info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Kisah Khidhir Menurut Ibnu Katsir
Kisah Khidhir Menurut Ibnu Katsir
Kisah Khidhir Menurut Ibnu Katsir

Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Dalam karya monumental beliau, Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Hafiz Ibn Katsir membahas sosok Nabi Khidhir (Nabi Khidir AS) secara mendalam, kritis, dan berlandaskan dalil-dalil kuat dari Al-Qur'an, Hadis, serta riwayat para sahabat dan ulama terdahulu.

Ibn Katsir membagi kisah Nabi Khidhir ke dalam beberapa aspek penting:

1. Identitas, Asal-Usul, dan Gelar

  • Nama dan Silsilah: Ibn Katsir memaparkan berbagai pendapat mengenai nama asli beliau. Pendapat yang paling masyhur menyebutkan namanya adalah Balya bin Malkan.
  • Asal-usul Gelar "Khidhir": Gelar Khidhir (berasal dari kata al-Khadhir yang berarti "hijau") diambil langsung dari sabda Rasulullah SAW dalam Hadis Sahih Bukhari. Beliau bersabda bahwa Khidhir dinamakan demikian karena apabila beliau duduk di atas tanah yang kering atau rumput yang layu, maka tempat tersebut seketika berguncang dan menumbuhkan dedaunan hijau yang subur.
  • Kenabian Khidhir: Ibn Katsir menguatkan pendapat mayoritas ulama (jumhur) bahwa Khidhir adalah seorang Nabi, bukan sekadar seorang wali Allah. Hal ini ditegaskan lewat ucapan Khidhir di akhir pertemuannya dengan Nabi Musa AS:"Dan bukanlah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri." (QS. Al-Kahfi: 82)Ini membuktikan bahwa tindakannya didasari oleh wahyu ilahi, yang merupakan keistimewaan para Nabi.

2. Kisah Pertemuan dengan Nabi Musa AS

Ibn Katsir menguraikan latar belakang pertemuan ini berdasarkan Hadis Sahih Bukhari & Muslim dari Ubay bin Ka'b RA:

  1. Latar Belakang: Nabi Musa AS pernah ditanya oleh kaumnya, "Siapakah orang yang paling berilmu di muka bumi?" Nabi Musa menjawab, "Aku." Allah SWT kemudian menegurnya karena tidak mengembalikan ilmu kepada Allah, lalu mewahyukan bahwa ada seorang hamba-Nya di Majma' al-Bahrayn (pertemuan dua laut) yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki Musa.
  2. Perjalanan dan Tanda Ikan: Nabi Musa pergi ditemani muridnya, Yusha' bin Nun, dengan membawa bekal ikan asin. Allah memberi tanda: tempat di mana ikan itu 'hidup kembali' dan melompat ke laut adalah tempat pertemuan dengan Khidhir.
  3. Adab Menuntut Ilmu: Pertemuan tersebut mengajarkan adab luar biasa. Nabi Musa AS, seorang Ulul Azmi, meminta izin dengan sangat santun untuk berguru kepada Khidhir.

3. Tiga Peristiwa Hikmah (Pengajaran Ilmu Ladunni)

Ibn Katsir menjelaskan detail tiga peristiwa yang sempat membuat Nabi Musa AS heran dan mempertanyakan tindakan Khidhir:

PeristiwaActions (Tindakan Khidhir)Penjelasan & Hikmah
Melubangi PerahuMenjelajahi laut dengan perahu nelayan miskin yang menumpangkan mereka secara gratis, lalu melubanginya.Di depan mereka ada raja zalim yang menyita setiap perahu bagus. Dengan merusaknya sedikit, perahu itu lolos dari penyitaan dan bisa diperbaiki kembali.
Membunuh Seorang AnakMembunuh seorang anak muda (Ghulām) yang belum baligh yang ditemui di jalan.Allah memberitahu Khidhir bahwa anak itu kelak akan tumbuh menjadi kafir yang menyiksa kedua orang tuanya yang beriman. Allah menggantikannya dengan anak lain yang lebih shalih dan berbakti.
Membangun Tembok RumahMemperbaiki tembok rumah yang hampir roboh di desa yang penduduknya enggan memberi mereka makan/menjamu tamu.Tembok itu milik dua anak yatim. Di bawahnya tersimpan harta simpanan (kanz) milik ayah mereka yang shalih. Jika tembok roboh, harta itu akan terlihat dan diambil warga yang serakah.

4. Apakah Nabi Khidhir Masih Hidup? (Kritik Ilmiah Ibn Katsir)

Salah satu bagian paling krusial dalam Al-Bidayah wan Nihayah adalah analisis Ibn Katsir mengenai status kehidupan Nabi Khidhir. Beliau membantah anggapan populer bahwa Nabi Khidhir masih hidup hingga akhir zaman atau pernah bertemu Rasulullah SAW.

Ibn Katsir meneliti isu ini secara tajam dan menyimpulkan bahwa Nabi Khidhir telah wafat sebelum zaman Nabi Muhammad SAW. Alasan dan dalil tegas dari Ibn Katsir meliputi:

  • Ayat Al-Qur'an:"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad)." (QS. Al-Anbiya': 34)
  • Hadis Nabi SAW: Sebelum wafat, Rasulullah SAW bersabda bahwa setelah 100 tahun dari malam itu, tidak akan ada lagi manusia yang hidup di atas permukaan bumi yang saat itu sedang hidup.
  • Kewajiban Mengikuti Nabi Muhammad: Seandainya Khidhir masih hidup pada zaman Nabi Muhammad SAW, beliau wajib hukumnya datang, beriman, dan membantu perjuangan Rasulullah SAW, sebagaimana janji para Nabi yang termaktub dalam QS. Ali 'Imran: 81.
  • Kelemahan Riwayat Khidhir: Ibn Katsir menegaskan bahwa semua riwayat yang menceritakan pertemuan Khidhir dengan para sahabat, tabi'in, atau orang-orang shalih zaman belakangan adalah riwayat yang Dha'if (lemah) atau bahkan Maudhu' (palsu).

Kesimpulan Pesan Utama

Melalui kitabnya, Ibnu Katsir menekankan dua pesan utama dari riwayat Nabi Khidhir:

  1. Hakikat Ilmu: Ilmu syariat (yang dibawa Nabi Musa) dan ilmu hakikat/takdir khusus (yang diberikan kepada Nabi Khidhir) sama-sama bersumber dari Allah SWT. Manusia tidak boleh sombong atas ilmu yang dimilikinya.
  2. Kritis Terhadap Israiliyat/Mitos: Ibn Katsir mengajak umat Islam untuk menyaring kisah-kisah gaib menggunakan dalil shahih, bukannya percaya pada mitos keabadian sosok tertentu tanpa sanad yang sah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *