
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Pondok Modern Darussalam Gontor berdiri sejak 1926 dan genap berusia satu abad (100 tahun) menurut penanggalan Hijriah pada 1445 H / 2026 M. Perjalanan satu abad ini menandai transformasi lembaga pendidikan tradisional menjadi pelopor modernisasi pesantren yang membentuk karakter pejuang agama dan bangsa.
Sejarah Asal-Usul dan Akar Tradisi
Cikal bakal Gontor berakar dari Pondok Tegalsari Ponorogo yang didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Besari pada abad ke-18. Setelah masa kemunduran Tegalsari, tiga putra Kyai Santoso Anom Besari—yang dikenal sebagai Tiga Serangkai: KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi—membangkitkan kembali tradisi pendidikan tersebut dengan mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor pada 20 September 1926 (12 Rabiul Awwal 1345 H).
Tiga Serangkai merumuskan sintesis kurikulum dan nilai dengan memadukan empat lembaga pendidikan dunia:
- Universitas Al-Azhar (Mesir): Kekuatan wakaf dan keabadian lembaga.
- Pondok Syanggit (Mauritania): Keikhlasan, kedermawanan, dan ketangguhan pengajar.
- Universitas Aligarh (India): Modernisasi sains, diplomasi, dan kebangkitan umat.
- Santiniketan (India): Kedamaian, keasrian, serta pendidikan karakter berbasis lingkungan.
Sistem Nilai dan Karakter Pejuang Agama & Negara
Gontor tidak dirancang sekadar melahirkan ulama ritual, melainkan perekat ummat (perekat bangsa) yang membentengi nilai keagamaan dan kebangsaan secara seimbang melalui prinsip dasar:
- Panca Jiwa: Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan (bebas berpikir dan berbuat tanpa terikat partai politik atau pilar sectarian).
- Motto Pendidikan: Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas.
- Sistem Wakaf Penjaga Kelangsungan: Pada 1958, Tiga Serangkai menyerahkan kepemilikan pondok beserta asetnya kepada umat Islam (Badan Wakaf), memastikan pondok milik masyarakat, bukan milik keluarga atau dinasti.
Kontribusi Historical Tokoh-Tokoh Bangsa
Kombinasi bahasa internasional (Arab & Inggris), disiplin organisasi, dan pemikiran bebas ilmiah mencetak alumni yang berkiprah di berbagai sektor kepemimpinan nasional dan internasional:
| Bidang Kiprah | Tokoh Alumni | Peran Agama & Negara |
| Keagamaan & Pemikiran | KH. Idham Chalid Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) | Pahlawan Nasional, Ulama NU, Ketua MPR/DPR. Cendekiawan Muslim, Pembaharu pemikiran Islam Indonesia. |
| Diplomasi & Kebijakan | Prof. Dr. Din Syamsuddin Dr. Hidayat Nur Wahid | Tokoh Muhammadiyah, Presiden Asian Conference on Religions for Peace. Mantan Ketua MPR RI, akademisi dan politisi. |
| Pendidikan & Hukum | Prof. Dr. Nasaruddin Umar Lukman Hakim Saifuddin | Imam Besar Masjid Istiqlal, Menteri Agama RI. Mantan Menteri Agama RI, penguat moderasi beragama. |
Prospek Ke Depan: Memasuki Abad Kedua (Post-100 Tahun)
Menghadapi tantangan geopolitik, digitalisasi, dan disintegrasi nilai, prospek Gontor dalam mencetak kader pejuang masa depan berfokus pada tiga pilar utama:
- Intelektualisasi dan Akselerasi Sains-Teknologi: Melalui penguatan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, pesantren mengintegrasikan sains modern dengan nilai keislaman untuk mencetak teknokrat yang berakhlak.
- Kemandirian Ekonomi Berbasis Wakaf: Pengembangan unit usaha produktif sebagai model kedaulatan ekonomi Islam tanpa tergantung pihak luar.
- Kepemimpinan Global Berwawasan Moderasi (Wasathiyah): Mencetak ulama dan pemimpin yang menguasai bahasa diplomasi global, mampu menjawab isu kerukunan, serta mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat peradaban Islam yang moderat.
Kehadiran dan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam puncak Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur (19 September 2026), menjadi momentum strategis yang menegaskan hubungan erat antara negara dan pesantren.
Poin-Poin Utama Pidato dan Pesan Kebangsaan
- Apresiasi terhadap Kontribusi Gontor bagi Bangsa: Presiden Prabowo menyampaikan rasa hormat atas konsistensi Gontor selama satu abad dalam mencetak kader pimpinan nasional, intelektual, serta tokoh agama yang memadukan keilmuan Islam dan semangat nasionalisme.
- Penguatan Pendidikan dan Kesehatan (Resmikan FK UNIDA): Dalam kunjungannya, Presiden mengapresiasi langkah transformasi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melalui peresmian Fakultas Kedokteran. Hal ini sejalan dengan agenda nasional pemerintah dalam pemenuhan tenaga medis dan peningkatan kedaulatan sains-teknologi nasional.
- Sinergi Pesantren dan Pertahanan Karakter Bangsa: Presiden menekankan pentingnya kemandirian, kedisiplinan, dan keberanian berpikir—nilai-nilai yang ditanamkan melalui sistem Panca Jiwa Gontor—sebagai fondasi utama membentengi kedaulatan bangsa dari tantangan geopolitik dan globalisasi.
- Moderasi Beragama dan Diplomasi Global: Acara yang turut dihadiri oleh jajaran menteri Kabinet Merah Putih, perwakilan negara sahabat (duta besar), serta Wakil Grand Syekh Al-Azhar ini dimanfaatkan Presiden untuk mempertegas peran Indonesia sebagai pelopor peradaban Islam yang damai (wasathiyah) di tingkat internasional.
Signifikansi Strategis
Pidato ini mempertegas komitmen pemerintah untuk menempatkan pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan tradisional, melainkan sebagai pilar strategis pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia Emas. Kehadiran kepala negara melanjutkan tradisi historis para presiden Indonesia sebelumnya yang senantiasa menempatkan Gontor sebagai mitra strategis kebangsaan.