
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Hari Rabies Sedunia (World Rabies Day) diperingati setiap tanggal 28 September untuk meningkatkan kesadaran global, mendorong tindakan pencegahan, serta mempercepat upaya eliminasi penyakit rabies.
Rabies adalah penyakit infeksi virus akut yang menyerang sistem saraf pusat dan hampir selalu berakibat fatal (tingkat kematian mendekati 100%) begitu gejala klinis muncul.
Sejarah dan Asal Usul
Peringatan Hari Rabies Sedunia diinisiasi oleh organisasi non-profit Global Alliance for Rabies Control (GARC) bersama World Health Organization (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), dan World Organisation for Animal Health (WOAH).
- Peringatan Pertama (2007): Acara resmi pertama digelar pada 28 September 2007 untuk menyatukan mitra kesehatan di seluruh dunia dalam melawan penyakit zoonosis ini.
- Penetapan Tanggal 28 September: Tanggal ini dipilih untuk mengenang Louis Pasteur, ilmuwan Prancis yang berhasil menciptakan vaksin rabies pertama pada tahun 1885. Beliau meninggal dunia pada tanggal 28 September 1895.
Perspektif Kesehatan Manusia
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, rabies merupakan salah satu Neglected Tropical Diseases (NTD) atau penyakit tropis terabaikan yang paling mematikan.
- Beban Penyakit Global: Diperkirakan sekitar 59.000 orang meninggal akibat rabies setiap tahunnya, di mana lebih dari 95% kasus terjadi di wilayah pedesaan Asia dan Afrika.
- Vektor Utama: Lebih dari 99% penularan rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing terinfeksi. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena interaksi yang dekat dengan hewan domestic.
- Strategi Efektif (Pencegahan):
- Vaksinasi Massal Anjing: Mengingat anjing adalah reservoir utama, memvaksinasi minimal 70% populasi anjing di suatu wilayah efektif menciptakan herd immunity dan menghentikan rantai penularan ke manusia.
- Profilaksis Pasca Pajanan (PEP): Pencucian luka dengan sabun dan air mengalir selama 10–15 menit immediately, diikuti pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) sebelum gejala muncul.
Perspektif Keamanan Global dan pendekatan "One Health"
Rabies tidak hanya menjadi isu medis, tetapi juga menyentuh dimensi keamanan global dan ekonomi:
- Beban Ekonomi & Ketimpangan Akses: Beban ekonomi global akibat rabies mencapai miliaran dolar Amerika Serikat per tahun (meliputi biaya perawatan, kehilangan produktivitas, dan kerugian ternak). Akses terhadap imunoglobulin dan vaksin berkualitas di negara berkembang masih menjadi tantangan logistik dan finansial.
- Penerapan Pendekatan One Health: Rabies adalah contoh sempurna di mana sektor Kesehatan Manusia, Kesehatan Hewan, dan Lingkungan harus bekerja sama. Tanpa intervensi pada sektor veteriner (kesehatan hewan), eliminasi pada manusia tidak akan pernah tercapai.
- Ancaman Keamanan Pangan & Ternak: Rabies juga menginfeksi hewan ternak (sapi, kambing, kuda), yang secara langsung mengancam ketahanan pangan dan mata pencaharian komunitas pedesaan.
Prospek Masa Depan: "Zero by 30"
Prospek global dalam penanganan rabies berfokus pada target berskala internasional yang ambisius:
Target "Zero by 30": WHO, WOAH, FAO, dan GARC telah menyepakati komitmen global untuk mencapai 0 kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing pada tahun 2030 (Zero human deaths from dog-mediated rabies by 2030).
Langkah Strategis Menuju Target:
- Penyediaan Akses Vaksin Terjangkau: Meningkatkan ketersediaan pasokan VAR dan SAR di fasilitas kesehatan tingkat dasar daerah terpencil.
- Manajemen Populasi & Vaksinasi Hewan Peliharaan: Perluasan vaksinasi rabies gratis/terjangkau pada anjing dan kucing serta edukasi pemeliharaan hewan yang bertanggung jawab.
- Teknologi & Inovasi: Pengembangan vaksin oral untuk anjing liar/liar berskala besar (Oral Rabies Vaccination - ORV) dan sistem surveilans penyakit berbasis digital secara real-time.
Langkah penanganan gigitan hewan pembawa rabies (anjing, kucing, kera, atau kelelawar) dibagi menjadi dua tahap utama: pertolongan pertama mandiri dan penanganan medis darurat di fasilitas kesehatan.
1.Cuci Luka dengan Sabun dan Air Mengalir (10–15 Menit):Segera setelah gigitan terjadi (lakukan di rumah).
- Langkah paling krusial: Cuci luka secepatnya menggunakan sabun/detergen dan air bersih yang mengalir deras selama minimal 10–15 menit.
- Alasan: Virus rabies memiliki lapisan lemak (lipid envelope) yang mudah hancur oleh sabun. Pembilasan air mengalir membantu merusak dan meluruhkan sebagian besar virus dari area luka.
2.Berikan Antiseptik:Setelah pencucian luka selesai.
- Keringkan luka dengan kain bersih atau tisu.
- Oleskan antiseptik seperti Povidone Iodine (Betadine) atau alkohol 70% untuk membunuh sisa-sisa patogen pada luka.
3.Biarkan Luka Tetap Terbuka & Jangan Diikat:Perjalanan menuju fasilitas kesehatan.
- Jangan menutup luka secara rapat atau menjahitnya (penjahitan luka gigitan rabies umumnya dihindari kecuali atas indikasi khusus dari dokter).
- Jangan mengikat area sekitar luka (tourniquet), membakar, atau memberi bahan-bahan tradisional (seperti kopi, cabai, atau jamu) karena memicu infeksi sekunder.
4.Amati Hewan Penular (Jika Memungkinkan):Penting untuk tindak lanjut medis.
- Jika hewan peliharaan dan aman ditangkap, karantina/ikat hewan tersebut untuk dipantau selama 10–14 hari.
- Jika hewan mati atau dibunuh dalam rentang waktu tersebut, otak hewan harus diperiksa di laboratorium untuk memastikan status rabies.
- Catatan: Jangan menunda berobat ke puskesmas/rumah sakit hanya demi menangkap hewan.
Penanganan Medis Darurat di Fasilitas Kesehatan (Puskesmas/Rumah Sakit)
Begitu tiba di fasilitas pelayanan kesehatan (Rabies Center/Puskesmas/RS), tenaga medis akan melakukan pencucian ulang dan prosedur penilaian risiko:
| Jenis Intervensi | Keterangan & Tujuan |
| Pencucian Luka Ulang | Petugas medis akan membersihkan luka kembali menggunakan cairan antiseptik medis. |
| Vaksin Anti Rabies (VAR) | Diberikan secara bertahap (biasanya pada hari ke-0, 7, dan 21/28) untuk merangsang tubuh membentuk antibodi terhadap virus rabies. |
| Serum Anti Rabies (SAR) | Diberikan pada luka kategori risiko tinggi (luka dalam, banyak, atau di area dekat sistem saraf pusat seperti kepala, leher, dan wajah). Serum ini memberikan antibodi siap pakai secara langsung. |
| Vaksin Tetanus (TT) | Diberikan jika status imunisasi tetanus pasien belum lengkap atau luka sangat kotor/dalam. |
| Antibiotik | Diberikan untuk mencegah infeksi bakteri sekunder dari air liur hewan. |
Kunci Utama: Virus rabies membutuhkan waktu untuk merambat dari area luka menuju sistem saraf pusat. Pencegahan (PEP) sebelum timbul gejala klinis memiliki tingkat keberhasilan mendekati 100%. Begitu gejala klinis rabies (seperti takut air/hidrofobia, takut angin, atau kejang) sudah muncul, penyakit ini tidak dapat disembuhkan.