuk menyerang Madinah. Di perjalanan pulang pertempuran inilah terjadi dua fitnah besar yang dihembuskan kaum munafik: perpecahan Muhajirin-Anshar oleh Abdullah bin Ubay dan fitnah tuduhan palsu (Hadits al-Ifk) terhadap Ummul Mu'minin Aisyah r.a.
Perjanjian Hudaibiyah (Fath Mubin / Kemenangan Nyata)
Dzulqa'dah 6 H
Nabi saw. bersama 1.400 sahabat bertolak menuju Makkah untuk umrah tanpa senjata perang. Dihadang di Hudaibiyah, lahir Perjanjian Hudaibiyah setelah terjadinya Bai'atur Ridwan. Meski poin Perjanjian tampak merugikan Muslimin, Ibnu Katsir menekankan ini adalah Fath Mubin karena membuka era gencatan senjata dan diplomasi dakwah luas.
Ghazwah Khaibar (Penundukan Benteng Utama Yahudi)
Muharram 7 H
Rasulullah saw. memimpin 1.400 pahlawan Hudaibiyah menggempur benteng-benteng kuat Yahudi Khaibar.
Ghazwah Mu'tah (Ujian Menghadapi Kekaisaran Romawi)
Jumadil Ula 8 H
Ekspedisi 3.000 prajurit Muslim ke perbatasan Syam untuk membalas pembunuhan utusan Nabi saw. Tiga panglima gugur secara berurutan: Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Khalid bin al-Walid memegang komando dan berhasil menyelamatkan pasukan dengan taktik mundur yang jenius.
Ghazwah Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah)
Ramadhan 8 H
Pengkhianatan Banu Bakr (sekutu Quraisy) terhadap Banu Khuza'ah (sekutu Muslim) membatalkan Perjanjian Hudaibiyah. Nabi saw. bergerak membawa 10.000 prajurit membebaskan Makkah tanpa pertumpahan darah berarti.
Ghazwah Hunain & Ath-Tha'if
Syawal 8 H
Kabilah Hawazin dan Thaqif yang panik atas jatuhnya Makkah menggalang kekuatan besar di Lembah Hunain.
Ghazwah Tabuk (Ekspedisi Terakhir Rasulullah saw.)
Rajab 9 H
Ekspedisi militer terbesar (30.000 prajurit) menuju perbatasan Romawi di tengah musim panas ekstrem. Pasukan Romawi gentar dan memilih mundur tanpa pertempuran fisik.
Tiga Peristiwa Kunci Puncak Ekspedisi Militer
1. Perang Khaibar (Muharram 7 H)
Ibnu Katsir mengisahkan penaklukan benteng-benteng Khaibar yang kokoh secara bertahap (seperti Benteng Na'im, As-Sa'b, dan Al-Qamus).
- Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib r.a.: Setelah beberapa sahabat gagal menembus benteng utama, Nabi saw. bersabda: "Sungguh besok akan kuberikan bendera ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta dicintai Allah dan Rasul-Nya." Besoknya, Ali bin Abi Thalib r.a. ditunjuk, berhasil merobohkan pintu benteng Khaibar, dan menewaskan pahlawan Yahudi, Marhab.
- Hasil: Khaibar ditaklukkan. Tanah Khaibar dikelola kembali oleh warga Yahudi dengan syarat menyerahkan separuh hasil panen kepada kaum Muslimin.
2. Peristiwa Fathu Makkah (Ramadhan 8 H)
Pembebasan kota Makkah merupakan perwujudan janji Allah Swt. sekaligus puncak perjuangan dakwah Islam.
- Strategi Masuk Tanpa Perang: Nabi saw. membagi pasukan menjadi empat lajur memasuki Makkah dari berbagai arah, memerintahkan untuk tidak memulainya dengan pertempuran.
- Pembersihan Berhala: Beliau memasuki Masjidil Haram, bertawaf, dan merobohkan 360 berhala di sekitar Ka'bah sambil membaca ayat (QS. Al-Isra': 81): "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap."
- Pengampunan Umum (Al-'Afwu): Kepada warga Makkah yang dahulu menyiksa dan mengusirnya, Nabi saw. bertanya apa yang mereka bayangkan tentang keputusannya. Mereka menjawab: "Engkau saudara yang mulia dan putra dari saudara yang mulia." Nabi saw. bersabda: "Pergilah kalian, kalian semua bebas!"
3. Perang Hunain (Syawal 8 H)
Pertempuran Hunain menjadi pelajaran penting bahwa jumlah pasukan yang besar tidak menjamin kemenangan tanpa pertolongan Allah.
- Jebakan Pemanah Hawazin: Pasukan Muslimin (12.000 prajurit) merasa jemawa dengan jumlah mereka. Saat memasuki lembah Hunain, mereka disergap oleh pahlawan panah kabilah Hawazin di bawah pimpinan Malik bin 'Auf. Pasukan Muslim sempat kocar-kacir dan kendor.
- Keteguhan Rasulullah saw.: Di tengah kekacauan, Rasulullah saw. tetap bertahan di atas baghal (mula) putihnya sambil berseru:"Aku adalah Nabi, tidak ada kedustaan! Aku adalah putra Abdul Mutthalib!"
- Panggilan Paman Abbas r.a. & Serangan Balik: Beliau memerintahkan pamannya, Al-Abbas bin Abdul Mutthalib, untuk memanggil kembali Ashab ash-Syajarah (peserta Bai'atur Ridwan). Para sahabat segera berbalik arah, melancarkan serangan balik yang menghancurkan musuh, dan mengamankan ghanimah yang sangat melimpah.
Dengan tuntasnya Perang Hunain serta Pengepungan Ath-Tha'if, dominasi musyrikin di Jazirah Arab berakhir sepenuhnya, membuka jalan bagi gelombang utusan suku-suku Arab (Aam al-Wufud) untuk memeluk Islam.